11

1532 Words
Selamat membaca... Dean melangkah masuk ke rumahnya. Deva sudah duduk di ruang tengah menunggu Dean pulang, Dean menoleh sebentar dan mengacuhkannya. "Lo salah kalo lo sakitin Astha" ucap Deva. Dean berhenti dan menoleh. "Kenapa? Gak suka? Sono lo , lo sama dia gak ada bedanya. Sama-sama anjing!!" Deva berdiri dan melangkah menghampiri Dean. Dan bugh Deva memukul wajah Dean. "Lo gak tahu, gimana dia nangis lihat kelakuan lo sama Rachel". Bugh Ucap Deva. "Lo marah sama dia sebelum lo dengerin penjelasan dia!" Bugh lanjut Deva. Kali ini Dean sudah tergeletak di lantai dan Deva berada di atas tubuh Dean mencengkram kerah baju Dean. "Gue ngalah buat lo, buat lo bahagian dia!. Sekarang, lo sakitin dia!" Dean berontak dan melepas cengkraman tangan Deva di kerah bajunya. Dean memukul pipi Deva. "Munafik, elo selingkuh sama dia, lo cium dia lo peluk dia padahal lo tau dia MILIK GUE. DIA MILIK GUE!!" ujar Dean sambil memukul pipi Deva lagi. Bugh . Deva meringis memegang sudut bibirnya yang berdarah. "Bahkan elo gak tahu apa yang terjadi De. Elo nyudutin dia tanpa denger penjelasan dari dia.!" Ujar Deva. "APA YANG MESTI GUE DENGER?! GUE HARUS DENGER PENGAKUAN KALO ABANG KEMBAR GUE PACARAN SAMA PACAR COWOK GUE?!! SELINGKUH DI BELAKANG GUE?!! b*****t!!!" ujar Dean. "Dia cuma pengen tahu masalalunya De, dan gue jelasin ke dia gue anter dia ke makam bang Aran!" "Bang Aran? Lo pikir gue percaya?!! Bullshit ... kalian HOMO SIALAN!! b*****t!!" Bugh!! Deva memukul Dean lagi, "Dia masalalu bang Aran dan dia berhak tahu dimana bang Aran sekarang!!" Ucap Deva. Dean melunak mendengar nama Aran. Ya dia tahu siapa Aran meski dia tidak pernah tinggal seatap dengan Aran. Yang Dean tahu Aran adalah kakak tirinya. Dean duduk di kursi masih mencerna semua penjelasan Deva. "Ardhyasta itu cinta pertama bang Aran begitupun sebaliknya. Tapi mereka gak pernah bisa ngungkapin itu satu sama lain sampai akhirnya mereka pisah karna Astha harus pindah ke Jakarta. Dan belum sempet mereka ketemu lagi lo tau sendiri apa yang menimpa bang Aran." Jelas Deva. "Terus, apa hubungan lo dengan semua ini?" "Gue cuma mau ngasih tahu dia gimana bang Aran sekarang, yang gue tahu dia masih nyoba buat nyari tahu tentang bang Aran. Dan gue gak pernah nyangka kalau lo bakal ngaku suka ke Astha depan gue. Gue gak pernah bayangin bakalan jadi kayak gini." "Kenapa lo gak bilang sama gue bang?" "Tadinya gue pikir gue bakal simpen ini sendiri.karrna gak ada hubungannya sama elo, tapi sejak gue tahu elo suka dia gue rasa gue harus crlat kasih tahu dia tentang bang Aran sebelum dia tahu yang sebenarnya dari orang lain.Kalo boleh jujur gue suka Astha, dari dulu semenjak pertama kali gue tahu tentang Astha tapi bang Aran lebih punya tempat sendiri di hati Astha tapi semenjak bang Aran meninggal gue semakin yakin buat nyari Astha meski harus butuh waktu lama. Gue pengen deket sama dia. Sampai kita ketemu di SMA yang sama. Tapi gue tahan gue masih takut dia gak ngenalin gue dan ternyata elo malah suka dia lebih dulu. Gue bahagia Astha di jaga adek gue sendiri meski gue harus mengubur dalam-dalam perasaan gue ke Astha." Jelas Deva. Dean diam sambil meremas jemarinya sendiri. Sepertinya dia salah paham. "Tenang De, gue gak bakal ganggu hubungan lo sama Astha. Astha gak pernah suka sama gue. Yang dia suka bang Aran bukan gue. Dan sekarang posisi bang Aran udah di gantiin ama elo. Gue harap lo mikirin gimana baiknya hubungan kalian. Gue ke kamar dulu." Ujar Deva sambil menepuk pundak Dean dan berlalu ke kamarnya. Dean berpikir, apa yang harus dia lakukan. Ternyata ini semua salah paham dan tadi siang, apakah Astha akan memaafkan kejadian tadi siang? Tanpa pikir panjang, Dean bergegas menuju rumah Astha dia menyaut kunci mobilnya di atas meja. Tiga puluh menit perjalanan Dean sampai di depan rumah Astha dia tidak langsung masuk. Di menunggu di depan gerbang. Ia ragu akankah Astha mau menemuinya? Bagaimana jika tidak? Saat Dean mondar mandir tiba-tiba ia di kagetkan ART Astha. "Lho mas Dean? Kenapa ndak masuk? Mas Astha ada di dalam" "Iya bi." "Mari mas". Dean mengekori Bi ratna yang masuk ke dalam rumah. "Bi saya tunggu di sini saja. Bibi bisa kan panggilin Astha buat saya?" Ucap Dean. "Oh ndak masuk mas? Kalo gitu saya panggil Mas Astha dulu." Sepuluh menit menunggu, Astha turun dari lantai dua ia memakai kaos putih polos berlengan panjangg dan celana piama panjang, rambut hitamnya yang lembut jatuh menutupi keningnya membuat wajahnya terlihat imut. Hati Dean menghangat melihat wajah Astha. Astha menghampiri Dean dan menyilangkan tangannya di d**a. Dia masih sakit hati dengan perkataan Dean tadi siang,untung dia bisa memberi sebuah tonjokan manis di pipinya. Tapi tunggu kenapa sekarang wajah Dean yang babak belur, siapa yang gebukin Dean pikir Astha. Ingin rasanya Astha membelai pipi Dean yang lebam biru tapi rasa kecewa dihatinya melarang Astha untuk melakukannya. Dan lagi melihat Dean b******u dengan Rachel membuat Astha benar-benar kecewa. Kenapa semudah itu pikir Astha. "Tha?" "Hmm" "Gue udah tahu" jelas Dean. "Tahu apa?" Tanya Astha sinis. "Kamu sama Bang Deva. Aku minta maaf karena aku gak mikir dulu. Aku udah kelewat emosi Tha. Lagian kamu gak bilang sama aku mau pergi sama abang" jelas Dean. Astha masih diam mematung. "Tha jangan diemin aku dong, jawab. Aku gak mau kamu diemin gini" ujar Astha sambil memegang jemari Astha. Astha masih tetap diam. Kini Dean sudah duduk berlutut di depan Astha. "Maafin aku Tha, aku gak mikir dulu aku terlalu emosi dan aku lampiasin itu semua ke Rachel. Aku gak mikir dua kali. Aku minta maaf Tha. Tolong jawab Tha". Astha rasanya sudah tidak kuat, ya Dean ada benarnya juga Astha juga bersalah karena merahasiakan ini pada Dean dan memilih pergi sembunyi-sembunyi dengan Deva. Tapi jika kejadian di toilet itu murni kesalahan Dean. Kenapa Dean harus bergumul dengan Rachel. Astha kesal mengingat kejadian tadi siang di toilet. "Tha, ngomong dong jangan diem aja. Kamu boleh tonjok aku lagi, atau tampar atau temdang itu lebih jelas sakitnya daripada kamu diemin aku kayak gini." Ujar Dean, air matanya sudah terjatuh di pipi. Astha samar-samar tersenyum namun masih tetap diam seribu bahasa. Dean benar-benar takut pada dirinya pikir Astha. Astha sebenarnya ingin menjelaskan hal ini besok pada Dean dan meminta maaf namun tidak di sangka Dean sudah menghampirinya lebih dulu. Dean bangun dan menatap mata Astha. "Aku tahu salah aku besar dan mungkin gak bisa kamu maafin." Ucap Dean tertunduk. "Aku tulus minta maaf ke kamu. Dan kalo kamu gak mau maafin itu hak kamu. Aku permisi." Dean berbalik hendak pulang namun belum sampai dia melangkah Astha sudah mencegahnya. "Mau kemana lo? Siapa yang nyuruh lo pergi? Urusan kita belom kelar" ujar Astha. Dean berbalik, menatap kembali wajah Astha dan menelan ludahnya dalam-dalam. Meskipun Astha seorang uke tapi tetap saja dia laki-laki dan tonjokkannya luar biasa. "Lo bilang gue boleh tonjokin lo kan? Belom di tonjok udah pergi." Ujar Astha. Astha rasanya ingin tertawa geli melihat ekspresi wajah Dean sekarang. Astha mendekat menghampiri Dean, Menatap wajah Dean. "Seme kok nangis sih? Malu tahu" ucap Astha sambil mengelus pipi Dean. Dean kaget Dean kira dia akan di tampar oleh Astha nyatanya tidak. "Tha?" "Hmm" jawab Astha sambil menatap Dean dengan tatapan matanya yang teduh. "Kamu udah maafin aku?" Tanya Dean "Iya" jawab Astha sambil tersenyum lembut. "Maafin aku ya? Aku emang bodoh ceroboh!" ""Sst udah. Aku udah maafin kamu ini juga salah aku." Ucap Astha. Dean kemudian memeluk erat tubuh Astha. "Siapa yang gebukin kamu De?" Tanya Astha di sela-sela pelukkan mereka. "Bang Deva Yang.!" Ucap Dean manja. Astha melepas pelukannya dan menatap wajah Dean dengan heran. "Bang Deva??" Dean hanya mengangguk dan meringis tadi rasanya lukanya tidak terasa apa-apa kenapa sekarang jadi kerasa sakit ya pikir Dean. "Yuk masuk aja aku obatin luka kamu di dalam." Ucap Astha sambil menggandeng tangan Dean masuk kerumahnya. Astha membawa baskom berisi air da antiseptik serta plester untuk luka di wajah Dean. Kini mereka sedang di kamar. Astha perlahan membersihkan luka lebam di wajah Dean. "Aw.. sakit Yang, pelan-pelan" keluh Dean. "Iya.. ini aku udah pelan kok. Jangan manja." Ucap Astha. "Yang,?" Panggil Dean. "Hmmm" Astha masih sibuk membersihkan luka Dean. "Yang~~" Ujar Dean manja. "Apa sih kamu berisik banget!" Jawab Astha. Tiba-tiba tangan Astha di genggam Dean, mata Ddan menatap lekat ke arah mata Astha. Dean benar-benar ingin menikmati bibir milik Astha. Perlahan wajah Dean maju dan hidung mereka bersentuhan. Bibir Dean mulai mencumbu bibir Astha, dia menggigit sedikit bibir Aatha agar memberinya akses masuk ke mulut Astha "eunghhh" lenguhan kecil itu kwluar dari mulut Astha. Kini lidah Dean sudah bertemu dengan lidah Astha, saling menarik mengecup. Astha benar-benar lemas sekarang. Astha mendorong tubuh Dean menjauh, ia hampir kehabisan nafas dan mengambil oksigen untuk bernafas. Kilat mata Dean benar-benar penuh nafsu ia tidak bisa menahannya lagi. Segera saja Dean menarik Astha ke pangkuannya. Kini Astha duduk tepat diaatas kemaluan Dean. b****g Astha bergesekan dengan junior Dean yang sedari tadi sudah ingin lepas dari kandangnya. Ini membuat Dean sungguh frustasi. Astha kini memulai permainan , tangannya ia kalungkan di leher Dean, menciumi kening Dean turun kematanya, hidungnya, pipinya dan bibirnya.Dean membalas ciuman Astha, kini tangannya sibuk memilin p****g Astha dan meremas b****g Astha. "Eunghhhh..." lenguh Astha. Tubuhnya mengelinjang hebat mendapat sentuhan dari Dean. Entah sejak kapan kaos Astha sudah terlepas dari tubuhnya.masih dengan posisi yang sama Dean mulai menjilati p****g milik Astha dan memainkannya. Astha meremas  rambut Dean, sungguh nikmat pikir Astha. Bibir Dean kini beralih menciumi bibir mungil Astha lalu turun mengecupi leher Astha, Astha bereaksi dia mengangkat kepalanya memberikan akses lebih untuk Dean menjelajahi leher mulus Astha. "Eunghh ... Aahh" desahan Astha mulai terdengar. Dean berhenti dan menatap wajah Astha. "Should we?" Tanya Dean...... TBC..... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD