13

1267 Words
Selamat membaca 3 bulan kemudian "Kamu yang bener dong De, ini tuh salah masak ngerjain soal gini aja kamu gak bisa, oon banget sih" omel Astha pada Dean. "Ya elah Yang, gitu aja marah udah tenang aja entar aku minta tolong bang Deva" ujar Dean. Astha hanya memutar bola matanya jengah, saat ini mereka sedang belajar karena senin besok mereka sudah menghadapi ujian semesteran untuk kenaikan kelas. "Yang, bang Deva mau balik Yogya" ujar Dean. Astha yang sedang mencatat langsung menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah Dean. Kenapa tiba-tiba Deva pindah? Apakah ini ada hubungannya dengan penolakan Astha pada Deva? Sepulang sekolah, setelah Astha menonjok Dean karena memergokinya sedang b******u dengan Rachel, Astha menemui Deva. Astha menemui Deva, ia hendak meminta tolong agar mau menjelaskan masalah yang sebenarnya terjadi di antara mereka setidaknya itu bisa membuat hatinya tenang meski Dean marah. Deva marah mendengar tingkah Dean, ingin rasanya dia memukul Dean karena membuat Astha kecewa. Tiba-tiba saja Dean menggenggam tangan Astha. "Aku sayang kamu" ucap Astha lirih. "Dari dulu sebelum Dean mengenalmu Yas" ujar Deva. Astha diam mendengar ucapan Deva. Astha tahu sungguh tahu namun kini Dean yang ada di hati Astha bukan Deva, meski Deva mencoba untuk menjadi Aran tapi Deva tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Aran. Deva tetaplah Deva bukan Aran. "Kasih aku kesempatan buat nunjukin perasaanku ke kamu" lanjut Deva. "Sorry Va, gue gak bisa." Jawab Astha singkat. "Gue tahu gue terlambat, gue bodoh, gue gak berani buat deketin elo. Dan ini yang harus gue tanggung" ujar Deva sambil melepas tangan Astha. "Yang.. woi.. malah ngelamun" panggil Dean membuyarkan lamunan Astha. "Eh? Iya. Apa tadi kamu ngomong apa De?" "Dih nyebelin, bang Deva mutusin buat pindah ke Yogya lagi." Jelas Deva. "Oh" jawab Astha sambil manggut-manggut. Astha merasa tidak enak pada Deva, tapi memang ini jalan yang terbaik. Dean sudah bisa menggantikan posisi Aran di hatinya. Dan Astha tidak berani bercerita tentang Deva yang mengungkapkan isi hatinya pada Astha, dia tidak ingin merusak hubungan antara dirinya dan Dean terutama antara Astha dan Dean biarlah hanya Astha dan Deva yang tahu. Astha kini yakin hatinya sudah milik Dean seutuhnya. "De...." panggil Astha mendekat dan menggelayuti lengan Astha yang sedang mencatat di atas meja. Dean kini sudah mulai terbiasa, sejak pergumulan malam itu Dean sudah meyakinkan dirinya bahwa dia benar-benar gay dan tidak di ragukan lagi, walaupun kadang dia masih bisa melirik oppai yang berterbangan bebas di alam liar. "Hmmm..apa?" Ujar Dean tanpa menoleh. Cup!! Astha mencium pipi Dean, yang di cium hanya tersenyum dan berhenti menulis kemudian menarik Astha ke dalam pelukannya. Astha merangsek ke dalam dekapan Dean. Wangi mint yang selalu menguar dari tubuh Dean ia hirup kuat-kuat seolah memberinya ketenangan. Dean menciumi rambut Astha, mengusap punggungnya dan menggenggam tangan Astha. Astha memejamkan matanya merasakan sentuhan yang Dean berikan. "De... aku boleh ketemu Deva gak?" Ujar Astha pelan. Tangan Dean berhenti mengelus punggung Astha saat mendengar ucapan Astha. Jujur Dean masih merasa kesal jika mengingat kejadian saat Astha menangis di pelukan Deva, menciumi mata Deva itu semua membuat d**a Dean terasa sesak. Dean tidak rela kekasihnya di sentuh orang lain sekalipun itu abangnya sendiri. "Buat apa?" Tanya Dean. Astha mendongak, menatap wajah Dean. "Aku cuma mau bilang makasih karena dia udah kasih kesempatan buat aku tahu gimana perasaan bang Aran ke aku walaupun itu terlambat. Seenggaknya dia kasih tahu gimana bang Aran." Jelas Astha. Dean diam berpikir sebentar mencerna penjelasan Astha. Kalau dia tidak mengijinkan berarti dia egois, lagipula Astha sudah mantap memilihnya untuk apa dia khawatir. "Ya udah . Aku perlu antar gak?" Ujar Dean. "Gak usah. Gak akan lama aku janji kok De." Jawab Astha. Astha tersenyum kemudian bangun dari posisinya dan duduk di depan Dean. Astha mendekat dan mengalungkan lengannya di leher Dean, memajukan wajahnya . Kini hidung mereka sudah saling bergesek. Dean tanpa ragu melumat bibir tipis milik Astha, giginya yang putih berbaris rapi membuat Astha semakin menggoda. Dean mencecap bibir Astha tanpa ampun, jika tidak ingat akan bernafas maka ciuman itu tidak akan lepas. Dean tersenyum lalu memeluk Astha, semoga kita selalu bahagia Tha batin Dean. "I love You...." ucap Dean. "I love You too" jawab Astha lirih. Dean tersenyum mendengarnya. Dia sama sekali tidak pernah mendengar Astha mengucapkan kalimat itu langsung di hadapan Dean. "Apa yang? Aku gak denger"  ujar Dean dengan senyum usilnya. "Love you too". "Apaan?"  Ujar Dean pura-pura. "Ih, bodo lah." Ujar Astha sambil melepas pelukannya. Dean tertawa terbahak melihat tingkah Astha. Dia jadi ingat masa dimana dirinya saat masih mendekati Astha. Sikap juteknya, u*****n kasarnya, selalu membuat Dean kangen. Dean malah kaget kalau Astha tiba-tiba romantis dan penuh manja, Dean lalu menarik Astha kembali ke pelukannya dan menciumi pipi Astha seraya meminta maaf. Astha tertawa geli dengan perlakuan Dean yang menciuminya. * * * * "Kamu yakin aku nunggu di sini aja?" Tanya Dean setelah mobilnya terparkir di depan sebuah kafe. Astha dan Deva janjian ketemu di kafe tadinya Astha menolak untuk di antar Dean namun Dean memaksa karena Dean tidak mau terjadi apa-apa pada Astha atau lebih tepatnya Dean masih tidak yakin. "Iya, ih bawel kamu " ucap  Astha sambil melepas sabuk pengamannya. Astha kemudian mencium pipi Dean meyakinkan bahwa tidak akan ada drama lagi di antara dirinya dan Deva. Astha keluar dari mobil dan langsung masuk ke kafe tersebut. Setelah masuk ia segera mengedarkan arah pandangnya mencari sosok kembaran sang pacar. Bingo,Deva duduk di dekat jendela sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Astha. Deva hari ini berpenampilan sangat berbeda ia melepas kacamatanya dan membiarkan mata indahnya menerawang bebas. "Maaf Va, gue telat" ujar Astha membuyarkan lamunan Deva. Deva segera menoleh dan mempersilahkan Astha untuk duduk. Hening sejenak menyergap keduanya tak ada yang memulai pembicaraan, seorang pelayan datang dan menanyai pesanan mereka baru lah setelah itu Deva bersuara. "Jadi, apa yang lo mau bicarain Yas?" Tanya Deva. Astha masih diam, tangannya yang dia letakkan diatas pahanya hanya mampu ia remas sendiri. Dari mana Astha harus memulai. "Lo mau pindah ke Yogya?" Tanya Astha. Deva tersenyum, pasti Dean yang menceritakan hal ini pada Astha. "Iya, libur kenaikan kelas ini gue bakal pindah ke Yogya Yas." Jawab Deva. "Sorry," ujar Astha. "Buat?" "Gara-gara gue, lo jadi harus pindah ke Yogya dan ninggalin nyokap ama adek lo." Deva terdiam, ya memang benar alassn utama Deva pindah adalah untuk melupakan Astha. Meski Deva tahu saat pindah nanti perasaannya pada Astha akan masih tetap tumbuh atau ia kubur dalam-dalam di hatinya. Deva tahu kini Astha sudah bahagia bersama Dean, ya Deva tidak perlu mengkhawatirkan Astha lagi karena kini Astha sudah bersama seseorang yang ia kenal bahkan sangat ia kenal baik. "Kenapa lo bilang gitu?" Tanya Deva balik. Astha nampak bingung, apa dia yang merasa besar kepala atau memang Deva yang sedang mempermainkannya. Deva yang melihat ekspresi wajah Astha rasanya ingin tertawa geli, kenapa Tuhan bisa menciptakan makhluk semanis dan seimut Astha batin Deva. "Lo lucu Yas," ujar Deva. "Gue pindah gak ada kaitannya sama elo. Ya walaupun alasannya juga gue pengen move on tapi itu bukan alasan utama. Gue kasihan sama si mbah yang udah tua dia sendiri disana" jelas Deva. Astha lega mendengarnya, ternyata penolakkan Astha bukan jadi faktor utama kepindahan Deva ke Yogya. "Gue udah ikhlasin semuanya, lo udah bahagia ama adek Gue jadi gue gak perlu khawatir lagi buat ngelepas elo." Ujar Deva tulus. "Makasih Va, lo udah mau ngertiin keputusan gue." "It's ok. Kita berteman kan sekarang?" Tanya Deva sambil mengulurkan tangannya. Astha menjabat tangan Deva dan tersenyum. Deva lega kini dia sudah bisa berdamai dengan perasaanya sendiri. Melihat Astha bahagia itu sudah cukup bagi Deva. Dan padtinya bang Aran akan tersenyum padanya karena membiarkan cinta pertamanya bahagia bersama orang yang ia cintai. Selamat tinggal cintaku, selamat tinggal masalaluku, batin Deva. Astha kemudian memutuskan untuk pamit terlebih dahulu. Ia rasa urusannya sudah selesai, dia harus segera kembali kadihan Dean menunggunya pikir Astha. "Udah?" Tanya Dean saat Astha baru saja masuk ke mobilnnya. Astha hanya tersenyum dan mengangguk. "Sekarang kita ke rumahku. Aku mau kenalin kamu ke seseorang." Ajak Dean. Tbc.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD