6

1184 Words
Selamat membaca, Seminggu setelah kejadian di taman dekat gedung olahraga, Astha sedikit demi sedikit membuka hati untuk Dean. Dean yang mengetahui perubahan sikap Astha menyambutnya dengan baik, meski belum resmi berpacaran dengan Asths, Dean mulai membuka diri dengan cara berpacaran seorang gay. Dean mulai terbiasa saat tiba-tiba Astha tidak sengaja menggenggam tangan Dean. Meski masih terasa aneh bagi Dean, tapi setidaknya Dean mulai terbiasa walau jujur masih ada rasa jijik di hatinya. "Gue mau itu De!" Ucap Astha sambil menunjuk potongan kue red velvet di dalam lemari pendingin, saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe. Setelah pulang sekolah tadi Astha mengajak Dean untuk mampir ke cafe terlebih dahulu. "Ok gue pesenin, elo duduk aja ya." Ucap Dean. Astha melenggang menuju tempat duduk mereka dengan senyum simpul di wajahnya. Lima menit kemudian Dean datang dengan membawa nampan berisi red velvet cake yang di tunjuk Astha tadi serta milkshake stroberi dan orange juice untuk dirinya. Setelah ditata di meja, Astha langsung mengambil kuenya. Perlahan-lahan dia mulai menyuapkan potongan demi potongan kue di sendok ke mulutnya. Dean yang menyaksikan tingkah Astha hanya tersenyum sambil memperhatikan bibir merah mungil Astha menjilati sisa wipe cream di sendok. Semakin lama menatap bibir Astha jantung Dean berdegup lebih kencang, Dean menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering. Dean segera menyeruput orange juice miliknya tapi sama sekali tidak menolong. Bibir Astha benar-benar menggoda. Bagaimana bisa seorang lelaki mempunyai bibir seindah itu batin Dean. Tiba-tiba pikirannya penuh dengan khayalan-khayalan aneh tentang bibir Astha, Bagaimana ya rasa bibir Astha? Apaksh lebih manis daripada bibir cewek cewek di luar sana? Batin Dean. Kali ini Dean benar-benar sedang berimajinasi dengan pikiran liarnya. "Lo kenapa De?" Tanya Astha sambil meletakan sendok di atas piring kuenya. "Gak Tha, gak papa." Ujar Dean sedikit kikuk. Astha hanya mengrnyitkan dahinya. Dasar aneh batin Astha. "Tha, kita kan udah baikkan nih seminggu ini...." ucap Dean menggantung kalimatnya. "Lanjut" ujar Astha sambil menyeruput milkshakenya. "Kalo misal ni ya, misal." Astha mengangguk, "Misal aja ni ya, kalo seandainya nih ya Tha." Ucap Dean. "Lo mau ngomong apa sih? Misal misal. Misal apa? " ucap Astha kesal. "Iya, iya sorry elah. Misal, kalo gue nyatain perasaan gue ke elo lagi gimana? Elo mau terima gue apa mau nolak gue?" Tanya Dean penasaran. Astha menatap Dean "elo maunya gimana?" Tanya Astha balik. "Ya kalo elo tanya gitu,pasti gue jawab. Elo harus terima gue!" Ujar Dean mantap. "Alasannya?" "Karena gue gak mau di tolak." Jawab Dean. Astha merebahkan punggungnya pada sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Astha diam menatap Dean. Apa yang harus Astha jawab, apa Astha harus masuk ke dalam peemainan Dean? Atau Astha yang harus mempermainkan Dean? Berpacaran dengan seorang gay pun membuat Astha sakit hati, apa lagi ini dengan seorang cowok straight bisa-bisa tiap hari makan hati, batin Astha. "Elo yakin?" Tanya Astha. Dean mengangguk mantap. "Tapi gue gak Yakin." Ujar Astha enteng. "Kenapa gak yakin?" "Entahlah, menurut gue elo gak akan pernah bisa kayak gue." Dean diam lagi mendengar jawaban Astha. "De gue udah berkali-kali kan bilang sama elo. Ini bukan permainan yang bs lu coba-coba." Ujar Astha. "Iya, gue tahu Tha." "Gue cuma takut elo salah langkah." Ujar Astha sambil menghela nafasnya dalam-dalam. "Elo harus tahu, harus pahami dan elo harus biasain dulu. Elo gak bisa langsung tancap gas. Semua butuh proses dan elo harus nikmatin proses itu." Lanjut Astha. "Berapa lama Tha?" Tanya Dean. "Gue gak tahu, itu gak bisa dihitung pake kata berapa lama, De." "Jadi?." Jawab Dean mantap. "Don't You give up!". "I won't. Let me love You." Ujar Dean Astha tersenyum mendengar ucapan Dean. Astha hanya ingin Dean tidak menyesal di esok hari. Astha harap dengan dirinya memberi waktu Dean bisa berfikir dan memantapkan hatinya. Sore itu mereka habiskan bersama dengan sedikit cerita dari masing-masing. Astha mulai sedikit demi sedikit membuka dirinya untuk Dean. "Udah jam 6,pulang yuk nanti kemaleman." Ujar Dean. Astha hanya mengangguk, kemudian mengambil tasnya dan bergegas keluar dari cafe. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di rumah Astha. Dean senang karena akhir-akhir ini Astha sudah mau untuk diantar jemput, walau kadang dengan sedikit paksaan. Dan tentunya omelan Astha. "Thanks De," ujar Astha sambil melepas sabuk pengaman di tubuhnya. Saat hendak keluar tangan Astha di tahan oleh Dean, Astha berhenti bergerak dan menatap tangan Dean yang sedang menggenggam pergelangannya. "Tunggu, Tha" ujar Dean. Astha mendongak dan menatap wajah Dean. Dean kini sedang menatap mata Astha, lalu turun menatap bibir Astha. Bibir itu, yang sedari tadi menggodanya, batin Dean. Dean ingin mencobanya. Dean memberanikan diri untuk maju mendekati wajah Astha, harum cologne dari tubuh Astha mulai tercium oleh indra penciuman Dean, wangi bayi ini. Wangi yang selalu menenangkan Dean. Dean membelai pipi Astha. Astha yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam dan mengerjapkan matanya. Astha harap kejadian hari itu tidak terulang lagi. Astha memejamkan matanya. Dean menelan ludah melihat wajah polos Astha dengan mata terpejam, Dean menempelkan bibirnya di bibir Astha. Manis, batin Dean. Lebih manis dari bibir mantan pacar perempuan Dean. Bibir itu hanya saling menempel, cukup lama keduanya tidak ada yang berani untuk melakukan hal yang lebih jauh. Dean melepas bibirnya dan sedikit memberi jarak pandang diantara keduanya. Astha membuka matanya dan menatap mata Dean. Astha tersenyum manis pada Dean. Jantung Dean benar-benar mau copot, jadi begini rasanya berpacaran dengan laki-laki? Jadi begini rasanya ciuman dengan laki-laki? Tapi ini bukan ciuman, ini hanya bibir yang saling menempel batin Dean. "Gue masuk dulu De, thanks" ujar Astha sambil keluar dari mobil Dean. Dean hanya tersenyum mengangguk. Astha masuk ke rumah dengan senyum tersungging di bibirnya. Dean sudah mulai berani, tapi di tempat remang-remang batin Astha. "Gue habis ngapain coba? Gue cium Astha? Gue cium bibir dia? Apa gue udah jadi m**o kayak si Deva?" Dean bermonolog sendiri di dalam mobilnya. Dean tersenyum sendiri tidak jelas. Dean melajukan mobilnya menuju arah pulang. Sampai di rumah Dean langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Dean memejamkan matanya dan tiba-tiba pikirannya menerawang kembali pada saat bibirnya menempel di bibir mungil milik Astha. Dean tersenyum sendiri mengingatnya. Kenapa tidak dari dulu saja dia menyukai Astha dan memiliki Astha pikir Dean. Di lain tempat, Astha baru selesai mandi. Dia mengingat kejadian di mobil tadi, dengan segera Astha mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa pesan untuk Dean. To: Dean Apa lo beraninya cuma di tempat gelap doang? Send Ketik Astha di layar chat Line nya. Tingtong! From: Dean Hm?? To: Dean Lol... Thank you. Send... Tingtong! From: Dean Buat apa Tha? To: Dean Usaha elo tadi.Gue simpen jadi bukti, kalo elo udah mulai bisa skin ship ama cowok. Tingtong! From: Dean Astha tersenyum sendiri membaca chat dari Dean. Haruskah Astha mencobanya dengan Dean? Haruskah Astha membuka hatinya untuk seorang cowok straight seperti Dean? Entahlah Astha masih bimbang. Luka hati Astha akan Yuda belum sembuh, dia tidak ingin menjadikan Dean sebagai pelampiasannya. Astha merebahkan tubuhnya di ranjang. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, dia bangun dan membuka laci di samping tempat tidurnya. Astha mengambil album TK miliknya dulu. Di sana masih terpampang sebuah foto anak laki-laki manis yang menjadi cinta pertama Astha. Anak laki-laki yang selalu membela Astha jika Astha dikerjai  teman-temannya, anak laki-laki yang selalu berbagi bekal kotak makan siang dengannya. Astha tersenyum memandangi foto itu. "Sekarang kamu dimana Aran?" Ujar Astha sambil menatap foto anak lelaki itu. Astha Rindu sekali pada pangeran kecilnya itu. Astha ingin bertemu lagi dengannya, mengadu padanya kalau saat ini hatinya sedang tidak tenang. Aran, akankah kamu kembali? Tbc....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD