Selamat membaca....
Hari berlalu, Dean kini semakin berani memperlihatkan rasa sukanya pada Astha. Astha pun berangsur-angsur mulai menerima dan terbiasa dengan perlakuan Dean yang cukup manis namun masih terlihat kikuk. Namun Astha belum mau menerima cinta Dean dan meresmikan hubungan mereka.
Malam minggu ini Dean berkunjung ke rumah Astha. Astha sendiri yang meminta Dean untuk berkunjung ke rumah Astha. Astha bilang dia sendirian karena mama nya harus menemani papa Astha untuk dinas di luar kota. Jadilah sekarang Dean terdampar di rumah Astha. Astha dan Dean kini sedang duduk di ruang tengah rumah Astha sambil menonton Film.
"De, kamu mau ngemil apa? Biar aku ambilin." Ujar Astha terdengar begitu manis, memang saat hanya ada Astha dan Dean Astha akan memakai aku-kamu.
"Terserah kamu aja Tha, apapun itu aku makan kok".
"Yakin? Sandal goreng mau?" Ucap Astha.
"Boleh Tha, tambahin keju kalo bisa." Gurau Dean.
Astha mendengus kesal seperti anak kecil. Astha melempar bantal kecil ke arah Dean sambil berlalu ke arah dapur untuk mengambil beberapa cemilan dan roti serta beberapa minuman kaleng.
Astha kembali ke ruang tengah dengan tangan penuh cemilan, segera ia letakkan di meja.
Astha duduk di sebelah Dean sambil memeluk bantal dan memegang cemilan.
"Tha, kamu gak kesepian kalo di tinggal sendiri di rumah?" Tanya Dean.
Astha yang sedang mengunyah cemilannya hanya menoleh dan tersenyum sebentar.
"Enggak, sekarang kan ada kamu De," ujar Astha.
Dean tersenyum lalu mengelus rambut Astha.
"Jadi sekarang gue udah bisa lo terima Tha?" Tanya Dean.
Astha hanya tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Dean. Astha tidak mungkin menolak Dean lagi, hari-harinya sudah di penuhi dengan Dean.
Dean yang melihat tingkah Astha merasa kikuk namun senang, kemudian Dean memberanikan diri menggenggam tangan Astha.
"Tha, ? Panggil Dean lembut.
"Iya De?" Jawab Astha.
"ini yang ke tiga kalinya gue mau tanya. Gue harap elo jawab jujur, Elo mau gak jadi pacar gue?" Tanya Dean.
Astha bangun dari posisinya dan menatap wajah Dean. Astha menatap mata Dean. Mencari sebuah kesungguhan.
Mungkin ini sudah waktunya untuk Astha menerima Dean. Astha tersenyum menatap Dean, dan mengangguk menjawab pertanyaan Dean.
"Serius Tha?" Ucap Dean
"Iya, serius." Jawab Astha.
Dean langsung memeluk Astha, dan menciumi pipi Astha.
"Oh jadi sekarang udah berani di tempat terang?" Sindir Astha.
Dean hanya meringis membalas sindiran Astha.
Astha kembali menyandarkan kepalanya di bahu Dean, kemudia Dean melingkarkan kedua tangannya di tubuh Astha.
Jarum jam menunjukkan pukul 10. Dean harus pulang sekarang kalau tidak bisa-bisa dia di grebek orang. Eh, tunggu gak mungkin digrebek juga ya, kan kita sesama lelaki batin Dean.
"Tha?" Panggil Dean lembut sambil mengelus rambut Astha.
"Hmmm?" Jawab Astha.
"Gue nginep sini boleh gak?" Tanya Dean.
"Kamu gak takut aku grepe-grepe?"
Goda Astha.
"Eng-enggak lah." Jawab Dean gugup.
Astha rasanya ingin tertawa terbahak mendengar jawaban Dean. Pikiran jahil Astha tiba-tiba muncul.
Astha bangun dan langsung beralih menindihi tubuh Dean. Dean sontak kaget, dirinya diam. Dean memejamkan mata kuat-kuat.
Astha yang melihat ekspresi Dean langsung tertawa terbahak.
"Haha, yakali aku perkosa kamu De." Ujar Astha sambil bangun dari posisinya.
"Eng-enggak lah. Yang ada aku yang perkosa kamu Tha." Jawab Dean.
"Emang bisa? Berani? Tahu caranya?" Ejek Astha.
Dean menelan ludahnya dalam-dalam, tenggorokkannya tiba-tiba terasa kering mendengar pertanyaan Astha.
"Hahhaa sumpah De, kamu lucu banget. Udah gih sono pulang udah malem" ujar Astha sambil menarik tangan Dean agar beranjak dari sofa yang Dean duduki.
"Ngusir nih?" Tanya Dean.
"Enggak, tapi udah malem" ujar Astha.
"Ok lah gue balik." Ucap Astha sambil mengambil kunci mobilnya di meja.
Astha mengantar Dean sampai ke pintu depan. Saat hendak masuk ke dalam mobil Dean memanggil Astha.
"Tha.. sini" ucap Dean sambil melambaikan tangan.
Astha yang berdiri di depan gerbang langsung maju ke arah Dean.
Tiba-tiba Dean mengecup hangat kening Astha. Astha kaget, dia hanya mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Good Night" ujar Dean sambil mengacak rambut Astha, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan pekarangan rumah Astha.
Astha masih diam terpaku sambil memegang pipinya, Wajahnya benar-benar terasa panas, Astha tidak menyangka Dean akan memperlakukannya seperti itu.
Dean, jangan buat aku jatuh terlalu dalam, batin Astha sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya.
* * * *
"Jadi elo udah terima dia Tha?" Tanya Valeri. Saat ini Astha sedang berada di kantin bersama Valeri. Tadi setelah jam pelajaran selesai Astha mengirimi pesan pada Valeri untuk bertemu di kantin.
"Hmm" jawab Astha sambil mengangguk.
"Jadi, elo udah move on dari Yuda? Gue kira drama penolakannya bakalan panjang Tha. Ternyata gak lama juga." Ujar Valeri sambil melahap baksonya.
"Lo kira cinta fitri butuh ber-season-season?" Ujar Astha. "Jujur, gue juga belom terlalu yakin karena yang gue rasain Dean masih belom terlalu bisa nerima kontak fisik antara gue ama dia Val." Jelas Astha.
"Maksud lo?"
"Gini deh, elo bayangin aja cowok lurus pacaran ama gay. Kira-kira kalo dia dicium,digrepe bakalan jijay gak? Mereka kan biasa pegang yang berisi dan sekarang pegang yang rata apa iya gak kaget?." Ujar Astha.
"Hahaha, bangke lo Tha. Terus kenapa elo terima dia kalo elo aja gak yakin?. Jangan cari perkara deh Tha."
"Gue gak nyari perkara Val. Di satu sisi gue pengen dia jangan kayak gue, di sisi lain hati gue mulai bisa nerima keberadaan dia." Jelas Astha lagi.
"Duh yang punya hati." Ujar Valeri
"Sial, Lo" balas Astha.
Valeri hanya tertawa terbahak melihat ekspresi kesal Astha.
"Diem nyet berisik" ucap Astha.
Valeri berhenti tertawa setelah puas melihat wajah kesal Astha.
"Eh Tha, Tha itu kakak ipar lo tuh" ucap Valeri sambil menunjuk ke arah pintu masuk kantin. Astha menoleh dan mendapati Deva sedang berjalan masuk ke dalam.
"Diem nyet! Kakak ipar dari hongkong!" Ucap Astha sambil melotot ke arah Valeri. Tanpa Astha sadari Astha salah mengambil gelas minumnya. Astha mengambil minuman Valeri yang berisi Orange juice. Astha masih kesal hingga ia menyeruput minuman Valeri sampai habis. Tiba-tiba tenggorokannya tercekat. Dia susah bernafas.
"Val, i-i-ni apa?" Tanya Astha sambil memegangi dadanya.
"Itu jus jeruk Tha. Lo kenapa Tha? Elo gak salah minum kan Tha? Astaga Tha." Jawab Valeri panik.
Astha masih duduk sambil memegangi dadanya, nafasnya semakin sesak. Valeri menepuk-nepuk punggung Astha berharap cairan oranye itu keluar dari dalam perut Astha, namun sia-sia usaha Valeri. Astha semakin merasakan sesak di dadanya, Valeri bingung harus berbuat apa.
Deva yang sedari tadi memperhatikan Astha langsung berjalan menghampiri Astha dan Valeri.
"Dhyas kenapa Val? Apa yang terjadi sama dia?" Tanya Deva.
"Gue gak tahu Dev, dia minum jus jeruk dan langsung kayak gini" ujar Valeri.
"Dia alergi jeruk Val, kenapa lo kasih dia jeruk?"
"Gue gak tahu dia ambil sendiri Dev."
"Sekarang lo bantu gue mapah dia ke UKS." Ujar Deva, Valeri dan Deva memapah Astha menuju UKS. Untungnya jarak kantin ke UKS tidak terlalu jauh.
Astha masih kesulitan untuk bernafas. Deva langsung mencari obat anti alergi di lemari kaca. Lama dia membongkar kotak obat di lemari kaca akhirnya dia menemukannya. Deva langaung membuka kapsul tersebut dan mengambilkan air mineral yang ada di meja, Deva menyuapi Astha obat lalu memberikannya minum. Nafas Astha sedikit membaik, Deva membaringkan tubuh Astha di ranjang. Valeri hanya melongo memperhatikan aksi Deva barusan.
"Lo jaga dia dulu Val, biar gue kasih tahu Dean." Ucap Deva.
Valeri hanya mengangguk, dia masih bingung dengan yang terjadi barusan. Bagaimana bisa Deva bisa tahu kalau Astha alergi jeruk.
Valeti duduk di samping ranjang Astha, sedikit demi sedikit Kesadaran Astha mulai berkumpul.
"Val?" Panggil Astha.
"Iya Tha, elo udah baikkan?" Tanya Valeri.
"Udah lumayan," ujar Astha sambil membenarkan posisinya.
"Kok lo gak bilang sih kalo alergi jeruk? Lo juga kenapa bisa minum jus jeruk gue? Tadi gue panik banget tahu." Cecar Valeri.
"Sorry nyet. Kok lo bisa tahu kalo gue alergi jeruk?" Tanya Astha heran.
"Bukan gue. Untung ada kakak ipar lo tadi yang nolongin elo. Dia ampe mapah elo dari kantin nyampe sini. Terus dia juga yang ngasih tau gue kalo elo alergi jeruk." Jelas Valeri.
"Maksud lo si Deva?"
"Iya. Eh terus ya-" belom sempat Valeri meneruskan omongannya
Dean sudah masuk ke dalam UKS sambil berlari.
"Hosh hosh hosh . Yang elo gak papa? Mana yang sakit? Mana Yang mana?" Ujar Dean.
Astha yang mendengarnya langaung melempar bantal yang ada di tangannya.
"Berisik. Lebay banget sih lo" ucap Astha.
Vakeri yang mendengarnya hanya terkikit geli. Kasihan Dean batin Valeri.
Dean maju menghampiri Astha dan langsung memeluknya.
"Yang, gue kan khawatir sama elo".
Ujar Dean.
Astha melepas pelukkan Dean dan menatap Dean.
"Gue gak mati De, elo gak usah lebay." Ucap Astha.
Dean kemudian menatap Astha dan mengelus lembut rambut Astha.
Dean berbalik menatap Valeri.
"Val thanks, elo udah tolongin My prince" ujar Dean.
Valeri rasanya ingin muntah, apa benar selama ini Dean lurus? Buktinya sekarang dia tidak malu memperlihatkan kemesraannya dengan Astha, dia juga tidak sungkan dan malah terlihat bersikap natural, batin Valeri.
"Val? Kok malah bengong sih?" Tanya Dean.
"Eh? Eng iya De sama-sama lagian bukan gue-" ucapan Valeri terpotong saat Valeri melihat gerakan telunjuk Astha yang di taruh di bibirnya sendiri.
"Bukan gue apa Val?"
"Enggak enggak. Iya gue harus jagain Astha dia kan bayi besar gue De." Ujar Valeri.
Dean manggut-manggut sambil tersenyum.
"Jangan sakit Yang, aku khawatir kalo kamu sakit" ucap Dean manja sambil memeluk Astha.
Astha hanya mengangguk dalam pelukan Dean. Astha sebenarnya sedang berfikir tentang kembaran Dean. Deva, ya Radeva. Kenapa bisa Deva tahu tentang alergi jeruk Astha? Seingat Astha ini adalah penyakitnya sejak kecil dan jarang kambuh jadi gak banyak yang tahu selain keluarga dekatnya. Dhyas, nama itu hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama itu, Aran hanya Aran. Lalu, kenapa Deva mau repot-repot nolongin Astha? Padahal Astha tidak pernah bersikap baik pada Deva. Apalagi akhir-akhir ini semenjak Dean mengganggu Astha, Astha sering mengumpat di depan Deva. Jadi, kenapa Deva mau menolong dirinya? .
"Tha? Kok bengong sih?" Tanya Dean.
"Eh? Enggak kok." Jawab Astha. "De, pulang sekolah aku boleh maen ke rumah kamu gak?" Ucap Astha manja.
"Emang kamu udah gak sakit?"
"Udah sembuh kok."
"Yakin?" Tanya Dean lagi.
"Hmm" ujar Astha sambil mengangguk.
"Ok deh." Ucap Dean.
Astha harus mencari tahu, siapa Deva dan bagaimana Deva tahu tentang dirinya. Astha mungkin harus menanyakannya langsung pada Deva, tidak lewat Dean batin Astha.
TBC....