5. Tepati Ucapanmu!!!

1490 Words
"Apa ini yang kalian sebut proposal??" Cheng Yi melempar map di depannya. "Siapa, yang mengajukan ide proposal ini??!!" Cheng Yi menatap semua orang di ruang rapat dengan tajam. Atmosfir di ruang tersebut seperti lenyap, tidak ada yang berani untuk bernafas. "Tidak ada yang menjawab??!!" "Ken, tunjukan mereka pintu keluar!" Seorang pria mengangkat tangan nya, dengan kepala menunduk. "Kau??" Pria itu masih menundukkan kepalanya, menatap Cheng Yi takut. "Keluar, dari ruangan ku, aku tidak butuh orang tidak berguna seperti mu!!" Perintah Cheng Yi dingin. Pria itu langsung keluar dan meninggalkan kantor. "Rapat hari ini selesai!" Ucap Cheng Yi, lalu pergi meninggalkan ruangan. Semua orang bernafas lega. Cheng Yi melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 20.30, bergegas menuju lobi kantor dan menjalankan Range Rover nya. "Aku tidak menyangka, ternyata kau pandai memasak." Xiao Li memuji Zhu Xi yang membantunya masak beberapa menu makan malam. "Tapi masakan ku tidak seenak yang ibu buat." Jawab Zhu Xi sambil menuangkan sup kedalam mangkuk. "Nona Zhu Xi, nenek memanggil anda." Seorang pelayan menghampiri Zhu Xi, nenek memanggil nya, ada apa?? Zhu Xi menatap Xiao Li sekilas, lalu pergi menuju ruang makan. "Nenek,..." "Duduk lah, ada yang ingin nenek bicarakan." Zhu Xi duduk di samping nenek Cheng. "Apa yang ingin nenek bicarakan??" Zhu Xi menatap nenek Cheng lekat. "kapan kau pertama kali bertemu dengan cucuku??" "Sa..." "Satu bulan yang lalu." Jawab Cheng Yi begitu melihat nenek nya sedang berbicara serius dengan Zhu Xi. "Benar kah??" Nenek Cheng menatap Cheng Yi dan Zhu Xi bergantian. "Tentu saja, nek" Cheng Yi menghampiri Zhu Xi dan duduk di samping nya. "Kalian baru sebulan bertemu, sudah memutuskan menikah." Lanjut nenek Cheng "Itu karena kami saling mencintai dan tidak ingin kehilangan satu sama lain." Cheng Yi memegang tangan Zhu Xi erat, mengangkatnya lalu memberikan kecupan di telapak tangan. "Baiklah, aku mendoakan pernikahan kalian bahagia." "Terimakasih nenek." Jawab Cheng Yi dan Zhu Xi bersamaan. "Makan malam sudah siap." Xiao Li keluar dari dapur. "Aku pulang." Ucap seseorang dari pintu masuk, semua orang menoleh. "Ibu,..." Wanita itu memeluk Xiao Li erat. "Nenek,... Bagaimana kabar mu??" Wanita itu memeluk nenek Cheng penuh kehangatan. "Ibu, Dimana ayah??" "Masih di negara A." Wanita itu hanya mengangguk. "Kakak,... Aku merindukan mu!" "Ya, aku pun." "Kau merindukan ku?? Kau bahkan tidak pernah menelpon ku!" "Aku terlalu sibuk." "Siapa dia??" Tanya wanita itu saat melihat Zhu Xi berdiri di samping Cheng Yi. "Calon Kakak ipar mu." Jawab Cheng Yi. "Hallo, aku..." "Bukan kah selama ini kakak bersama..." Zhu Xi menarik kembali uluran tangan nya. "Mari makan." Potong Xiao Li cepat. "Bagaimana sekolah mu disana??" Tanya Xiao Li di sela makan nya. "Ya, baik²saja." "Kakak ipar, siapa nama mu??" Tanya Cheng Lina. "Ah-oh, aku Xiao Zhu Xi." "Bagaimana mungkin jadi kakak ipar ku??dilihat dari wajahnya saja sepertinya lebih muda dari ku." Ucap Cheng Lina. "Stttt, Lina, kau tidak boleh berkata seperti itu." Xiao Li menegurnya. "Tidak apa ibu, yang dikatakan Lina memang benar." "Ya baiklah." "Ibu, aku dan Zhu Xi sudah selesai, kami akan menginap di rumah ini lain hari." Cheng Yi menarik tangan Zhu Xi pelan. "Ibu, aku pamit." Ucap Zhu Xi sebelum tangan nya di tarik lebih cepat. "Apa kita tidak akan berpamitan dengan nenek??" "Tidak, nenek sudah tidur." Cheng Yi membukakan pintu mobil. "Bukan kah, kau sudah memutuskan untuk menginap, kenapa tiba²ingin kembali??" Zhu Xi menatap Cheng Yi heran. "Kemana pun aku pergi, kau hanya perlu mengikuti, tidak usah bertanya." Cheng Yi melajukan mobilnya, aneh nya ini adalah bukan menuju apartemen Zhu Xi. "Bukankah ini..." "Kita akan pergi ke Hakka house." Potong Cheng Yi dengan cepat. "Hakka house rumah ku." Lanjut Cheng Yi, Zhu Xi hanya mengangguk paham. "Tutup jendela nya, kau bisa masuk angin." Tegur Cheng Yi saat melihat Zhu Xi membuka nya, Zhu Xi mengacuhkan nya, tetap membiarkan angin malam yang dingin menerpa nya. "Kau ini keras kepala." Ucap Cheng Yi dengan menekan tombol untuk menutup jendela, Zhu Xi mendengus kesal. "Cheng Lina, adikmu yang sekolah di luar negeri??" Tanya Zhu Xi tiba² "Ya." "Kau ingin kenal adik ku??" Tanya Cheng Yi yang membuat Zhu Xi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau masuk duluan, aku harus menelpon Darren." "1 lagi, di dalam ada beberapa bahan makanan, masakan sesuatu untuk ku." "Kau masih lapar??" "Aku hanya makan sedikit." "Baiklah, tapi apa password rumah ini??aku tidak bisa masuk!" Zhu Xi berteriak karena jarak nya dan Cheng Yi cukup jauh. "Nama ku!!" Zhu Xi memasukkan password nya dan langsung masuk begitu saja. "Hallo tuan." "Ada perkembangan??" Tanya Cheng Yi "Tidak ada tuan, hanya saja sikapnya mencurigakan." Jawab Darren di seberang sana. "Pantau terus, jangan lengah." "Baik tuan." Cheng Yi memutuskan telponnya, masuk rumah dan langsung pergi mandi. "Bukan kah kau lapar??" Tanya Zhu Xi saat melihat Cheng Yi fokus pada monitor nya. "Simpan dulu." "Nanti cepat dingin, biar aku su,..." "Tidak. Biar aku saja." Cheng Yi mengambil piring di tangan Zhu Xi. "Kau bisa istirahat." "Bagaimana dengan mu??" "Aku, masih ada pekerjaan." Jawab Cheng Yi, Zhu Xi menatap monitor di depannya. "Bukan kah itu saraf??" Tanya Zhu Xi, Cheng Yi mengangguk pelan. "Aku juga bekerja sebagai spesialis bedah saraf di Hakyu Hospital, mereka yang bekerja di RS juga tidak menyadari aku Cheng Yi dari keluarga Cheng." Jelas Cheng Yi. "Kenapa kau tidak mengungkap identitas mu??" Tanya Zhu Xi penasaran. "Aku lebih suka private." "Ah bicara soal private, aku akan mengungkapkan identitas ku kepada publik, kau juga akan di kenal sebagai nyonya muda Cheng." Lanjut Cheng Yi di sela mengunyah. "Baiklah." "Aku akan beristirahat." Lanjut Zhu Xi, lalu pergi ke kamar. Cheng Yi menatap punggung wanitanya. "Aku harap, kita bisa terus bersama di masa depan." Ucap Cheng Yi dengan lirih. Cheng Yi menatap Zhu Xi yang sudah terlelap di atas kasur, mengelus Surai wanitanya. "Cantik." Cheng Yi menutupi tubuh Zhu Xi dengan selimut, lalu pergi ke balkon kamar. "Katakan!" Ucap Cheng Yi, yang berbicara dengan Ken di seberang telepon. "Keluarga Xiao sedang bersenang-senang, tuan." Jawab Ken. Tangan Cheng Yi mengepal kuat, bagaimana bisa mereka bersenang senang saat putri mereka tidak ada di rumah?? keluarga macam apa itu?!" "Ajukan kerjasama dengan perusahaan Xiao, aku akan ikut bersenang senang." Senyum licik terukir di wajah Cheng Yi, keluarga Xiao sedang bersenang-senang, kenapa dia tidak ikut berpartisipasi?? Bukan kah akan lebih menyenangkan?? "Baik tuan." Ken memutuskan sambungan telepon, ia paham maksud dari tuan nya yang ingin ikut bersenang senang. ****** "Nona, bangun." Seorang pelayan menghampiri Zhu Xi yang masih belum bangun. "Iyaa aku sudah bangun." Zhu Xi menggeliat pelan, Cheng Yi masuk kamar, tersenyum melihat wajah cantik Zhu Xi saat bangun tidur, ternyata selucu itu. "Tuan..." "Pergilah, aku akan mengurusnya." Pelayan tersebut membungkukkan badan, lalu pergi. "Nona muda Zhu Xi, kau tidak akan pergi mandi, atau aku akan memandikan mu??" Cheng Yi menghampiri Zhu Xi dengan senyum jahilnya. "Dasar, pria m***m!!" Zhu Xi beranjak dari tempat tidur nya, langsung pergi ke kamar mandi, Cheng Yi yang melihatnya kembali tersenyum. "Astaga, menggemaskan." "Tuan, ada tamu yang menunggu anda di bawah." Pelayan itu kembali menghampiri Cheng Yi. "Tamu?? Sepagi ini??" Cheng Yi turun kebawah untuk melihat siapa yang datang sepagi ini. "Tuan Xiao??" Panggil Cheng Yi saat melihat Xiao Zhoyue duduk di ruang tamu. "Dimana adikku?!" "Di kamar." Jawab Cheng Yi singkat. "Kau, apa yang kau lakukan pada adikku?!" Zhoyue mencengkeram kerah baju Cheng Yi kuat. "Aku hanya membantu adikmu." Cheng Yi menatap Zhoyue sinis. "Membantu??kau pikir dengan kau menikah bisa membantunya??" Zhoyue menatap Cheng Yi tajam. "Lalu??aku dan adikmu menikah juga saling menguntungkan, kalau kau tidak merestui hubungan ku, apa kau bisa membantu??apa yang akan kau lakukan?? Keluarga Xiao tidak akan mengijinkan adikmu menikah dengan orang luar, dan ayah mu tidak akan mengijinkan mu untuk membawa dia pergi." Jelas Cheng Yi, membuat Zhoyue bungkam. "Apa kau tau yang dialami adikmu selama ini??" Lanjut Cheng Yi. "Adikmu di perlakukan layaknya pelayan di rumah keluarga Xiao! Dan aku akan menikahi nya untuk keuntungan bersama, aku membantu adikmu keluar dari rumah Xiao dengan cara menikahi nya, dan aku juga akan terlepas dari rumor gay yang menjijikkan." "Bukan kah saling menguntungkan?? Kau tenang saja, aku akan memperlakukan adikmu dengan baik." Lanjut Cheng Yi. "Apa kau tau resiko besar jika kalian berdua menikah??" Zhoyue melepaskan cengkeramannya, lalu duduk kembali. "Aku tau, aku akan menghadapinya." Cheng Yi merapihkan pakaiannya. "Menghadapi apa??" Tanya Zhu Xi saat mendengar percakapan Cheng Yi dengan kakaknya. "Kakak!!" Zhu Xi lari menghampiri kakak nya, memeluk dengan erat. "Bagaimana kabar mu??" Zhoyue mengelus rambut Zhu Xi. "Baik, kenapa kakak tidak memberitahu ku, kakak akan pulang, aku bisa menjemput mu." Zhu Xi melepaskan pelukannya, menatap kakak nya lekat. "Aku pikir kau sibuk." Cheng Yi yang melihat adegan itu berdehem pelan. "Kakak, harus pergi ke kantor." Zhoyue menatap adiknya. "Bukan kah, kau baru saja tiba??." Zhu Xi mempoutkan bibirnya. "Aku akan ke kantor ayah, aku akan menghubungi setelah urusan ku selesai." "Bagaimana kalau nanti makan malam di paviliun Cheng??" Tanya Cheng Yi, yang langsung dapat anggukan setuju. "Kita bertemu jam 20.00 nanti." Zhoyue melangkah kan kakinya, namun tiba tiba berhenti. "Cheng Yi, kau harus tepati ucapan mu!!" Zhoyue pergi meninggalkan Hakka house.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD