4. Benar² Menggemaskan

1475 Words
Cahaya matahari menerobos masuk begitu saja, Zhu Xi membuka matanya perlahan, kamar?? Seingatnya ia bersama Cheng Yi di ruang tamu semalam. "Dia sudah pergi??" Tanya Zhu Xi sambil melangkah kan kakinya, mengecek ruang tamu. "Ya, dia harus kerja." Zhu Xi kembali ke kamarnya, mengambil ponsel nya yang dari tadi bunyi, matanya terbelalak kaget saat melihat berita keluarga Lu yang diambang kebangkrutan. "Bangkrut atau tidak, aku tidak peduli, aku harus berterima kasih pada kakak, yang telah menggagalkan Yexi untuk menikah dengan keluarga Lu." "Lalu kau bisa menikah dengan putra keluarga Lu??" Zhu Xi membalikkan badannya cepat, Cheng Yi yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya, dengan tatapan intens. "Aku tidak mengatakannya." "Sejak kapan tuan suka menguping??" "Kau mencoba mengalihkan topik??" Cheng Yi menghampiri Zhu Xi, merapatkan tubuhnya, dengan sorot mata dingin, Zhu Xi menelan ludahnya, Cheng Yi bagaimana bibir Zhu Xi bergerak, memberikan kecupan sekilas. Cheng Yi mengangkat kedua tangan Zhu Xi, menguncinya di atas kepala. "Kau sudah akan segera menikah dengan ku! Aku tidak akan membiarkan mu melirik pria lain, paham?!" Oh Astaga, dia pria yang sulit untuk di tebak, bisa bersikap baik dan kasar. "Y-ya aku paham tuan." Jawab Zhu Xi terbata, Cheng Yi melepaskan cengkraman nya. "Bersiaplah, kita akan pergi ke rumah utama keluarga Cheng." Cheng Yi merapikan pakaiannya, meninggalkan Zhu Xi di kamar. Zhu Xi menghela nafas lega, atmosfir nya tiba tiba berubah. Zhu Xi keluar dari kamarnya menggunakan dress putih tulang selutut bermotif bunga sakura, dengan rambut terikat di sertai hiasan rambut, bak putri kerajaan, sangat cantik!! "Dimana Darren??" Tanya Zhu Xi, karena biasanya ia melihat Darren sudah siap di kursi kemudi, tapi hari ini tidak ada. "Cuti,..." Jawab Cheng Yi acuh. Zhu Xi merapatkan bibirnya, mengangguk pelan, melirik Cheng Yi sesaat. Huftt seperti nya pria itu masih kesal - gumam Zhu Xi. "Tuan,..." "Kau masih kesal??" Zhu Xi benar² tidak nyaman dengan situasi ini. "Apa aku perlu membawakan sesuatu untuk keluarga mu??aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong." "Tidak." "Tapi,..." "Jika nenek menanyakan sesuatu kau hanya perlu menjawabnya dengan jujur." Potong Cheng Yi dengan cepat, Zhu Xi hanya mengangguk. "Baiklah." "1 hal lagi, tidak usah memanggil ku tuan, Cheng Yi saja." Zhu Xi tidak menjawab, memilih membuka jendela mobil dan membiarkan angin menerpa wajahnya. "Apa kau gugup??" Zhu Xi menoleh. "Ya sedikit." Jawabnya. Cheng Yi memegang tangan Zhu Xi erat, mengelusnya pelan. "Tidak usah gugup, nenek tidak akan menerkam mu." "Bukan soal itu, aku takut nenek melihat status ku yang rendah." Zhu Xi menundukkan kepalanya. "Nenek tidak akan memandang status mu, selama aku berpura pura mencintaimu." Cheng Yi kembali menatap ke depan. "Berpura pura??" Gumam Zhu Xi pelan. Ya, pernikahan ini hanya untuk saling menguntungkan, tentu saja harus berpura pura saling mencintai - "Apa yang kau katakan??" Tanya Cheng Yi yang mendengar ucapan Zhu Xi samar² "Tidak ada." Zhu Xi kembali menatap jalanan, matanya terpejam terkena terpaan angin. Zhu Xi menatap bangunan megah di depannya, bangunan yang bahkan lebih luas dari rumah nya. Benar² keluarga yang besar gumam Zhu Xi Kemudahan menarik nafas dalam-dalam, Cheng Yi kembali menggenggam tangan Zhu Xi. "Aku pulang." Semua orang menoleh ke sumber suara, Seorang wanita cantik menghampiri Cheng Yi. "Ibu, bagaimana kabar mu??" "Ibu, baik² saja." "Ibu senang akhirnya kau pulang." Wanita yang di panggil ibu itu tersenyum, kemudian menatap Zhu Xi yang berada di belakang tubuh Cheng Yi. "Dia calon istrimu??" "Hallo, Bibi." Sapa Zhu Xi sambil membungkukkan badannya. "Kau akan menikah dengan putra ku, seharusnya kau manggil aku ibu." "Ah baiklah ibu." "Duduk lah, nenek sudah menunggu, ibu akan menyiapkan jamuan untuk kalian." Xiao Li, mengelus pundak Zhu Xi pelan, lalu pergi ke dapur. "Aku akan ikut dengan mu, ibu." Zhu Xi menyusul Xiao Li pergi ke dapur, Cheng Yi menggelengkan kepalanya. "Mungkin itu salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan keluarga ku." Gumam Cheng Yi dengan mengangkat bahunya. "Nak, harusnya kau duduk saja di ruang tamu." Ucap Xiao Li sambil membuat teh. "Tidak apa , jika aku duduk disana, akan merepotkan mu." Jawab Zhu Xi. "Siapa namamu??" Tanya Xiao Li sambil menatap Zhu Xi "Xiao Zhu Xi." "Xiao?? Kau Putri keluarga Xiao??" Tanya Xiao Li lebih lanjut. "Ya ibu, aku putri tertua keluarga Xiao." "Bukan kah putri tertua keluarga Xiao akan menikahi putra keluarga Lu??" Xiao Li menyimpang nampan di tangan nya. "Itu adikku." Jawab Zhu Xi lirih "Adikmu di perkenalkan sebagai putri tertua keluarga Xiao??" tanya Xiao Li, Zhu Xi hanya mengangguk, lalu pergi dengan membawa makanan di tangannya. "Ada apa dengan keluarga Xiao??" -tanya Xiao Li pada diri sendiri, ia menggelengkan kepala, tak mengerti. "Hallo, nenek." Sapa Zhu Xi dengan membungkukkan badannya. "Duduk lah." Nenek Cheng menarik yang Zhu Xi untuk duduk di sampingnya. "Kau gadis cantik." Nenek Cheng menelisik wajah Zhu Xi yang cantik tanpa ada bekas luka sedikitpun. "Nenek juga awet muda, seperti masih remaja." Zhu Xi memegang tangan nenek Cheng hangat. "Kau tau menyenangkan hati orang tua rupanya." "Cheng Yi, jujur saja nenek terkejut saat mendengar berita kau akan menikah, tapi di satu sisi nenek juga senang." Nenek Cheng menatap Cheng Yi dan Zhu Xi bergantian. "Aku sudah tau, kau anak tertua keluarga Xiao, mungkin kau punya alasan sendiri kenapa tidak muncul di depan publik, dan keluarga mu memilih adikmu untuk itu." Zhu Xi menatap nenek Cheng sendu, dia juga ingin di kenal banyak orang, tapi adik tirinya selalu berebut!. "Nenek sudah berjanji." "Kau pun sudah berjanji." "Janji apa yang kalian bicarakan??" Xiao Li baru saja tiba, duduk di samping Cheng Yi. "Nenek sudah berjanji padaku untuk tidak memandang status..." "Aku tidak memandang status calon istri mu, kalau pun dia bukan dari keluarga Xiao aku akan tetap menerimanya di keluarga Cheng." Ucap nenek Cheng, Zhu Xi menghembuskan nafas lega. "Selama kau mencintainya." Lanjut nenek Cheng. "Tentu saja aku mencintainya." Jawab Cheng Yi "Jika kau mencintainya, sesudah nikah aku memberikan mu waktu 3 bulan untuk memberikan ku cicit." "Nenek,..." "Tidak ada perpanjangan waktu." Potong nenek Cheng cepat, lalu beranjak dari tempat duduknya, menuju kamar. "Ibu,..." Ucap Zhu Xi lirih. "3 bulan lagi nenek ulang tahun, mungkin yang nenek inginkan di hari ulang tahun nya adalah kado bahwa dia akan segera punya cicit." Jelas Xiao Li. "Baiklah, Kami akan berusaha." Ucap Cheng Yi, yang langsung dapat tatapan tajam dari Zhu Xi. Xiao Li yang melihatnya, menepuk bahu Zhu Xi pelan. "Berusaha lah." "Kau dengar??" Tanya Cheng Yi, yang langsung dapat gelengan dari Zhu Xi. "Aku tidak mendengar apapun!" "Baiklah, seperti nya kita menginap disini malam ini." Ucap Cheng Yi, Zhu Xi menatapnya bingung, kenapa harus menginap disiang hari?? "Kenapa harus menginap??" "Zhu Xi, bisa temani ibu belanja??" Xiao Li kembali menghampiri mereka, Zhu Xi mengangguk pelan. "Tentu saja bisa." Zhu Xi hendak melangkahkan kakinya, namun di tahan oleh tangan besar yang melingkar di pergelangan tangannya. Cheng Yi mengeluarkan beberapa kartu, Zhu Xi menatapnya heran. "Untuk apa??" "Untuk kau belanja??mungkin saja ada yang ingin kau beli??" Jawab Cheng Yi, Zhu Xi menghela nafas pelan, menatap pria di depannya. "Dengarkan aku tuan Cheng, aku belum resmi jadi istri mu, aku tidak ingin menggunakan uang siapa pun, aku hanya ingin menggunakan uang ku sendiri." Zhu Xi kembali menyerahkan kartu di tangan nya. "Kau tidak ikut??" Tanya Xiao Li, Cheng Yi menggelengkan kepalanya. "Aku harus rapat bu, aku akan kembali setelah urusan ku selesai, jangan biarkan wanita ini pergi sendiri." Ucap Cheng Yi dengan menyentil dahi Zhu Xi pelan. "Kau!!" Zhu Xi mempoutkan bibir nya. "Ibu, ayo pergi." Zhu Xi memegang tangan Xiao Li, lalu pergi meninggalkan rumah. "Benar² menggemaskan." Cheng Yi mengangkat sudut bibirnya, melihat tingkah lucu calon istrinya. "Tuan," panggil Darren di seberang sana. "Katakan." "Lokasi target sudah di ketahui, apa yang harus kita lakukan selanjutnya??" Tanya Darren. "Biarkan saja dia melakukan apapun, namun jangan lengah, jangan membiarkan dia kabur, kita tidak boleh kehilangan jejak!!" Ekspresi Cheng Yi berubah menjadi dingin dengan raut wajah kesal. "Baiklah." "Aku akan ke sana, setelah pernikahan ku selesai." "Baik tuan, kami akan menunggu perintah anda selanjutnya." Ucap Darren, sebelum sambungan itu benar benar putus. "Sial!!, Kenapa dia baru muncul sekarang?!! Merepotkan!!" Cheng Yi memukul di dinding di depannya, tanpa ada rasa sakit sedikit pun. "Tuan Cheng, mobil sudah siap." Seorang supir menghampiri Cheng Yi. "Aku akan pergi sendiri." Cheng Yi mengambil kunci, lalu melajukan mobil Range Rover nya dengan kecepatan tinggi. "Zhu Xi,..." Panggil Xiao Li "Ya??" "Apa yang diucapkan nenek benar??" Tanya Xiao Li dengan menatap Zhu Xi lekat. Zhu Xi terdiam beberapa saat, kemudian menatap wanita cantik di depannya. "Itu benar Bu." Jawabnya, namun Xiao Li tidak mempercayai nya dengan mudah, ia tau Zhu Xi hanya berbohong. "Zhu Xi, katakan yang sebenarnya." "Aku tau kau berbohong." Lanjut Xiao Li , Zhu menarik nafasnya. "Keluarga Xiao sangat rumit, aku tidak bisa menceritakan nya." "Baiklah, ibu tidak akan memaksamu, tapi jika kau butuh tempat cerita, kau bisa mencurahkan nya padaku." Zhu Xi tersenyum hangat, ia benar² tak menyangka masih ada orang yang peduli padanya, walaupun itu bukan ibu kandungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD