Chapter 20 : Bite My Lower Lip [END]

4572 Words
Christian cemas, khawatir, gelisah, dan jadi gila. Seumur hidup, baru pertama kali dia merasakan hal semacam ini. Christian ingin sekali meringankan sakit yang ditanggung Claire sendirian, tapi saat matanya bersibobrok dengan pintu ruang operasi, Christian menyumpah lagi karena pada dasarnya dia tak bisa berbuat apa-apa. Uang dan kekuasaannya tak berfungsi tapi mungkin, cintanya sampai untuk sekedar memberi kekuatan. Dokter mengupayakan berbagai macam tindakan, sampai yang terakhir menyuntikkan obat penguat paru-paru janin. Tujuannya untuk memaksimalkan agar janin bisa lahir pada usia yang matang. Tapi air ketuban Claire makin lama makin berkurang. Tubuhnya panas tinggi, dan ketika dicek, pembukaan mulut rahimnya sudah masuk pembukaan 4. Tak ada pilihan lain, Claire harus melahirkan bayinya saat itu juga, meski usia kandungannya baru 32 minggu. Dokter tak berani mengambil persalinan normal, jadi mau tak mau, Claire harus melakukan operasi caesar. Dengan persetujuan Brian sebagai wakil keluarga, dan fakta itu berhasil membuat Christian shock. “Jadi kau saudara kandungnya?” mengusap wajah, Christian masih tak percaya pada kenyataan itu. Brian Moore, pria yang dikenalnya sejak masa kuliah, dan agak tertutup tentang keluarga itu kakak Claire? Christian melirik sekilas ke arah pria itu dan membuang napas. Warna mata Brian dan Claire memang sama, tapi Christian tak pernah berpikir sedikit saja, Claire yang cantiknya beda itu sedarah dengan Brian. “sejak kapan kau tahu?” “Sejak aku mengantar Claire ke rumahnya sehabis kau usir dari Swiss,” Brian menekan kata-katanya, sinis. “Mama kami rupanya datang mencari Claire. Keributan terdengar sampai ke luar. Aku tahu Claire terguncang. Jadi aku menerobos kamarnya dan datang tepat ketika dia hampir saja mengiris urat nadinya sendiri.” Penuturan itu membuat Christian gila. Damn, jadi Claire pernah berpikir untuk bunuh diri? Christian mengerang, salah satu alasan gadis itu melakukannya mungkin karena dirinya juga. “Tak ada harapan membiarkan dia hidup bersama orang-orang yang gemar menyakitinya, aku memutuskan membawa Claire pergi jauh dari kalian semua.” Brian menambahkan. “I’m sorry,” Christian bersandar di dinding rumah sakit itu, nampak penuh penyesalan. Brian mendengus. “Katakan itu pada Claire, bukan padaku. Dia yang menderita, yang hatinya kau sakiti berkali-kali.” “Aku tahu,” Christian mengutuk diri sendiri, “aku akan membayar semua kesalahanku padanya. Ini bukan hanya soal tanggung jawab, tapi cinta yang kupunya untuk mereka. Aku kembali untuk sesuatu yang paling kubutuhkan, Claire dan anakku.” Christian terlihat sangat serius. “Aku akan menikahinya.” Detik itu juga Brian berdiri, tertawa kecil, bukan khasnya. “Kau menikahinya?” “Ya,” Christian mencoba untuk tidak bersikap defensif. “kau tahu perjalananku panjang mendapatkan Claire. Kalau harus kulalui sekali lagi, aku tidak keberatan melakukannya. Asal mereka bisa kudapatkan lagi” Kalau tidak sabaran, Brian pasti sudah menghajar Christian Aiden sampai babak belur. “Kau memang teman baikku, bro. Tapi saat kau menyakiti adikku, kau sudah mati sebagai temanku.” Brian menepuk bahu Christian, menegaskan bahwa tak ada main-main jika menyangkut keluarga. “Kau bisa mendapatkan kepercayaanku kembali jika Claire mau memaafkanmu, tanpa paksaan. Tapi jika Claire bilang tidak, sorry, aku orang pertama yang akan menjauhkan dia dan keponakanku darimu.” Brian memberi jeda sebentar agar Christian mencatat baik-baik ucapannya. Sebelum pergi dari sana, kepalanya yang stress menunggu Claire butuh segelas kopi hitam. Brian melenggang meninggalkan Christian yang kemudian membalas dengan senyum kecut. *** Christian memasuki ruang NICU dengan masker di wajah dan sarung tangan steril di kedua tangannya. Ada sesuatu yang terasa meledak di d**a saat makin dekat dan akhirnya tiba di samping inkubator. Christian diam sebentar, sebelum menempelkan jari-jarinya di kaca. Bayi yang baru dilahirkan Claire satu jam lalu begitu mungil. Kecil, merah dan nampak lelap dalam tidurnya. Bayi laki-laki dengan berat 1,7 kg dan panjang 45 cm itu adalah puteranya. Christian takjub cintanya dengan Claire menghasilkan makhluk hidup yang bernapas. “Hey, boy.” Christian tak pernah tahu suaranya bisa selembut itu. Bayinya menggeliat pelan di atas infant warmers, seolah mendengar lalu merespon. Tapi perasaannya berantakan melihat bayi sekecil itu harus mendapatkan infus, selang-selang di beberapa bagian tubuh dan feeding tube di mulut yang terhubung sampai ke lambungnya. “Be healthy and strong, they are many people who will love you.” Karena lahir secara prematur, bayinya akan lebih lama berada di inkubator. Dokter bilang, sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Sampai berat badan dan pernapasannya stabil. Christian cukup lama berdiri di sana, mengamati. Larangan tak boleh menyentuh dulu membuatnya frustasi. Christian begitu penasaran selembut apa kulit bayinya, dan rambut cokelat keemasannya itu. “Claire pasti marah kau melihatnya lebih dulu, sementara dia masih tidur karena efek obat bius.” Brian berdiri di sisi Christian, mengenakan pakaian jenguk yang sama. Dan nampak serupa terpesonanya memandang bayi yang lebih kecil dari ukuran normal lahir. “Aku Ayahnya.” Hanya itu yang diucapkan Christian, malas melanjutkan perseteruan halus mereka beberapa jam lalu. “Ah ya, dan dia membuatku luluh.” Brian bahagia campur sedih karena keponakan barunya butuh banyak bantuan untuk tumbuh lebih besar. “Kalau begini, bagaimana aku tega menjauhkan dia dengan Ayahnya?” “Aku akan membunuhmu kalau sampai itu terjadi,” Christian berdesis. Sejak kali pertama melihat bayinya, hormon over-protektifnya meningkat tajam. “Aiden,” mata Brian berpendar jenaka, Christian baru sadar bahwa bagian itu versi laki-laki dari mata Claire. Hanya saja, milik Claire jauh lebih cantik. “aku tahu kau dan Claire punya hubungan yang dalam. Lalu sekarang, ada dia di tengah-tengah kalian. Kejam sekali aku kalau menghalanginya punya keluarga yang utuh.” Christian tidak bisa menebak raut muka Brian karena pria itu pakai masker, tapi nada bicaranya seperti memberi lampu hijau. “Kau jauh lebih lama mengenal Claire. Aku memang kakak kandungnya, tapi aku baru hadir sebentar dalam hidupnya. Sementara kau menghabiskan waktu melindunginya meski dengan cara yang tak semua kusetujui.” Tinggi mereka hampir sama ketika Brian mendekat dan menepuk punggung Christian. “Jangan besar kepala Aiden, karena kalau sekali lagi kau menyebabkan air matanya jatuh, aku bersumpah akan jadi pengusaha pertama yang masuk surat kabar karena telah menembak kepala teman dekatnya sendiri.” “Jadi kau temanku lagi?” Christian mengangkat alis. “Belum. Sudah kubilang sampai kau mendapatkan maaf dari adikku.” Christian mendengus tapi puas dengan keputusan yang Brian ambil. Pria itu agak mencondongkan tubuhnya ke inkubator. ”Well, little boy, ternyata pamanmu cukup keren.” Dan kali itu giliran Brian yang mendengus keras-keras. *** Christian meletakkan tulip biru di sisi ranjang Claire ketika seorang perawat wanita undur diri dengan botol dan breast pump di tangannya. Sekali pandang, Christian tahu Claire menghindari kontak mata. Bahkan menggubris keberadaannya saja tidak, tatapan Claire lurus ke depan. Christian sengaja memberi Claire kecupan selamat pagi di keningnya hanya untuk menemukan bahwa tubuh yang setengah duduk itu menegang. “Aku kembali secepat yang kubisa,” pukul 9 malam Christian sempat pergi ke London untuk bertemu rekan bisnisnya dari Amerika, yang berujung pada batalnya beberapa agenda kerja merka. Lalu dokter Viona mengirim kabar bahwa Claire siuman pukul 3 pagi. Selama mengemudi, Christian berusaha mengendalikan mobilnya agar tak menabrak pembatas jalan karena terlalu ngebut. “Kau baik-baik saja, hm?” Claire menolak rambutnya dibelai. “Apa pita suaramu masih dalam pengaruh obat bius?” Claire bergeming, tapi bola matanya terlihat berkaca-kaca. Christian mengambil dagu Claire dengan telunjuknya, lembut dan penuh perhatian. “Claire, kau boleh tumpahkan semua amarahmu, tapi jangan diamkan aku seperti ini.” Christian tenggelam di manik hijau Claire yang cemerlang karena air matanya jatuh. Tatapan mereka yang bersinggungan menimbulkan letupan di dalam hati. “Bicaralah, kumohon.” Christian membujuk. “Aku takut... kau tidak nyata.” Christian tertegun karena ucapan Claire yang terlampau pelan, tapi dipenuhi rasa sakit. “Aiden yang kulihat terakhir kali tidak seperti yang sekarang menatapku. Dia menginginkan aku pergi dari hidupnya, tapi kau ingin aku bicara padamu.” “No, Claire. Aiden yang manapun tidak ingin kau pergi dari hidupnya. Dia hanya terlalu bodoh menyadari bahwa separuh jiwanya ada padamu.” Semakin dipandang, semakin luka tergambar jelas di wajah Claire. Tanpa bertanya, Christian seolah tahu apa saja yang telah dialami oleh gadis itu. Rasa sesal kembali menghantamnya. “Maafkan aku yang tak ada saat kau mengalami masa-masa sulit. Maaf karena aku yang telah menyebabkan kau melalui semua itu. I’m so sorry, Claire, itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan seumur hidupku.” Christian mengambil jari-jari Claire dan meletakannya di atas kepalanya. Claire memejamkan mata, menikmati saat-saat kulitnya tenggelam di antara helaian rambut Christian. Ya Tuhan, Claire begitu merindukan pria ini. Tapi Claire takut Christian tiba-tiba berubah jadi sedingin es. Claire takut sampai menarik jari-jarinya sendiri. Christian mendongak dan merasa kehilangan. “Claire,” “Lebih baik kau keluar, aku mau istirahat.” “Demi Tuhan, Claire Lore, tidak lagi!” Christian berdiri dan menahan wajah Claire untuk tak berpaling darinya. “Sekarang bilang padaku kalau kau tidak mencintaiku, lalu aku akan pergi melewati pintu itu. Tanpa melihat padamu, dan aku takkan kembali.” Christian benci melihat air mata Claire turun karenanya. Lagi dan lagi. “Tolong jawab aku,” desahnya putus asa. “Aku akan pergi kalau kau memang tidak mencintaiku.” “Kau jahat!” Claire melepaskan pukulan-pukulan lemah di bahu Christian dengan terluka. “Kau pria paling jahat yang pernah kutemui!” Claire terisak, “bagaimana bisa kau katakan itu lagi padaku? Kau baru saja datang dan sekarang bilang akan pergi!” “Claire,” Christian menahan lengan gadis itu, takut infus di punggung tangannya lepas dan jarumnya melukai kulit. “Aku mencintaimu,” bisik Claire seperti hembusan angin. “don’t leave me again.” Bola mata Christian yang terbakar kecewa, sedih, gusar dan marah perlahan mulai memadam. Dengan lembut jari-jarinya membelai rambut yang membingkai wajah Claire. Tak ada yang berubah. Wajah itu tetap secantik peri. “I’m sorry,” lagi, Claire yang paling berani mengatakan perasaannya. Christian kalah dua kali. “I never once stopped thinking about you when you were taken away. Six months. God, Claire—it was very teribble for me,” Christian memejamkan mata sebentar saja. “But you must know how much I always love you, little one.” Menangis, rasanya sudah beribu-ribu tahun Christian tak memanggilnya dengan panggilan itu. “Claire, menikahlah denganku.” Christian mengucapkannya penuh kesungguhan. “selesaikan dongeng paling indah yang kau impikan itu dengan hidup bersamaku. I’ll be your Neverland, and you will be my girl.” Claire menyeka air matanya. Claire pikir, masa depannya dengan Christian sudah tertutup rapat. Dongeng dan mimpinya berakhir. Tapi kini dongeng itu ditawarkan kembali padanya. Dan Claire ingin mengulangnya dengan awal yang baru. Claire tidak mau kehilangan cintanya lagi lalu menyesal. Karena itu, Claire mengangguk. Ada sebuah kelegaan yang mengalir seperti amfetamin, ketenangan itu menyerap usai mereka saling mengungkapkan perasaan. Christian lega, dia memeluk Claire dan menghujani kepalanya dengan ciuman-ciuman kecil. Kemudian ciuman itu mendarat di kening, di kelopak matanya lalu turun ke hidung, dan sejenak Christian berhenti di pintu bibir Claire yang mengundang, sebelum mendekat lagi untuk melumatnya. Lembut dan hati-hati. Ya Tuhan, ini oase terbaik sepanjang kegersangan hidupnya. “Thank you, my love.” Christian mengusap permukaan bibir Claire, ingin kembali mencecapnya tapi deheman di pintu kamar rawat menghentikan mereka. Claire yang kaget spontan menyembunyikan wajahnya di d**a Christian. “Wow, sorry, interupsi.” Suara Brian terdengar speechless sendiri. “hanya ingin bilang jika Mum dan Dadmu, dan Diandra sudah ada di depan rumah sakit ini. Oke, biar kutahan mereka beberapa menit di depan kamar.” Pintu tertutup lagi, rona di wajah Claire menyebar sampai ke lehernya. Semakin malu dan—apa?! Mum dan Dadnya? Diandra? Mereka ada di rumah sakit ini? Claire meminta penjelasan Christian lewat matanya. “Dan Ayahku juga,” Christian mengecup punggung tangan Claire yang tak terpasang infus. “tentu saja dia sangat ingin melihatmu dan cucu laki-lakinya.” *** The tea lenght wedding dress cocok dipakai Claire yang berkaki panjang. Gaunnya putih, bernuansa vintage, dengan aksen dedaunan yang menghambur di bagian rok dan pundak. Gaun itu jatuh di bawah lutut, di atas tumit, memberi kesan anggun tapi sederhana pada Claire yang rambutnya dikepang chignon. Lalu menyisakan beberapa helai keriting di masing-masing sisi wajah. “Beautiful.” Diandra memasang headpiece floral di sanggul Claire, disusul veil yang berpayet bunga dan menerawang. Oh Tuhan, Diandra yang mendandani, tapi dia juga yang terpesona. “You’re a very beautiful girl, Claire.” “I’m not girl, I’m a mother.” Senyum kecil Claire terulas, matanya yang penuh binar cinta meredup. Claire rindu bayinya yang masih tinggal di rumah sakit. Sudah hampir dua bulan, tapi dokter bilang, berat badan bayinya belum cukup memenuhi syarat untuk bisa dibawa pulang. Padahal Claire datang ke rumah sakit dan memberinya ASI setiap hari, bayinya juga sudah tak sekecil waktu lahir. “Well then, you’re a pretty mother.” Diandra tersenyum pengertian. “I know you miss him, but please smile. I’m sure he’s also happy today, because his Dad and Mommy are getting married.” Diandra menaik-naikkan alisnya menggoda, lalu terharu dan tidak tahan untuk memeluk Claire erat-erat. “Aku turut bahagia karena kau telah menemukan kebahagiaanmu kembali. So happy for you, my lovely sister.” Diandra tersentuh ketika kali pertama melihat Claire lagi. Claire waktu itu setengah berbaring di atas ranjang rumah sakit, habis melahirkan bayi lucu yang membuatnya jatuh cinta. Dan begitu tegar saat memeluk satu persatu orang yang menjenguk. Gavin dan Gabrielle yang bahkan pernah mengecewakan hatinya. Sangat berbeda dari Claire yang selama ini dia kenal. Claire mengusap lengan Diandra yang melingkar di lehernya dengan erat, pantulan mereka ada di dalam cermin. Terlihat hangat. “Terimakasih Di, aku harap kau cepat menyusul.” Doa Claire. Ketika itu terdengar ketukan di luar pintu, Diandra membukanya dan ternyata Brian. Pria itu terkesima melihat Claire berbalut gaun pengantin. “Gorgeous as always.” Brian berdiri di belakang Claire yang duduk, tersenyum lewat kaca di hadapan mereka. “Rasanya tidak rela Aiden punya istri secantik kau. Sementara aku belum tentu seberuntung dia.” Brian dapat satu pukulan di tangannya. “Aw, Claire, kenapa kau jadi galak begini?” namun tawa, berderai dari bibir pria itu. “Jangan bicara seperti itu,” Claire cemberut. “kau akan memiliki wanita yang sangat cantik dan baik hati untuk melengkapi hidupmu.” Brian mendecak sangsi, tak semua gadis-gadis punya mimpi kekanakan tapi tulus seperti Claire. “Baiklah, sayangnya itu masih lama sekali.” Brian membantu Claire berdiri dengan uluran tangan, Claire otomatis merangkul lengannya. “Sekarang biarkan aku mengantarkan adik perempuanku ini menuju altar.” Diandra sempat merapikan gaun Claire dan letak dasi Brian sebelum mendahului keduanya, pergi ke tempat di mana acara pernikahan bakal berlangsung. Claire memilih Cleeve Hills sebagai tempatnya mengikat janji pernikahan. Dengan konsep outdoor, acara itu diselenggarakan di halaman belakang rumah Brian. Hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat. Mum dan Dadnya, Sergio, Richie, Caroline, sepupu-sepupu kecilnya, Diandra, Frida, Darren, rekan-rekan di pameran Birmingham termasuk River dan Charles, lalu Mamanya. Ya, Rosaline Lore yang waktu itu menemuinya, dan menyebabkan hatinya hancur. Claire memang masih kecewa atas masa lalunya, tapi mengetahui jika wanita itu bukanlah seperti yang Natalie katakan, membuat hatinya sedikit luluh untuk bisa memaafkan. Rosaline dulunya memang bekerja sebagai model, dan Natalie tak sengaja mengenalnya. Lagipula, tak ada untungnya menyimpan dendam, toh, Rosaline Lore hanya ingin melihat puterinya menikah sebelum kembali pada keluarga barunya di Australia. “Gugup?” Brian bertanya, Claire menggeleng. Tapi ketika tersadar kakinya sudah menginjak karpet yang lurus menuju altar, irama jantungnya jadi tak beraturan. Apalagi ketika Claire menyadari jika dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang duduk di kanan kiri jalan, Claire tambah deg-degan. “Kau cantik, tak ada yang salah dalam dirimu. Mereka semua hanya terpesona, seperti dia.” Brian mengedikkan kepala ke depan dan terkekeh. Claire malu, tapi tidak bisa menahan diri untuk mendongak. Lalu bertatapan dengan sepasang mata cokelat gelap Christian yang tak berkedip. Pria itu terlihat luar biasa dengan tuksedo hitam wol silk italynya. Rambutnya disisir ke belakang, rapi, dewasa, seksi, Ya Tuhan—Claire rela melepaskan 1000 Peterpan untuk mendapatkan pria seperti itu. Tak ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada Ayah dari bayinya. “Take care of her, and my little nephew.” Claire menerima uluran tangan Christian ketika Brian menyerahkannya. Sentuhan di jemari itu meletupkan cinta, hasrat, gairah dan ketulusan. Claire berdebar-debar saat mereka menghadap pendeta. Momen penting dalam hidupnya akan dimulai. You are not supposed to go out and find love. Love, will find you when you are ready. Dan Tuhan menjawab, Claire siap detik ini. Hembusan angin sore terasa mengkhidmatkan suasana. Doa pendeta menyatu dengan gemerisik daun-daun di halaman belakang. Claire nyaris saja terkulai ketika suara Christian terdengar kemudian. Bariton seperti biasa, namun lebih dalam. "I Christian Aiden Canavaro, take you Claire Lore, to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness." Perasaan Claire melayang-layang, isi kepalanya beterbangan. Saat bibirnya mengatakan ya, lalu mengulang janji yang sama seperti Christian, Claire berkali-kali meyakinkan dirinya jika semua ini bukanlah mimpi. Karena mulai sekarang, Claire akan hidup bersama Christian sebagai isterinya. “Claire,” Christian mengambil jari-jarinya dengan tatapan teduh. Tak ada lagi cincin pertunangan, benda itu diganti oleh cincin pernikahan mereka. Claire menyematkan pasangan cincinnya di jari Christian. Pelan-pelan, tidak seperti dulu. Kerabat dan teman-teman mereka memberi tepukan tangan. Keduanya lalu saling pandang, tapi tak ada yang melempar senyum. “Why?” kata itu terlontar dari gerakan bibir yang minimalis, Claire kikuk. “No, I just wanna kiss my wife.” Christian merengkuh pinggang Claire dan mencium bibirnya. Bertempo sedang, menghanyutkan. London kiss mereka yang lembut itu digoda orang-orang. Christian baru melepaskan lumatannya setelah Claire dengan setengah putus asa meremas tuksedonya. “I love you,” Christian mengecup kening Claire sebelum menuntunnya melemparkan seikat bunga tulip. Darren yang berhasil menangkap bunga itu, semua orang tertawa. Sebagian berseru mendukung agar Darren cepat naik ke pelaminan, sebagian lagi kejam mengolok-ngoloknya. Pernikahan mereka memang jauh dari kesan mewah dan formal, tapi Claire merasa sangat bahagia. Tak ada tamu-tamu asing, kebahagiaan itu hanya dibagi dengan orang-orang terdekat. Musik dari gesekan cello dan biola mulai diperdengarkan. Makanan dan minuman sudah dinikmati. Eh, bukankah begini ya pesta pernikahan di dunia Tinkerbelle itu? Lamunan menggelikan Claire buyar saat Gabrielle datang padanya dan menciumi wajahnya. “Oh sayangku,” mata wanita itu berkaca-kaca. “baru kemarin rasanya puteriku yang cantik ini meledakkan dapur saat membantu Mum memasak.” Claire merengek karena insiden itu diungkit lagi, namun tak urung saling memeluk erat. A mother gives you a life, but a mother-in-law gives you her life. Ya, seperti itulah Gabrielle dalam hidupnya. Apapun yang terjadi, wanita itu akan selalu jadi Ibunya. “Hiduplah dengan bahagia, mulai sekarang kau hanya harus menikmati kebahagiaanmu.” Claire mengangguk atas ucapan Gabrielle. “Dad,” Claire memeluk Gavin yang muncul di belakang Gabrielle. Ah, laki-laki yang tak pernah marah padanya sekalipun, hanya Gavin, Dadnya tersayang. Kalau Eric Moore masih hidup, Claire berharap Ayah kandungnya itu akan seperti Gavin. “Dad hanya punya kau, dan sekarang kau akan pergi.” Pelukan mereka terpisah dan Claire tak sanggup melihat kesedihan Gavin. “No, Dad. Aku dan cucumu akan sering-sering main ke rumah. Promise.” Claire menenangkan. Setelah Gavin percaya, pria paruh baya itu beralih pada Christian dan entah sedang bicara apa, karena kini, Claire malu-malu menatap Sergio yang tersenyum. “Dad, panggil aku Dad juga.” Sergio bicara sebelum Claire sempat mengatakan sesuatu, lalu memberi satu pelukan nyaman pada menantunya. “Aku selalu yakin kau akan membawa kebahagiaan di dalam rumahku. Terimakasih karena telah bersedia menerima puteraku kembali.” Claire membalas dengan senyum dan pelukan lagi. Tak bisa berkata apa-apa. Yang lainnya menyusul memberi selamat. Frida yang heboh, rekan-rekannya di pameran, keluarga Gavin dari Swiss, lalu Darren yang entah berbisik apa pada Christian sampai dihadiahi satu pukulan main-main mereka di kepala, Charles Lachowski, dan River tentu saja. “Aku akan memberi kalian paket berlayar di kapal pesiar keluargaku sebagai hadiah pernikahan.” River menjabat tangan Christian dan mengedip. Kekakuan di antara kedua laki-laki itu agak mencair. “Jangan salah paham lagi, Claire tidak mungkin suka padaku, ya ‘kan Claire?” Claire tertawa kecil menanggapi. “Lagipula aku ingin jadi Paman yang baik untuk anak kalian.” Lanjut River. “Thanks,” Christian akhirnya setuju setelah sempat mendengus. Brian lalu menghampiri Claire dengan gelas wine di tangannya. Merasa sangat wajar ketika mengecup pipi adik perempuannya penuh sayang. Tapi Christian bersikap lain lagi—defensif. “Man, tolong jangan kau lakukan itu lagi.” Christian mendorong Brian sedikit menjauh dari Claire. “Aku lebih familiar mengenal kau sebagai teman baikku daripada kakaknya. Jadi jangan buat kepalaku meledak gara-gara itu.” Alih-alih tersinggung, Brian tertawa, kencang dan baru kali itu Claire melihatnya. “Oke, aku mengerti.” Brian menahan senyum. “Aku mengalah saja daripada harus melihatmu kebakaran jenggot.” Tapi tiba-tiba nuansa sendu menyapa saat sosok Rosaline terlihat berjalan mendekat ke arah mereka. Brian yang kelihatan paling ingin menghindar, pria itu lantas pergi untuk melihat Darren yang bermain-main dengan sepupu Claire dari Swiss. Claire mengikuti punggung Brian yang makin jauh dengan matanya. Tahu bahwa pria itu punya hubungan yang tak baik dengan Rosaline Lore, sama seperti dia. Tapi Brian mengambil sikap yang lebih kejam dari Claire pada Mama mereka. “Claire,” giliran Claire yang gelisah. Meski ini pertemuan ketiga mereka setelah Rosaline menjenguk bayinya di rumah sakit, Claire masih merasa canggung. “boleh Mama memelukmu?” Claire diam, tak merespon apapun sampai Rosaline memberanikan diri untuk memeluk lebih dulu. “Mama ikut bahagia atas pernikahanmu. Bahagialah selalu,” Rosaline nampak terharu. “Mama berharap kau dan Brian akan selalu saling menjaga. Dan tolong sampaikan permintaan maaf Mama pada kakakmu. Mama tidak pernah bosan meminta maaf pada kalian.” Claire mengangguk kecil sebagai jawabannya. “I love you, Claire.” Rosaline pamit untuk kembali ke Australia setelah memberi Claire kecupan di kening, berharap jika suatu saat nanti, akan bertemu kedua anaknya dalam keadaan yang lebih baik. Dan tentu saja, Brian yang suatu hari mau dipeluk olehnya. “Aku punya berita bagus untukmu, ini tentang hadiah pernikahan.” Christian merangkul Claire lebih rapat padanya untuk mengalihkan kesedihannya. Berhasil, Claire sekarang memandang padanya dengan bahasa mata yang bertanya-tanya. Menunggu. “Kita akan segera menjemputnya. Keajaiban kita pulang malam ini juga.” Claire mengerjap beberapa kali, agak lama sampai kelopaknya membulat. “Tapi dokter Viona bilang padaku—” “Tidak, dokter itu sudah bersekongkol denganku.” Christian terkekeh, tidak mencoba menghindar ketika Claire memberinya satu pukulan di perut. Christian lebih suka membalasnya dengan elusan di wajah. “Dia sangat sehat karena kau telah merawatnya dengan baik setiap hari. So proud of you, Claire. Kau Ibu yang hebat.” Christian mengecup Claire di pelipisnya. Terlalu bahagia. Claire tak bisa bicara sepatah katapun, karena rasa haru itu datang saat menyadari bahwa mereka akhirnya memiliki keluarga kecil sendiri. *** Ada pemandangan yang begitu indah ketika Christian baru selesai mandi. Claire bersandar di ranjangnya dengan rambut tergerai, mengenakan kamisol dan gaun tidur itu merosot di pundak karena Claire tengah fokus menyusui. Bibir perempuan itu mengucapkan banyak kata-kata cinta, berhujan senyum dan menciumi Archer dalam pelukan. Ya, Christian menamai bayi laki-lakinya Archer Lake Canavaro. Karena Archer punya mata hijau yang memukau seperti Ibunya. Hijau bagai danau dan memanah hati banyak orang. Tak tahan lagi untuk segera bergabung, Christian melempar handuknya di walk in closet dan naik ke atas ranjang. Diambilnya jemari puteranya dan bayi itu merespon dengan menggenggam erat telunjuknya. “He is so small,” Christian tak henti-hentinya takjub dengan perbedaan bagian tubuh mereka yang sangat mencolok. Jari-jari Archer kecil sekali melingkupi telunjuknya. “but he is strong too.” Karena Christian menyaksikan sendiri bagaimana kuatnya Archer menyusu pada Claire—gadis yang dulu sering ribut dengannya itu kini sudah jadi seorang wanita, istri serta ibu sekaligus. Christian tidak tahu jika Claire akan bisa terlihat sedewasa ini. Auranya berubah di dekat Archer. “Aku ingin berat badannya cepat naik,” Claire terlihat khawatir, “karena Archer lahir prematur, pertumbuhannya sedikit tertinggal dari yang lain.” “Ya, dan aku yakin dia akan mengejar ketertinggalannya dengan cepat,” Christian menyusuri wajah Archer dengan jemari. Dari kening, alis, hidung, pipi, bibir merah sampai ke dagunya yang mungil. Berharap Archer membuka kelopak mata dan memerlihatkan warnanya yang indah. God,  bayi laki-lakinya begitu mempesona. “Isn’t right, hm? Because you are my little man.” Christian mengecup kening Archer hingga bayi itu menggeliat, terganggu karena gesekan bulu di rahangnya mengenai kulit. “Daddy loves you.” Bisik Christian ke samping telinga puteranya. “Archer loves Daddy too.” Claire yang membalas dengan senyum lebar. Dan detik itu juga, Archer melepaskan mulutnya dari p****g Claire, benar-benar terlelap setelah sepanjang jalan menuju London tidurnya dijahili Brian. Oh ya, Claire kembali ke London. Ke rumah keluarga Canavaro, dan sekarang berada di kamar tidur Christian. “Bye Dad, I’ll see you tomorrow morning.” Christian suka cara Claire bersuara untuknya, cara perempuan itu meletakkan Archer di box bayinya dan ucapan selamat malamnya untuk bayi mereka. Lalu Claire kembali berbaring di atas ranjang dan Christian sadar sudah ribuan kali jatuh cinta pada isterinya hari ini. “I love you and that’s the beginning and the end of everything.” Christian menarik tubuh Claire lebih merapat di dadanya, mesra. “Terimakasih untuk segala yang telah kau berikan, sayangku. Thank you for being my wife and has given me a son.” Claire mengangguk lalu memberi Christian kecupan di pipi. “I want us to grow old together and live a life full of love, happiness and naughty adventures.” “Naughty adventures? Like what?” Claire mengerjap. Polos dan menggoda. Christian jelas tersulut, tapi mencoba untuk tetap tenang. “Skydiving, riding,” menyebutkan apa yang mereka pernah lakukan bersama, sembari diam-diam merubah posisi hingga Claire kini berbaring di bawahnya. “... and making love.” Mata Christian menyusuri tubuh Claire dan berhenti di payudaranya yang makin berisi karena menyusui. “You love it?” Christian menyipit untuk pertanyaan Claire yang kedengaran innocent. “Ya,” suaranya serak. “but what I really love about my wife is that she’s a strong minded, stubborn, fiery woman, kind, and also good mother. I find that sexier than anything else.” Christian merunduk untuk mencium bibir Claire. Dalam dan memabukkan. Namun ketika Claire mulai terhanyut, Christian melepasnya. Tidak menyentuh lebih jauh. “Aku tahu kau lelah.” Christian membelai wajah Claire yang terpana. “Malam pertama bisa menyusul.” Senyum tertahan pria itu menggoda. “Now I just want to bite your lower lip.” “Huh?” “Because this is me,” Christian menekan bibir atas Claire yang tipis dengan telunjuknya, “and this is you,” turun ke bibir bawah dan mengusapnya dengan sensual. “then here we are come for love.” Kemudian menyelipkan bibirnya sendiri di antara celah bibir Claire yang terbuka. Menyesap dengan lembut. Perlakuan Christian membuat Claire terlena. Saling pagut beberapa lama, Christian mengakhiri ciuman itu dengan kecupan di seluruh bagian wajah Claire. “Sekarang tidurlah di pelukanku,” pria itu menggulingkan tubuh mereka, memberi isterinya perlindungan lewat kedua lengan memeluk erat. “Good night, my love.”             Claire masih bingung, kelopak matanya mengerjap-ngerjap dalam dekapan Christian. Tapi begitu memahami situasi, Claire mengulas senyum. Ya, sekarang di antara mereka ada kepercayaan, kejujuran, pengertian, dan cinta yang akan tumbuh setiap hari. Lalu Claire memejamkan mata. Karena esok pagi, dongeng yang sesungguhnya baru dimulai. Karena pagi besok, dunia akan berubah menjadi Neverland. Hanya ada dia, Christian serta putera mereka, Archer. [*]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD