Gerald mentransfer-nya lebih banyak dari yang Dhita minta. Di luar nalar dan logika, sisa dari yang dia minta bisa menyewa gedung apartemen selama empat bulan. Dhita tertawa pelan, jika Dave tahu maka habislah dirinya begitu pula dengan Gerald.
Ting!
Sebuah pesan masuk, Dhita langsung membuka pesan itu.
Kak Gerald : Sisanya untukmu, belilah apa pun yang kamu mau. Itu hadiah uang tahunmu dariku, memang ulang tahunmu beberapa Minggu lagi tapi aku lebih dulu memberikanmu hadiah.
Ah, Gerald memang luar biasa. Jangan sampai kekasihnya nanti mata duitan seperti Bian, bisa-bisa harta Gerald dikeruk habis dan Gerald hanya bisa mengiyakan seperti orang bodoh. Dhita hanya bisa berdoa, semoga kekasih atau istrinya nanti baik dan mencintainya Gerald tanpa memandang jabatan serta hartanya.
Dhita kembali masuk ke dalam cafe, para penagih hutang menarik paksa karyawan ke luar cafe. Terlihat raut wajah tak terima tampak di wajah karyawan terutama sang pemilik cafe. “Berhenti!” teriak Dhita membuat semua aktivitas di dalam cafe terhenti, mereka semua menatap Dhita, “saya akan membayar semua hutangnya.”
Si ketua penagih hutang tertawa keras, dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jangan suka bercanda, Dek. Kamu itu masih muda, kita bisa lho datengin keluarga kamu.”
Keluarga? Apa kata mereka? Mau datang menemui keluarganya? Untuk apa? Untuk silaturahmi, memohon ampunan karena telah meremehkan seorang putri dari keluarga Cowdree. Dhita tidak pernah membawa-bawa nama keluarganya sebagai ajang pamer, tapi jika mereka ingin mengunjungi rumahnya dan bertemu dengan Davier dia tidak masalah.
“Saya serius, mana nomor rekening bos kalian? Saya bisa langsung transfer uangnya,” balas Dhita meyakinkan sementara mereka—si penagih hutang—diam, menatap Dhita penuh selidik dibumbui rasa tidak percaya. Dhita menghela nafasnya kasar, dia menunjukkan jumlah nominal dalam m-banking ke arah mereka. Ragu, tapi sang ketua penagih hutang itu tetap nekat melihat. Pria itu kaget, dia melirik para teman-temannya. “Bagaimana?”
“Baiklah, catat nomor rekening ini.” Pria itu menyerahkan sebuah kartu berisikan kartu rekening. Tidak menunggu lebih lama lagi, Dhita langsung mentransfer jumlah total hutang. “Saya sudah mentransfer uangnya. Saya minta bukti pelunasan bertanda tangan materai hari ini juga.”
***
Dhita tidak sebodoh itu menolong orang tidak dikenal tanpa tujuan. Letak cafe ini cukup strategis, dan tempatnya juga nyaman, dia bisa menggunakan cafe ini. Tidak baik, tidak juga jahat, walau begitu Dhita masih memikirkan si pemilik cafe ini.
“Diminum dulu, hm ...?” pria itu diam, kebingungan harus memanggil wanita yang sedang berhadapan dengannya apa, nama dia tidak tahu, sebutan ‘mbak atau kak’ tapi sepertinya wanita itu lebih muda darinya.
“Dhitania, panggil aja Dhita.”
Pria itu menganguk-anggukan kepalanya. “Oke, diminum dulu, Dhit. Nama saya Daniel Bagaskara panggil aja Daniel.”
Dhitania diam, tidak merespons ucapan pria bernama lengkap Daniel Bagaskara itu. Dia lebih memilih fokus pada minuman yang ada di hadapannya. Kopi s**u hangat di atasnya ada ukiran bergambar hati, melihat itu Dhita tertawa pelan. “Aku bantu kamu gak Cuma-cuma, lho. Kalau aku gak bantu kamu, cafe ini sudah diambil sama mereka,” kata Dhita, mengambil sedotan mini kemudian menghancurkan gambar love-nya.
Daniel menyuingkan senyuman tipis. “Saya tahu. Saya pernah lihat kamu, kamu pemilik cafe Tania bukan?” Dhita diam sejenak, sedetik kemudian dia mengangguk. “Ya, saya percaya sama kamu. Kamu pasti bakal majuin cafe ini lagi. Daripada di sita, dan dihancurkan? Saya lebih ikhlas sama kamu.”
“Daniel Bagaskara,” gumam Dhita pelan, menatap Daniel intens, “aku tidak Setega itu. Aku tahu cafe ini berarti banget buat kamu, jadi ... gimana kita kerja sama? Setengah aku dan setengah lagi kamu?”
“Cafe ini memang berarti banget buat saya, banyak kenangan dan momen di sini. Salah satu tempat favorit mendiang adik saya. Dulu, saya membelinya karena ingin mempertahankan setiap tata letak, terutama di kursi paling ujung dekat kaca." Daniel menunjuk sebuah meja paling ujung, di samping jendela kaca besar. "Dipikir-pikir semakin lama saya pertahanin cafe ini, hati saya semakin lemah. Lagi pula, cafe ini akan bangkrut.” Daniel mengembuskan nafasnya kasar. “Saya Cuma minta satu, jangan pernah runtuhin bangunan ini. Mungkin ke depannya saya akan sering mampir lagi ke sini. Terserah kamu mau rubah, mau dekor ulang, asal jangan pernah runtuhin cafe ini.”
Saat ini, Dhita seperti penjahat yang merampas sesuatu yang bukan miliknya. Datang jadi super hero, dan sekarang jadi penjahat. Wajah pasrah pria itu—entah kenapa menyentuh hatinya.
“Pecundang,” ejek Dhita, “kamu pikir dengan harga segitu bisa membeli sebuah cafe? Astaga, otakmu ditaruh di mana?”
“Cafe yang sudah bangkrut, itu tidak masalah. Tapi, kalau kamu mau begitu, dengan senang hati saya akan bekerja di sini.”
“Bekerja dan bekerja sama, deal?” Dhita bangkit dari duduknya lalu menjulurkan tangannya ke arah Daniel.
Daniel tersenyum, membalas jabatan tangan Dhita. “Deal, sekarang saya adalah bawahanmu.”
Dhita menggeleng. “Posisi kita sama, mari kita tanda tangani surat perjanjian,” ajak Dhita kembali duduk, dia menyodorkan selembar surat yang sudah tertempel materai. Daniel menatap Dhita curiga lantas mengambil surat itu kemudian membacanya teliti.
Surat Perjanjian
(Pihak pertama adalah saudari Dhitania, dan pihak kedua adalah Daniel Bagaskara)
1.
Nama cafe akan diubah, perpanduan antara nama “Daniel” dan “Dhitania” menjadi “Dannia”
2.
Tidak ada rahasia soal apapun yang terjadi di dalam cafe, antara pihak pertama dan kedua
3. Tidak disangkutpautkan antara urusan pribadi dan pekerjaan
4. Perhasilan dibagi sama rata, tidak ada pengecualian
5. Pihak pertama dan kedua harus memantau pengeluaran ataupun pemasukan yang terjadi di dalam cafe, termasuk kegiatan-kegiatan yang dilakukan di cafe.
“Gimana? Setuju?” tanya Dhita penasaran, pasalnya sedari tadi pria itu tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
Daniel meletakan kertas perjanjian itu kembali, pandangannya teralih ke Dhita. “Adil sekali, padahal kamu bisa saja merebutnya dengan mudah tapi kamu malah membaginya dengan saya. Perjanjian itu, saya setuju.”
“Ayahku selalu mengajarkan tentang keadilan, kami menjunjung tinggi itu. Lagi pula kalau aku mau, aku akan membayar penuh atas cafe ini tapi aku tidak punya uang sebanyak itu.”
“Itu uang pribadi kamu?”
Dhita menggeleng. “Tabunganku sudah habis, kartu kredit sudah diambil alih jadi saya keluar untuk meminjam uang—“
“Seharusnya kamu tidak melakukan itu. Utang akan mencekikmu,” sela Daniel cepat.
“Aku pinjam uang bukan di rentenir. Sepertinya kamu trauma meminjam uang.”
“Bukan trauma, saya hanya tidak ingin mengingatkanmu,” kata Daniel mengingatkan, “oh ya, saya boleh minta nomor handphone-mu?”
Dhita bangkit dari duduknya, mengambil kartu nama di dompet lalu memberikannya pada Daniel. “Itu kartu nama aku, soal dekorasi ulang lusa kita bicarain lagi. Sementara ini biarin cafe ini berjalan.” Daniel mengambil kartu nama itu. “Aku pergi dulu.” Setelah mengatakan itu, Dhita melenggang pergi meninggalkan cafe Daisy.
Daniel menatap kartu nama itu, membaca detail nama wanita itu. “Dhitania Bhatia Cowdree?”
***
Setelah pergi dari cafe, Dhita memutuskan untuk pergi ke rumah sakit milik kakeknya. Bukan tanpa alasan Dhita pergi ke rumah sakit itu, dia ingin menemui Gerald. Terakhir kali dia berbicara dengan Gerald saat dirinya dirawat di rumah sakit. Sedikit berbincang-bincang dengan kakak sepupunya tidak masalah bukan? Apalagi pria itu sudah membantunya hari ini.
Gerald tidak tahu mengenai dirinya datang ke rumah sakit. Biarkan Gerald kaget melihatnya tiba-tiba datang. Semoga saat dia datang, Gerald tidak sedang sibuk atau sedang bekerja. Jam segini, biasanya pria itu sedang beristirahat, ya semoga saja begitu.
Tok Tok Tok!
“Siapa?” Seseorang di dalam ruangan bertanya, saat Dhita mengetuk pintu ruangan. Di depan pintu terdapat nama ‘Dr. Geraldi Cowdree’ terpampang menggunakan ukiran kayu berbalut cat putih.
“Dhitania, Dok.”
“Masuk!”
“Dhitania!” panggil seseorang kaget saat Dhita menampakkan dirinya di balik pintu ruangan. Seorang pria berpakaian formal berdiri, menatap Dhita tajam. Pria itu bukan Gerald tapi ... Dave!
Kakaknya!