Setelah Dhita mendekam selama tiga hari, akhirnya Dhita diperbolehkan pulang. Keluar dari rumah sakit bukannya sehat justru hatinya semakin sakit. Sejak kemarin Dhita merasa gelisah, entah apa alasannya. Pria yang beberapa hari ini ingin dia lupakan tiba-tiba muncul dipikirkannya. Biandika tidak pantas muncul di dalam pikirannya, dia mengusut kembali semua perbuatan buruk Bian agar dia bisa membenci pria itu. Move on dari seseorang yang teramat dicintai sangatlah susah, seperti berusaha mengeluarkan jarum ditumpukan jerami.
Rasanya lama sekali Dhita tidak menyentuh kasur lembut nan halus miliknya. Dia merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya. Tiba-tiba lintasan memori kebersamaan Bian muncul. Tidak ingin hanyut dalam tipu daya pikirannya, dia membuka matanya kembali. Ada atau pun tidaknya Bian sekarang, sangat mengganggu hidupnya.
“Biandika b******k! Aku sumpahin kamu dapat pendamping yang lebih jahat dari kamu! Sialan!” teriak Dhita bangkit dari posisi tidurnya. Tangannya menujuk ke atas, sesekali menjambak rambutnya sendiri. Marah, kesal serta kebencian beraduk menjadi satu. Seharusnya dia membiarkan saja kakaknya menghukum pria b******k seperti Bian. Memangnya siapa pria itu yang teganya membuat hatinya sakit seperti ini. Sudah lama dia bersabar, apakah ini balasan orang yang bersabar?
Tok. Tok. Tok
Dhita bangkit ketika mendengar suara pintu terketuk, tatapannya langsung tertuju ke arah pintu kamarnya. “Siapa?”
“Bi Rika, Non,” sahut seseorang di balik pintu. Bi Rika adalah asisten rumah tangga, lebih tepatnya kepala asisten rumah tangga di sini. Beliau yang selalu mengurusnya sejak kecil, walau Aletha—ibunya—juga mengurusnya tapi Davier mendidik anaknya agar belajar mandiri. Tidak ada yang menyuruh, Bi Rika memberikan perhatian lebih pada Dhita seperti perhatian seorang ibu kepada anaknya.
“Masuk aja Bi, gak dikunci sama Dhita,” balas Dhita seraya berdiri, membereskan kembali tempat tidurnya. Setiap hari Bi Rika mengecek kamarnya, melihat apakah sudah rapi atau belum, kalau belum Bi Rika akan membersihkannya. Sejak kecil Dhita sudah diajarkan mandiri, ayahnya selalu mengajarkan ‘jika bisa dikerjakan sendiri, kenapa harus orang lain?’ Benar ternyata, ajaran itu sangat berguna sekarang. Tidak semua hal bisa dibeli oleh uang, kemampuan dan skill misalnya.
Bi Rika masuk ke dalam kamarnya, pandangannya mengedar ke berbagai arah. Setelah dirasa cukup, Bi Rika tersenyum ke arahnya. “Bibi ke sini mau bersihin kamar Nona tapi kayaknya udah bersih.”
Dhita membalas senyuman Bi Rika. “Bibi gak usah bersihin kamar, Dhita. Nanti Kak Dev tau, aku dimarahin.”
Bi Rika tertawa pelan. “Enggak, Non. Tuan muda Dave yang nyuruh. Oh iya, Tuan Davier sama Nyonya Aletha pergi keluar.”
“Dave ada di mana, Bi?”
“Tadi Tuan Muda Dave keluar juga, katanya gak lama.”
“Oh oke, Bi. Thanks. Aku juga mau keluar, nanti kalau Kak Dave tanya bilang aja aku ke cafe.”
Bi Rika bergeming. “Jangan, Non. Tuan Muda Dave larang Non keluar rumah.”
Dave berengsek! Bisa-bisanya pria itu melarangnya keluar sementara pria itu sendiri keluar? Memangnya dia anak kecil, yang suka dikekang? Sungguh, rasanya dia ingin memaki sekarang.
“Kalau gitu, Bibi keluar dulu ya, Non.” Bi Rika membungkuk setelah itu pergi dari kamarnya.
Handphone-nya tiba-tiba berdering, sejenak Dhita tolehkan kepalanya ke arah handphone-nya. Di layar handphone-nya tertera nama ‘Davean ngeselin’. Kedua bola matanya sontak memutar, dia sudah tahu apa yang akan disampaikan si penelepon. Sudah tahu memang, tapi Dhita harus mengangkatnya atau Dave akan mengamuk nantinya.
“Halo,” sapa Dhita malas.
“Dhitania, kondisimu belum pulih jangan berpikir untuk keluar rumah hari ini.”
Dhita tertawa lucu. “Kata dokter aku harus bahagia ‘kan?”
“Lalu?”
“Ya ... buat aku bahagia!”
“Bagaimana caranya?”
“Aku mau keluar, jangan halangi aku. Dengan atau tanpanya izin darimu atau papa, aku akan keluar rumah hari ini. Bye!” Dhita langsung mematikan sambungan teleponnya, bersamaan dengan tombol daya. Tidak ada yang bisa mencegahnya keluar rumah hari ini, udara segar mungkin akan bisa membuat hatinya tenang. Apalagi duduk di cafe-nya sambil menikmati secangkir kopi, ditemani pemandangan di balik jendela kaca.
Seorang Dhitania tidak bisa dicegah oleh siapa pun kecuali Davier, ayahnya. Dave bukan masalah terbesar, kadang pria itu selalu ada di pihaknya. Mungkin untuk ke depannya Dave akan menjadi musuhnya, semenjak kejadian itu Dave berubah menjadi monster.
Baru saja kakinya menginjak lantai cafe, refleks kakinya kembali melangkah mundur ketika melihat cafe-nya sedang ramai. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat, merasa bangga pada asistennya yang bisa mengurus cafe saat dirinya tidak ada. Selama di rumah sakit, handphone-nya ada bersama Dave. Entah hal apa yang dilakukan pria itu, saat handphone-nya di kembalikan semua kontak, SMS, riwayat panggilan dan pesan di sosmed menghilang tanpa jejak. Pastinya pria itu membaca satu persatu pesan yang ada di handphone-nya, dasar manusia gabut.
“Mbak Dhita,” panggil seseorang membuat Dhita mencari-cari ke arah sumber suara. Matanya menyipit, mempertajam penglihatannya. Seorang wanita cantik bertubuh gempal berlarian menghampirinya dengan nafas terengah-engah. Rambut cokelat di ikat atas terbawa ke kanan dan ke kiri sesuai gerakan wanita itu berlari. “Alhamdulillah, Mbak. Mbak udah sehat, sini Mbak masuk kenapa dari tadi Mbak diem di sini aja?” Wanita itu bertanya khawatir.
“Yillanda, makasih.”
Wanita bernama lengkap Yillanda Oktavianita mengernyitkan dahinya bingung. “Makasih buat apa, Mba?”
“Makasih kamu udah ngurus cafe ini saat aku gak ada. Sekali lagi makasih.”
“Astaga, aku gak tau kenapa aku punya bos sebaik dan sepenyayang ini. Seharusnya aku loh yang terima kasih ke Mbak karena udah kasih tanggung jawab sebesar ini ke aku,” balas Yillanda sambil tertawa kecil. Selama ini, Yillanda baru menemukan atasan seperti Dhita. Sebelum Dhita memarahi karyawannya, Dhita lebih dulu meminta maaf dan izin untuk memarahi. Dia wanita yang sangat baik, saking baiknya banyak orang yang mencari kesempatan untuk memanfaatkannya. Dari keluarga terhormat yang memiliki harta kekayaan berlimpah, walau begitu Dhita tidak pernah sekalipun memamerkan kekayaannya bahkan dia selalu berpenampilan sederhana.
Dhita tersenyum tipis, tangannya terulur menepuk bahu Yillanda pelan. “Aku keluar dulu ya, Yil. Mau cari suasana damai.”
“Loh, kok? Kenapa? Mbak baru datang, setidaknya minum sesuatu dulu. Ayok, Mba minum dulu,” desak Yillanda seraya menarik tangan Dhita pelan.
“Enggak, Yil. Aku mau pergi sekarang, jaga cafe ya.” Dhita melepaskan tangan Yillanda kemudian melenggang pergi keluar dari cafe.
Dia berjalan santai sambil menikmati angin sepoi-sepoi, melihat-lihat cafe yang cocok dikunjunginya. Sepi dan unik, ya, dia sedang mencari cafe seperti itu. Di seberang jalan ada bazar makanan, malamnya pasti akan ada pasar malam. Dibuktikan dengan beberapa orang sedang bersiap-siap membangun stand besar serta alat bermain seperti komedi putar, bianglala dan perahu ombak. Rasa sakit di dalam hatinya seketika hilang, tergantikan oleh rasa bahagia. Kata orang, melupakan seseorang harus dilandasi dengan kebencian agar tidak gagal dan benar, tidak ada alasan untuk orang b******k seperti Bian masih hinggap di hatinya.
Dhita maju beberapa langkah sampai pembatas jalan raya. Keinginan untuk mencapai bazar dia tahan, di sana ada kenangan Bian, mana bisa dia kembali mengingat apa yang ingin dia lupakan.
“Dia terlalu b******k untuk terus bergerilya dalam otakku,” gumam Dhita membalikkan badannya. Dia menghela nafasnya panjang, mencoba mencari-cari sesuatu yang bisa menenangkan pikirannya.
Brak!
Suara gebrakan meja tiba-tiba terdengar sangat keras membuat atensinya langsung tertuju ke arah sumber suara. Gebrakan meja itu berasal dari dalam cafe Daisy, cafe yang sudah lama berdiri—sekitar 4 tahunan, zamannya Dhita masih berkuliah. Penasaran, Dhita masuk ke dalam cafe melihat apa yang sedang terjadi.
“Hari ini adalah kesempatan terakhir! Lunasi hutangmu atau tempat ini saya sita!” teriak pria bertubuh kurus dengan kumis melintang, menunjukkan jarinya tepat di dekat wajah seorang pemuda tampan. Pemuda itu seperti tak berdaya, dia hanya diam tanpa melawan sedikit pun. Sepertinya, pemuda itu takut karena kalah jumlah.
“Oh! Tidak bisa?! Baiklah, pergi dari sini!” usirnya, menarik lengan pemuda itu lalu mendorongnya kuat. “Zen, usir semua karyawan di sini. Saya mau dalam waktu satu jam, tempat ini sudah kos—“
“Berapa hutangnya?” Bagai seorang pahlawan kesiangan, Dhita bertanya dengan raut wajah dingin. Sesungguhnya dia memaki kepasrahan pria yang dia yakinin sebagai pemilik cafe ini, pria itu tidak berbicara ataupun melawan. Dasar bodoh.
Semua orang di sana refleks menatap ke arah Dhita. Pria berkumis melintang tadi berkacak pinggang, menatap Dhita dengan tatapan meremehkan. Tidak hanya itu, mereka—antek-antek penagih hutang itu pun tertawa saling menatap satu sama lain.
“70 juta, gimana? Ada? Kamu mau bayar?” tanya pria itu meremehkan, “cewek kayak kamu mana ada uang sebanyak itu. Jangan jadi sok pahlawan kalau kamu gak punya uang.”
Dhita terdiam, benar juga. Bagaimana cara dia membayar kalau dirinya saja tidak memegang uang sepeser pun? Dia bukan Dhita yang dulu, semua uang tabungannya sudah habis tak tersisa. Meminta pada ayah atau kakaknya sudah tidak ada gunanya. Mereka malah akan bertanya-tanya, dan terus menginterogasinya. Sudahlah, tidak ada harapan.
Dhita mendongakkan kepalanya, menatap mereka sebentar setelah itu pergi meninggalkan mereka. Seketika mereka yang ada di sana cengo, tidak percaya. Bisa-bisanya wanita itu bertanya kemudian pergi begitu saja, menyisakan rasa kesal tersendiri di hati si pemilik cafe Daisy.
“Ayo! Kosongkan tempat ini, atau kami yang akan melempar kalian semua keluar!” ancam pria berkumis melintang itu, “cih, wanita itu sok-sokan menanyakan hutang pas diberitahu jumlahnya malah kabur.”
***
“Halo Kak Gerald, aku boleh minta tolong sesuatu?” bisik Dhita menelepon kakak sepupunya. Hanya pria itu harapannya satu-satunya. Entah motivasi apa dirinya ingin membantu si pemilik cafe itu.
“Ada apa, Dhita? Kamu butuh bantuan apa? Bilang sama Kakak.”
“Hm ... aku boleh pinjam uang 70 juta boleh?” pinta Dhita takut-takut.
“Berikan alasan, Kakak tidak akan memberimu sepeser pun kalau kamu berani memberikan apa pun pada pria b******n itu.”
“Bu-bukan! Cafe milik temanku terlilit hutang, dan aku ingin membantunya. Semua uang tabunganku habis dan kartu rekeningku sudah diambil alih—“
“Okay, Kakak transfer sekarang.”
Oke, semudah dari apa yang Dhita bayangkan.
“Tapi Kak, jangan bilang-bilang ke siapa-siapa ya. Aku janji, aku akan ganti uangnya.”
“Tidak, aku ingin memberimu. Selama ini kamu tidak pernah meminta ini itu padaku, sekarang Kakak merasa berguna. Jangan sungkan meminta apa pun padaku.”
Lama-lama dia menukar Dave dengan Gerald, sebenarnya siapa kakaknya? Dave atau Gerald? Tanpa banyak bicara, Gerald langsung memberikannya. Gerald sangat menyayangi keluarganya termasuk para sepupu-sepupunya, dia tipe idaman para kaum hawa.
“Kalau bisa tuker, aku mau nuker si Dave. Bisa gak ya.”