Bab 7

1304 Words
Biandika, seorang pria dengan seribu pikiran licik. Selama ini, Bian tidak benar-benar mencintai Dhita ataupun wanita-wanita lain yang pernah dipacari Bian. Pria itu sangat tergila-gila dengan sosial media, berikut followers-nya. Baginya, separuh hidupnya adalah sosial media, penuh dengan kepalsuan. Setelah semua itu hancur, lantas apa yang dia banggakan? Memulai semuanya dari nol membutuhkan waktu lama. Dalam semalam, semuanya hancur. Bian yakin sekali ini semua ulah keluarganya dibantu oleh kedua sahabat Dhita—Agam dan Gisel. Semalaman dia gelisah tidak bisa tidur, kemarahannya dia pendam sendiri sampai hari esok. Teror itu tidak terjadi pada akun sosial medianya saja, telepon, SMS, Whatsaap juga digandrungi oleh para pembully. “Dhita kurang ajar!” maki Bian menyerobot handphone-nya. Kartu lama sudah dia buang, digantikan oleh kartu baru. Hidupnya akan selalu direcoki oleh pembuly jika dia tidak segera mengganti nomor teleponnya. Dengan gerakan lincah, dia mengetikkan nomor telepon Dhita lalu mulai menghubunginya. Satu kali menelepon tidak diangkat, tidak menyerah juga akhirnya Bian mencoba menelepon lagi. Kedua kalinya, panggilannya diangkat. “Dhita?! Kamu mau bales dendam ke aku huh? Kamu udah janji gak bakal libatin keluarga kamu buat hancurin aku. Dasar wanita tidak tahu diri?! Kalau gak ikhlas, aku balikin semua barang pemberian kamu!” Bian mengomel tiada henti, kesal dengan janji Dhita. Wanita itu mengatakan tidak akan menjadi pengecut dengan mengadu pada keluarganya, tapi lihat sekarang, wanita itu malah mengadu. Diam, tidak ada sahutan apa pun, bahkan suara nafasnya pun tidak terdengar. “Kenapa kamu diam? Ngerasa bersalah kamu?” Tiba-tiba suara tawa ringan menggema di telinga Bian. Tawa itu bukan milik Dhita, melainkan suara berat milik seorang pria. “Siapa kamu?!” tanya Bian lantang, padahal dia sedang memendam ketakutan. “Perkenalkan, saya Davean kakak kandung Dhitania. Apa kau tidak ingin mengenalku?” Bian terdiam. “Kenapa diam? Takut? Hahaha, kamu pasti belum tahu siapa itu saya. Jujur saja, saya belum turun tangan begitu pun keluarga saya. Kau tahu? Dhita memohon-mohon, dia berlutut di kaki saya agar menyelamatkanmu dan ... dengan santainya kamu mengomelinya?” Sial, kenapa dirinya jadi kaku. Kenapa dia harus takut menghadapi orang itu? “Kau bilang ‘kan, kau akan mengembalikan semua barang pemberian Dhita? So, kembalikanlah, sudah lama saya tidak menyumbang, sepertinya semua barang pemberian Dhita cukup memberi makan satu panti selama setahun,” kata pria itu lagi, membuatnya ketar-ketir. Sebagian barang pemberian Dhita sudah dijual, bagaimana dia mengembalikannya? “Bukannya Anda orang kaya? Kenapa Anda meminta barang yang sudah diberikan?” tanya Bian, masih mempertahankan kekuatannya. Berbicara di telepon saja sudah membuatnya ketakutan, apalagi berbicara langsung? Lagi, pria itu tertawa. “Bukan saya, tapi kamu sendiri yang ingin mengembalikannya. Sekarang, kembalikan semuanya sebelum matahari terbenam. Se-mu-a-nya, ingat semuanya ... tidak ada yang kurang. Kamu sendiri yang memaksa saya untuk turun tangan, jadi saya akan mengabulkan itu.” “T—tapi? Biarkan saya berbicara dengan Dhit—“ “Mulai sekarang, Dhitania ada di genggaman saya. Saya akan selalu memantau semuanya termasuk handphone-nya, jangan macam-macam atau saya akan menghancurkanmu sampai ke titik dasar. Langit itu memiliki tujuh lapisan, begitu pun bumi. Saya akan menginjak kamu, sampai lapisan pertama bumi,” tekan pria itu. Masih terdengar tenang, namun menakutkan. *** “Mulai sekarang, Dhitania ada di genggaman saya. Saya akan selalu memantau semuanya termasuk handphone-nya, jangan macam-macam atau saya akan menghancurkanmu sampai ke titik dasar. Langit itu memiliki tujuh lapisan, begitu pun bumi. Saya akan menginjak kamu, sampai lapisan pertama bumi,” tekan Dave sedari melirik Dhita yang masih tertidur pulas. Secarik senyuman terbentuk, tapi sedetik kemudian senyuman itu menghilang. Biandika, mantan kekasih adiknya benar-benar telah membuatnya naik pitam. “Silakan! Silakan hancurkan! Saya pastikan sebelum itu terjadi, Anda akan masuk ke dalam sel tahanan,” ancam Bian, mencoba untuk menakut-nakuti dirinya. Konyol sekali, rupanya pria itu ingin bermain-main dengannya. Lucu, rasanya dia ingin sekali tertawa sekarang. Sayang sekali, sudah berapa kali dirinya tertawa karena perkataan bodoh pria itu. Sudah cukup, dia tidak ingin tertawa lagi. “Kau melupakan sesuatu pria bodoh! Tapi, ya sudahlah, kau memang bodoh ... tidak akan mengerti apa pun.” “Kau?!” teriak Bian di seberang sana. “Saya tunggu sebelum matahari terbenam. Saya menginginkan semua barang-barang yang sudah diberikan oleh Dhitania, saya tidak peduli barang itu rusak, kembalikan saja.” “Kembalikan juga barang yang sudah saya kasih untuk Dhitania!” Dave terkekeh pelan. “Barang? Kalung emas 2 gram dan 3 buket bunga. Oke, saya kembalikan sekarang juga.” “Uang yang saya habiskan bersama Dhitania!” Lagi? Pria itu memang mata duitan. “Kalau kau lupa, Dhitania yang selalu mengeluarkan uang. Okay! Saya akan kembalikan uang bensin dan minuman, dua kali lipat. Tapi ingat, kembalikan semua barang pemberian Dhita.” Tut! Dave mematikan sambungan teleponnya. Satu kata untuk pria itu, ‘pria matre’ yang tergila-gila dengan sosial media. Dia pikir hanya wanita, ternyata pria lebih menjijikkan. Dhitania memang bodoh, memilih pria seperti itu. “Dasar pria bodoh, adikku juga bodoh. Klop sekali, sama-sama bodoh! Baiklah, Dave mari kita bersenang-senang hari ini.” Dave bermonolog, memasukkan handphone adiknya ke dalam saku jas. Kaki Dave melangkah, mendekati brankar adiknya. “Salahkan saja mantan kekasihmu itu, yang mengganggu ketenanganku. Aku sangat berterima kasih padanya karena dia telah menganggu singa yang sedang tertidur,” bisik Dave seraya mengusap rambut adiknya lembut. Saat mengusap rambut adiknya, matanya tertuju pada sebuah kalung berliontin love. Ya, pasti itu pemberian dari mantan kekasihnya. Perlahan tapi pasti, Dave membuka kalung itu. “Ucapkan selamat tinggal pada pria b******n itu, Dhitania.” *** “Papa, aku minta izin menyapa mantan kekasih adikku.” Davier menghentikan aktivitasnya, menatap putra satu-satunya dengan tatapan bingung. Belum lama ini, Dave memintanya agar tetap diam demi Dhitania tapi kenapa sekarang Dave malah ingin menyapa? Tentu saja Davier tahu apa maksud Dave, ‘bersapa’ dalam artian sesuatu. Sudah beberapa hari ini, Davier memikirkan cara yang cocok untuk membasmi hama itu. Lama berpikir tidak akan membuahkan hasil, semuanya tidak akan jalan jika putrinya sendiri selalu menghalangi jalannya. Davier bukannya seorang mafia atau penjahat, tapi jika salah satu keluarganya dilukai fisik atau pun batin maka dia akan menjadi orang jahat, lebih-lebih jahat. “Tanganmu gatal? Ingin mengajak pria itu bergulat?” tanya Davier diiringi kekehan kecil, dia menepuk-nepuk bahu putranya. “Sebenarnya Papa ingin sekali mendatangi pria itu, mengajak dia berbicara lalu makan bersama. Oh, tak lupa memberikan dia minuman yang sudah dicampur polonium.” Dave bergidik ngeri, polonium adalah racun yang sangat berbahaya. Di temukan oleh Marie Curie, ilmuan yang kemudian terbunuh oleh temuannya sendiri. Polonium tidak berwarna, tidak berasa dan kebanyakan kasus bahkan tidak terdeteksi. Orang menjuluki polonium sebagai racun sempurna. Racun ini bisa memecah organ vital tubuh dan menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Tidak akan ada yang mengira, kalau orang yang meminum racun itu telah meminum zat berbahaya. “Cukup, Pah. Sepertinya Papa terlalu banyak menonton film thriller, jadi Papa bersikap seolah Papa adalah penjahat sungguhan,” ucap Dave menatap sang ayah dengan tatapan datar. “Davean, kamu tidak tahu sejarah keluarga kita jadi kamu pikir ini hanya lelucon. Seringlah datang keperpustakaan di rumah, di rak kedua dengan ketinggian 10 jengkal di atasmu ada buku merah.” Davier merapihkan berkas-berkasnya, menyimpan kembali ke tempat semula. “Kapan-kapan aku baca, pastinya ada hal keburukan tentang Papa di sana. Aku jadi tidak sabar membacanya.” Davier menatap anaknya kesal. “Jadi kamu mau baca itu karena ingin melihat keburukan Papa?! Anak durhaka!” “Jadi?” Seketika Davier diam. “Jadi apa, Dave?” “Jadi Papa izinin aku bersapa dengan mantan kekasih? Oke baiklah, terima kasih Pah. Nanti aku janji aku akan baca keburukan Papa,” balas Dave kemudian pergi berlari keluar dari ruangan Davier, sementara Davier hanya menggeram marah melihat kelakuan anaknya. “Anak itu benar-benar kurang ajar. Entah siapa yang mengajarinya,” Davier bertanya pada dirinya sendiri, sedetik kemudian dia menepuk keningnya sendiri, “sikap kurang ajarnya mirip denganku dulu, oh ... astaga!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD