Bab 6

1547 Words
Sewaktu menjaga Ditha, Dave ketiduran di sofa. Pria itu kelelahan menjaga Dhita seharian. Setiap janji yang terlontar dalam mulut Dave pasti Dave akan menepatinya dengan sungguh-sungguh. Dia sangat merasa bersalah dan Ditha tahu itu, hanya saja Dave tidak pernah mengatakan atau menujukan langsung rasa kekhawatirannya. Bersikap seolah-olah pria itu senang dengan keadaan Dhita sekarang, padahal berbeda dengan hatinya. Dhita mengulas senyuman tipis, wajah datar nan tegas itu berubah menjadi santai terlihat tanpa beban. Semenjak lulus studinya, Dave memikul banyak sekali beban. Rasanya Ditha iri dengan Dave, dia belum merasakan apa itu cinta. Dia tidak pernah merasakan sakitnya patah hati, sungguh beruntungnya dia. Begitu juga dengan Agam, pria itu sangat beruntung mempunyai kekasih seperti Gisel. Mereka berdua saling mencintai, saling menjaga satu sama lain dan saling melengkapi, pasangan serasi dan cocok. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, sontak keningnya mengernyit—malam-malam seperti ini siapa yang datang? Sesosok pria bertubuh jangkung dengan jas putih khas dokter melekat di tubuhnya. Gerald—kakak sepupu tertuanya—masuk ke dalam ruangan, dia melirik ke arah Dave kemudian beralih menatap Dhita. “Dave tidur—“ “Shtt, jangan ganggu dia.” Dhita memotong ucapan Gerald, jari telunjuknya diletakan sejajar dengan hidung, mengode Gerald agar tidak mengganggu tidur Dave. Gerald mengangguk mengerti, dia menghampiri Ditha dengan langkah santai. Gerald adalah dokter di rumah sakit ini. Satu keluarga Gerald berprofesi sebagai dokter atau hal yang berbau rumah sakit. Mulai dari kakeknya, neneknya, ayah, ibunya bahkan dia sendiri. Dhita tahu ayah Gerald tidak memaksa soal cita-cita, tapi mungkin karena sudah darah dan jiwa dokternya ada sedari kecil jadi Gerald bersikukuh ingin menjadi dokter. “Bagaimana keadaanmu, Dhita?” tanya Gerald seraya duduk di kursi tepat di samping brankar Ditha. Ditha mendengkus kesal. “Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik tapi kenapa kalian menahanku untuk pulang?!” sentak Ditha emosi, tidak memedulikan Dave yang sedang tertidur. Reaksi Gerald jauh dari dugaan Ditha, pria itu tertawa horor. Lama berada di rumah sakit sepertinya membuat Gerald gila. Yeah, dia benar-benar gila. “Gerald, berhentilah tertawa. Kau menakutisanta Tawa Gerald berhenti, dia menatap adik sepupunya datar. “Gerald? Berani sekali kamu. Aku kakakmu, ingat? Aku lebih tua darimu.” “Ya, Kak Gerald.” Gerald melepaskan jasnya kemudian meletakannya di sandaran kursi, sementara Dhita masih menatap pergerakan Gerald. Pria itu kelelahan, ya, terlihat jelas di wajahnya. “Patah hati membuat kondisimu memburuk. Pria b******n itu pantas diberi hukuman,” kata Gerald, kepalanya melakukan gerak patahan sampai mengeluarkan bunyi. Tidak hanya kepala, dia juga melakukan hal sama pada jari-jari tangannya. “Jangan lakukan apa pun, aku juga sudah berusaha keras membujuk si keras kepala, Dave,” balas Dhita sambil melirik Dave yang masih tertidur. Dhita masih mempunyai rasa iba dan kemanusiaan, biarkan saja Bian berlaku seperti itu padanya, biarkan Tuhan saja yang membalas perbuatan Bian. “Dhitania, membujuk pun percuma. Kamu bisa saja membujukku, atau mungkin Dave tapi ... bagaimana dengan ayahmu?” Benar, bagaimana dengan Davier? Tapi, sampai sekarang Davier tidak berkata apa pun. Pria itu masih tenang, tidak memedulikan soal si pria b******k itu. Dhita menggelengkan kepalanya keras, dia mencoba bangkit dari posisi tidurnya dibantu oleh Gerald—mengambil bantal sebagai senderan. “Papa tidak melakukan apa pun, aku yakin itu. Sejak kemarin papa terlihat tenang, mungkin pap—“ “Jangan bodoh Dhita, papamu sedang membuat rencana,” potong Gerald geram. Selama Dhita hidup berada di dalam pengawasan ayahnya, apa mungkin Dhita tidak tahu cara kerja ayahnya itu? Dhita adalah putri satu-satunya Davier. Tidak mungkin pria itu diam saja melihat kondisi anaknya sampai seperti ini karena seseorang. Dave saja atau dirinya pernah membuat Dhita menangis, pria itu langsung marah apalagi orang asing? Bohong saja Davier tidak melakukan apa pun. “A-aku akan bicara pada papa. Mungkin papa bisa mengerti.” “Sial, berisik sekali!” umpat Dave terbangun dari tidurnya, refleks Gerald dan Dhita menoleh menatap Dave, “Gerald, kamu gak tahu waktu huh?! Jam berapa ini? Sana pulang!” Dave bangkit, mengusap-usap wajahnya gusar. “Aku tidak pulang.” “Lalu? Kenapa kau membicarakan soal pria b******k itu di depan Dhita? Sial, pergi kau!” usir Dave marah, berjalan mendekati Gerald lalu menariknya kuat keluar dari ruangan. Dhita yang melihat itu hanya bisa diam, tidak berani berkata apa pun. Gerald memang lebih tua dari Dave, tapi Gerald tidak bisa menang melawan Dave. Mata Dhita terpejam, berpura-pura tidur tatkala pintu ruangan kembali terbuka. Dave berjalan mendekati brankar, menarik selimut sampai ke leher Ditha. “Gerald memang benar-benar mengganggu. Akan aku habisi kalau dia berani mengganggumu lagi.” Tangan Dave terulur, mengusap lembut rambut Ditha. “Tidurlah dengan tenang, aku juga lelah ingin tidur.” Setelah mengatakan itu, Dave kembali membaringkan tubuhnya di sofa. *** Rencana Agam berhasil. Pertama, akun fake Agam mengomentari berbagai postingan yang berhubungan dengan Dhita, terutama postingan mobil pemberian Dhita. Mobil itu memang pemberian Dhita tapi Bian mempostingnya dengan caption ‘Hasil jerih payahku selama ini, thanks Dhita sudah mau menemaniku’. Seketika Gisel memaki, dia juga ikut bergabung dalam pembulyan online. Agam memancingnya, mengatakan bahwa Bian adalah penipu. Dia mengungkap semuanya di kolom komentar, setelah itu Gisel menimpali dengan 10 akun fake. Setelah mereka berdua beraksi barulah orang-orang suruhan Agam ikut meramaikan. Jauh di luar dugaan, komentar itu mendapatkan banyak respon dari para followers Bian sendiri. Gisel dan Agam berinisiatif juga memposting di story, menceritakan keburukan Bian. Ini bertama kalinya bagi Gisel dan Agam menceritakan keburukan orang di sosial media. Postingan yang Gisel dan Agam buat di akun sosial media masing-masing menuai badai, banyak dari pengikut mereka melihat akun itu dan ikut berkomentar pedas. Hal terkejam yang bisa dilakukan orang banyak adalah hujatan para netizen, pembulyan online. Pagi ini, Gisel mampir ke Cafe milik Dhita. Agam menyuruhnya datang ke sini dan melihat perkembangan akun instragaram Bian. Benar saja, Bian playing victim merasa dia adalah korban terbully dan tidak bersalah. Untunglah, sekumpulan followers Bian tidak percaya dan memilih unfollow. Rasakan! Dalam beberapa waktu ini, Gisel pastikan akun Bian akan menghilang. Benar saja, tepat saat Gisel duduk di kursi berhadapan dengan Agam. “Kita berhasil?” Agam terkekeh pelan. “Oh, Beb. Tentu saja kita berhasil. Dia sepertinya frutrasi, karena sosial media adalah hidupnya,” balas Agam santai, menaikkan sebelah kaki kanan ke kaki kiri sambil menyesap kopi yang telah dia pesan. “Ini punyaku?” tanya Gisel saat melihat ada jus jeruk dan sepotong cake di hadapannya. Pria itu mengangguk. “Tentu.” Tanpa basa-basi lagi, Gisel langsung meminum jus itu sampai habis tak tersisa. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, embusan nafas lega lolos begitu saja. Entah perasaan apa ini, dia tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Seharusnya dia tidak ikut campur, biarkan saja keluarga Dhita yang menyelesaikan. Mendengar keluarga Dhita akan turun tangan juga, membuatnya merasa bersalah. Bian sudah hancur sekarang, dan mungkin saat keluarga Dhita turun tangan maka kehidupan Bian akan lebih hancur lagi. Agam mengamati kekasihnya intens, wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa Sel? Kamu kecapean?” “Apa kita bener, Gam?” Sebelah alis Agam terangkat. “Bian?” Ragu, Gisel mengganggu. “Dhita sahabat kita. Kamu kan tau, Dhita sering banget bantu kita. Jangan bilang kamu ngerasa bersalah?” Gisel menggelengkan kepalanya cepat. “Enggak! Aku Cuma ngerasa, apa kita bener? Maksud aku, keluarga Dhita mungkin ngelakuin sesuatu, dan Bian ....” “Seharusnya kamu seneng dong. Apa jangan-jangan kamu suka sama Bian? Mangkanya kamu ngeras—“ “AGAM?!” sentak Gisel bangkit dari duduknya. Wajahnya memerah karena marah. Tuduhan macam apa itu, mana mungkin dia menyukai pria b******k seperti Bian. Ucapannya salah diterima oleh otak Agam, pria itu salah menyimpulkan. “Sorry, aku kesel kamu nuduh itu. Aku suka kamu, aku cinta kamu, kenapa kamu nuduh aku suka sama dia?” Agam mengembuskan nafasnya kasar lalu mendongkak. “Ya, maaf juga udah nuduh kamu. Aku gak bermaksud serius,” ucap Agam merasa bersalah, “Bian gak pernah sekalipun mikirin keadaan Dhita. Ini balasan untuk dia.” Gisel bergeming, mencoba untuk menatap Agam. “Iya, Gam. Sorry, sorry, sorry udah bentak kamu.” Agam bangkit dari duduknya kemudian memeluk tubuh Gisel erat Tanpa memedulikan banyak orang yang sedang memperhatikan mereka. “Maaf juga. Aku cinta kamu, Gisel.” *** Dhita memang sering membuat Dave kesal, marah dan emosi. Sebaik mungkin Dave tidak meluapkan emosinya di depan adiknya. Sejak tadi pagi, Dhita ribut ingin pulang bahkan sampai nekat kabur tapi untunglah Dave bisa menangkapnya kembali. Kadang Dhita kalem, kadang juga bar-bar entah menurun dari siapa sifat kebar-baran itu. Dave menyeruput teh hangat sedikit demi sedikit, mengawasi adiknya juga butuh tenaga. Baru ingin pergi sarapan di kantin rumah sakit beberapa jam lalu, tiba-tiba dia mendengar kabar bahwa adiknya kabur. Sempat dia berpikir, kenapa Dhita susah sekali diatur padahal ruangan di rumah sakit ini nyaman seperti kamarnya. Tiba saja, handphone Dhita berdering. Sedikit dia mendongkak, menatap siapa gerangan yang menelepon. Nomor tidak dikenal, sejak kapan adiknya membagi-bagikan nomornya? Ada dua kemungkinan, ada seseorang dikontaknya memakai nomor lain atau memang Dhita sengaja menyebar nomor telepon. Sekali, Dave tidak mengangkatnya, saat orang itu menelepon untuk kedua kalinya barulah dia mengangkatnya. “Dhita?! Kamu mau bales dendam ke aku huh? Kamu udah janji gak bakal libatin keluarga kamu buat hancurin aku. Dasar wanita tidak tahu diri?! Kalau gak ikhlas, aku balikin semua barang pemberian kamu!” Oh, rupanya pria b******k itu ingin membuatnya turun tangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD