Malam hari keluarga Dhita berangkat untuk makan malam bersama di luar. Berjam-jam Dhita menangis, membuat wajahnya membengkak. Sebaik apa pun Dhita menyembunyikan lewat make up, tetap saja masih terlihat jelas dan membekas. Sedikit demi sedikit kemarahan Dave mulai mereda. Mana bisa pria itu tidak bicara dengannya. Mulutnya pasti terasa gatal. Berniat mendiaminya dalam waktu lama tidak akan mungkin lama. Ketika Dave sendiri yang mengajaknya bicara atau menjahilinya, padahal sedang marah. Sering kali kebiasaan membuatnya lupa. Sehari saja Dhita tidak bisa mendiami Dave, begitu juga dengan Dave. Kalau pun bisa mungkin karena terpaksa. Sesampainya mereka di sebuah restoran sederhana dan elegan, mereka mencari tempat duduk. Kedatangan keluarganya disambut oleh pria berjas rapi, di sampingn

