Bab 22

2139 Words

Di dalam mobil, keheningan terjadi. Ucapan Dhita tadi sudah keterlaluan. Sekarang Dhita baru sadar sepenuhnya. Mengapa dia membela Biandika? Membela mati-matian sampai dia tidak bisa melihat ada mereka yang selalu melindunginya. Tangisannya belum juga berhenti. Sambil menatap ke arah jendela, dia menangis sepuas mungkin. Kemarahan Dave meluap-luap hari ini. Pria itu bahkan menamparnya keras, sampai menimbulkan tapak merah di wajah putihnya. Tamparan ini tidak sebanding dengan apa yang Dave, Ken dan Gerald rasakan. Dhita yang bodoh, kelepasan berteriak seperti itu. Mengatakan dia malu mempunyai saudara seperti mereka. Siapa pun akan sakit hati ada di posisi Dave. Orang yang paling memedulikannya, mengetahui apa yang ingin dan tidak ingin, memberikannya semangat dan mendukung keputusan bai

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD