BAB 6

2412 Words
Oh Tuhan, kucinta Byan Kusayang Byan, rindu Byan, inginkan Byan Utuhkanlah rasa cinta di hatiku Hanya padanya Untuk Byan Nara yang hanya seorang gadis polos, dia merasa salah tingkah. Ada sesuatu di dalam dadanya yang berdesir. Dan entah siapa yang memulai bibir mereka bertemu dan saling melumat, tak mempedulikan penonton sekitar, dan mereka juga tak peduli jika mereka menjadi pusat tontonan. Angga melepaskan lumatannya, melihat reaksi Nara. Sedangkan Nara merasa kehilangan ketika Angga menjauhkan bibirnya. Mereka masih saling menatap, gadis itu memberikan senyuman, melipat bibirnya dan membasahi. "Ehmmmmpph" Nara melenguh saat Angga kembali melumat bibirnya. Kali ini lumatan Angga semakin penuh hasrat. Sambil saling melumat, kini tangan Angga mulai menyusup ke dalam croop tee, mengusap lembut perut Nara. Gadis itu juga dipenuhi n*fsu hingga dia juga membalas liar lumatan sang pria. Nara semakin terbuai dengan kecupan yang ada dibibir lalu turun ke lehernya, tak lupa usapan lembut tangan Angga di perut nya yang semakin memabukkan. Nara menikmati usapan lembut diperutnya dan lumatan bibir Angga. Tubuh Nara semakin lemas dan bersandar pasrah ke tubuh Angga, pria itu semakin merapatkan lengannya dan menjelajah tubuh Nara. Angga terus memberi kecupan di leher Nara, hingga Nara tersadar, dan membetulkan bajunya dimana ada tangan Angga yang masih bergerilya. "Mas! Banyak orang!" Nara memaksa menutup crop tee dan dengan terpaksa Angga menghentikan permainan tangannya Namun lengan pria itu masih melilit tubuh Nara sambil menikmati lagu, sesekali pria itu mencium leher Nara, menghirup aroma tubuh Nara yang di Dan lagu terakhir seolah menyuarakan isi hati Nara, Daylight, Marron 5. Beberapa saat ketika konser berakhir Angga melepaskan pelukan, dan tentunya gadis itu kecewa. "Perfect, Thanks." ucap Nara dengan menunduk malu setelah apa yang mereka perbuat. Antrian pintu keluar sangat padat, mereka bergandengan hingga menuju parkir, hati keduanya sama-sama bergejolak. Hati Nara sangat bahagia, Nara berharap hubungan ini berlanjut, dia masih ingin melihat pria yang memang ganteng ini. Sedangkan Angga, hatinya dipenuhi rasa bersalah, menyesal, seharusnya dia tidak memperlakukan Nara seperti tadi yang menurutnya tidak layak untuk di usia Nara. 'Dia masih kecil' batin Angga. Saat mereka memasuki mobil, Angga masih duduk terdiam, dia bingung harus meluruskan hal tadi, dia kuatir Nara salah paham. "Mas, ayok pulang!" ucap Nara memecahkan keheningan. "Byanara, aku minta maaf, seharusnya_" Nara seakan tahu pemikirin Angga, "udah lah Mas! kita sama-sama terbuai suasana dan lagu, kita terlalu baper." potong Nara dengan hati yang pecah berkeping-keping. "Ya, benar. Kita terlalu baper." balas Angga. "Anggap aja Drama seperti yang biasa kita lakukan, kita hanya berpura-pura. Usai acara, selesai." ucap Nara berusaha tegar. Padahal dia sempat berharap hubungan mereka bisa lebih dekat. "Yup Right. It was a drama" sahut Angga. 'SADAR NARAAAAAAAA!' jerit Nara dalam hati. Suasana hening saat perjalanan, tidak ada pembicaraan ataupun suara radio yang biasa diputar. Nara hanya melihat keluar jendela yang ada disampingnya, kesal, jengkel, sakit hati membuat dadanya sesak. Hingga mobil berhenti di depan gang kos Nara. Nara turun dari mobil, biasanya Angga yang menemani Nara hingga pintu kamar kos, namun kali ini pria itu hanya duduk di balik kemudi. "Makasih ya Mas!" ucap Nara sambil keluar dari mobil. Angga hanya menggangguk. Nara meninggalkan mobil Angga beberapa langkah, lalu terdengar deru mobil Angga meninggalkan kampung. Nara menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan secara perlahan, menyadarkan dia kembali ke kehidupannya yang nyata. Nara belum tertidur hingga subuh menjelang, dia masih mengingat tiap detik kebersamaannya dengan Angga . Usai sholat subuh, matanya bisa terpejam. Gadis itu terbangun lewat jam 12 siang, dia membuka pesan yang ada di ponselnya, dia berharap ada nama Angga, namun sayang, harapan tinggal harapan. Walaupun beberapa hari yang lalu Angga tidak setiap hari mengirimnya chat, namun Nara merasa ada ikatan dengan Angga, entahlah, mungkin perjanjian taruhan itu yang mengikatnya. Dan sekarang taruhan telah usai, ikatan itu sudah lepas dan dia merasa kehilangan, hidupnya terasa kosong, hampa. 'Tidak ada alasan bagi kita untuk mengirim dan berbalas pesan. Aku bukan sapa-sapa' batin Nara. ******** Hari telah berlalu, bulan pun berganti. Setiap mengajar les di rumah Isti, Nara berharap bisa bertemu Angga. Gadis itu tak berharap lebih, dia hanya ingin memandang wajah Angga, walaupun dari jauh dan sekilas. Beberapa bulan tak bertemu, Nara sangat merindukan sosok Angga. Hingga suatu hari di rumah Isti, ketika Nara mengajar Valdi seperti biasa, terdengar teriakan salam dari suara yang begitu dirindukan Nara. Momen ini sangat ditunggu oleh Nara, jantung gadis itu berdetak kencang, matanya menatap sisi yang akan dilewati sang pria. Pria itu berjalan dan berhenti, " Aji ada, Is?" "Di depan TV, masuk aja!" Jawab Isti yang sedang membaca majalah di seberang Nara. Angga hanya menoleh sekilas ke arah Nara yang sudah menunggu sapaan hangat. Tapi sayang, seperti orang yang tak saling kenal, Angga melanjutkan langkahnya tanpa sapa. Walaupun mereka tidak ada hubungan apapun, tapi Nara merasa hatinya seperti tertusuk. Dan dibelakang Angga, ada wanita cantik yang pernah dilihatnya saat pertemuan di restauran rooftop di salah satu hotel. Nara tersenyum masam, dia menertawakan dirinya yang sudah terbuai, merindukan pria itu dan ternyata dia datang dengan wanita lain. Isti melihat raut kekecewaan Nara. Dia kembali mengajar anak Isti, tapi otaknya sudah tertutupi oleh Angga. "Ra, les nya udahan aja." Ucap Isti seolah mengerti kecamuk hati Nara. "Masih kurang 30 menit mbak" ucap Nara sekilas menoleh ke jam dinding. "Anak-anak mau aku ajak ke rumah teman, ambil dokumen. Kuatir dia keluar rumah, soalnya kita uda janjian." "Baik mbak, Nara pamit ya" Nara pun keluar dari rumah Isti dan melajukan motornya. Seakan alam ikut bersedih, cuaca yang tadinya cerah mendadak gerimis. Hingga Nara tak perlu menyembunyikan derai air matanya yang membasahi pipi. Tak langsung pulang ke kos, gadis itu masih berputar tak tentu arah. 'Inikah yang namanya cinta? kenapa menyakitkan? beginikah yang dirasakan mama dan kak Dewi?' batin Nara. Dan dia berhenti di suatu tempat. "Tolong hias pusar saya, dan kasih tindik!" ucap Nara. "Temporary atau permanen?" tanya seorang wanita yang melayani Nara. "Permanen" Gadis itu merebahkan tubuhnya, dia sudah siap. "Baru pertama. Suka seni? Atau pengalihan sakit hati?" Ucap seorang wanita yang saat ini sedang mengukir tubuh Nara. Seakan wanita itu paham setiap customer yang datang. Nara menikmati sensasi yang ada di perutnya. Sedikit sakit, tapi dicampakkan Angga adalah hal yang lebih sakit. "Belum pacaran, tapi udah patah hati. Aku yang ga beres. Aku yang gila. Ya, anda benar. Mungkin merasakan sakit ini sebagai pengalih saja, walaupun di hati ini masih terasa lebih sakit." Nara mencurahkan isi hatinya dan tersenyum sinis. "Kamu layak dapat yang lebih baik, Sugar." Wanita itu menanggapi. "Aku yang terlalu berharap. Aku terlalu merindukannya, dan aku kecewa dengan sikapnya. Rasanya semua pria sama. Kalo kita nggak bermanfaat, kita di campakkan." "Nggak semuanya. Jangan belok arah! Kamu masih muda, enjoy your life! " "Ya, enjoy my pain. Merasakan sakit ini, membuat aku lebih hidup." gadis yang masih 22 tahun itu menghibur dirinya sendiri dengan rasa sakit di hati dan di tubuhnya. Usai melewati beberapa proses yang sedikit sakit pada tubuhnya, dia meninggalkan tempat itu. Dan dia kembali ke kos saat menjelang tengah malam. Dia belum bisa memejamkan mata mengingat kejadian yang menyesakkan d**a. 'Ayolah Nara, kalian tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa kamu sedih dan terpuruk? Dia menganggap kamu bukan siapa-siapa. Wake up! Grow up!' Nara memotivasi dirinya sendiri. Dan gadis itu memejamkan mata dengan lelehan air mata yang masih menetes di sudut matanya. Dia menangisi dirinya sendiri yang terlalu berharap. Nara sudah tidak ada kegiatan, maka dia meminta perubahan jadwal les private di rumah Isti. Dia mengajar siang hari, usai anak Isti pulang sekolah. Dia ingin menghindari Angga, yang kemungkinan akan ke rumah Isti lagi ketika jam pulang kantor. Bulan telah berganti. Nara mengisi waktunya dengan mengajar les private anak-anak di sekitar kos. "Ra, ikut ke club ya?" ajak Isti. "Kapan mbak?" Tanya Nara yang memangku Nesa sambil menuntun jari kecil menulis di buku. "Nanti malam. Kamu berangkat sama kita aja." "Kan Nara bajunya gini?!" Tanya Nara yang sekarang memakai polo shirt dan celana jeans. "Kalo masalah itu sich gampang. Ntar aku panggil yang lain." "Yang lain siapa mbak?" tanya Nara. "Amira, Adila, Aline, Linda, Lisa, Venna istri Abimana." "Untuk apa?" "Suruh bawain baju yang cocok buat kamu." "Ini acara apa ya mbak?" "Aline punya voucher, lumayan banyak, sayang kalo ga di pake, sekalian ulang tahun Aksa. Mau kan Ra?!" "Mau mbak. Pokoknya kalo gratis, Nara mau." kata Nara dengan menyengir. Nara memberi kabar ke anak didiknya tentang ketidak hadirannya malam ini. Tak lama Isti menghubungi para wanita yang disebutkan tadi. "Mas Aji ke rumah kak Arta donk, berangkat sama kak Arta ya. Terus minta tolong istrinya ke sini, bantuin aku!" ucap Isti. "Kenapa Love?" "Aku barengan sama cewek aja." "Jangan lama-lama!" Ucap Aji sambil mencium ringan bibir istrinya. Pukul 19.00 Satu per satu mereka datang, para wanita itu terlihat anggun, sexy walaupun kostum yang mereka kenakan tidak terbuka. Dan yang membuat mereka terlihat sempurna adalah aroma tubuh. Harumnya tidak menyengat, tapi selalu ingin menghirup dan menikmatinya. Nara yang sesama wanita saja rasanya tak bosan, apalagi para pria, terutama pasangannya. "Sekarang pake smokey ya! Nah ...cantik kan?!" Ucap Aline menyempurnakan sentuhan di wajah Nara. "Pinter kamu Lin" sahut Linda. "Ga rugi kan belajar nyalon." Balas Aline. "Kamu pake ini! Baru kok!" Ucap Isti sambil memberikan bungkusan plastik. Nara menjereng kain yang diberikan Isti. "Aku pake G-String?! Serius mbak?!" Tanya Nara ke arah Isti. Isti mengangguk dan memainkan kedua alisnya. "Untuk apa?!" Tanya Nara lagi. "Baju yang kamu pakai rok bahan kain sutra. Ga lucu liat pantatmu ada kurva garisan celana dalam. Bisa ilfil yang liat." Ucap Isti. "Emang gitu ya mbak?" tanya Nara meyakinkan. Dia kuatir kalo di kerjain. "Yang aku pelajari waktu ikut sekolah kepribadian seperti itu. Ya sebenarnya ga papa sich keliatan garis celana dalamnya, tapi lebih OK kalo ga ada garisnya. Sepele, tapi harus di perhatikan." Isti memberikan penjelasan. Nara pun akhirnya menuruti seluruh anjuran para wanita itu. Amira mengeluarkan kotak sepatu, terlihat sepasang Stiletto berwarna merah. Dan Stiletto itu pun cukup dan pas di kaki jenjang Nara. "Selesai!" Ucap Venna sambil melihat cermin melihat pantulan wajah Nara. Venna mendapat bagian rambut Nara. "Nice job darla!" Ucap Isti saat melihat Nara yang berhasil di make over. 'Sempurna' 'Sexy' 'Cool' 'So hot' Ucap para wanita itu hampir bersamaan. Aline merubah wajahnya dengan sentuhan smokey eyes membuat garis mata lebih tegas dan tajam, dan itu sangat cocok untuk acara malam ini. Lipstick merah menghiasi bibirnya terlihat segar dan berani. Venna membuat rambut Nara lebih bergelombang, terlihat natural dan lebih menggoda. Adila yang sesama lajang, membawakan kostum yang hampir sama dengan dirinya. Blouse maroon pas sepinggang dan rok pendek satin sutra hitam 15 cm dari lutut. Tatto dan anting yang menghiasi pusarnya akan terlihat saat Nara mengangkat tangannya, dan tentunya menjadi pusat perhatian. Stiletto dari Amira membuat kaki Nara terlihat lebih indah. "Aku berangkat dulu sama Lisa ya? Bisa rewel si Arta kalo belum liat istrinya" ucap Linda. "Makin mesra aja ama kak Arta." Isti meledek Linda. "Arta sekarang posesif banget" celetuk Adila "Itu tandanya cinta." Bela sang istri. "Cie.... suaminya dibelain." Sahut Aline. Akhirnya Linda dan beberapa wanita berangkat lebih dulu. Disusul Aline, Isti dan Nara. Tibalah mereka di suatu club malam, 3 wanita itu berjalan beriringan. "Mbak, masuknya mahal ya?" tanya Nara polos. "Emang kenapa?" Tanya Aline. "Yang datang kebanyakan Exe semua. Nara biasanya masuk club C yang level anak kuliahan." Balas Nara yang disusul kekehan Isti dan Aline. Ketika masuk, Nara melihat sudah ada beberapa pria dan wanita yang usianya lebih dari 30 an, dilihat segi penampilan terlihat matang dan ekslusif. Sangat berbeda dengan Club yang biasa dia masuki saat menemani Dika. "Kali aja bisa dapat salah satu Exe, aku kenal suami juga disini" Bisik Aline. Nara tertawa kecil dan menggelengkan kepala mendengar kalimat yang diucapkan Aline. Ternyata di sana sudah ada seluruh sepupu Angga. Para lelaki berkumpul duduk bersama di sofa yang berbentuk hampir satu lingkaran, begitu juga para wanita, mereka duduk di meja yang berbeda. "Kapan dia nikah? Bosan kenalan terus!" Ucap Adila. "Siapa?" Tanya Aline. "Kakakmu yang paling ganteng." Balas Adila. Ketika melihat seorang pria dan wanita duduk didepan meja bartender. "Halah! Kayak ga tau dia aja, sebentar sama A, sebentar sama B. Gitu aja terus. Sok cakep!" Sahut Lisa sebagai mantan Angga. "Masih sakit hati Lis? Masih ngarep?" Goda Venna. "Uda bersyukur nikah ama Arya, kalo masih stuck ama dia, bisa jadi perawan sampe mati." Lisa membela diri. "Siapa sich kak?" Tanya Nara yang tak tahu topik pembicaraan. Dari tadi dia hanya menjadi pendengar. "Tu! Anak Bunda yang paling ganteng" ucap Linda sambil menunjuk arah ke sepasang kekasih. Seketika hati Nara mencelos, jantungnya berdetak kencang. Nara berusaha menghilangkan rasa itu, dan sedikit demi sedikit Nara sudah menyadari kenyataan hidup yang dijalani. Dia dan Angga tak mungkin bersama. Tapi tetap saja, rasa itu masih ada. Nara melihat Angga bersama dengan seorang wanita yang sama saat bertemu di rumah Isti. Mereka terlihat intim, bisa dilihat bagaimana cara mereka berkomunikasi dengan tatapan hangat. "Relax Ra, kamu wanita kuat. Move on." Bisik Isti yang ada disampingnya yang seolah mengerti isi hati Nara. Isti tau, Nara menaruh rasa kepada Angga. "Uda move on mbak, uda nyadar. Upik abu ga pantes ama pangeran." Nara mencoba mengelak dan menutupi perasaannya. "Kamu cantik Ra, bukan upik abu." Seketika meja lelaki tampak ramai, ternyata Aksa yang berulang tahun baru tiba bersama Amar dan Akmal. Mereka saling bersalaman dan mengucapkan selamat untuk Aksa, lalu Aksa menuju meja para wanita. Dia bersiul menggoda ketika melihat Nara. "Aku akan menjadi pengawalmu, sayang." Ucap Aksa masih menatap Nara yang penampilannya sangat berbeda. Nara menjulurkan lidahnya. "Alay dech!" Ucap Amira. "Yuk ke sana! Ngapain disini kalo untuk ngobrol. Let's get fun!" Aksa mengulurkan tangannya ke arah Nara. Tanpa ragu Nara menggenggam tangan Aksa. "Nara ke sana dulu ya mbak, kak!" "Let's get fun!" Ucap Adila ikut bangkit dari sofa sambil membawa kertas yang berisi permintaan lagu. Adila mengajak tunangannya ikut bergabung dengan darah muda. Dan para lajang itu duduk tepat di depan panggung mini sudah ada band lokal yang sedang check sound. Angga melihat para punggung sepupunya berjalan melewatinya. "Yuk ke sana bentar! Aksa sekarang ulang tahun." Ajaknya kepada seorang wanita. Pasangan itu menghampiri meja para lajang. "Aksa! Selamat ulang tahun." Ucap Angga. Hampir bersamaan penghuni meja itu menoleh ke sumber suara yang di belakang mereka. Angga menyalami Aksa lebih dulu, lalu lainnya. Dan tatapannya tampak terkejut saat melihat Nara. "Byanara?!" Angga mengulurkan tangannya ke arah Nara. Matanya tak berkedip. "Hai" jawab Nara dengan berat. Nara menjabat tangan Angga, mata pria itu belum lepas dari Nara, hingga tersadar kala Nara memaksa menarik tangannya. Wanita yang membuntuti Angga pun ikut bersalaman. Lalu Angga dan wanitanya ikut bergabung dengan sepupu yang lain. Band lokal memulai memainkan lagu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD