BAB 7

4940 Words
Seluruh permintaan lagu dari keluarga Angga telah dinyanyikan oleh band lokal itu. Para lajang terus bergoyang mengikuti tempo lagu. Entah sejak kapan, yang tadinya pria dan wanita terpisah, namun sekarang mereka saling berdekatan dengan pasangan masing-masing. Arta, Aline dan pasangannya juga ikut bergoyang dari tempat mereka. Dari kejauhan Angga sesekali memperhatikan Nara. Ingin rasanya Angga memberikan jaketnya dan menutupi tubuh Nara yang membuat dirinya terus menerus menarik perhatiannya, Angga terpaku dengan kulit mulus pinggang bagian belakang Nara yang kadang tersingkap saat gadis itu mengangkat tangannya. Tubuh Nara berkeringat karena terus berjoget ria. Dia mengeluarkan karet rambut dan mengikat asal rambutnya, hingga tengkuknya yang mulus terlihat menggoda. Tubuh Angga meremang ketika leher Nara terekspose dengan jelas. Pria itu semakin tidak tenang, ketika melihat Aksa berbicara dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Nara. 'pasti Aksa menikmati aroma tubuhnya' batin Angga dengan matanya yang tajam memperhatikan gerak gerik Nara. Dia masih ingat aroma parfum yang sangat cocok dengan tubuh Nara, dia ingin merasakan lagi dengan campuran keringat. "Aksa, kamu nyanyi donk! Suaramu kan enak." Ucap Adila kala jeda pergantian lagu. "Oh ya?" Tanya Nara memastikan. Adila mengangguk dengan tegas. "Ok!" Ucap Aksa pasrah. Aksa pun menyanyikan lagu 'She will be loved' by Maroon 5. ................ Saat bernyanyi Angga melihat jelas bahwa sepupunya Aksa ini menatap Nara dan mengedipkan sebelah matanya. Beberapa kali dia mengarahkan telunjuknya ke arah Nara, seperti lagu itu dipersembahkan untuk Nara. Semua itu berhasil membuat Angga jengah. Angga menoleh ke arah Feni (wanita yang di ajaknya), ternyata wanita itu sibuk dengan ponselnya, membuat insta story, selfie atau apalah membuat Angga terabaikan. Dan mau tak mau Angga melihat bagian belakang Nara lagi yang setia berdiri didekat panggung, bergoyang, bernyanyi menikmati seluruh alunan lagu. "Ayo duet Ra!" Ajak Aksa. Tanpa sungkan Nara menghampiri Aksa dan band vokal. Nara dan Aksa menyanyikan lagu 'Hanya Memuji' by Marcell ft Shanty. Interaksi tubuh Aksa dan Nara membuat hati Angga panas. Kontak mata ketika mereka bernyanyi seolah benar-benar menghayati lagu. Tampak serasi. 'itu apa?!' saat Angga melihat sekelebat perut Nara yang pusarnya kini ada tindik dan bertatto. Dia penasaran. Matanya terus menatap tubuh Nara, hingga dia tak sadar melangkah mendekati area stage. Gadis itu terus meliukkan tubuhnya, tak jarang tangannya menyampir ke pundak Aksa. Dan Aksa menyambut dengan memegang pinggul Nara yang bergoyang kekanan dan kekiri. Terkadang mereka juga saling melempar senyum. Kedua insan itu sangat menikmati lirik dan irama lagu. Ingin rasanya Angga menghentikan semuanya, dan menarik Nara. Tapi hatinya berkata lain. 'mungkin itu hanya drama. Mungkin Aksa membayarnya. Ya, benar. Just a drama.' 'kenapa aku seperti ini?! Biar aja anak kecil itu bertingkah sesuka dia. Dia bukan tipe ku. Dia manja! Hanya saja dandanan malam ini terlihat berbeda.' 'malam ini dia cantik banget kan? bibirnya merekah, dan dia sangat bersemangat' 'dia menggairahkan!' Batin Angga berkecamuk. Nara duduk kembali ke asalnya. Gadis itu melihat sekilas ke Angga yang ikut bergabung dengan para lajang. Tanpa sapa dan dengan cueknya Nara menyeruput minuman soda. "Byan, kamu masih ngajar anak Isti?" Angga memberanikan diri untuk bertanya, mencoba mencairkan suasana. "Iya Pak" jawab Nara singkat. Nara hanya melihat Angga sekilas saat menjawab pertanyaan. Hati Angga terasa sakit ketika panggilan 'Pak' kembali terucap di mulut Nara. "Kok ga pernah liat ya?" Tanya Angga lagi sambil terus melihat wajah Nara. "Saya ngajar siang atau sore hari Pak." "Kenapa di ubah jam nya?" "Kan saya pengangguran." Balas Nara. Dan tak lama Akmal menarik tangan Nara untuk bergoyang di area dance floor. Lagi-lagi hati Angga tak tenang, Nara dan Akmal berkomunikasi sangat intens dengan jarak yang sangat dekat. Hatinya makin panas melihat mata Nara yang terlihat antusias dengan Akmal, saat melihat senyum Nara, saat melihat Nara tertawa dengan terbahak, saat melihat Nara mencubit lengan Akmal. Angga tak kuat melihat pemandangan ini, dia kembali ke sofa dimana lelaki dewasa berada. Angga duduk di sebelah Feni. Feni tak mau bergabung dengan sepupu wanita Angga. "aku pikir kamu mau nyanyi untuk aku." Ucap Feni. "Ntar aja! Biar yang muda-muda dulu." Balas Angga. Malam semakin larut. "Pulang yuk Ra! Aku anter!" Ajak Akmal. "Sekarang?!" tanya Nara. "Iya, ini uda jam setengah 1. Aku masuk kerja, shift pagi." Ucap Akmal yang bekerja di salah satu pabrik sebagai staf engine. "Atau kamu masih mau disini? Ntar sama aku pulangnya." Aksa menawarkan diri. "Ga usah! Kamu muter jauh! Lagian kamu yang ulang tahun, ga sopan kalo ninggalin tamu. Aku bareng Akmal aja." Nara bersiap. Akmal berjalan mengiringi Nara yang akan berpamitan ke sepupu Akmal yang lain. Usai berpamitan dan menyalami, kedua insan itu melanjutkan langkahnya. Tampak tangan Akmal melingkar di pinggang Nara dan sepertinya Nara tidak menolak hingga mereka menghilang dari pandangan Angga yang hatinya sudah tak karuan. "Mereka menjalin hubungan?" Tanya Angga kepada Arta selaku kakak Akmal. "Kayaknya sich belum. Aku seneng aja kalo ama Nara. Dia uda sering datang ke acara keluarga, uda akrab, uda kenal baik. Tapi ya terserah Akmal aja." Ucap Arta. "Atau mungkin sama Aksa?" tanya Angga ingin tahu. Dia kuatir Nara menjalin hubungan dengan sepupunya. "Aku dukung juga kalo ama Aksa, iya kan kak Bim?" Ucap Amira selaku saudara Abimana dan Aksa. "Terserah Aksa aja. Pokoknya aku pesen ke Aksa, jangan sering gonta-ganti pasangan, ga baik. Cari, pastikan, halalkan." Sahut Abimana. Angga menyebikkan bibirnya seolah tersindir. Karena memang dia yang terlalu sering gonta-ganti mengajak wanita di setiap acara. *************** Seiring berjalannya waktu, Nara sudah melupakan sosok Angga dalam hidupnya. Nara bergulat dengan mengajar anak-anak yang makin lama makin bertambah. Begitu juga Angga yang semakin lengket dengan Feni. Angga dan Feni sering terlihat menghabiskan waktu bersama. Seperti yang terlihat malam ini, mereka tengah makan malam berdua di suatu restoran mahal. Berulang kali Angga menjalin hubungan dengan wanita, namun selalu kandas. Angga ingin menjalin hubungan yang lebih serius, menikah maksudnya, namun lagi-lagi wanita yang didekatinya belum bersedia. "Apa kamu ga ada keinginan menikah? Atau setidaknya tunangan?" tanya Angga. Feni seketika tertawa. "Apa ada yang lucu?" Tanya Angga lagi penuh heran. "Apa kita tidak bisa seperti ini saja? Aku ga bisa menjalin ikatan, aku tidak biasa melakukan pekerjaan rumah tangga" jawab Feni dengan sisa tawa. "Masalah rumah tangga ga usah dipikirin, Fen. Kan ada orang yang bersihkan rumahku." "Siapa?! 2 kali aku ke rumahmu, dan itu terlihat berantakan dan jorok." "Waktu itu dia lagi sakit. Kalo dia ga ada, kan kita bisa bersihkan bersama." "APA?! Bersihkan rumah?! BIG NO!" "Atau setidaknya bersihkan kamar aja" "Aku uda kerja, capek kalo ngurus rumah. Di apartemen aja aku ga pernah bersentuhan dengan pekerjaan rumah tangga. Dan aku tidak mau punya anak, merusak bentuk tubuh. Anak itu seperti monster kecil. Dia pasti mengganggu jam tidurku, aku pasti ga punya waktu untuk diriku sendiri." Angga terkekeh yang bisa didengar Feni. "Ternyata kita beda. Rasanya cukup disini aja." Angga baru menyadari. Karena selama ini, saat mereka bertemu, mereka hanya membicarakan seputar pekerjaan. "Kenapa?! Beda apanya?! Karena aku ga mau nikah? Oke! Kita nikah! Kalo urusan anak, kita bisa adopsi kan?! Urusan rumah tangga, seperti yang kamu bilang, kita bisa pake ART atau bantuan dari aplikasi online." "Sudahlah Fen. Aku ga bisa melanjutkan hubungan ini." "Jadi hubungan kita bagaimana?" tanya Feni "kamu ga cinta sama aku lagi Ngga?" tanya wanita itu lagi. 'Cinta? Kamu sangat mencintai dirimu sendiri.' batin Angga. Angga malas menjelaskan. Pria itu kecewa, waktunya terbuang menjalani hubungan yang sia-sia. Dia menginginkan pendamping di sisa hidupnya. Dan tentunya memiliki banyak anak untuk meramaikan rumahnya. "Selesai makan malam, aku antar pulang!" pinta Angga. "Pulang?! Ini masih jam setengah 9." "Aku besok ada meeting. Harus datang lebih awal." Angga menemukan alasan yang tepat. Feni mendengus," Baiklah. Tapi setidaknya kita masih tetap berteman kan?!" "Iya Fen, tentu saja kita tetap berteman." "Jadi aku masih boleh menelepon kamu kan?!" "Tentu." 'Tapi tidak akan seperti ini lagi.' Lanjut Angga dalam hati. Usai mengantar Feni, Angga tak langsung pulang. Dia masih mampir ke club malam dimana dia pernah bertemu dengan Nara. Angga tersenyum sendiri kala mengingat Nara saat di club itu. Hingga dia melihat sosok Nara yang tak jauh dari tempat dia duduk. Angga memberanikan diri menghampiri segerombolan gadis, lalu menepuk salah satu di antaranya, dan gadis itu menoleh. "Oh, Maaf! Saya salah orang." Angga langsung membalikkan tubuhnya dengan perasaan kecewa. Ternyata wanita itu bukan Nara. Entah kenapa dia menginginkan kehadiran Nara. Setiap hari Angga berkunjung ke club itu, dengan harapan dia bisa bertemu gadis itu lagi. Gadis yang bayangannya kembali di benak Angga. Namun hingga beberapa bulan dia rutin datang ke club, gadis itu belum muncul. Sebenarnya pria itu ingin sekali menemui secara langsung di kos Nara, tapi gengsinya berhasil melunturkan. 'ada keperluan apa aku ke kos nya?' batin Angga. Kenangan bersama Nara terus membayangi saat dia sendiri. Waktu terus bergulir, hingga acara keluarga mempertemukan mereka kembali, kelulusan S2 Amar. Hati Angga sangat gembira ketika melihat Nara yang sudah ada di rumah Bunda. Mereka saling menyapa saat Angga baru saja menginjakkan rumah Bunda. Nara tampak akrab dengan sepupunya. Ingin rasanya Angga menarik Nara dan berbicara, ya...hanya bicara, dia rindu ejekan alay yang diucapkan Nara, rengekan manja, semuanya tentang Nara. Hingga acara selesai, Nara masih saja berkumpul dengan sepupunya. Angga menanti saat Nara seorang diri, dia akan berusaha mengembalikan hubungan yang kaku ini. Ponsel Nara berdering. Gadis itu tersenyum dan berlari mencari tempat yang lebih sunyi. Pria yang dirindukan menghubunginya dengan Video Call Nara : Mas itu dimana? (Terlihat background yang cukup menarik perhatian Nara) Pria : Ini masih transit di Singapore. Apartemen mas uda dibersihkan? Nara : Astaga! Lupa! Mas bobok di kos aja ya? Pria : Ga mau! Ntar berisik. Ganggu yang lain. Nara : iya dech ntar lagi Nara pulang. Langsung bereskan apartemen. Pria : bawa baju kamu, kamu tidur sama Mas. Nara : iya mas sayang.... Pria : kayaknya ada pria lain di kehidupan Nara. Sikapmu terlalu berlebihan..... Nara : mas sok tau! Cuma mas, pria yang ada di kehidupan Nara. (Terdengar kekehan pria) Pria : mas kangen Nara Nara : Nara juga kangen sama mas. (Terlihat mata Nara berkaca-kaca) Pria : lho...kok malah nangis. Uda dulu kalo gitu, beberapa jam lagi kita ketemu. Love you sayangnya mas. Nara : mas sich ach! Nara juga sayang sama Mas. Bye Mas. Ntar lagi Nara ke apartemen. Pria : bye manis. Sambungan VC terputus, Nara menarik nafas dalam sambil menenangkan hatinya. Ingin rasanya dia memutar waktu lebih cepat, tak sabar dia bertemu pria itu. Dan seluruh percakapan itu didengar oleh Angga. 'Mas? Sayangnya Mas? Kangen? Tidur bareng di apartemen? Berisik di kos? DIA SIAPA?!' batin Angga berkecamuk mengingat bagaimana cara mereka berkomunikasi, mendengar nada ucapan Nara yang sangat manja. Sependek sepengetahuannya Nara tidak menjalin hubungan kekasih, Angga sudah memastikan ke sepupunya, tapi dia memang tidak pernah bertanya langsung kepada Nara. Dan Angga juga tau Nara hanya mempunyai 1 kakak, dia perempuan. Angga ingin menawarkan mengantarkan Nara kembali ke kos, tapi ternyata lamunannya membuat dia kehilangan gadis itu. Nara sudah pulang dan Angga tak mengetahui kapan gadis itu keluar dari rumah Bunda. Sejak itu Angga terlihat lebih giat bekerja, dia sudah tak peduli dengan wanita, dia tenggelam dalam pekerjaannya. Dia ingin menjalin hubungan yang lebih serius, dia merasa tidak muda lagi, dia ingin menikah. Berbagai undangan dia hadiri sendiri. "Tumben sendiri Pak?" tanya salah seorang rekan kerja Angga. "Ada yang salah kalo saya sendiri?!" balas Angga sinis. Begitulah Angga jika ditanya tentang kesendiriannya saat menghadiri acara. Dan malam ini dia tidak ada pekerjaan, namun masih duduk setia di meja kerjanya. Dia memainkan ponselnya, menelusuri media sosial. Dia melihat insta story dari akun Linda. Linda : ga sengaja ketemu gadis ini. Cari apa? Sama siapa hayooooo? Gadis : hai kak. Sama mas, cari batik buat mas, sama kebaya. Linda : untuk acara apa? Gadis : lamaran Linda : dimana mas nya? Gadis : tuh! (tunjuk gadis itu ke arah belakang Linda) Pria : hai. Insta story berakhir. Angga merasakan sakit hati lagi. 'benarkah? Lamaran?!' Gadis yang ada di insta story Linda adalah Nara, dan ada pria yang dipanggil 'mas' oleh gadis itu. 'suara yang sama ketika VC itu?!' Angga meremas sendiri rambutnya, hatinya kesal. Angga memutar otak agar dia tidak ingin mengingat gadis itu lagi. Dia pun mengajukan cuti dan dilanjutkan kunjungan rutin ke kantor cabang yang ada dibawah pengawasannya untuk review para tenaga kerja. Hampir 2 bulan dia meninggalkan kota ini. Malam itu Angga berjalan sendiri menyusuri lorong yang ada di plaza ini untuk mencuci mata. Lagi-lagi alam masih menyiksanya, dia melihat Nara, berhadapan dengan seorang pria yang cukup gagah dan menawan. Angga tersenyum saat melihat wajah Nara yang cemberut, saat melihat Nara menggeleng kepala, saat melihat menghentakkan kakinya ditempat. 'dia ngambek' batin Angga dan tetap tersenyum. Namun senyum itu seketika pudar saat Nara mencium pipi si pria, dan si pria tersenyum lebar. Lalu pria itu mengacak-acak rambut Nara dan merangkul pundak Nara, mereka melanjutkan langkahnya. Entah kenapa hati Angga kembali sakit 'Ada apa ini? ' batin Angga sambil terus melangkah. Esok harinya. Hari ini Angga sudah menjadwalkan dirinya mengunjungi kantor cabang yang ada di Surabaya, kunjungan terakhir selama hampir 2 bulan. Di kota ini sendiri ada 4 kantor cabang. Angga berjalan melalui pintu utama, melewati lobby dan akan melangkahkan kakinya menuju departemen kepegawaian. Namun aroma itu menghentikan langkahnya. Dia terdiam, dan masih menikmati aroma yang dikenalnya. Dia menamati seluruh manusia yang ada duduk di sofa lobby sebagai visitor. Dia berjalan mengikuti aroma yang makin lama makin menguat, dan disini dia berdiri, di meja resepsionis. 'kamu mau apa Ngga? Dia uda milik orang lain!' batin Angga. Dia masih tetap berdiri mengantri agar bisa berbicara dengannya. "Selamat pa- , Pak Angga?!" Ucap Nara yang tampak terkejut melihat sosok Angga di depannya. "Pagi Byan, saya cuma mau kontrol pegawai saja. Terimakasih." Balas Angga sambil berlalu melanjutkan tugasnya. 'kok gitu aja? Maksudnya apa? biasanya kamu lihai berbicara' batin Angga yang menyadari kalimat yang diucapkan tadi sangat berantakan, dan dia menyesali sapaan yang tidak hangat sama sekali. "Kok saya ga tau ada resepsionis baru? Biasanya kan saya yang interview di final." Angga berucap tegas kepada seseorang yang duduk didepannya. "Maaf Pak, resepsionis sebelumnya mengajukan resign mendadak karena orang tua sakit parah. Jadi kami merekrut secara mendadak pula. Dan saat itu pak Angga sedang melakukan parade kunjungan di kantor cabang, sehingga wakil bapak yang review Nara. Dia baru bekerja hampir 1 bulan, saya lihat kinerjanya juga baik. Tidak ada keluhan dari pihak lain." Staff HRD menjelaskan secara detail alasan merekrut Nara. "Baiklah. Sekarang aku minta semua laporan pegawai, setelah makan siang suruh Byan..eh Nara ke sini." Ucap Angga. Angga tak sabar menunggu jam makan siang, dan dia juga tidak konsentrasi tentang pekerjaannya. Beberapa kali dia memeriksa laporan pegawai, namun tetap saja gagal. Hingga dia lelah, dan mencoba memejamkan matanya, tak lama dia pun terlelap dalam keadaan terduduk. Gadis itu sudah duduk dengan rapi sambil memandang pria yang matanya masih terpejam. Nara masih terdiam dan menikmati wajah Angga. 'kamu makin ganteng. Apa kabar para wanitamu?' batin Nara. Lelah menunggu akhirnya Nara bersuara. "Pak Angga" panggil Nara lirih. Pria itu membuka matanya dan sedikit terkejut melihat Nara sudah duduk didepannya. "Maaf, kecapekan." Angga memejamkan mata sekali lagi, lalu meneguk segelas air yang tersedia di mejanya. "Ga papa Pak, maaf, jika saya mengganggu." "It's OK Byan. Kita mulai ya, karena kita belum berkenalan saat kamu interview kemarin." "Berkenalan?! Kan bapak uda tau semua!" "Tentu saya tau." Termasuk tubuhmu lanjut Angga dalam hati. Angga membaca aplikasi dan biodata Nara. "Apakah tidak ada update terbaru?" Tanya Angga. "Tentang apa ya Pak?" tanya Nara. "Status pernikahan?" "Saya belum menikah Pak" "Oh, tapi uda lamaran ya?" Angga memancing. "Lamaran?! Maksud Bapak?!" Nara bertanya balik dengan heran. "Iya lamaran. Kamu uda dilamar kan? Dan tak lama akan menikah, begitu bukan?" Nara mengernyitkan dahinya pertanda tak paham. "Saya ga ngerti maksud Bapak." "Beberapa saat yang lalu saya liat insta story Linda, kamu bilang mau lamaran." Nara belum menjawab, dia masih berusaha mengingat. "Oh.... itu?! Mas saya yang lamaran." "Mas?! Mas sapa? Mas ketemu gede?" Nara mengangguk dan tak membantah. "Mas yang ngajak kamu tidur di apartemennya?" Nara merubah raut wajahnya mendengar kalimat yang dilontarkan Angga, dia tak nyaman. "Bapak, kita di tempat kerja, bukan saatnya mengorek kehidupan pribadi saya." "Tentunya kehidupan pribadi juga ikut berpengaruh di kinerja, Byan. Jadi mau ga mau aku juga perlu tau kehidupan pribadimu. Beberapa kali istri pegawai datang ke sini, mengeluh tentang perselingkuhan suami mereka. Jadi kita juga yang handle, sebenarnya tidak dibenarkan, tapi suami mereka punya kinerja baik, yang sudah bisa mengikuti ritme kerja perusahaan ini, kami harus mempertahankan pegawai itu dengan teguran yang luwes. Saya sendiri bingung, saya berusaha mengatasi masalah rumah tangga para pegawai, tapi rumah tangga saya sendiri kacau balau." "Curhat nih Pak?" Tanya Nara yang sudah mulai berani menyindir Angga. Angga tersenyum. "Kalo kita berdua aja, jangan panggil Pak. Aneh." "Tapi ini lingkungan kerja. Ga pantas Pak." Bantah Nara. "Ya Uda, terserah kamu aja. Sekarang ceritakan tentang Mas mu tadi!" Pinta Angga. "Kok jadi ngomongin dia Pak? Kan harusnya yang di review saya." "Bukannya kamu tadi bilang, kalo aku uda kenal? Tapi aku belum pernah mendengar sosok MAS mu tadi. Silahkan cerita!" Nara menggelengkan kepala seolah keberatan atas perintah Angga. Tapi mau tak mau, gadis itu akhirnya bercerita tentang Dito. "Dia, mas Dito. Ibu nya mas Dito dan Mama satu desa. Sejak kecil mereka tumbuh bersama, seperti kakak-adik. Ibu mas Dito ke Surabaya mengikuti suaminya. Mama tetap di Gresik. Jalinan keluarga kami tetap baik. Ayah mas Dito meninggal lebih dulu saat mas Dito SMP. Saat kedua orang tua Nara meninggal, Tante lah yang mengawasi seluruh kondisi kami, baik materi maupun non materi, tanpa lelah mas Dito dan Tante mengunjungi kami yang tinggal di lain kota. Mama anak tunggal, ga punya saudara. Saudara Papa menjauh karena malu kelakuan Papa sendiri. Kak Dewi yang kecewa dengan pernikahan memutuskan pergi menjadi TKW di Hongkong. Saya kos sendiri, supaya saya belajar mandiri dan tentunya tidak merepotkan mereka. Tapi tetap saja, hampir tiap hari mas Dito ke kos nganterin makanan. Dan tak lama, Tante meninggal karena sakit kanker yang memang sudah lama di idapnya. Karena kepintarannya, mas Dito mendapat penawaran melanjutkan jenjang S2 di Jepang, sebenarnya S2 nya uda selesai, tapi perusahaan yang memberi beasiswa meminta mas Dito membantu proyek mereka beberapa bulan. Dan sekarang uda pulang, langsung kerja di perusahaan yang sama, tapi di Indonesia. Saat di Jepang, dia bertemu pujaan hatinya, kak Miske. Mereka sempat menyembunyikan hubungan, karena mas Dito ingin saya menikah lebih dulu. Dari perdebatan yang panjang, antara saya dan mas Dito, akhirnya mereka bersedia menikah lebih dulu. Itu tentang mas Dito." ucap Nara dan Angga mengangguk dengan menahan senyum. "Jadi mereka uda nikah?" Angga meyakinkan. "Uda, baru bulan kemarin. Tapi cuma keluarga dekat aja, karena mendadak." Hati Angga terasa lega mendengar cerita Nara. "Kamu ga pengen tanya tentang aku?" "Maksud bapak?" "Ehm... maksud saya, apa ada yang perlu ditanyakan?" 'tanya apa ya' batin Nara sambil menoleh ke kanan dan kiri, Nara belum siap jika pria didepan itu berucap aku telah menikah. "Bapak apa kabar?" Akhirnya Nara bertanya. Angga tertawa,"aku baik Byan" Tanpa diminta Angga menceritakan kisah kehidupannya yang selalu kesepian, dan hingga saat ini dia belum menemukan pendamping hidup. Sering menjalin hubungan dengan wanita, tapi ujung-ujungnya kandas. "Jadi ya gitu Byan. Aku masih tetap sendiri." Hati Nara sedikit senang mendengar cerita Angga, namun sebagian besar hatinya membentengi agar tidak mudah terpesona lagi pada Angga. "Nanti aku anterin pulang, aku mau ketemu mas Dito mu." Lanjut Angga. "Ngapain?! Kan tadi uda cerita." Nara merasa heran. "Kamu uda kenal semua sepupu aku, aku ga boleh kenal sama mas mu?" "Tapi dalam rangka apa? Ntar aja, kalo ada acara keluarga, saya undang bapak." "Cuma pengen ketemu aja kok. Pulang jam 5 kan? Aku sudah ada di lobby." "Terserah bapak aja." Ucap Nara sambil mencebik, dan berhasil membuat Angga tersenyum. "Kamu boleh balik ke tempatmu." "Uda review nya?" "Uda Byan, atau kamu masih pengen disini temani aku?" Angga menggoda Nara. "Ih! Bapak!" Ucap Nara sambil meninggalkan ruangan, terdengar tawa Angga yang tampak begitu senang karena sudah berhasil menggoda Nara. Angga tersenyum bahagia mendengar cerita Nara. Pekerjaan yang tadinya susah dicerna, kali ini Angga mengerjakan dengan singkat. Jam 5 kurang Angga sudah menunggu Nara di lobby. "Mas Dito pulang sekitar jam 7an, Pak." "Jangan panggil Pak donk. Uda diluar jam kerja. Kita makan malam dulu ya." "Ke kos aja! Nara masak, mubazir kalo ga dimakan." Angga menyetujui, dan akhirnya mereka makan malam di kos Nara. "Kamu pinter masak ya Byan? Enak!" "Bisa masak karena terpaksa Pak...eh Mas." Usai makan bersama, Nara menyempatkan mandi. "Mas mandi? Ini handuk baru kok!" Nara menawarkan. "Boleh. Aku ambil kaos dulu di mobil" Ucap Angga dan mengambil handuk yang di ulurkan Nara. Beberapa menit kemudian Angga keluar dari kamar mandi, rambut basah yang terlihat berantakan membuat kadar ketampanan bertambah. "Ada plastik? Buat ini." Ucap Angga sambil mengangkat kemeja yang tadi dipakainya. "Ada, sini! Nara lipat." Pinta Nara, Angga memberikan kemeja ke Nara. Dengan telaten Nara melipat kaos dalam dan kemeja Angga, sambil sesekali gadis itu mencuri-curi sisa aroma parfum yang bercampur keringat Angga. 'jangan berharap Ra! Ingat kejadian kemarin! ' batin Nara yang mengurangi kadar kebahagiaannya. Mereka melanjutkan ke rumah Dito. "Hai kak Miske" sapa Nara dan mencium punggung tangan seorang wanita. Tak lupa lanjut cipika-cipiki. "Sama sapa Ra?" Tanya Miske. "Mas Angga" balas Nara sambil memperkenalkan pria yang membuntutinya. "Mas Dito uda datang?" Tanya Nara. "Uda, masih mandi. Yuk masuk. Makan malam bareng ya?" "Ga usah mbak, kita uda makan." Sahut Angga. Miske meninggalkan mereka berdua. Selang beberapa menit muncul seorang pria yang pernah dilihat Angga bersama Nara disalah satu plaza. Nara mencium punggung tangannya, dan pria itu mencium kening Nara penuh kasih. "Mas Dito, ini mas Angga." Ucap Nara memperkenalkan keduanya, hingga mereka saling berjabat tangan. Nara dan Angga duduk bersebelahan di sofa. Sedangkan Dito duduk di seberang mereka. "Darimana Ra?" Tanya Dito. "Dari rumah." Balas Nara. "Mau kemana?" "Kesini, dia pengen kenal Mas." Ucap Nara polos, sedangkan Angga terkejut mendengar penuturan Nara. 'ga usah terlalu jujur kali' batin Angga. "Kenapa?" Tanya Dito heran. "Karena Byan sudah mengenal keluarga saya, jadi saya juga ingin berkenalan dengan keluarga Byan." Ucap Angga mencari alasan yang tepat. "Lalu?" "Saya ingin menjalin hubungan dengan Byanara, hubungan lebih dari teman." Angga memberanikan diri meminta ijin dan restu dari orang yang baru saja dikenalnya. "Mas Angga apa-apaan?!" Nara terkejut dengan penuturan Angga. Sedangkan Dito hanya menaikkan alisnya dan melongo, cukup shock dengan ucapan Angga. Karena sejak kepulangannya Nara tidak pernah membicarakan tentang pria. "Aku serius Byan! Aku pengen kita lebih dari teman." "Seperti pacar?" Tanya Nara meyakinkan. "Iya Byan. Sebagai pacar, sebagai kekasih." "Tapi Nara ga cari pacar, Nara cari suami." "Aku juga maunya seperti itu. Aku cari istri, aku ga mau pacaran lagi. Aku ga mau buang waktu untuk hal yang ga pasti. Kamu mau nikah kapan?" "STOP! STOP!" Dito menginterupsi membuat Angga dan Nara cukup terkejut. "Aku bingung, Ra. Selama ini kamu ga pernah cerita tentang seorang pria. Dan sekarang tiba-tiba datang sama pria, mau kenalan sama mas, terus mau nikahin kamu. Jelaskan Nara!" Ucap Dito dengan tegas. "Kok aku?! Kan dia yang mau ngajak nikah." Nara menatap Dito dan menunjuk Angga. "Saya dan _" "Aku mau kamu yang jelasin Ra!" Dito memotong ucapan Angga. Angga pun terdiam sambil melihat Nara yang menjadi kaku. "Dia........namanya mas Angga......" Ucap Nara, lalu terdiam. Sedangkan Dito dan Angga masih menunggu kelanjutannya. Beberapa detik tidak ada kata yang keluar dari mulut Nara. "Maaaaass, Nara bingung mau jelasin apa! Mas Dito tanya aja dech, ntar Nara jawab" ucap Nara dengan rengekan manja dan memajukan bibirnya. Sedangkan Angga menahan senyumnya melihat Nara salah tingkah yang akan di interogasi Dito. Dito menghembuskan nafas dengan kasar lalu tersenyum. "Nara uda berapa lama kenal dia?" "Uda beberapa bulan yang lalu" jawab gadis itu dengan sedikit mengangkat wajahnya menatap Dito lalu menunduk lagi. "Kenal darimana?" "Mas Angga sepupunya Kak Aji, kakaknya Amar, Nara kasih les anak Kak Aji." "Nara suka Angga?" "Ck! Kalo itu ga usah ditanya! Ya pasti suka lah! Sapa yang ga suka ama orang ganteng macam dia." Nara berucap jujur. Angga dan Dito tersenyum mendengar penuturan gadis itu. "Nara cinta?" "Dikit." ucap Nara polos dengan lirih. "Kok dikit?! kenapa?" "Dia playboy." Angga keberatan, "Aku nggak Play_" "Biar Nara yang jawab!" potong Dito. Angga kembali terdiam. "Beberapa kali ketemu dia, ceweknya ganti-ganti, cantik-cantik pula. Nara ga yakin kalo dia mau sama Nara. Apalagi istrinya, cantik banget" "HAH?! ISTRI?!" Dito terkejut mendengar ucapan Nara pada kalimat terakhir. "Di-dia duda." ucap Nara sambil melihat Dito dengan takut-takut. Dito terdiam, suasana menjadi hening. Tidak ada satupun yang bersuara. "Maaaaasss, jangan diem!" Nara merengek memecah keheningan. "Mas bingung mau ngomong apa?" "Mas tanya dia donk! Jangan Nara aja yang di interogasi." ucap Nara. Angga langsung melihat Nara seolah keberatan. "Kenapa ada perceraian?" Dito lanjut bertanya dan menatap Angga. "Dia mencari kehidupan financial yang lebih baik, saya tidak bisa menahannya, kerena saat itu memang saya tidak mampu. Pernikahan kami hanya bertahan 1,5 tahun." "Dalam keadaan financial yang sekarang, apakah kamu yakin bisa menghidupi seorang Nara?" "Alhamdulillah, kondisi financial saya lebih baik dari sebelumnya." "Sekarang lebih baik? kalo mantan mu minta balik lagi gimana? kan kondisi ekonomi sudah membaik." "Sudah usai! Saya tidak pernah kembali ke masa lalu." "Kamu yakin dengan Nara?" "Yakin Mas! Walaupun usia kami terpaut 9 tahun." "HAH?! 9 TAHUN?!" lagi-lagi Dito dikejutkan fakta baru. "Iya, saya akan berusia 32 tahun." "Lebih tua situ donk dari saya!" ucap Dito membuat Angga meringis tak nyaman dengan ucapan Dito. "Cinta ga memandang usia, Mas!" celetuk Nara. "Kamu yakin ama dia? ntar dikira orang kamu melet dia." "Mas Ditoooooo! bilang aja langsung kalo Nara jelek, ga pantes ama yang ganteng, gitu kan?!" ucap Nara ketus sambil cemberut. Dito tertawa kecil mendengar Nara mengejek dirinya sendiri. "Sekali lagi, kedatangan saya kemari untuk niat baik. Mempersunting Byanara, gadis ini sudah mewarnai hidup saya dengan segala sikapnya. Saya menerima Byanara apa adanya, saya harap Byan juga bisa menerima saya." "Jadi rencana kalian gimana?" "Karena usia saya yang sudah tidak muda lagi, saya ingin menikahi Nara secepatnya. Kalo bisa tahun ini. Tapi kalo ga bisa, saya bersedia menunggu, asalkan jalinan kita, hubungan kita, lebih dari teman biasa." "Ih...mas Angga! Ya ga secepat itu juga kali!" "Jadi maunya Byan gimana?" "Jangan nikah tahun ini." "Tapi Byan mau kan jadi kekasih Mas?" "Nara ga mau pacaran. Ntar kita pacaran, mas se enak nya cium-cium Nara. Cukup sekali Nara berbuat kesalahan, waktu kita ciuman di konser." Ucap Nara dengan polos. "APA?!" Teriak Dito yang terkejut lagi. Angga menunduk dan tersenyum mendengar ucapan gadis lugu itu. Sedangkan Nara ketakutan mendengar teriakkan Dito lagi. "I-itu mas....di-dia" Sekejap Nara gugup dan menunjuk Angga. "Saya yang salah, maaf." Ucap Angga. "Kalian di konser, dan berciuman? Begitu Ra?!" Nara terdiam dan cemberut, dia merutuki mulutnya yang kadang susah dikontrol, dia menyesal dengan ucapannya dia sendiri. "Nara?! Mas tanya!" "Kita terbuai suasana dan lagu, saya yang lepas kontrol, saya minta maaf, sekali lagi." Angga berusaha bertanggung jawab. "Lalu Nara?!" Tanya Dito penuh selidik masih menatap Nara, dalam hatinya dia tertawa geli melihat Nara yang tertunduk malu dan cemberut. "Biarin aja kali Mas! Nara kan uda dewasa. Ga perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang, kalo mau pacaran sama Nara, ga boleh cium-cium." "Sebenarnya kalian menjalin hubungan sejauh mana?? Sempat dekat ? cuma Teman? atau apa gitu...." tanya "Teman" jawab Angga dan Nara bersama. "HAH?! TEMAN TAPI SUDAH CIUMAN?!" Tanya Dito dengan nada tinggi lagi. "Mas please...jangan bahas lagi. Kan Nara uda ngaku kalo itu kesalahan." "Pria mana lagi yang sudah pernah merasakan bibirmu Ra!" tanya Dito tegas. "Mas kasar banget sich ngomongnya?!" Nara sedikit keberatan ucapan Dito, seolah Nara dengan mudahnya mencium laki-laki. "Mas pengen tau! Selama aku ga disini, kamu seperti apa, dan cerita ini sangat mengejutkan Ra! Kamu uda berani mencium pria." "Saya yang memulai" ucap Angga, dia merasa kasihan melihat Nara yang di intimidasi oleh Dito, gadis itu tetap menunduk. Dito menarik nafas dalam-dalam, dan mengeluarkan dengan kasar. "Mas pusing dengar omongan kalian. Belum pacaran, tapi uda berani ciuman. Sekarang pacaran, ga mau dicium. Saya tanya sama kamu lagi ya Ngga, apa yang membuat kamu yakin mempersunting Nara? Bukan karena ciumannya kan?!" "Mas Dito! Jangan bahas itu lagi donk." Nara merengek manja. "Soalnya kamu jelek! Dia ganteng! Mas mau tau kenapa dia mau sama kamu? supaya mas yakin!" ujar Dito tegas. "Kalo bisa request, Nara pengen lahir cantik, tapi apa daya?!" ucap Nara lirih yang bisa didengar Angga serta Dito, dan membuat mereka tersenyum atas ucapan polos itu. "Saya tidak bisa menjelaskan alasannya, kami sempat menikmati kebersamaan, walaupun tak lama. Ketika kami tidak bersama, saya benar-benar kehilangan dia. Seperti yang tadi saya bilang, hidup saya lebih berwarna dengan adanya Byan. Saya sempat cemburu saat mendengar pembicaraan kalian, ketika Anda transit di Singapore, saya sempat mengira anda adalah kekasih Nara. Maaf kalo saya menguping. Jadi setelah saya tahu Byanara masih sendiri, saya memberanikan diri untuk menjadikan Byanara menjadi istri saya, saya tidak perlu banyak waktu mengenal dia lagi, karena beberapa waktu bersamanya membuat saya bahagia." Angga menjelaskan dengan jantan. Dito sedikit lega mendengar pengakuan Angga dengan tegas. Nara masih menunduk malu, dia masih belum percaya Angga menginginkan dirinya. "Saya serahkan semua ke Nara, saya hanya ingin dia bahagia. Dia kebahagiaan saya, dia kesayangan saya. Apapun saya lakukan untuk kebahagiaannya, dan saya akan melakukan apapun jika ada yang menyakitinya." "Yuk makan!" Potong Miske yang baru bergabung dengan mereka. "Kita uda makan bareng di kos, sekalian mandi juga" Ucap Nara. "MANDI BARENG?!" Lagi-lagi Dito terkejut. "Mandi sendiri Mas, makannya aja yang bareng." Nara mengoreksi kalimatnya. "Buruan nikah Ra! Beberapa menit kalian disini, jantung mas uda ga karuan. Ga pernah cerita cowok, sekali datang langsung ngajak nikah. Dan kayaknya Angga uda sering main di kos. Aduh Naraaaaaaaaa!" Ucap Dito meringis sambil mengusap d**a. Miske selaku istrinya terkekeh mendengar penuturan suaminya. "Nara uda dewasa, Babe!" celetuk Miske dengan mengusap lengan Dito. "Tuh kan! Kita harus cepetan nikah!" Sahut Angga sambil menatap Nara hangat. "Belum dapat jatah cuti, ntar nunggu setahun kerja." Ucap Nara, melihat Angga sekilas. Setelah beberapa saat berbincang santai, akhirnya mereka berpamitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD