“Iya sayang! Kamu semangat belajarnya oke!” ucap Riond sambil mengusap kepala Inaya.
“Iya pah dah! Papah hati-hati!” papar Inaya.
Inaya melambaikan tangan kepada Riond, begitu juga dengan Riond, Riond masih menatap Inaya sampai Inaya tak terlihat lagi, barulah Riond melanjutkan perjalananya.
Riond kembali ke rumah, karena dirinya tidak di izinkan bekerja sudah pasti ini sesuatu yang membosankan, karena tidak banyak kegiatan yang harus di lakukan oleh Riond.
Riond mampir ke sebuah toko indomaret untuk membeli rokok, entah mengapa dirinya justru teringat oleh Putri.
Riond merasa bersalah karena harus menyeret Putri di dalam kehidupan dia yang sulit untuk di mengerti.
Riond sudah selesai membeli rokok dan kembali masuk ke dalam mobilnya, namun saat ingin menjalankan mobilnya tidak tau datang dari mana Fifian yang secara tiba-tiba saja berada di depan mobil Riond.
Sebenarnya Riond sudah tidak berminat lagi untuk meladeni ketidak jelasan Fifian namun entah mengapa akhir-akhir ini justru Fifian terus-menerus menganggu Riond.
Sepertinya belum puas Fifian menganggu Riond, melihat Fifian yang berdiri di depan mobil Riond dengan tatapan mata yang tajam membuat Riond keluar dari mobil dengan terpaksa.
“Fifian cukup ya!” ucap Riond kesal.
“Mas aku gak terima ya kamu nikah sama anak ingusan itu!” ungkap Fifian.
“Kamu denger ya Fifian! Ini hak aku! Dan bukan urusan kamu! Mending kamu urusin aja suami baru kamu! Bukanya kamu harusnya seneng! Punya suami yang bisa ngeluagin waktu buat kamu! Gak seperti aku!” jelas Riond.
“Tapi tetep aja! Aku gak terima, posisi aku di gantiin sama anak kemaren sore!” ucap Fifian kekeh.
“Udah ya Fifian! Aku gak peduli! Kamu mau setuju atau gak! Itu urusan kamu! Dan aku juga gak perlu izin kamu! Kamu udah gak ada hak apapun lagi soal diri aku!” ucap Riond tak mau peduli.
“Udah ya please jangan ganggu aku sama Putri lagi! Kamu juga udah punya keluarga sendiri bukan! Kita hidup masing-masing aja!” gumam Riond.
“Mas, aku emang udah gak ada hak atas diri kamu! Tapi aku punya hak atasa Reuz dan Inaya! Aku gamau ya Reuz sama Inaya di urus sama orang kayak gitu!” gerutu Fifian.
“Eh denger ya Fifian masih mending Putri di banding kamu! Meskipun dia bukan ibu kandung Inaya sama Reuz tapi dia ngurusin anak kita dengan tulus! Sedangkan kamu apa? Kamu cuman peduli sama diri kamu sendiri!” sindir Riond.
“Tega kamu ya mas! Ngomongin aku kayak gini! Kamu tuh cuman anggep buruknya aku aja! Kebaikan aku kamu gak pernah inget!” ucap Fifian sambil memukul-mukul bahu Riond.
“Lah emang faktanya kayak gitu! Kalau kamu peduli sama Reuz juga Inaya kamu gak akan ceraikan aku! Kita gak akan pisah! Dan 2 anak itu gak akan mengalami broken home!” papar Riond sambil menghentikan tangan Fifian.
“Udah lah Fifian! Sadar! Mulai sekarang gausah ganggu aku lagi, apalagi Putri!” ancam Riond kemudian meninggalkan Fifian.
Riond masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Fifian tanpa menoleh sedikitpun, entah hatinya merasa kesal dengan tingkah Fifian yang tidak masuk akal.
“Gimana bisa dia gak setuju! Ck heran, sedangkan dia mau nikah sama siapa aja gua gak peduli!” gumam Riond dalam hati.
“Tingkah manusia emang selalu susah untuk di tebak!” ucap Riond.
“Bisa-bisanya dia berkata demikian! Udah gak ada otaknya kalai itu manusia!” gerutu Riond.
Kini Riond sudah sampai rumahnya, Riond turun dari mobil dan langsung masuk ke rumahnya.
Di ruang keluarga di sambut oleh Reuz yang sedang bermain dengan tenang.
“Reuz udah makan?!” tanya Riond.
“Udah pah! Papah gak kerja?” ujar Reuz.
“Gak sayang, papah libur!” papar Riond.
“Omah kemana? Kenapa kamu sendirian!” tanya Riond.
“Ya omah lagi ke kamarnya dulu tadi!” jawab Reuz.
“Oh gitu, yaudah!” sahut Reuz.
Riond duduk di sofa menemani Reuz yang sedang bermain, meskipun tidak tau apa yang harus melakukan apa setidaknya hari ini Riond bisa menemani Reuz.
Reuz bermain mobil remote dengan tenang, sebelum akhirnya rasa bosan melanda Reuz.
Rasanya Reuz ingin pergi keluar, namun entah harus kemana.
Reuz mencoba mengajak Riond untuk bermain di taman belakang rumah mereka.
“Papah! Ke belakang yuk!” ajak Reuz.
“Ngapain de?” tanya Riond.
“Main aja pah! Reuz bosen!” gumam Reuz.
“Ih bosenan kamu tuh!” ledek Riond.
“Dih papah mah! Hayo sih!” bujuk Reuz.
“Ya kamunya mau ngapain main di sana tuh! Gak ada apa-apa disana tuh!” papar Riond.
“Yaudah hayo temenib!” gumam Reuz.
Reuz menarik tangan Riond untuk mengikuti Reuz, dan sampailah mereka di taman belakang.
Riond melihat-lihat keadaan sekitar taman, dan terfikir untuk menambahkan ayunan untuk bersantai di sore hari.
Saat Riond melihat-lihat keadaan sekitar taman belakang, muncul Elysa datang dari belakang.
“Mah, ini kayaknya kurang ayunan ya! Seru deh kayaknya main ayunan disini sore-sore! Apa perlu di kasih di kasih jungkat-jungkit buat anak-anak ya mah!” ujar Riond meminta pendapat.
“iya bener! Kenapa kamu baru sadar!” papar Elysa.
“Dih kenapa mamah gak minta coba!” ucap Riond.
“Ya gatau ya, itu Putri gimana?” tanya Elysa.
“Apanya yang gimana?” jawab Riond.
“Ya gimana kamu ngerasa cocok gak sama dia!” ujar Elysa kepo.
“Hmmm ya gatau lah mah, di cocok-cocok in aja!” papar Riond.
“Kok kayak gitu?” gumam Elysa.
“Lah kudu gimana mom! Emang kalau Riond bilang gak cocok, mamah mau dengan senang hati buat ngebatalin pernikahan Riond!” papar Riond.
“Ya jelas gak bakal lah!” ucap Elysa spontan.
“Nah yaudah! Apa coba yang bisa Riond lakuin kecuali nerima?!” tanya Riond.
“Hmmm, yaudah bagus deh kalau nerima! Dan belajar dari penggalaman oke!” gumam Elysa.
“Oh iya mamah punya manisan, mau di ambilin gak?” tanya Riond.
“Wah boleh tuh mah! Udah lama juga Riond gak nyemil!” kata Elysa.
Elysa pergi mengambil manisan dan membuat minuman sedangkan Riond yang hanya memandangi Reuz dari jauh di ajak bermain oleh Reuz.
“Papah! Ayo main bola sama Reuz!” ajak Reuz.
“Ayo siapa takut! Ambil bolanya!” papar Riond.
“Ayo pah berdiri!” ucap Reuz.
Riond dan Reuz bermain bola dengan sangat asik mereka tertawa-tawa sangat senang, dan Elysa yang tersenyum melihat Reuz dan Riond bisa menghabiskan waktu bersama seperti sekarang merasa bersyukur.
“Pemandangan yang sangat langkah!” gumam Elysa.
Setelah Riond bermain dan mengeluarkan keringet, Riond merasa kelelahan dan mengajak Reuz untul beristirahat.
“De, udah yuk! Papah cape!” kata Riond.
“Yaudah pah! Reuz juga cape!” sahut Reuz.
Riond dan Reuz menghampiri Elysa yang sedang duduk.
Tidak beberapa lama ponsel Riond berdering menandakan ada panggilan telfon.
Riond menjawab panggilan telfon dari Putri kemudian mereka berdua membicarakan hal yang membuat Putri merasa kesal.
“Hallo put!” jawab Riond.
“Iya hallo! Lu kemana aja sih! Dari tadi gua telfon in juga! Lama banget angkat telfon!” papar Putri.
“Ya gua lagi m**m bola sama Reuz, emang kenapa gitu! Tumben?” tanya Riond.