“Dih papah mah!” papar Inaya mengambek.
Melihat kakanya yang cemberut membuat Reuz mengalah! Reuz yang sedang duduk beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil es cream yang di inginkan oleh Inaya.
Elysa dan Riond yang tadinya hanya melihat saja, Elysa menepuk punggung Riond menyuruh Riond mengawasi kemana perginya Reuz.
Riond berjalan di belakang Reuz yang lucu itu, namun saat sampai di depan kulksa Reuz menyadiri bahwa dirinya tidak sampai untuk membuka pintu kulkas.
Karena hal tersebut membuat Reuz hanya berdiri di depan kulkas sambil menatap pintu kulkas yang tinggi, bagaimana caranya dia mengapai pintu kulkas pikirnya.
Kemudian Reuz menatap Riond memelas seakan meminta tolong untuk mengambilkan es cream, Riondpun mengendong Reuz membuka pintu kulkas dan membiarkan Reuz yang memilih ice creamnya.
Reuz mengambil 2 ice cream dengan rasa berbeda, kemudian setelah memegang ice cream, Riond membawa Reuz ke ruang tamu.
Dengan wajah lucu dan tingkah lugunya Reuz menyerahkan ice cream yang di ambilnya kepada Inaya.
“Nih buat kakak?” papar Reuz.
Inaya mengambil ice cream dari tangan Reuz dan memakannya dengan lahap.
2 anak mungil itu makan sambil menonton film kartun, namun Inaya memberikan ice cream yang belum habis tersebut kepada Elysa karena dirinya sudah tidak ingin lagi memakannya.
Karena sudah larut malam, Riond mengajak Reuz dan Inaya untuk tidur.
“Anak-anak! Hayo tidur!” ajak Riond.
“Ayo sayang!” ucap Riond mengulangi.
Riond mengendong Reuz dan menuntun Inaya.
“Ayo naik anak pinter!” ucap Riond.
“Papah tungguin!” ucap Inaya.
“Iya papah tungguin! Sok atuh bobo Reuz sama Inaya!” cakap Riond.
Riond mengelus-elus kepala Inaya dan Reuz sambil melantunkan nyayian yang terdengar indah bagi mereka berdua.
Setelah Inaya dan Reuz tidur, Riond pergi ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang cukup melelahkan hari ini.
Riond memutuskan untuk tidur begitupun dengan Elysa, namun berbeda dengan Putri yang sangat overthingking.
Fikirannga seakan tak mengizinkan dirinya untuk tidur, meskipun Putri memaksakan matanya untuk merem.
Tapi otaknya selalu menyuruhnya untuk berfikir.
“Ya Allah! Kenapa sih! Mau tidur! Udah lah gamau mikir!” ucap Putri.
Otak Putri seakan terus berfikir mengenai pernikahannya yang sangat tidak terduga, dan ini cukup membuatnya mengalami stres.
“Hmmm, gua bisa gak ya hidup sama orang yang jelas-jelas gak gua suka!” papar Putri.
“Kenapa sih! Harus kayak gini!” gumam Putri sambil mengigat-ngigat kejadian dari hidupnya yang tak satupun sesuai harapan Putri.
“Gak bisa! Ini terlalu berat buat gua!” cakap Putri sambil menahan air mata.
Putri menangis mengigat rasa sakit yang muncul kembali di hatinya, sekarang dirinya tidak memiliki siapapun.
Dan harus menyerahkan hidupnya bahkan sama seseorang yang Putri saja tidak tau.
Karena kelelahan menanggis Putri tertidur tanpa sadar, Putri tidur dengan sangat pulas.
Detik demi detik berlalu hingga kini sudah menunjukan waktunya sholat subuh, namun karena tidur sudah subuh dan kelelahan menanggis Putri tidak terbangun untuk sholat subuh.
Sedangkan di rumah Riond sudah sangat sibuk, Riond sibuk mengurusi dirinya sendiri dan Inaya yang sibuk juga mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah.
“Inaya cepet pake bajunya!” teriak Elysa.
“Iya omah!” sahut Inaya.
“Kalau udah selesai! Sarapan dulu sayang!” sambung Elysa lagi.
Elysa menyiapkan bekal untuk di bawa oleh Inaya, setelah beberapa menit akhirnya Inaya turun dengan pakaian yang sudah rapih.
Di ikuti oleh bibi sambil membawakan tas milik Inaya, Inaya langsung duduk di sebelah Elysa dan menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh Elysa.
Inaya makan roti yang sudah di beri selai coklat dan segelas milk, Inaya menyantap sarapan dengan lahap dan di lihat oleh Elysa.
“Omah, kenapa omah cuman ngeliatin aja!” papar Inaya.
“Kenapa gak makan!” tanya Inaya.
“Ya kamu aja dulu makan!” sahut Elysa.
“Papah mana omah?” tanya Inaya.
“Gatau kemana, tumben papah kamu lama!” tutur Elysa.
Inaya sudah selesai makan, Elysa memasukan bekal Inaya ke dalam tas ranselnya, Inaya menunggu di ruang keluarga sambil menonton serial kartun favorit Inaya.
Sedangkan Riond baru selesai dengan urusanya, wajah Riond tak seperti biasanya, Riond terlihat lesu dan tak sehat.
Namun Riond berusaha menutupinya dan mencoba untuk terlihat seperti biasa saja, namun Elysa adalah ibu kandungnya Elysa sangat tau tentang Riond meskipun Riond berusaha untuk menutupinya.
“Kamu sakit?!” tanya Elysa tutup point.
“Ah gak kok mah! Cuman kecapean aja kayaknya!” jawab Riond seadanya.
Elysa langsung menyentuh dahi Riond untuk memastikan bahwa Riond memang baik-baik saja.
“Kamu tuh gak boleh kecapean! Hari ini libur dulu, kamu kan gak boleh kerja harusnya sampe selesai nikah!” gumam Elysa.
“Udah gausak berangkat kerja! Kamu mau nikah lho! Istirahat, masa iya nanti nikahnya gak jadi gara-gara sakit!” sambung Elysa.
“Riond gapapa kok mah! Tenang aja, jangan khawatirin Riond!” ucap Riond menenangkan.
“Kamu tuh ya kalau di bilangin susah banget! Udah gausah kerja!” omel Elysa.
“Iya iya, yaudah Riond nganter Inaya aja!” kata Riond menurut.
“Nah kayak gitu! Sebelum sakit harus di cegah dulu! Jangan anggep remeh penyakit!” gumam Elysa.
“Yang anggep remeh siapa! Kan Riond bilang, Riond gapapa!” bantah Riond.
“Yaudah Riond anter Inaya dulu nanti telat dia masuk sekolah!” gumam Riond.
Riond melangkah menuju ruang keluarga memanggil Inaya, mengajaknya untuk pergi segera ke sekolah.
“Kak!” panggil Riond.
“Ayo sayang! Nanti telat!” ajak Riond.
Inaya berjalan mengikuti langkah Riond dari belakang, dan menunggu di depan rumah selagi Riond di parkiran.
Begitu mobil sampai di depan rumah Inaya langsung naik mobil tersebut dan duduk di depan sebelah Riond.
“Kak nanti pulang mau siapa yang jemput?” tanya Riond.
“Mau sama papah!” kata Inaya.
“Yaudah nanti papah jemput ya! Papah kerjanya libur soalnya! Tapi ada syaratnya!” ungkap Riond.
“Yey! Apa pah?!” tanya Inaya tidak sabar.
“Nanti kamu di sekolah gak boleh nakal lagi ya! Kakak kalau di sekolah punya temen gak? Soalnya kata ibu guru kakak! Kalau di sekolah sukanya sendirian!” jelas Riond.
“Ih kakak kan gak nakal! Kan kemarin kakak udah jelasin ke papah! Yang mulai kan bukan kakak!” ungkap Inaya tak terima.
“Iya iya sayang! Papah percaya kok! Yaudah nanti syaratnya kamu harus makan tepat waktu oke! Bekelnya adakan!” papar Riond.
“Oke deh siap pah!” jawab Inaya.
“Yaudah kita udah sampe! Tunggu jangan keluar dulu!” ungkap Riond.
Riond turun lebih dulu kemudian baru membukakan pintu untuk Inaya keluar tidak lupa membawakan tas untuk Inaya.
Setelah berada tepat di depan sekolah, Riond memasangkan tas ransel ke pundak Inaya, Inaya yang merasa senang karena papahnya sering meluangkan waktu untuknya akhir-akhir ini.
“Yaudah masuk gih, anak manis!” ucap Riond sambil mnengelus kepala Inaya.
“Yaudah pah! Inaya masuk dulu ya!” balas Inaya sambil menyalimi Riond.