CYT 11

1219 Words
Putri menjawab dengan lesu, sebenarnya Putri bukan tipe orang yang mudah di atur, Putru juga seseorang yang menyukai kebebasan, terlebih orang yang mengaturnya bukan seseorang yang di cintainya. “Hmmm,” deheman Putri. “Kenapa tidak menjawab! Hanya berdeham saja! Apakah kamu tidak suka!” ucap Riond tutup point. “Tidak saya hanya berfikir! Apakah dahulu mantan istrimu di perlakukan seperti anda memperlakukan saya?!” ucap Putri. “Kamu ngapain sih bawa-bawa masalalu! Yang lalu yaudah gausah di pikirin! Heran!” desis Riond. “Lah bukan bawa-bawa masalalu! Ataupun mau mempermasalahan! Cuman penasaran aja! Gak boleh emang?” tanya Putri. “Iya gak boleh! Membawa masalalu di dalam hubungan itu akan berdampak buruk! Saya gak mau gara-gara obrolan yang gak penting ini buat kamu dan saya malah jadi marahan!” ujar Riond. “Hmm, yaudah oke!” jawab Putri. “Yasudah saya tutup dulu! Saya mau mandi!” papar Riond. “Yaudah mandi!” kata Putri. Riond menutp telfon dan pergi mandi, kali ini Riond mandi lama karena ingin berendam terlebih dahulu. Sedangkan Putri merenung lagi setelah menerima telfon dari Riond. “Bagaimana bisa gua yang hidup dengan penuh kebebasan, sekarang semua harus berakhir!” ungkap Putri. “Dah lah masa bodo! Gua telfon Tria aja, bosen gua sendirian disini!” papar Putri. Putri mengambil kembali ponselnya dan mencari nama Tria di dalamnya kemudian nenelfonnya. Dering berbunyi namun tidak ada jawaban dari Tria, entah kemana manusia ini pergi. “Tria lu ngapa susah banget di hubungin sih!” omel Putri. “Biasanya lu selalu cepet! Tapi sekarang kenapa lama! Gua kan makin kesepian!” ucap Putri. “Dah lah bodo amat! Mending gua nonton aja!” ucap Putri. Tak di sadari waktu semakin malam dan sekarang sudah menunjukan pukul 21.00 WIB. Inaya dan Reuz yang tertidur justru kini sudah bangun, matanya menjadi segar setelah tidur. Inaya dan Reuz memanggil-manggil omahnya namun tidak datang, Inaya dan Reuz keluar dari kamar dan pergi ke kamar Elysa. Elysa yang ada di ruang tamu yang sedang menonton serial tv kesayangannya kini harus mengajak Inaya dan Reuz bermain. “Omah!” teriak Inaya dan Reuz. “Ehh, cucu omah kok bangun sih!” tanya Elysa. “Iya omah! Papah mana omah!” tanya Reuz. “Ada tuh di kamar! Sana gih samperin papah?!” perintah omah. “Gak kerja?!” tanya Inaya. “Gak kayaknya ada di kamar! Kalian gimana tadi mainnya seru?!” tanya Elysa. “Seru omah! Reuz mau main lagi!” papar Reuz. “Tapi omah! Tadi ada mamah! Terus mamah ngomong yang buat papah marah! Terus kita belum selesai makan udah di ajak pulang!” papar Inaya. “Kok gitu?! Kenapa mamah kamu ganggu kalian!” tanya Elysa. “Gatau omah! Dia bilang katanya jangan mau nikah sama papah! Nanti di sia-siain sama papah!” sahut Reuz. “Iya mamah kalian bilang kayak gitu?!” ucap Elysa memastikan. “Iya omah! Beneran kami gak bohong!” gumam Reuz dan Inaya. “Kok bisa! Terus gimana?!” tanya Elysa. “Ya udah terus papah gandeng aku sama kak Putri terus Reuz di gendong sama kak Putri! Kita pulang ninggalin mamah gitu aja!” jelas Inaya. Saat pembicaraan mereka selesai terdengar suara dari dalam perut Reuz dan Inaya sontak membuat Elysa menatap Reuz dan Inaya. Seakan tatapannya membicarakan sesuatu, Inaya dan Reuz yang senyum tak enak karena ketahuan menahan laper. “Kalian laper?!” tanya Elysa. “Heheheh iya omah! Tadi Inaya makan belum banyak!” jelas Inaya. “Reuz juga sama omah!” sahut Reuz tak mau kalah. “Hmm yaudah kalian mau makan apa? Biar omah masakin!” kata Elysa. “Hmm, apa aja omah terserah!” jawab Inaya. “Reuz mau makan apa?” ucap Elysa memastikan kembali. “Reuz apa aja juga omah!” papar Reuz. “Hmm yaudah! Goreng naget aja mau?” ujar Elysa. “Iya gapapa omah!” jawab Reuz dan Inaya. “Yaudah kalau gitu kalian tunggu disini dulu ya! Biar omah goreng in nagetnya!” papar Elysa. Elysa pergi ke dapur untuk mangoreng naget, sedangkan Inaya dan Reuz bermain di ruang tamu. Inaya dan Reuz bermain bersama menyusun pazle mereka tampak terlihat akur, di saat mereka sedang menyusun pazle Riond menghampiri mereka yang terlihat sangat serius. “Kalian ngapain?” tanya Riond. “Kok udah bangun!” sambung Riond. “Iya karena kami laper! Jadi bangun!” ucap Inaya. “Owalah laper toh anak papah! Terus udah bilang sama bibi?” tanya Riond. “Gak, bilangnya sama omah! Omah lagi goreng naget!” papar Inaya. “Ohh yaudah kalau gitu makan yang banyak ya! Tadi makannya sedikit ya jadi laper!” gumam Riond. “Iya papah sih main pergi-pergi aja!” proses Inaya. “Ya habis mamah kamu tuh ngomongnya ngaco!” jelas Riond. “Iya tapi Inaya kangen sama mamah pah!” ungkap Inaya. “Hmm yaudah nanti kamu sama Reuz, papah anterin kerumah mamah mau?” tanya Riond. “Tapi pasti nanti gak di ajak main! Kalau sama mamah di biarin aja!” keluh Inaya. “Terus gimana dong!” ujar Riond. Inaya diam saja tidak menjawab ucapan Riond, dan makanan Reuz juga Inaya datang, jadi Inaya tidak fokus pada obrolam sebelumnya. “Makanan dateng yey!” papar Reuz. Inaya membalikan tubuhnya dan benar Elysa sudah membawakan 2 piring nasi untuk Reuz dan Inaya. “Nih makan anak-anak!” kata Elysa. “Eh tumben!” ucap Elysa kepada Riond. “Dih tumben, enak aja! Seakan-akan aku gak pernah memperdulikan mereka!” sahut Riond. “Dih bukan gitu! Tapi kan biasanya kamu kerja terus!” kata Elysa. “Iya ini udah beres kok! Terua ngeliat mereka di sini! Yaudah ngajak ngobrol dulu! Mamah kenapa belum tidur!” tanya Riond. “Ya tadi mau tidur! Terus mereka bangun!” jelas Elysa. “Kamu katanya ketemu sama Fifian?” tanya Elysa. “Iya emang! Udah lah gausah di bahas mah! Ada mereka!” papar Riond. “Yaudah! Terus gimana? Tadi pas fitting baju?!” tanya Elysa. “Ya semua lancar kok! Putri juga udah milih sendiri dan ya udah pokoknya udah beres semua!” papar Riond. “Oh gitu! Terus Putri liburkan kuliahnya!” gumam Elysa. “Iya lah mah! Orang sebentar lagi juga nikah! 5 harian lagi! Cepet banget gak kerasa!” gumam Riond. “Iya nak, nanti kalau udah nikah! Jangan kayak sama fifian! Kamu gak pernah kasih waktu Fifian! Itu kesalahan kamu juga lho! Namanya perempuan itu butuh waktu buat sama pasangannya!” nasihat Elysa. “Iya mah! Tapi kan harusnya dia ngertiin posisi aku lho mah! Aku kerja keras kan buat dia juga! Emang dia mau aku gak kerja terus mau makan apa-apa susah!” bela Riond. “Ya tapi gak gitu juga! Kamu mah 24 jam, sibuknya!” sindir Elysa. “Hih mana ada! Dasar aja dianya itu mah!” ucap Riond tak mau di salahkan. Di saat Elysa dan Riond sedang membicarakan sesuatu, Reuz dan Inaya yang selesai makan ingin es cream. “Pah, Inaya makannya udah habis! Mau es cream!” ungkap Inaya. “Reuz juga mau!” sahut Reuz. “Anak papah mau es cream ya! Yaudah ambil di kulkas!” jawab Riond. “Gamau! Mau di ambilin sama papah!” ucap Inaya yang sedang manja. “Hmm kakak gak boleh males lho! Kakak kan udah gede! Ambil lah sendiri! Ayo kakak sayang!” bujuk Riond.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD