Di tempat lain ada Riond yang berusaha menjelaskan situasi yang sebenernya, karena setelah mendengar ucapan Fifian terlihat hanya diam entah apa yang ada di fikirannya.
“Jangan di fikirin omongan wanita tadi!” kata Riond.
“Tenang aja! Gua gak akan biarin siapapun nyakitin lu ataupun anak gua!” sambung Riond menenangkan.
Putri berusaha untuk menutupi perasaanya, dan hanya menjawab sekenanya saja.
“Gak kok! Kenapa juga gua harus mikirin hal yang gak penting!” jawab Putri spontan.
“Yakin!” ucap Riond.
“Iya yakin lah! Emang muka gua terlihat gak menyakinkan gitu!” ucap Putri.
“Iya sangat tidak menyakinkan! Yaudah nanti gua mau ngobrol sama lu sebentar!” kata Riond.
“Gua anterin ke kampus! Motor lu ada di sanakan!” sambung Riond.
“Iya ada di sana! Yaudah oke!” jawab Putri.
Inaya dan Reuz yang memahami situasi sekarang terlihat sedang tidak baik-baik saja mereka berdua hanya duduk sambil menonton film di ponselnya.
Putri yang tidak mendengar suara dua anak mungil tersebut melihat ke arah kursi belakang dan ternyata Inaya dan Reuz sudah tertidur.
“Inaya dan Reuz sudah tidur! Tadi makannya gak banyak!” kata Putri mencoba mencari topik.
“Yaudah biarin aja! Kecapean mereka pasti! Oh karena mereka sudah tidur ngomongnya disini saja!” kata Riond.
“Mau ngomong apa! Soal wanita tadi!” tebak Putri.
“Iya gua mau minta maaf, atas nama mantan istri saya! Ucapan dia gak usah di fikirin! Ya meskipun kamu bilang gak mikirin! Tapi saya yakin 100% itu buat kamu kepikiran!” ujar Riond.
“Hmmm, ya kalau di fikir-fikir juga bener sih! Maksudnya orang sekelas mantan istri kamu aja, kamu sia-sia in gimana saya! Sebenernya saya takut buat nikah!” jelas Putri.
“Bukan masalah itunya! Saya itu gak ada nyia-nyia in dia dulu! Cuman emang saya itu sibuk! Jadi gak punya waktu buat dia dan dia gak terima jadi dia menceraikan saya!” papar Riond.
“Entahlah! Semua terasa masih abu-abu! Saya juga gak tau hidup saya kedepanya bakal kayak gimana! Masih terlalu abu-abu! Gatau jalan yang saya ambil ini bener atau gak!” ucap Putri putus asa.
Mendengar ucapan Putri yang terdengar seperti orang putus asa, membuat Riond berusaha untuk menyakinkan Putri, karena Riond juga tidak ingin pernikahanya harus batal, terutama kedua putra-putrinya sudah sangat menyukai Putri.
“Put, kamu denger ya! Keputusan kamu buat menikah itu gak salah! Dan apa yang di omongin sama Fifian itu gak bener! Dia itu sengaja ngomong kayak gitu! Dia tuh masih gak rela lepas dari saya! Jadi dia kayak gitu!” jelas Riond.
“Gak salah kata kamu! Kamu tau saya aja nikah sama kamu terpaksa! Gak salah dari mana! Awalnya aja udah salah! Lagian ya kalau dia masih gak rela lepas dari kamu! Dia ga akan pisah sama kamu!” tutur Putri.
“Iya saya tau! Tapi Put, apa kesalahan saya! Toh saya cuman sibuk kerja! Bukan main cewek! Seharusnya dia mikir lah! Duit itu gak dateng dengan sendirinya! Lagian juga saya nyari uang buat siapa!” gerutu Riond.
“Coba kamu fikir! Apa masuk akal saya di ceraikan gara-gara saya sibuk kerja!” sambung Riond.
“Hmmm entahlah! Yaudah gausah di bahas!” papar Putri.
“Udah sampe! Yaudah saya turun dulu! Hati-hati di jalan!” ucap Putri sebelum turun dari mobil.
Setelah Putri turun, Riond menjalankan mobilnya dan Putri menaiki motornya untuk pulang kerumahnya.
Fikirannya sangat kacau, banyak ketakutan yang ada di dalam kepalanya, terlebih waktu Putri menikah sangat dekat, hanya menghitung hari.
Dan mulai besok Putri tidak di izinkan keluar rumah sampai hari pernikahan terjadi, entah harus bercerita kepada siapa lagi! Putri hanya memiliki satu sahabat.
Putri mengendarai motornya dengan fikirannya yang kacau, hingga membuatnya dalam bahaya, Putri berusaha untuk memfokuskan fikirannya pada jalanan, namun tetap saja.
Fikirannya bercabang dan sangat sulit untuk fokus, Putri menambah kecepatan motornya agar cepat sampai dan fokusnya hanya pada jalan.
Setelah beberapa lama perjalanan akhirnya Putri sampai juga di rumah, langkah kakinya sangat lesu, begitu membuka kunci pintu, Putri langsung menjatuhkan dirinya di sofa yang berada di ruang tamu.
“Baru juga sehari terlewati beraama dengan dosen menyebalkan itu! Namun rasanya semua tenagaku sudah terkuras habis! Bagaimana aku harus menghabiskan sisa waktuku bersamanya!” ucap Putri.
“Ah entahlah! Semua terlihat sangat sulit! Tidak satupun yang berjalan sesuai dengan rencana!” gumam Putri.
“Bagaimana bisa gua hidup dengan pria arogan, sombong, dan menyebalkan seperti itu! Bahkan istrinya saja tidak sanggup hidup dengan dia! Padahal sudah jelas-jelas sudah menjalin hubungan lama! Apalagi gua yang cuman bocah ingusan!” papar Putri.
“Wah bisa di injek-injek gua sama dia! Ah sudahlah memang sudah nasibku seperti ini! Jika nantinya berujuk salah dan tak beruntung! Itu sudah menjadi hal yang biasa!” tutur Putri seakan tak peduli.
Setelah bergelut dengan fikirannya Putri mencoba untuk menyegarkan dirinya dengan cara pergi mandi, putri menikmati setiap tetes air yang di alirkan di tubuhnya.
Di tempat lain ada Riond yang baru saja sampai rumah, Riond memanggil bibi untuk membantu mengendong Reuz, karena Riond tak bisa mengendong 2 anak mungil ini secara langsung.
“Bi,, bi!” panggil Riond.
“Tolong bantu bawa Reuz bi!” perintah Riond.
Bibi dengan cepat langsung mengambil Riond di dalam mobil dan mengendongnya.
“Mamah udah pulang bi?” tanya Riond.
“Iya sudah! Barusan aja sampe! Sekarang ada di kamar!” ujar bibi.
“Oh yaudah bi makasih,” tutur Riond.
Setelah meletakan anaknya di kamar, Riond kembali ke kamarnya untuk bersantai sejenak.
Riond melepas sepatunya dan juga kancing kemeja Riond membiarkannya terbuka agar udara mendinginkan tubuhnya yabg masih panas.
Entah secara tiba-tiba saja Riond teringat tentang Putri, Riond mengkhawatirkan Putri sudah sampai rumah atau belum.
Riond mengambil ponselnya yang masih terletak di dalam tas kerjanya, kemudian mencari nama Putri dan menelfonnya.
Putri yang baru selesai mandi, dan masih memakai handuk untuk menutupi dirinya juga handuk di kepala untuk membungkus rambutnya.
Putri mendapat telfon dari seseorang yang nonya tidak di save oleh Putri.
“Hallo?!” sapa Putri.
“Ini siapa ya ..?” tanya Putri.
“Hallo! Ini Riond!” jawab Riond cuek.
“Iya ada apa ya pak dosen?” ucap Putri.
“kamu sampai rumah dengan selamat?!” tutur Riond.
“Alhamdulilah baik-baik aja! Tapi maksudnya apa nih? ngomong kayak gitu?!” tanya Putri.
“Alhamdulilah kalau gitu! Gak saya khawatir aja mantan istri saya masih ganggu kamu!” jelas Riond.
“Oh gak pak dosen tenang aja! Lagian mantan istri bapak gak ada urusanya sama saya! Jadi saya gak peduli!” papar Putri.
“Ohh yaudah oke! Oh iya no saya di save! Dan karena kamu calon istri saya! Kamu harus izin untuk apapun yang di kakuin! Juga izin kalau mau pergi! Inget itu ya! Tidak menerima protes apapun! Kamu tanggung jawab saya mulai sekarang!” tutur Riond.