CYT 08

1111 Words
“Hmm oke!” jawab Putri. “Lu gak ada pelajaran?” tanya Riond. “Ada, cuman gimana lagi! Pasti lu bakal ngomel kalau gua nolak!” jawab Putri. “Iya salah siapa ngejanjiin main!” ujar Riond. “Iyaudah stop! Gausah mancing keributan!” gerutu Putri. Daripada harus meladeni Riond, Putri lebih baik mengajak Reuz ngobrol. “Reuz udah makan belum sayang?!” tanya Putri. “Udah dong kak!” jawab Reuz dengan wajah polosnya. “Makan apa kamu! Kok kakak gak di bagi sih!” ujar Putri. “Dih tadi kan kakak ga ada! Yaudah Reuz makan sama omah! Tapi Reuz punya permen! Kaka mau?” tawar Reuz sambil mengeluarkan permen yupi dari kantornya. “Hehehe gak sok buat Reuz aja, sini kaka bukain ya!” ucap Putri. Riond yang melirik sedikit, sontak dengan spontan langsung mencegah Reuz untuk memakan permen tersebut. “Reuz kamu dapet dari mana! Jangan makan permen kayak gitu! Nanti batuk!” papar Riond. “Tadi Reuz di kasih sama om-om di hotel pah! Tapi Reuz mau pah!” renggek Reuz. Putri yang melihat Reuz di marahin tak terima melihat malaikat kecil itu seakan terlihat takut dan langsung mendekap Putri. “Riond! Apa-apan sih! Cuman permen kayak gini doang! Gak bakal bikin sakit kali!” ucap Putri. “Kamu itu gak tau! Dia itu gak pernah makan permen kayak gitu! Emang kalau dia sakit kamu mau tanggung jawab!” balas Riond. “Ya allah Riond permen itu sama aja! Mau yang mahal yang murah! Semua sama aja! Dan makan satu doang mah gak akan bikin batuk!” tutur Putri. “Terus juga bisa gak sih! Biasa aja ngomongnya! Jangan kayak orang marah!” gumam Putri. “Ya itu anak-anak saya! Saya berhak ngelarang dia! Lagian buat kebaikan dia juga!” papar Riond. “Iya emang bener anak kamu, dan kamu berhak! Tapi kamu gak mikirin perasaan dia! Dia juga pengen ngerasain! Lagian cuman permen doang kok di permasalahin! Heran!” ucap Putri. “Udah nih Reuz gapapa makan aja! Tapi jangan banyak-banyak ya sayang! 1 aja cukup oke!” ujar Putri dengan halus dan sambil menyerahkan permen yupi yang sudah di buka. “Makasih kakak!” kata Reuz sambil mengunyah permen yupi tersebut. “Heem, enak kaka!” ucap Reuz senang. Tidak beberapa lama Riond sampai di sekolah Inaya dan hanya Riond yang turun dari mobil, dan sesampai di sekolah Inaya, Riond justru di panggil masuk oleh kepala sekolah. Ternyata Inaya habis berantem dengan siswa lain, dan siswa tersebut terluka akibat Inaya yang mendorongnya. Kepala sekolah tersebut menjelaskan detail kejadian perkelahian antara Inaya dan temannya. “Pak, jadi begini, Inaya ini mendorong temannya sampai terjatuh, namun Inaya tidak ingin meminta maaf!” kata kepala sekolah. “Ya tapi pah, Inaya gak salah! Salah dia duluan pah! Dia ngeledekin Inaya terus! Ya Inaya kesel terus dia mau mukul Inaya ya Inaya tangkis terus Inaya gak sengaja ngedorong dia pah!” jelas Inaya tak mau di salahkan. “Hmm seperti itu, yaudah Inaya minta maaf ya! Walaupun Inaya gak sengaja tapi temen Inaya kan jatuh! Udah ayo sayang minta maaf!” jelas Riond dengan lembut sambil mengelus kepala Inaya. “Tapi kan Inaya gak salah pah! Inaya kan ngebela diri!” protes Inaya. “Iya gapapa sayang! Minta maaf dulu ya! Inaya mau cepet pulang kan! Katanya mau main sama papah! Minta maaf ya terus kita main!” bujuk Riond. Dengan berat hati Inaya mengikuti ucapan Riond dan mereka pamit dari ruang kepala sekolah dan masuk kedalam mobil Riond. Sedangkan Putri dan Reuz sedang anteng melihat film dari ponsel Putri, Reuz duduk dalam pangkuan Putri terlihat sangat nyaman. “Kak gak sibuk! Mau nemenin Reuz mainkan?” tanya Reuz. “Iya sayang! Kakak temenin nanti ya! Reuz mau main apa emangnya?!” ucap Putri. “Banyak kak! Oh iya kakak kan mau jadi Mamah Reuz boleh gak kalau sekarang Reuz panggil mamah!” papar Reuz. “Hmm gimana ya! Kakak juga gatau hehe! Udah Reuz kita nonton aja yuk! Reuz suka liat shaun the sheep gak!?” tanya Putri. “Suka!” jawab Reuz. Untuk beberapa saat Riond dan Inaya datang, Riond membukan pintu belakang untuk Inaya masuk dan menutupnya kembali, kemudian masuk ke kursi supir. Putri yang melihat Inaya baru datang, kebinggungan mengapa wajahnya di tekuk seperti itu, Putri menatap Riond seakan matanya bertanya ada apa yang terjadi. “Inaya kenapa?!” tanya Putri. “Berantem sama temennya!” jawab Riond singkat. “Bukan berantem! Orang Inaya gak sengaja bikin dia jatuh! Ya salah dia ngapain ngeledekin Inaya terus!” protes Inaya. “Oh begitu! Yaudah gapapa Inaya kan kuat! Udah jangan di tekuk lagi dong wajahnya! Kita kan mau main!” bujuk Putri. Reuz yang melihat kakaknya sedih langsung pindah duduk ke belakang menemani Inaya duduk di samping Inaya dan mengelus lengan Inaya seakan ikut menangkan. “Kak nanti kita main ke timezone!” ujar Reuz. “Kakak mau main apa?!” tanya Reuz. Namun Inaya yang masih terlihat kesal tidak menjawab ucapan Reuz, hanya diam saja. Tidak lama mereka sampai di hotel yang di beritahu oleh Elysa, tanpa fikir panjang Putri, Riond, Inaya dan Reuz turun dari mobil dan masuk ke dalam hotel tersebut. “Inaya tolong jagain adiknya ya! Papah sama kak Putri mau ngukur baju dulu! Mainnya jangan jauh-jauh!” pesan Riond. Sedangkan Riond dan Putri memilih gaun pengantin dari sebuat tablet, mata Putri tertuju pada salah satu gaun yang terlihat sangat cantik dan elegant. Namun Putri sadar, dirinya tidak bisa menentukan sendiri, sehingga harus meminta persetujuan Riond. “Kalau yang ini gimana Riond?” tanya Putri. Melihat gaun tersebut membuat Riond teringat oleh mantan istrinya, dahulu juga mantan istrinya memilih gaun yang sama seperti itu, dengan spontan Riond tidak menyetujui gaun tersebut. “Jangan yang itu! Kurang bagus!” ucap Riond. “Sudah kuduga!” gumam Putri. “Hmm yaudah oke deh!” jawab Putri. Kemudian Putri memilih kembali gaun-gaun dan lagi-lagi matanya tertuju pada salah satu gaun yang desainnya mirip dengan gaun-gaun pengantin yang cantik. Namun kali ini rasanya Putri tidak akan terima jika di larang kembali oleh Riond. Namun lagi-lagi Putri menyai pendapat Riond dan untung saja kali ini tidak di tolak. “Boleh yang ini bagus! Dan cocok juga kayaknya di badan kamu!” kata Riond. “Yaudah saya pilih yang ini!” ucap Putri. “Kalau begitu mari kita coba ukur badan nona!” jawab staff tersebut. Kemudian Putri di ajak masuk ke salah satu ruangan dan di ukur semua badannya dan mencoba gaun dengan model yang sama. Begitu semua selesai, Putri keluar dan mengajak Riond untuk cepat bergegas dari hotel. Karena putri harus mengajak Inaya dan Reuz bermain begitu pula dengan Riond yang harua bekerja kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD