“Pa … apa boleh Ana minta sesuatu?” tanya Ana dengan hati-hati.
Dengan perasaan was-was, Ana memberanikan diri untuk menghadap papanya. Selama ini semua keinginannya memang selalu dikabulkan oleh sang papa. Namun, untuk yang satu ini, gadis itu masih cukup waras untuk memintanya dengan asal. Dia dengan segala pemikirannya yang polos akan cinta, berharap keputusannya akan membawa Reihan pada kesuksesannya kembali.
“Putri Papa ingin apa, hmm …?” tanya Teguh Wijaya balik.
Pria paruh baya itu bertanya sambil melepaskan kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja yang ada di depannya. Sekarang fokusnya hanya pada putri bungsunya yang tengah duduk di seberang meja yang ada di hadapannya.
Sebagai seorang kepala keluarga, tentu dia harus memprioritaskan keluarganya. Lelaki itu bekerja keras hanya demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Meski sesibuk apa pun, pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu pasti akan meluangkan waktu untuk berkumpul bersama istri dan anak-anaknya karena waktu tidak bisa diulang, menurutnya.
“Ana ingin Papa menjadi investor untuk perusahaan Jaya Grup yang sekarang dipegang oleh Dokter Reihan,” ucap Ana menyampaikan keinginannya dengan kepala yang tertunduk.
Saat ini gadis cantik itu tidak berani menatap mata papanya. Meskipun dengan semua keberanian yang sudah dia kumpulkan, tapi jika berhadapan langsung dengan sang papa dia tidak memiliki nyali sama sekali.
Teguh yang mendengarkan permintaan sang putrinya seketika mengerutkan dahinya. Dia masih bingung mencerna ucapan Ana. Bagaimana bisa putrinya memiliki pemikiran itu? Apa dia tahu untuk berinvestasi pada suatu perusahaan memerlukan uang yang tidak sedikit.
“Apa kamu lupa, kalau dia sudah bukan Dokter lagi?” tanya Teguh kembali.
“Ana tahu, Pa. Tolong dia! Kasihan dia udah berusaha keras untuk menghidupkan kembali perusahaan keluarganya, tapi semua investor yang dia temui selalu menolak untuk bekerja sama dengannya,” pinta Ana sambil mengangkat wajahnya yang semula tertunduk.
Teguh yang mendengarkan permintaan dari putrinya dengan wajah yang tampak terlihat memelas itu kembali mengerutkan dahinya. Memang siapa yang mau berinvestasi pada perusahaan yang sudah tinggal nama karena skandal besar yang pernah dilakukan oleh pemiliknya dulu yaitu ayah Reihan yang bernama Rudy Pangestu.
Seketika pria paruh baya itu pun mengingat sosok Reihan Pangestu yang begitu baik. Di mana dokter tampan itu bersedia mendonorkan darahnya untuk Ana. Ketika itu kondisi putrinya sedang kritis karena terserang demam berdarah yang membuat gadis itu banyak mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya karena adanya kebocoran pembuluh darah.
Di saat gadis itu memerlukan tranfusi darah, ternyata persedian darah AB yang dibutuhkan oleh Ana sedang kosong. Akhirnya Teguh dan Mayang, meminta perawat untuk mengambil darahnya sebanyak yang mereka perlukan untuk menyelamatkan putri kesayangannya.
Sepasang paruh baya yang sudah cemas dengan kondisi Ana, seketika merasa lemas saat mengetahui dari perawat jika golongan darah keduanya ternyata tidak sama dengan golongan darah putrinya. Teguh yang bergolongan darah A dan Mayang B membuat dunia suami istri itu terasa runtuh karena usaha terakhirnya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Di tengah-tengah kepanikan suami istri itu, Reihan datang menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya yang kebetulan golongannya sama dengan Ana. Sebagai seorang dokter, Reihan dituntut untuk selalu menjaga kesehatannya. Hati pria itu juga terpanggil berkewajiban untuk menyelamatkan pasien semampunya. Ia akan merasa bahagia jika hidupnya bisa bermanfaat untuk orang lain.
Dokter tampan itu masih tampak terlihat lemas setelah mendonorkan darahnya. Pria itu lantas segera merawat Ana setelah beristirahat sejenak. Dia harus memantau kondisi pasiennya hingga melewati masa kritisnya.
Teguh dan Mayang akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah Reihan memberitahukan jika Ana telah melewati masa kritisnya. Oleh karena itu, keluarga Wijaya merasa memiliki hutang budi kepada dokter baik hati itu.
Tidak ada alasan bagi Teguh untuk tidak menolong Reihan. Namun, pria paruh baya itu memiliki rencana lain setelah mencari informasi mengenai lelaki itu. Teguh baru mengetahui jika ternyata Reihan merupakan seorang pria yang tekun dan pekerja keras, dan itu membuat pria paruh baya itu sedikit memiliki harapan lebih pada pria yang dikagumi oleh putrinya tersebut.
Akhirnya Teguh memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan Reihan sebagai syarat investasi. Dia yakin Jaya Grup akan bisa cepat kembali bangkit dan berjaya di tangan pemuda tampan itu.
Bagaimanapun juga dia seorang pebisnis yang masih memikirkan untung dan ruginya dalam berinvestasi. Berdasarkan insting yang tidak pernah meleset, membuat Teguh yakin bahwa dirinya tidak akan mengalami kerugian jika berinvestasi pada Jaya Grup.
“Apa kamu sudah memikirkannya dengan matang rencana kamu ini, Sayang?” tanya Teguh untuk memastikan kembali.
Sebagai seorang ayah, Teguh tidak ingin nantinya Ana akan menyesali keputusannya. Demi untuk memastikan kebahagiaan putrinya, pria itu juga memiliki rencana lain terhadap Reihan.
“Sudah, Pa!” jawab Ana dengan yakin.
Gadis itu merasa sangat yakin dengan keputusannya. Apalagi mengingat hutang budi pada mantan dokter tersebut, membuat Ana semakin mantap dengan apa yang ia lakukan.
“Papa pasti lebih paham, bagaimana caranya membuat perusahaan yang dirintis dari nol bisa kembali berjaya,” lanjut Ana menjelaskan dengan wajah yang terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
Akhirnya setelah menghembuskan napas panjangnya, Teguh pun menyetujui permintaan sang putri meskipun dengan berat hati. Dia hanya tidak ingin melihat putrinya bersedih. Pria paruh baya itu akan segera menemui Reihan Pangestu untuk membicarakan mengenai ini semua.
Sebagai seorang pengusaha, insting Teguh sangatlah tajam. Dia yakin jika Jaya Grup berada di tangan Reihan, bisa berkembang dengan cepat. Mantan dokter itu di samping seorang pekerja keras dia juga cerdas.
Dulu sewaktu Ana terserang demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit Angkasa, Di situlah awal pertemuannya dengan cintanya. Ya … Ana awalnya hanya menaruh rasa kagum pada sosok dokter tampan yang sedang merawatnya dengan penuh kesabaran dan juga ramah. Dari rasa kagum itulah akhirnya berkembang menjadi sebuah rasa cinta di dalam hatinya.
Hingga suatu saat, Ana dinyatakan sembuh dan diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Betapa sedih hatinya ketika harus berpisah dengan pria pujaannya. Mau tidak mau akhirnya mereka pun kehilangan komunikasi karena kesibukan masing-masing dan Ana juga tidak memiliki kontak Reihan.
Hari-hari Ana kembali seperti biasanya, seperti di saat ia belum dirawat di rumah sakit. Gadis itu menyelesaikan kuliahnya yang hanya tinggal menyusun skripsi saja. Rutinitasnya yang padat juga sempat mengalihkan pikirannya terhadap pria pujaannya tersebut.
Hingga kelulusannya dan selesai wisuda, Ana masih disibukkan dengan rutinitas sehari-hari. Di saat dia merasa bosan di rumah, maka ia akan tinggal sementara di apartemen kakaknya yang berada di Jakarta. Ana sangat suka tinggal di ibu kota, karena di sanalah kenangan terindahnya berada. Saat dia dirawat di rumah sakit Angkasa dan bertemu dengan Reihan.
Hingga suatu saat Ana menonton berita tentang perusahaan Jaya Grup yang akan dihidupkan kembali. Sejak saat itu ia pun tidak pernah melewatkan berita mengenai Reihan. Tak jarang dia juga memantau media sosial milik lelaki tampan itu. Rasa rindunya bisa sedikit terobati setelah ia melihat berita yang menayangkan sosok Reihan ketika sedang diwawancara oleh salah satu stasiun televisi.
“Kamu masih tetap tampan dan berkarisma,” gumam Ana.
Selama Ana melihat semua berita itu, tak terasa air matanya sempat menetes. Gadis itu sungguh benar-benar merasa kasihan terhadap Reihan. Hatinya pun merasa terpanggil untuk menolong mantan dokter yang pernah menyelamatkan hidupnya dulu. Sebagai pasien yang pernah diselamatkan oleh Reihan, Ana ingin membalas budi dengan menolongnya. Otak cantiknya harus berpikir dengan jernih untuk mencari alasan apa yang akan dia sampaikan kepada keluarganya, karena untuk berinvestasi di perusahaan Reihan pasti membutuhkan uang yang tidak sedikit.