“Semua berkas yang diperlukan nggak ada yang tertinggal?” tanya Teguh kepada Toni, asistennya.
“Sudah semua, Pak,” jawab Toni sambil mengikuti atasannya memasuki sebuah restoran di salah satu hotel bintang lima yang ada di pusat kota.
Teguh berjalan dengan langkah mantapnya dan tampak aura sorang pemimpin yang bijak terpancar dari raut wajah teduhnya. Bagi yang mengenal karakter pengusaha sukses itu bisa dipastikan mereka tidak ada yang berani menyinggungnya. Mengingat ada putra mahkota yang berada di belakangnya, membuat siapa pun yang ingin mencari masalah dengannya harus berpikir ulang.
Daniel Wijaya, putra sulung yang sekaligus juga penerus Wijaya Corporate itu terkenal dengan sikap dingin dan kejam di dalam dunia bisnis. Bahkan, lelaki itu tidak segan-segan akan memberikan hukuman dengan caranya sendiri pada orang-orang yang telah berani menyinggungnya terutama menyinggung keluarganya.
Setelah mendudukkan dirinya, Teguh pun langsung membuka suaranya. Pria itu tidak ingin berbasa-basi karena waktunya sangat berharga. Urusannya bukan hanya untuk menemui Reihan saja karena masih banyak lagi keperluan yang harus dia urus setelah ini.
“Saya langsung saja pada intinya. Saya bersedia menjadi investor tunggal untuk Jaya Grup, tapi dengan satu syarat,” ucap Teguh tanpa basa-basi sambil menatap mata Reihan dengan tajam.
“Apa pun syarat yang Anda ajukan, saya akan menyetujuinya,” jawab Reihan dengan yakin.
Lelaki pemilik hidung mancung itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini. Di mana para investor yang dia temui menolaknya, tapi tidak dengan Teguh. Pengusaha senior yang cukup disegani tersebut, bahkan dengan sendirinya datang menemuinya dan kini malah menawarkan investasi yang sangat dia harapkan.
“Kamu harus menikahi putri bungsu saya, dan saya pastikan hanya Wijaya Corporate yang akan menjadi investor tunggal untuk Jaya Grup,” lanjut Teguh dengan mata yang tetap mengamati semua perubahan raut wajah Reihan.
Reihan sangat terkejut ketika mendengar syarat yang diajukan oleh Teguh. Awalnya dia mengira jika pembagian keuntungan yang akan menjadi persyaratan itu. Namun, ternyata justru dia diminta untuk menikahi putrinya.
“Jika kamu tidak bersedia dengan syarat yang saya ajukan, tidak masalah. Toni mari kita pulang!” sambung Teguh karena melihat Reihan masih terdiam.
Lelaki itu bersiap pergi meninggalkan Reihan dan asistennya. Toni yang mendengar perintah dari atasannya langsung bergegas berdiri sambil meraih tas yang dia letakan di kursi kosong sampingnya.
“Tunggu, saya bersedia!” ucap Reihan sambil setengah berteriak.
Tentu saja Reihan sangat terkejut dengan sikap tegas yang ditunjukkan oleh Teguh. Selama ini dia hanya mendengar saja mengenai sikap tegas pengusaha senior tersebut. Namun, kini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Di samping itu, mana mungkin dia mau melewatkan kesempatan emas ini.
Meskipun Reihan telah memiliki seorang kekasih, tapi ia tetap nekat untuk menyanggupi permintaan Teguh sebagai syarat investasi. Menurutnya, semua pasti bisa dibicarakan.
“Saya bersedia dengan semua syarat yang Anda minta,” sambung Reihan kembali setelah mereka berempat sudah duduk di tempatnya semula karena Teguh dan Toni berbalik lagi.
Berbeda dengan Aji, asisten Reihan. Lelaki itu tampak terkejut dengan ucapan atasannya. Karena yang dia tahu, atasannya telah memiliki kekasih yang selalu berpenampilan seksi.
“Saya hanya ingin melihat putri saya bahagia. Jika suatu saat nanti saya melihat putri yang saya sayangi menangis dan terluka, saya akan langsung menghancurkan kamu dan perusahaan keluargamu itu,” ucap Teguh memberikan peringatan.
“Saya bisa pastikan putri kesayangan Anda akan bahagia,” jawab Reihan dengan yakin.
Setelah mengatakan itu keduanya menandatangani beberapa dokumen yang telah mereka siapkan, dan setelah selesai mereka pun berpisah setelah saling berjabat tangan. Mereka kembali ke kantornya masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Bos, bagaimana dengan Nona Lily nantinya?” tanya Aji dengan penasaran sambil melirik sekilas atasannya yang duduk di bangku penumpang bagian belakang melalui kaca spion yang ada di atasnya.
“Itu urusan saya,” jawab Reihan dengan nada dingin.
***
Akhirnya hari pernikahan pun digelar dengan sangat meriah dan mewah. Banyak undangan dari berbagai kalangan yang menghadiri pernikahan putri bungsu keluarga Wijaya yang cukup tersohor itu. Teguh yang merupakan salah satu pengusaha sukses, banyak mengundang relasi bisnisnya. Pria paruh baya itu ingin berbagi kebahagiaan yang saat ini tengah dirasakan oleh keluarganya.
Dengan senyum yang terus terpasang di wajah kedua mempelai, ternyata banyak membuat iri pasang mata yang melihatnya. Menurut banyak orang, Reihan dan Ana merupakan pasangan yang sangat serasi. Di mana pengantin prianya tampan dan pengantin wanitanya cantik.
Akhirnya acara pun selesai dan saat ini Ana sudah berada di dalam kamar hotel tempat pesta pernikahannya digelar. Wanita itu tampak sedang duduk sambil bersandar pada sandaran ranjang setelah membersihkan dirinya. Ia berniat menunggu lelaki yang baru saja menjadi suaminya sambil memainkan ponselnya.
Ana menunggu kurang lebih selama satu jam sebelum akhirnya Reihan terlihat masuk ke dalam kamar. Lelaki itu terus melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tanpa menoleh ke arah wanita yang baru saja menjadi istrinya. Bahkan, Reihan seakan tidak peduli dengan keberadaan istri yang tengah menunggunya itu.
Sejak pertama kali melihat suaminya masuk ke dalam kamar, Ana tidak berani untuk membuka mulutnya. Perempuan itu terus menatap sosok pria yang tengah berjalan melewatinya dalam diam.
“Aku seperti makhluk tak kasat mata aja,” batin Ana.
Ana sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh lelaki itu. Pasti siapa pun akan merasa canggung berada di dalam satu kamar dengan pasangan yang baru saja menikah tanpa cinta.
Tak sampai dua puluh menit kembali terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Beberapa saat kemudian tampak terlihat Reihan berjalan menuju sofa yang terletak tak jauh dari ranjang. Pria itu lantas segera meraih ponselnya setelah mendudukkan dirinya di atas sofa panjang. Detik berikutnya, ia pun mulai terlihat sibuk dengan ponselnya. Sesekali Reihan terlihat sedang tersenyum tipis saat menatap layar ponsel yang terlihat sedang menyala.
Menurut Ana, mungkin suaminya sedang membalas pesan dari teman-temannya yang mengucapkan selamat kepadanya. Apalagi mengingat hari ini adalah hari pernikahan mereka, jadi menurutnya sangat wajar jika mereka mendapatkan ucapan selamat dari teman maupun kolega.
Beberapa menit kemudian, Reihan sudah terlihat merebahkan tubuhnya di sofa. Ana yang melihat suaminya seperti ingin tidur di sofa, seketika membuat perempuan itu membuka mulutnya yang sejak tadi tertutup rapat.
“Mas Reihan, tidur di ranjang aja, nanti kalau tidur di sofa badannya bisa pegal-pegal pas bangun besok pagi,” ucap Ana dengan suara lembutnya.
Reihan yang mendengar ucapan Ana, seketika urung memejamkan matanya. Dengan tatapan datar pria tampan itu pun hanya menjawab dengan decakan saja.
“Kalau Mas Reihan nggak mau tidur di ranjang, ini bantal dan selimut buat Mas pakai supaya pas bangun besok pagi badan Mas Reihan nggak pegal,” sambung Ana sambil menunjukkan bantal dan selimut yang berada di dalam dekapannya.
“Ingatlah! Jangan terlalu memaksakan diri dengan pernikahan bisnis ini,” ucap Reihan dengan nada dinginnya.
Bahkan, lelaki itu tanpa menoleh sedikit pun ketika berbicara pada istrinya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Reihan hanya berniat mengingatkan, jika pernikahan mereka bukanlah pernikahan biasa.
Deg …!
Mendengar penuturan dari suaminya, seketika membuat Ana terdiam. Perempuan itu sangat terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya. Namun, untuk menjawab perkataan Reihan, dia tidak memiliki nyali. Kemudian ia pun tidak berani untuk bersuara lagi. Sebagai seorang istri, dia tidak berani membantah perkataan pria yang telah menjadi suaminya tersebut.