Ana yang mendengar ucapan dari suaminya tampak terdiam sesaat, tapi dengan cepat wanita itu langsung kembali ke wajah normalnya. Dia bisa memaklumi jika suaminya masih belum bisa menerima kehadirannya, karena mengingat jika keduanya memang belum saling mengenal secara pribadi, selain sebagai seorang dokter dan pasien.
“Saya nggak berharap, tapi saya lakukan ini hanya demi rasa kemanusiaan,” jawab Ana sambil meletakkan bantal dan selimut yang dia bawa ke atas meja sofa.
Setelah mengatakan itu, ia pun langsung membalikkan badannya menuju ranjangnya kembali. Wanita itu memutuskan untuk beristirahat. Apalagi tubuhnya juga terasa lelah karena kegiatan yang harus ia jalani seharian ini.
Sejenak Ana sempat terkejut dengan perubahan sikap Reihan yang menurutnya begitu drastis karena selama di pelaminan tadi, suaminya tampak tersenyum bahagia. Ana sempat merasa bahagia karena dia kira lelaki pujaannya sudah bisa menerima dirinya. Namun, pada kenyataannya semua senyum yang Reihan suguhkan di hadapan keluarganya dan banyak orang adalah sebuah kepalsuan.
***
Keesokan harinya pengantin baru dan semua keluarga meninggalkan hotel tempat mereka menginap. Reihan mengajak wanita yang baru saja dia nikahi untuk pulang ke rumahnya.
Selama di dalam perjalanan hanya terdengar suara musik yang menemani keduanya. Bahkan, sesekali pria itu terlihat mengeraskan rahangnya seakan sedang menahan kesal.
“Mas Reihan kenapa, ya?” batin Ana bertanya-tanya.
Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di sebuah rumah mewah milik Reihan. Tanpa berkata-kata, pria itu langsung turun dari mobil dan berjalan masuk rumah meninggalkan Ana sendirian.
Ana tidak pernah menduga jika dibalik pintu rumah itu sudah menunggu kenyataan pahitnya. Takdir yang selama ini tidak pernah dia bayangkan nyatanya akan datang menyapanya dan bahkan akan menemani hari-harinya.
“Hey … Sayang!” sapa seorang wanita ketika pintu rumah sudah terbuka.
Dengan mengenakan pakaian kurang bahan ada wanita cantik berambut merah menyambut di pintu rumah suaminya dan memanggil ‘Sayang’ padahal baru sehari Ana menyandang status sebagai istri sah laki-laki itu.
Seketika kaki jenjang Ana seperti tertancap di tempatnya berdiri. Mata indahnya juga memberikan tatapan yang sulit untuk diartikan.
“Mas …,” lirih Ana sambil menatap Reihan untuk meminta penjelasan.
Namun, bukannya penjelasan yang diterima karena dia justru mendapatkan sebuah decakan sinis dari suaminya. Saat ini jantungnya juga berdetak tak karuan. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya terasa campur aduk. Dia sendiri sulit untuk mengartikan apa yang tengah dia rasakan saat ini.
“Kenapa? Kamu terkejut? Dia Lily, kekasihku,” jawab Reihan dengan santainya.
Deg …!
Bagaikan disambar petir Ana tampak sedikit terhuyung ke samping. Nafasnya mendadak terasa sesak dan dadanya terasa nyeri seperti ada balok besar yang sedang menghantamnya.
“Maksud Mas, apa? Aku nggak ngerti. Mas nggak sedang mempermainkan pernikahan ini, kan?” tanya Ana bertubi-tubi.
Seketika Reihan pun tersenyum sinis. Lelaki itu sudah lelah untuk berpura-pura lagi. Di hari pernikahannya kemarin, ia sudah seharian berpura-pura menjadi pengantin yang bahagia. Namun, kali ini sandiwaranya sudah waktunya berakhir dan akan berganti dengan realita yang mau tidak mau harus ditelan oleh Ana meskipun sakit.
“Lebih tepatnya, aku menikahimu karena bisnis, Ana. Aku sudah memiliki kekasih yang sangat aku cintai dan di saat kesempatan untuk menghidupkan kembali perusahaan keluargaku datang dengan sendirinya, maka dengan senang hati aku menerimanya,” jawab Reihan dengan senyum yang terlihat meremehkan,
Kali ini dia harus memberi tahu Ana yang sebenarnya karena tidak ingin ke depannya akan mendapat kesulitan dari sikap manja perempuan itu. Reihan mengetahui semua karakter manja seorang Anastasia Wijaya dari Lily. Oleh karena itu, dia harus membuat Ana tidak bersikap manja lagi, menurutnya.
“Kamu sabar dulu setelah perusahaanku kembali berjaya aku pasti akan segera menceraikan kamu,” lanjut Reihan sebelum pergi sembari merangkul pinggang kekasihnya meninggalkan Ana terdiam seorang diri.
Ana hanya bisa diam mematung sambil menatap punggung sepasang kekasih yang tampak berjalan menjauhinya. Wanita itu sungguh tidak pernah menyangka jika Reihan yang dia kenal dulu sudah berubah, atau mungkin memang dia yang tidak benar-benar mengenal karakter pria itu. Karena mantan dokter yang dia kenal dulu adalah pria yang baik dan hangat.
***
Sudah hampir sebulan Ana menjadi seorang istri. Saat dia hendak pergi ke dapur untuk membantu Bi Narti, tanpa sengaja matanya melihat kemesraan Reihan dan Lily di ruang tengah. Perempuan itu seketika meraba dadanya yang mendadak terasa nyeri. Kedua matanya juga tiba-tiba terasa panas. Detik kemudian ia langsung mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan melalui mulutnya, berharap udara yang masuk ke dalam paru-parunya bisa membantu mengatasi sesak yang tiba-tiba saja menyerangnya.
“Non Ana, yang sabar ya! Serahkan semuanya pada Tuhan. Non Ana wanita yang kuat dan hebat, karena Non bisa bertahan sampai detik ini. Semua pasti akan berakhir, percaya sama Bibi,” tutur Bi Narti yang sebenarnya tak kalah sedih melihat semua kejadian di dalam rumah tangga majikannya tersebut.
Wanita paruh baya itu lumayan banyak tahu mengenai rumah tangga macam apa yang tengah dijalani oleh Ana dan Reihan. Sebagai sesama perempuan, sebenarnya Bi Narti merasa gerah dan marah dengan kelakuan majikan laki-lakinya bersama dengan kekasihnya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. karena posisinya yang hanyalah seorang pembantu di rumah itu.
“Terima kasih, Bi. Aku pasti kuat, demi Papa sama Mama. Di sini cuma Bibi yang peduli sama aku,” sahut Ana sambil memaksakan senyumnya.
Namun, sialnya setelah dia mengucapkan itu, air matanya malah dengan lancang merembes keluar tanpa permisi. Entah sesakit apa hatinya hingga air mata pun tidak ingin berkompromi dengannya.
Di dalam senyuman wanita itu tampak terlihat kepedihan yang berusaha dia simpan seorang diri. Sorot mata yang dulunya ada banyak keceriaan di dalamnya sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang hanya tampak sebuah sorot mata sendu yang menyiratkan banyak menyimpan kepedihan yang begitu dalam.
Ingin mengadu pada papa atau kakaknya, tapi Ana tidak berani karena sebuah ancaman dari suaminya. Karena memiliki hati yang begitu lembut, maka wanita malang itu memutuskan akan menanggung semuanya sendiri. Dia tidak ingin membuat papanya menyesali keputusan yang sudah secara tidak langsung menjodohkannya dengan pria yang dia cintai tapi sekaligus juga yang membuatnya terluka secara fisik maupun hati.
Tak lama kemudian, sepasang kekasih itu beranjak dari sofa untuk menuju kamar utama, kamar yang seharusnya Ana tempati. Perempuan cantik yang terkenal dengan kecerdasannya itu tidak bodoh untuk mengerti apa yang selama ini terjadi di dalam sana. Dua orang dewasa yang memiliki hubungan kekasih, tentu tidak hanya sekedar tidur dalam arti yang sebenarnya, kan?
“Ya Tuhan, beri aku kesabaran,” batin Ana.
Ana dan Bi Narti hanya pura-pura tidak tahu dan menutup mata rapat-rapat. Meskipun hati bagai tertusuk-tusuk belati setiap harinya, tapi Ana tetap tidak bisa berbuat apa-apa selain meraba dadanya yang sering terasa nyeri. Lelaki yang selama ini dia kagumi dan cintai ternyata malah membuatnya terluka. Ke mana pria hangat dan sabar yang pernah merawatnya dulu?
Istri mana yang akan baik-baik saja ketika melihat seorang suami sahnya mengajak kekasihnya untuk tinggal di rumah yang sama dengan sang istri. Bahkan, setiap saat dia melihat keduanya bermesraan di depan matanya, sedangkan Ana yang berstatus sebagai istri sah malah harus berperan sebagai pembantu untuk sepasang kekasih tersebut. Andai hati bukan buatan Tuhan mungkin sejak awal mengetahui pernikahan toxic ini pasti sudah hancur berkeping-keping.
Entah kata apa yang pantas untuk mereka yang berani mempermainkan pernikahan yang begitu suci. Janji pernikahan yang diucapkan harusnya bisa dia pertanggung jawabkan. Jika hanya masalah hati kenapa pria kejam itu tidak menolak syarat dari papanya? Tidak kah dia adalah lelaki yang berhati licik?
Ataukah di sini Ana yang bodoh karena membiarkan fisik dan hatinya tersiksa dengan sukarela. Luka yang seharusnya tidak pernah dia terima. Namun, semuanya berbeda jika menyangkut masalah hati. Perasaan cinta Ana begitu besar hingga membuatnya memilih bertahan dengan harapan suatu saat nanti Reihan bisa menerima kehadirannya.
“Semoga Mas Reihan bisa segera menyadari kesalahannya.”