Neraka Yang Berkedok Pernikahan

1280 Words
Diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh suaminya sendiri dan kekasih Reihan yang bernama Lily, sudah menjadi makanan Ana sehari-hari. Sepasang kekasih itu seolah-olah kompak untuk menyiksanya secara lahir dan batin. Setiap malam di sudut kamar yang lembab, wanita itu selalu menitikkan air matanya. Dia selalu mengadukan nasibnya pada keheningan malam. Ana hanya berharap esok hari ketika terbangun dari tidurnya, sudah tidak membawa beban berat yang dia dapatkan di hari itu. “Kenapa rasanya pedas sekali, kamu sengaja ingin membunuhku, hah?” tanya Lily dengan suara tinggi. Perempuan berambut merah itu sengaja berbicara lantang sesaat setelah wanita itu menyuapkan sup iga ke dalam mulutnya. Kemudian ia pun melemparkan mangkuk yang berisi sup panas itu ke tubuh Ana yang berdiri tak jauh dari dirinya, dan lemparannya tepat mengenai lengan wanita malang itu. Seketika lengannya terasa panas, bahkan rasa terbakar terasa hingga menembus kulit putihnya. Jangan ditanya bagaimana Ana dengan sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak lancang keluar tanpa dia suruh. Mungkin saja air matanya juga sudah merasa lelah karena setiap hari harus mengalir di pipi mulusnya. “Hari ini aku nggak akan nangis lagi untuk kalian berdua. Air mataku terlalu berharga untuk manusia hina seperti kalian. Sampai aku mati terbunuh di dalam rumah ini sekalipun jangan harap aku akan menangis lagi,” tekad Ana dalam hati. Perempuan itu sudah merasa lelah lahir dan batin untuk terus menjalani kehidupan rumah tangga yang toxic ini. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena dia tidak ingin keluarganya kenapa-kenapa karena ancaman dari Reihan. Wanita malang itu juga tidak ingin keluarganya mengkhawatirkannya ketika melihat keadaannya tidak baik-baik saja. “Ada apa ribut-ribut, Sayang? Kamu kenapa?” tanya seorang pria gagah berhidung mancung yang baru saja muncul di ruang makan. Tampak terlihat dengan jelas raut wajah Reihan yang menunjukkan kepanikan. Padahal di sini istrinya yang sedang terluka. Seketika Ana tersadar jika dirinya hanya dianggap sebagai pembantu di rumah suaminya sendiri. Jika wanita itu mati sekalipun, Reihan pasti tidak akan peduli padanya. “Lihat, Sayang! Dia mencoba membunuhku dengan sengaja membuat sup yang rasanya sangat pedas. Padahal kamu tahu kan, Sayang, kalau aku nggak bisa makan apa pun yang rasanya pedas,” ucap Lily dengan merajuk. Bahkan, perempuan manipulatif itu berkata sambil memeluk erat Reihan. Tak lupa ia juga menangis di dadaa lelaki itu. Mendengar pengaduan dari kekasih yang ia cintai, membuat Reihan langsung memberikan tatapan tajamnya ke arah istrinya sendiri. Bahkan, rahangnya juga terlihat mengeras karena sedang menahan emosi yang tiba-tiba muncul di hatinya. Ana yang melihat drama murahan sedang dimainkan oleh kekasih suaminya itu pun tampak terlihat muak. Seketika perempuan itu langsung menghela napasnya dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan perlahan. “Sabar, Ana. Kuatlah! Entah sekarang tubuhmu akan menerima hukuman cambuk, tamparan, atau bahkan tendangan dari dia,” batin Ana mencoba memberi kekuatan pada dirinya sendiri. “Dasar perempuan nggak tau diri! Berani-beraninya kamu menyakiti kekasihku, ikut aku sekarang!” bentak Reihan sambil menarik kasar tangan istrinya dan membawanya entah ke mana, sedangkan Lily sudah tersenyum smirk. Kali ini, Ana tidak menangis ataupun memohon agar dikasihani. Bibirnya sudah terlalu lelah karena setiap hari kata maaf yang dia ucapkan untuk kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Permohonan yang selalu dia ucapkan sepertinya tidak pernah didengarkan oleh Reihan yang selalu suka menyiksanya. Reihan menarik Ana keluar dengan kasar dan berjalan membawa perempuan yang berstatus sebagai istri sahnya itu menuju ke kolam renang. Kejutan apa lagi yang lelaki itu persiapkan kali ini? Apa mungkin Ana harus mati tengelam di dalam kolam renang yang lumayan dalam itu? “Apa hukuman yang pantas untuk perempuan tidak tahu diri sepertimu, hah?” lagi-lagi Reihan membentak dengan suara yang kencang dan terdengar memekakkan telinga. Tampak sorot mata Reihan begitu mengerikan ketika menatap lekat ke dalam manik mata hazel milik Ana. Bahkan, wanita itu juga melihat ada kilat amarah yang terlihat di dalamnya. “Apa ini sakit, heh? Ini tidaklah sebanding dengan yang aku rasakan selama ini,” desis Reihan tepat di depan wajah Ana sambil menarik rambut hitam istrinya dengan kasar. Apa yang Reihan lakukan membuat Ana seketika meringis menahan sakit. Dengan sekuat tenaga dia menahan agar suaranya tidak sampai lolos. Namun, air matanya tiba-tiba luruh tanpa permisi. Dia memang merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan, ia merasakan jika kulit kepalanya seperti terlepas dari tulang tengkoraknya karena tarikan kuat yang dilakukan oleh suaminya. “Jawab, Sialann! Apa kamu sudah nggak punya suara, hah? Katakan, hukuman apa yang pantas kuberikan untukmu kali ini?” tanya Reihan kembali dengan berteriak. Kali ini Ana mencoba memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan lelaki yang tak berhati itu. Dia sudah pasrah akan nasib yang akan dia terima akibat dari keberaniannya kali ini. “Lakukan, Mas! Berikan hukuman apa pun yang kamu inginkan sampai dendammu tuntas. Kalau suatu saat nanti kamu benar-benar puas, tolong lepaskan aku!” tutur Ana sambil berusaha untuk memaksakan senyumannya. Tampak terlihat senyum di bibirnya yang dia paksakan dengan bulir bening yang sudah menganak sungai membasahi matanya. Ana sudah lelah dengan takdir pahit yang harus dia jalani. Memang kini hanya ada penyesalan di dalam dirinya. Jika tahu akan begini, mana mungkin dia sudi membantu mantan dokter tersebut. “Jangan pernah bermimpi untuk bisa terlepas dariku!” bisik Reihan tepat di telinga Ana dengan penuh penekanan. “Meski, aku nggak bisa bermimpi untuk bebas darimu dalam keadaan hidup. Pasti kamu dengan sendirinya akan membebaskanku ketika nyawaku sudah terpisah dari ragaku karena siksaanmu. Mungkin di saat itulah tiba hari kebebasanku, Mas,” sahut Ana dengan bibir yang terlihat gemetar. Reihan kembali menatap tajam tepat ke dalam manik mata Ana. Wanita itu tidak mengerti maksud dari tatapan tajam suaminya. Namun, yang dia tahu selama ini di mata suaminya hanya ada sorot mata kebencian ketika menatapnya. Mungkin saat ini pun masih sama artinya. “Kau sudah mulai berani melawanku, ya? Di sini kamu itu hanya seorang Babu. Ingatlah dengan status rendahmu itu!” desis Reihan dengan menekankan kata ‘Babu’ agar wanita itu sadar akan posisinya. “Tanpa harus kamu ingatkan lagi, aku sudah cukup sadar dan tahu diri dengan status rendahku di rumah ini, Mas,” sahut Ana di dalam hati bersamaan dengan bulir bening yang kembali membasahi pipinya. “Apa kamu sudah mulai berani menolak hukuman dariku, Jalangg …? Jawab!” lagi-lagi Reihan kembali berteriak tepat di depan wajah Ana. Ana yang sudah terbiasa mendengar teriakan dan bentakan setiap hari dari pria itu kini sudah terasa kebas. Panggilan merendahkan yang ditujukan kepadanya juga sudah menjadi makanan sehari-hari di telinganya. Di mana sebenarnya panggilan itu lebih tepat ditujukan pada Lily. “Bukankah aku nggak bisa menolak hukuman darimu, Mas? Aku memang nggak punya pilihan untuk itu, bahkan dengan membunuhku bisa membuatmu puas aku tetap nggak punya pilihan selain menerimanya,” ucap Ana dengan lirih sambil masih terus menatap ke dalam manik mata sang suami. “Kenapa … kenapa hari ini kamu nggak minta maaf dan memberikan penjelasan kepadaku seperti biasanya?” tanya Reihan dengan nada suara yang sudah terdengar lebih rendah dari sebelumnya. “Maaf, Mas. Aku udah lelah! Bukankah selama ini penjelasanku dan permintaan maafku pasti akan berakhir sama aja,” sahut Ana dengan suara yang terdengar menyiratkan keputusasaan. Ana memang sudah benar-benar lelah dan putus asa dengan hidupnya. Wanita malang itu merasa seakan tidak memiliki jalan keluar lagi untuk permasalahannya sendiri. Dia yang dulunya terkenal dengan kecerdasannya, tapi kini seolah-olah otaknya tidak mampu untuk berpikir dengan jernih. Kemudian Ana mulai menundukkan kepalanya. Matanya menatap kosong ke arah air kolam yang terlihat begitu jernih yang ada di hadapannya. Besar kemungkinan jika sebentar lagi tubuhnya akan tercebur dan tenggelam ke dasar kolam yang cukup dalam itu. “Akhh …!” tiba-tiba terdengar teriakan Reihan dengan kencang. Detik kemudian ia pun berlalu meninggalkan istrinya sendirian di tepi kolam renang, sedangkan Ana tampak diam mematung menatap punggung suaminya yang terlihat menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD