Roti Kemasan

1077 Words
Ketika Ana hendak memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Kemudian ia bangkit kembali dengan perlahan karena tubuhnya yang benar-benar terasa lelah seakan berat untuk dia gerakan. Setelah pintu terbuka, ternyata Bi Narti sudah berdiri tepat di depan pintu sambil membawa kotak P3K di tangannya dengan tatapan sendunya. “Silahkan masuk, Bi,” pinta Ana pada wanita paruh baya yang selalu peduli padanya tersebut. Setelah masuk dan menutup kembali pintu kamar, mereka berdua kemudian duduk di tepi ranjang. Bi Narti dengan raut wajah khawatirnya menatap lengan Ana yang sudah memerah seperti hampir melepuh. Namun, pemilik lengan itu tampak terlihat tersenyum karena ingin menunjukkan seolah-olah dirinya baik-baik saja. “Non, biar Bibi obati lengannya, kalau dibiarkan nanti bisa infeksi. Bibi tahu apa yang terjadi sama Non Ana tadi, tapi Bibi nggak bisa berbuat apa-apa. Maafkan Bibi ya, Non,” ucap Bi Narti dengan penuh penyesalan. “Jangan merasa bersalah, karena semua ini bukan kesalahan Bibi. Kita di sini sama-sama bekerja, jadi Bibi nggak perlu memperlakukan aku seperti seorang majikan. Aku sama dengan Bibi, kita sama-sama seorang pembantu di sini, dan ini juga nggak terlalu parah kok, cuma sedikit perih aja,” tutur Ana menjelaskan sambil memaksakan senyum lebarnya karena tidak ingin Bi Narti khawatir kepadanya. “Bibi nggak habis pikir dengan Tuan Reihan, sudah punya istri cantik dan baik, tapi malah disia-siakan. Lha kok malah milih wanita jahat yang nggak tahu malu kayak gitu, sudah dandanannya tebel kayak ondel-ondel, kelakuannya juga nggak bener pula. Bibi yakin, suatu saat nanti Tuan Reihan pasti akan menyesal, Non.” ucap Bi Narti dengan panjang lebar sambil meraih tangan Ana untuk diobati. Ana hanya diam saja mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut pembantu suaminya itu. Setelah selesai mengobati, lalu Bi Narti membalut lengan Ana dengan perban. Ia tidak ingin luka itu akan terkena debu dan akhirnya akan membuatnya terinfeksi. “Biar lukanya nggak terkena debu, Non,” ucapnya setelah selesai membalut. “Terima kasih, selama ini Bibi udah sangat baik. Aku nggak tau kalau nggak ada Bibi apa aku masih sanggup untuk bertahan?” tutur Ana sambil menatap wajah wanita yang ada di sampingnya. Perempuan itu memang tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap dirinya jika tidak ada perempuan paruh baya itu. Setidaknya dengan adanya teman bicara dan berkeluh kesah membuat kesedihan yang ada di hati Ana bisa sedikit berkurang setiap harinya. Apalagi perkataan dari Bi Narti yang sering menghiburnya membuat dia bisa menjadi kuat untuk menjalani hari-harinya di neraka ini. “Sama-sama, Non. Bibi akan selalu ada untuk Non Ana. Sebenarnya Bibi sudah nggak sanggup lagi bekerja di sini, tapi Bibi kasihan kalau Non nanti akan tinggal sendirian. Makanya Bibi memilih untuk tetap bertahan,” ujar wanita itu dengan tatapan sendu. Tentu saja Bi Narti ingin menolong wanita malang itu. Namun, mengingat posisinya hanya sebagai seorang pembantu di rumah megah ini, membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di samping itu, jika tindakannya sampai ketahuan oleh Reihan, ia takut hukuman yang diterima Ana akan semakin berat. Oleh karena itu, ia harus benar-benar berhati-hati dalam bertindak. Ana pun seketika terharu hingga matanya berkaca-kaca. Dia benar-benar tidak menyangka ternyata masih ada orang baik dan tulus yang peduli padanya, di saat suaminya sendiri menyiksanya tanpa henti. Akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Reihan banyak meninggalkan bekas kekerasan di tubuh kurusnya. Mungkin saja pria iblis yang berwajah malaikat itu menginginkan kematiannya hanya demi sebuah harta. “Bibi cuma bisa bawa ini, soalnya Bibi takut kalau sampai ketahuan Tuan Reihan nanti malah Non Ana akan dihukum dengan hukuman yang lebih berat lagi,” ucap Bi Narti sambil mengeluarkan dua roti kemasan dari saku bajunya. “Ya Tuhan, bahkan aku sendiri malah lupa kalau hari ini aku belum makan apa pun karena menjalani hukuman dari Mas Reihan,” batin Ana sambil menatap roti yang sudah berpindah tangan kepadanya. Wanita muda itu lagi-lagi merasa terharu dengan kebaikan yang dilakukan oleh pembantu suaminya. Tak perlu menunggu lama ia pun segera memakannya setelah membuka kemasannya terlebih dahulu. Sambil mengunyah perlahan matanya kembali menatap ke arah wanita yang berbeda usia dengannya dengan disertai sebuah senyuman. *** Waktu pun bergulir dengan cepat. Saat ini Ana sedang membersihkan vas dan hiasan yang ada di meja ruang tengah. Penampilan yang selalu terlihat sederhana, tapi tetap elegan membuat Ana lebih mirip anak kuliahan. Tanpa ada yang menyadari saat ini Reihan tengah menatap ke arah Ana yang tampak fokus dengan pekerjaannya. Sebenarnya bagi Reihan, Ana sangatlah menggemaskan. Namun, itu dulu ketika wanita cantik itu masih menjadi pasiennya. Lain lagi dengan sekarang, di hatinya hanya ada kebencian yang menutupi semuanya. “Wanita itu hanya tak kuberi makan, lalu apa kaitannya dengan perban yang melilit lengannya?” tanya Reihan di dalam hati. Dia merasa ada yang janggal dengan lengan istrinya. Ingin bertanya tapi hatinya merasa enggan. Lagi-lagi egonya menahan sisi hati yang sesungguhnya, agar tidak sampai muncul ke permukaan. “Apa karena sup yang ditumpahkan oleh Lily kemarin? Ah … apa peduliku, dia memang pantas mendapatkan semua itu. Gara-gara dia, aku nggak bisa menikahi Lily,” lanjut Reihan dalam hati sambil bergegas melanjutkan kembali langkah kakinya untuk bertemu dengan sahabatnya di sebuah kafe. Lelaki itu sengaja mengenyahkan rasa peduli untuk istrinya sendiri. Baginya, Ana adalah wanita licik penuh ambisi yang bersembunyi di balik topeng kepolosannya. Namun, lelaki kejam itu tidak menyadari kekeliruannya. Hingga detik ini ia masih percaya dengan hasutan yang terus diucapkan oleh sang kekasih. Bahkan, karena hatinya yang telah dibutakan oleh amarah, membuat Reihan hingga tidak melihat sisi baik dari seorang Anastasia Wijaya yang telah menolongnya dengan mengorbankan kebahagiaannya. “Aku sangat membencinya, tapi kenapa Mama sangat menyayanginya. Apa karena Papanya sudah membantu perusahaan Jaya Grup untuk berjaya kembali?” lirih Reihan sambil fokus mengemudikan mobilnya. Pertanyaan terbesar di dalam hatinya kembali muncul. Meskipun berkali-kai pertanyaan itu sering naik ke permukaan, tapi tetap saja ia tidak menemukan jawabannya. “Dia bukan menolong, tapi dia sudah menghancurkan impianku untuk menikah dengan Lily,” lanjut Reihan kembali. Seketika Reihan merasa kasihan pada Lily. Kekasihnya adalah wanita yang sangat baik, menurutnya. Wanita itu selalu mendampinginya di saat dia sedang berada di titik terendahnya, yang bahkan pada saat itu mantan kekasihnya malah pergi meninggalkannya karena dia jatuh miskin. Namun, entah kenapa mamanya tidak pernah menyukai kekasihnya. Tanpa Reihan ketahui ternyata mamanya telah mengetahui kebohongan Lily. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu pernah melihat Lily bermesraan dengan seorang pria di sebuah kafe. Bahkan, keduanya melanjutkan ke sebuah hotel. Itulah kenapa Tita sangat menentang hubungan Reihan dan Lily karena dia tahu jika Reihan hanya dimanfaatkan saja oleh perempuan licik itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD