Berlian Yang Berkilau

1129 Words
Reihan lagi-lagi hanya bisa menyimpan tanda tanya besar di dalam benaknya yang hingga kini masih belum ia temukan jawabannya. “Jadi dia emang bener-bener mau menolongku? Lalu siapa pria yang dikagumi Ana?” tanya Reihan di dalam hati. Ucapan Dewa terus terngiang-ngiang di dalam telinganya. Kini Reihan pun penasaran dengan perasaan Ana kepada dirinya. Meskipun tatapannya tampak fokus ke jalanan yang ada di depannya, tapi di dalam hati dan pemikiran Reihan masih berkecamuk pertanyaan-pertanyaan yang muncul silih berganti. “Nggak mungkin Lily berbohong padaku,” batin pria itu pada akhirnya yang akhirnya menutup semua pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya karena tidak ingin perkataan Dewa akan mempengaruhi dirinya yang nantinya akan membuat kebencian terhadap Ana sirna. Setibanya di rumah dia melihat kekasihnya sedang fokus dengan ponselnya. Di saat perempuan itu mendengar suara dehaman suara pria yang sangat dia kenal, barulah dia mengangkat wajahnya. Setelah melihat prianya telah memasuki ruang tengah, ia pun bergegas beranjak dari sofa dan menyambut sang kekasih dengan manja. “Sayang, kamu dari mana aja? Aku khawatir banget pas bangun nggak melihat kamu,” ucap Lily sambil sengaja mengerucutkan bibirnya. Wanita licik yang benar-benar sangat pintar dalam memainkan peran. Mereka memang pasangan yang serasi. Di mana yang satunya sangat licik dan yang satunya lagi tidak pernah menggunakan logikanya dengan benar, karena percaya begitu saja saat dibohongi mentah-mentah oleh wanitanya. “Maaf, Sayang. Tadi aku ada urusan yang mendesak. Aku sengaja nggak bangunin soalnya kamu pulas banget tidurnya,” ucap Reihan berusaha membujuk kekasihnya yang tengah merajuk dengan mencium bibir wanitanya dengan lembut. Sungguh miris, di saat pasangan kekasih itu tengah sibuk bermesraan di sofa, tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang menatapnya dengan sendu. Tampak tubuhnya terlihat jauh lebih kurus jika di bandingkan saat wanita itu baru pertama kali datang. Dengan sorot yang mengandung banyak luka, ia menyaksikan bagaimana dengan rakus suaminya mencium perempuan lain. Ana sempat terdiam sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk memutar melalui pintu belakang. Dia memang sengaja menghindari pemandangan yang menyesakkan hatinya karena tidak ingin hatinya terluka lagi. Sudah cukup hatinya terluka karena cinta yang dia pendam. Kali ini Ana harus bisa mengalihkan rasa yang menurutnya tidak layak untuk Reihan. Ketika Reihan dan Lily sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri, tiba-tiba terdengar ada seseorang yang sedang mengetuk pintu utama. Pintu yang masih terbuka lebar itu membuat siapa saja yang datang langsung bisa melihat kegiatan dua orang yang tengah memadu kasih tersebut. Tok … tok … tok! Reihan berjengkit kaget mendengar suara ketukan, tapi berbeda dengan Lily yang tampak terlihat biasa saja. Rahang laki-laki yang baru saja datang bertamu itu pun tampak sedang mengeras ketika menyaksikan kegiatan yang begitu menjijikkan di depan matanya. Namun, dengan sekuat tenaga, dia harus bisa menahan emosinya agar tidak sampai meledak di rumah orang. Bagaimanapun dia hanyalah seorang tamu yang tetap harus menjaga sopan santunnya. “Hei… Rei, sorry gue sudah ganggu kegiatan kalian,” ucap laki-laki itu dengan santai sambil mendudukkan dirinya di sofa yang ada di hadapan Reihan tanpa menunggu dipersilahkan terlebih dulu oleh si tuan rumah. Dewa pun sengaja terus menatap pasangan selingkuh itu secara bergantian dengan tatapan tajamnya hingga membuat Reihan merasa salah tingkah. “Eh … Wa, ngapain lo ke sini? Bukannya tadi sudah ketemu, apa ada hal penting?” tanya Reihan dengan gugup karena dia merasa sudah tertangkap basah oleh sahabatnya sendiri. Pria tidak tahu malu itu mencoba mencari pembicaraan untuk menghilangkan suasana yang mendadak terasa canggung, sedangkan Dewa yang mendengar pertanyaan dari Reihan pun terlihat langsung menyeringai sambil menatap sekilas ke arah Lily dengan tatapan yang meremehkan. “Cih … benar-benar nggak tahu malu! Bagaimana Reihan bisa jatuh cinta sama perempuan nggak berkelas kayak gini?” batin Dewa dengan geram. Lelaki pemilik mata teduh itu tidak mengerti dengan selera sahabatnya. Secara dilihat dari segi penampilan tentu Ana jauh di atas Lily. Meskipun wanita itu tidak pernah berpakaian yang menunjukkan lekuk tubuhnya, tapi dia tetap terlihat anggun dan elegan. Apalagi kecantikannya, malah tidak bisa dibandingkan dengan Lily. Kedua wanita itu tidak sebanding. Ibarat barang dagangan Ana di-display di etalase mewah, sedangkan Lily di-display di rak-rak yang biasanya untuk tempat barang obralan. “Iya … gue punya dua hal penting. Yang pertama gue perlu tanda tangan lo untuk berkas ini secepatnya, dan kedua … gue rencananya sih mau ambil berlian yang akan lo buang,” ujar Dewa dengan sarkas sambil menyerahkan map ke Reihan. Wajah Reihan langsung terlihat memerah karena menahan emosi yang mendadak ingin meluap ke permukaan. Saat ini ia merasa sedang direndahkan oleh sahabatnya sendiri. Lily yang tidak mengerti apa-apa tampak hanya bisa menatap kekasihnya dan Dewa secara bergantian. Reihan tampak berusaha melepaskan tangan perempuan itu dari lengannya, karena tiba-tiba merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya tersebut. “Tolong buatkan minum untuk kami berdua, ya!” pinta Reihan kepada Lily. “Minta tolong sama Ana aja ya, Sayang. Aku masih pengen di sini sama kamu,” jawab Lily mencoba mencari alasan agar bisa tetap berada di tempat. Wanita licik itu tiba-tiba merasa kesal, karena baru kali ini Reihan menyuruhnya untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pembantu, menurutnya. Selama tinggal bersama dengan Reihan, bahkan dia tidak pernah sekalipun membuat minumannya sendiri. “Cih … dasar nggak tau diri, suami orang dipanggil sayang. Tunggu penyesalanmu nanti, Sobat,” batin Dewa mencemooh sambil menyunggingkan salah satu sudut bibirnya dengan sangat tipis. “Ya sudah, tolong bilang sama Ana. Habis itu kamu langsung istirahat, ya! Karena ada hal penting yang mau kami bahas dulu,” tutur Reihan berusaha membujuk Lily agar mau pergi meninggalkan mereka. “Eemm … ya sudah, aku ke dapur dulu ya, Sayang,” ucap Lily sambil beranjak untuk menuju dapur setelah mengecup pipi Reihan terlebih dahulu. Dewa yang melihat adegan roman murahan itu seketika menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum meremehkan. Pria itu benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata lagi tentang sahabat anehnya kali ini. “Ck … Murah juga selera lo!” timpal Dewa saat punggung Lily sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mereka. “Maksud lo apa, hah? Mau ambil berlian dari gue,” tanya Reihan dengan emosi yang sudah mulai terpancing. “Ck … gue pikir lo marah, karena gue bilang kekasih lo murah, tapi ternyata lo malah fokus sama berliannya, sudah sadar lo?” tanya Dewa dengan sinis menantang Reihan yang sudah terlihat emosi. Reihan benar-benar tidak bisa menerima ucapan Dewa. Sebagai seorang suami, harga dirinya merasa sudah direndahkan. Rasa-rasanya dia ingin memberikan pelajaran pada mulut berbisa pada sahabatnya. “Jaga omongan lo, Lily itu kekasih gue, lo harus menghormati dia,” ucap Reihan dengan penuh penekanan. “Apa alasan gue harus menghormati dia? Apa karena dia selingkuhan lo? Gue sadar lo itu bos gue, tapi istri lo itu Anastasia! Di sini cuma dia yang pantas gue hormati, bukan selingkuhan lo itu, paham!” pungkas Dewa dengan penuh penekanan sambil membalas tatapan sahabatnya dengan tak kalah tajamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD