Sakit punggung

1164 Words
Seperti biasa sebelum Saga Dan Reres tertidur mereka menyempatkan untuk berbincang lebih dulu. Setiap harinya mereka dipisahkan dengan kesibukan sehingga sebisa mungkin malam adalah tempat untuk membuat keadaan hubungan suami istri mereka semakin lengket. "Jadi gimana kerja kamu hari ini Bee?" tanya Reres kepada Saga. Mereka berdua sedang bersama di atas tempat tidur. Anak-anak mereka sudah lebih dulu masuk ke kamarnya. "Kayak biasa Love. Kerjaan kantor itu hari ini nguras tenaga Dan pikiran. Tapi, aku bisa atasi semua." Reres tersenyum Dan mengangguk. Kini giliran Saga yang bertanya Kepada sang istri kali ini. "Terus kerjaan kamu tadi siang gimana? Aku telepon Brian masih tidur pasti dia telat 'kan?" tanya Saga. "Ya begitu Bee. Tapi, semua lancar. Endorse hari ini enggak banyak jadi aman. Ya walaupun mepet deadline." Reres menjawab kemudian memeluk sang suami. "Emang kebiasaan Brian, selalu begitu kalau ada pertandingan bola pasti besoknya bangun siang. Untung aku langsung telepon. Biar kamu enggak nunggu lama," ujar Saga lagi. "Yasudahlah. Toh, enggak terlalu terlambat juga." Kata Reres tak ingin sang suami ikut kesal. Saga menganggukan kepalanya lagi. Kini giliran Reres yang bertanya mengenai apa saja yang dibicarakan Ibu mertuanya kepada suaminya itu. Karna setiap kali Reres bertemu dengan Nindy. Dia hanya berbicara apa adanya. Dan lebih memilih bermain bersama anaknya. Tapi, Reres berusaha untuk tidak terlalu ambil pusing dengan hal tersebut. "Bee, apa Ibu komentar sesuatu lagi tentang aku?" tanya Reres sambil menatap pada sang suami. Saga tersenyum lalu kecup kening sang istri. "Komentar apa Love?" tanya Saga lagi pura-pura tak mengerti karena lebih baik sang istri tak tau apa yang terjadi. "Ya komen tentang badan aku yang makin gendut, enggak cantik lagi Dan lain-lain gitu?" tanya Reres penasaran. "Enggak. Ibu tidak kometar apa-apa. Cuma bertanya kerjaan aku aja sudah." "Masa?" tanya Reres tak percaya dengan suaminya. Pasti Saga sengaja menutupi. "Bener love. Udah sekarang sudah malam, mending kita ayo...." ucap Saga dengan senyum penuh arti. "Ayo ke mana?" tanya Reres pura-pura tak tahu. Padahal tatapan mata Saga sudah sangat jelas. Reres memang sudah tau apa mau suaminya itu. "Kamu itu pura-pura enggak tau." Saga lalu kecup bibir sang istri. Keduanya larut dalam cumbu kemudian. Dengan cepat sama-sama naik hasrat. Saga kecup bibir sang istri sambil menggigit dan ciumi dengan sensual. Tangannya merasa gundukan yang slalu jadi kesukaannya. Tangannya merengkuh namun karena begitu besar hingga tak cukup dalam satu rengkuhan tangan. Reres sudah mendesah ketika tangan sang suami coba memainkan arena bawah tubuhnya. Saga itu suka kalau Reres klimaks terlebih dulu. Apalagi ketika sudah benar-benar ingin menuju titik kepuasan, Reres sering katakan kata-kata kotor yang buat ia b*******h. "Duduk sini Love." Saga bertitah, biasanya duduk bersandar kali ini di tepian ranjang. "Gapapa?" Tanya Reres ragu karena tubuhnya yang besar. "Okay kok, sini sayang. Hmm? Ayo." Saga terengah-engah tak sabar ingin dipuaskan. Reres ragu tapi akhirnya berkahir dengan setuju. Ia lalu duduk, memasukkan, lalu bergerak sesuai dengan apa yang ia rasakan. Mereka bermain sampai lupa diri hingga peluh basahi tubuh. "Akh!" itu pekikan Saga bukan karena puas tapi ... "Punggung aku sakit love," katanya. *** Keesokan harinya Saga bangun lebih dulu karna merasa punggungnya yang sakit setelah kegiataan mereka semalam. Terlalu hot, hingga buat punggungnya sakit. Saga menantang diri dengan posisi WOT tanpa bersandar pada kepala kasur. Dan karena salah pergerakan buat punggungnya sakit pagi ini. Pria itu bangun perlahan sambil memegangi punggungnya. Saga yang bangun membuat Reres terusik Dari tidurnya sehingga dia pun membuka matanya. "Kamu udah bangun, Bee?" tanya Reres dengan suara seraknya sambil berusaha menyadarkan dirinya yang masih mengantuk. "Iya. Kamu kalau mau lanjut tidur lagi enggak papa," kata Saga tak ingin membuat sang istri kelelahan. "Kamu berangkat kerja jam berapa hari ini?" tanya Reres lagi lalu dia pun membuka matanya sepenuhnya. Saga masih berada di tempat tidur dalam posisi duduk sambil kini membelai kepala istrinya. "Ya ini aku mau mandi, terus minta Mbak bikin sarapan. Kamu istirahat aja." "Enggak usah, aku bangun aja. Mau buat sarapan buat kamu sama anak-anak. Jam berapa sekarang?" tanya Reres lalu segera bangkit dari tidurnya. "Jam 6 love," jawab Saga setelah melihat jam di ponsel "Ya udah kamu duluan mandi. Aku mau bangunin anak-anak setelah itu gantian aku yang mandi oke," kata Reres lalu mengecup pipi sang suami "Kamu enggak papa?" tanya Saga. "Enggak, emang aku kenapa?" tanya Reres bingung dengan pertanyaan dari sang suami. "Nothing. Yaudah aku mau mandi dulu," ucap Saga lalu segera bangun. Mungkin Reres belum mengerti maksud suaminya. Sehingga, Saga pun mengabaikannnya. Punggungnya masih terasa sakit. Mereka berdua segera bangun Dari tempat tidur. Saga melangkahkan kaki ke kamar mandi sedangkan Reres membangunkan kedua anaknya untuk sekolah. Sampai di depan kamar Nay. Reres berpapasan dengan Ani. "Bu Reres sudah bangun," ucap Ani. "Iya. Saya mau bangunin anak-anak. Kamu bikin bisa tolong buat sarapan Ni? Buat nasi goreng aja ya." Reres yang merasa badannya lelah pun mendadak malas masak sehingga meminta Ani untuk memasak. "Baik, Bu." Ani yang tadinya akan membangunkan anak-anak pun, lantas menuju ke dapur. Reres masuk ke dalam melihat Nay masih terlelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Reres pun menggelengkan kepalanya. "Sayang bangun. Waktunya kalian berangkat sekolah," ucap Reres lebih dulu membuka gorden kamar mereka. Sehingga, cahaya masuk membuat anak itu mengeluh. "Mami aku masih ngantuk" ucap Nay seperti biasa. "Sekolah, Nay," jawab Reres. Reres pun menuju ke tempat mereka berdua lalu membuka selimutnya. "Nanti, Mama ini masih pagi," ucap Nay rasanya ia malas sekali untuk beranjak. "Sudah jam tujuh sayang mau telat?" tanya Reres lagi. "Nanti, Mama." "No ... No ... No ... Ayo bangun atau mami enggak mau kasih reward ya Nat," ancam Reres. Nay dengan malas-malasan pun bangkit dari tidurnya. Reres tersenyum puas melihat mata putrinya yang masih terpejam namun terpaksa untuk bangkit. "Ayo ... Nay buruan mandi...." Tak ada pergerakan dari si sulung. "Nay, ayo." Nay pun dengan mengantuk lantas bangkit untuk mandi. Reres hanya tersenyum melihat mereka si sulung. Dia bangkit lalu mencari baju untuk kedua anaknya. "Nay don't sleep again," ucap Reres yang tahu pasti anaknya akan tidur lagi. "Iya mami!" "Mami tunggu di bawah," ucap Reres setelah menaruh pakaian anaknya seperti biasa. Reres segera berjalan menuju kamarnya lalu dengan segera menyiapkan pakaian kerja untuk Saga. Setelah itu ia segera mandi. Setelah selesai mandi kini masih melihat suaminya masih di kamar. "Kamu kenapa belum pake baju kerja?" tanya Reres yang baru selesai mandi. Ia lalu berjalan mendekati "Tolong pakaikan koyo ini di punggung aku love, masih terasa sakit," ucap Saga menyerahkan koyo ke Reres. Setelah selesai mereka langsung menuju ke ruang makan. "Masih sakit?" tanya Reres lagi. "Enggak terlalu, cuma mungkin bisa enakan kalau ditempel koyo," jawab Saga lagi. "Sudah," jawab Reres setelah selesai menempelkannya. Setelah itu Saga baru memakai pakaian kerjanya. Setelah selesai mereka langsung menuju ke ruang makan. Sampai di ruang makan sudah ada anaknya yang rapi. Reres pun menyiapkan makan untuk mereka. "Nah silahkan makan," ucap Reres. Mereka pun makan bersama. Reres masih menyiapkan bekal untuk mereka. Sesekali Saga mengelus punggungnya sambil makan. Reres yang melihat hal tersebut jadi merasa bersalah karna semalam. Setelah selesai menyiapkan bekal dia pun lanjut ikut makan bersama. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD