Hari ini Saga memiliki pertemuan untuk perjanjian kerjasama dengan Jimmy. Karna kebetulan Saga mempunyai Perusahaan food and beverage di bidang makanan sehat yang bernama Red blue food. Pria itu tengah menyiapkan dokumen sambil sesekali melirik ke arah ponselnya. Siapa tau Jimmy menghubungi.
Saat itu, sang sekretaris berjalan masuk. dengan gaya yang seperti biasa, sedikit bersikap genit pada Saga. Namun, Saga tidak pernah menggubris wanita itu, karna sampai kapanpun ia hanya akan tetap mencintai istrinya. Saga memang tipe bucin kalau sudah jatuh cinta. Hanya matanya saja kadang menikmati. Bahkan kadang Reres menunjukkan foto gadis cantik. Namun hatinya tetap hanya untuk sang istri.
"Permisi, Pak ini data yang bapak butuhkan," ucap Siska dengan tampamg sok manisnya. Saga segera mengambil salinan data tersebut, tanpa mempedulikan Siska yang masih menebar pesona kepadanya.
Saga membuka dan membaca sekilas lalu anggukan kepala. "Hmm sudah oke. Ya udah kamu bisa keluar." Katanya pada Siska yang masih berdiri sambil tebar senyum.
"Emm bukannya hari ini kita mau rapat, Pak?" tanya Siska lagi.
Tatapan Saga menyalak sinis pada gadis itu. "Kata siapa? Saya hanya rapat berdua dengan Jimmy, kamu tidak perlu ikut."
Siska yang mendengar itu nampak kesal. Selama ini mereka rapat pasti Siska selalu ikut. Merasa diabaikan, padahal bukan siapa-siapa. "Loh, kenapa, Pak? Bukannya biasanya saya juga ikut," ucap Siska tidak terima. Ia selama ini memang ikut ke manapun bosnya itu pergi jadi kesempatan untuk mereka berdua dekat jadi lebih sering sering.
"Di sini saya kan pimpinannya, Siska? bukan kamu. Jadi, kamu bisa kembali ke ruang kerja kamu sekarang," ucap Saga menatap Siska dingin.
Siska pun dengan berusaha menahan rasa kesal lantas pergi dari ruangan kerja Saga. "Baik pak."
Saga segera bersiap untuk menghadiri pertemuan dengan Jimmy di luar. Dia membawa berkas yang sudah disiapkan tadi. Telepon pun berbunyi, ternyata orang yang akan ditemuinya sudah menelepon.
"Yas," sapa Saga lebih dulu.
"Lo udah di mana?" tanya Jimmy.
"Ya ini gue mau berangkat. Memangnya lo udah di sana?" tanya Saga lagi.
"Ya ini gue juga baru mau berangkat. Kemungkinan gue yang lebih dulu sampai. Apartemen gue kan jaraknya dekat sama lokasi."
"Oke deh. Be careful."
"Okay gue tunggu." Telepon pun ditutup oleh Jimmy.
Pria itu bersiap kemudian Saga melangkahkan kaki ke luar ruangan. Janji temu kali ini di sebuah kafe. Mereka.berdua sudah sepakat agar lebih santai.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di cafe tempat mereka mengadakan perjanjian. Jimmy sudah sampai di sana lebih dulu. Jimmy melambaikan tangan saat melihat saga.
Saga berjalan cepat mendekat. Agak macet jadi lebih lama sampai di lokasi. "Sorry, Jim. Maaf gue datang telat," ucap Saga lalu mereka saling berjabat tangan.
Jimmy gelengkan kepalanya "enggak apa, bro santai. Wah lo terlihat makin keren aja. Silahkan duduk," ucap Jimmy karena melihat gaya berpakaian sahabat lamanya itu yang makin kece.
Saga pun mengangguk lantas mereka duduk bersama. "Aish lo bisa aja. Udah nunggu lama?" tanya Saga lagi.
"Enggak. Santai lah. Gue juga datang duluan karena dekat." ucap Jimmy lagi. Mereka memang teman lama. Namun, hanya saja jarang bertemu.
Saga pun leha mendengar ucapan jimmy. Ia biasanya datang terlebih dulu pada pertemuan dengan klien atau rekanan.
"Lo mau pesan minum dulu?" tanya Jimmy.
"Boleh." Saga menyahut sambil mengeluarkan dokumen milik.
Dengar jawaban Saga, Jimmy pun memanggil waitress untuk membawa menu. Saga pun memilih minuman yang diinginkan lalu setelah memilih waitress meninggalkan tempat itu. Kini tinggal dua orang yang akan membicarakan bisnis mereka.
"Jadi, gimana? Bisnis lo lancar aja kan?" tanya Jimmy basa-basi sebelum masuk ke topik serius.
"Ya syukurlah," jawab Saga. Beberapa saat kemudian waitress datang lagi membawa minuman pesanan Saga.
"Terimakasih," ucap Saga.
"Kembali Pak, silahkan dinikmati." Waitress itupun segera kembali lagi. Saga meneguk minumannya lebih dulu. Setelah itu, baru mereka mulai berbicara dengan serius.
"Ini plan kerjasama kita berdua nantinya," ucap Saga memberi dokumen untuk mereka bahas. Jimmy pun mengambil dokumen tersebut lalu membacanya dengan teliti.
"H food?" tanya Jimmy lagi.
"Ya gue buat tema HFood, dari perusahaan gue red blue food. Dan itu konsepnya tentang makanan sehat yang sekarang ini lagi trend. Ya tentang sayur-sayuran Dan buah-buahan yang dikeringkan itu. Lo tau kan? sekarang lagi trend makanan sehat. Jadi, bisalah kita mengembangkan ini dengan baik ke depannya," jelas Saga lagi. Jimmy mengangguk.
"Emm, tapi apa iya, sayuran sehat Dan kering itu sehat buat di makan? Oke sayurannya aku setuju tapi kering?" tanya Jimmy lagi yang sedikit bingung apakah kering ini bisa dibilang makanan sehat.
"Bisa. Lo pikir makanan kering itu jadi enggak sehat? Kalau olahan makan tersebut dibuat dengan bahan-bahan yang tepat dan cara yang tepat. Gue udah jelasin efeknya dari prosesnya. Karena perusahaan gue juga kerja sama dengan ahli gizi dan gue konsultasi dengan pihak yang kompeten."
Jimmy pun mengangguk ia tau kalau Saga memang ambisius dan teliti. Jadi apa yang ia dengar bukan hanya omong kosong.
"Tapi bener? Bukannya makanan kering itu bukannya malah menghilangkan nutrisi yang di dalamnya?" tanya Jimmy lagi.
"Enggak. Gue sudah bilang tadi tak. Dan nutrisi yang ada di makanan kering tetap ada Dan enggak hilang. Jadi, benar-benar sehat untuk dikonsumsi."
Jimmy menganggukan kepalanya mulai mengerti dns ini menarik untuknya. Jimmy pun terdiam ia memikirkan dan menimbang untuk kontrak kerja sama. Tapi, seketika ia ingat sesuatu sehingga dia langsung melontarkan itu kepada Saga.
"Makanan sehat akan mbuat tubuh juga sehat Dan badan ideal?" tanya Jimmy lagi.
Saga sedikit mengerutkan keningnya. "Ya memang tapi kita kan enggak bisa kontrol konsumen sama makanan lain yang dia konsumsi. Yang paling penting, dalam makanan sehat tidak mengandung lemak berlebih seperti junk food Dan lainnya. Jadi, benar-benar memiliki nutrisi yang dibutuhkan dijaga dengan baik."
"Terus, bagaimana dengan istri lo? Bukannya Reres juga gemuk? Seharusnya kalau lo tau lebih banyak tentang makanan sehat istri Lo enggak gemuk kan?" Jimmy bertanya berniat untuk bercanda.
Saga jelas kesal. Apalagi sang istri jadi terkena imbas tanpa tau apa-apa"Untuk apa bahas soal Reres? Itu enggak ada hubungannya dalam kerjasama kita, Jim" ucap Saga yang mulai merasa tersinggung.
Jimmy terkekeh kecil. "Ya aneh aja gitu loh, Saga. masa Lo konsen dalam masalah cemilan sehat. Lo juga punya usaha makanan sehat tapi istri lo gemuk. Itu artinya dia kebanyakan lemak. Apa lo enggak atur pola makannya yang sehat?" tanya Jimmy lagi.
Saga mulai merasa marsh. Dia lantas mengambil saja dokumen kerjasama mereka. "Ingat ya, Jimmy. Kerjasama kita bukan untuk menjudge istri saya. Bagaimana pun bentuknya dia tetap istri saya Dan saya sayang sama Reres. Satu lagi. Saya lebih tahu pola makanan sehat istri saya Dari pada kamu," ucap Saga dengan nada yang mulai meninggi.
Jimmy terkejut mendengar nada bicara Saga yang terlihat marah. Sehingga dia dengan segera meminta maaf. Karena ia berniat bercanda saja. Tapi disisi lain menurut Saga ini bukan bahan yang bisa dijadikan candaan
"Oke-oke sorry, Saga. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tadi, gue cuma—"
"Sorry, kerjasama kita batal!" ucap Saga yang langsung merapihkan dokumennya untuk segera meninggalkan tempat ini.
"Wait ... wait. Saga kita bisa bicarakan ini baik-baik tadi gue cuma bercanda saja Dan apa salahnya gie bertanya?" tanya Jimmy yang ikut berdiri menahan langkah sahabatnya itu.
"Kamu fikir bercanda dengan membawa fisik istri saya itu hal yang pantas untuk dibercandakan? Saya pikir kamu pengusaha yang bijaksana ternyata mulut kamu lebih murahan seperti orang tidak berpendidikan. Saya akan bayar minuman saya sendiri. Dan tidak ada lagi kerjasama antara kita berdua," ucap Saga final. .
Semua orang melihat ke arah mereka. Lalu, melihat ke arah Jimmy dengan sinis karna memang ucapan Saga yang terlontar cukup nyaring sehingga semua orang dengar. Saga berjalan dengan cepat meninggalkan Jimmy.
"Ahhhh!!!" Jimmy menendang meja dengan kesal.
Saga melihat sekilas dari tempatnya yang sedang membayar minumannya. Setelah itu, dia tidak peduli dengan laki-laki itu lantas dia pergi dari sana. Suami mana yang terima istrinya di judge fisik. Apapun bentuk fisik Reres dia tidak akan pernah meninggalkan istrinya yang sudah berjuang melahirkan anak-anaknya itu.
***
.
.
.
Mau tau siapa aja yang baca komen ya.