Kiki terlihat terus melebarkan senyum sejak pagi. Apalagi jika sedang melihat ponselnya dengan foto Kiki dan Doni tentunya. Aku hanya memperhatikannya, lalu mendengus sebal tatkala tingkah Kiki yang makin menggila.
"Senyum teruuus!" Sadar akan kalimatku yang sengaja menyindirnya, Kiki hanya menjulurkan lidah.
Kami sedang ada di kantin. Karena jam pelajaran pagi ini sedang kosong. Padahal tugas ada di depan mata, tetapi cacing di perut yang mulai berontak, membuat kami lebih memilih mengisi perut daripada mengerjakannya. Apalagi dengan dukungan Danu dan Dion. Kami memang kelompok yang sangat cocok dalam hal meninggalkan kelas di jam pelajaran.
"Siwon mana?" pertanyaanku mampu membuat Danu dan Kiki mengerutkan kening.
"Siwon lagi konser di Korea," jawab Kiki sekenanya, sambil asyik membalas chat Doni.
"Ngigau ya, Tha?" tanya Danu sambil memegang keningku.
Kiki yang melihat keanehan ini langsung menepuk punggung Danu. Kesal.
"Ngigau kok megang kening? Itu demam, b**o!" umpat Kiki lalu melirikku yang masih celingukan. "Ngapain nyari Siwon sih, Tha? Gila yah?"
"Suruh pesenin bakso, aku males bangun, " jawabku santai. Kedua orang di depanku itu hanya diam, dan terus menatap ke arahku aneh.
"Ih, masa kalian nggak tahu Siwon? Itu tadi ke toilet sama Danu, kenapa belum balik juga?"
Danu mendengus kesal, "Dion kalee, Arethaaa!"
Aku pun tertawa senang. Apalagi setelah melihat Siwon, eh Dion muncul. Hanya saja, tawaku seketika berhenti karena gerombolan pria di belakang Dion. Aku lantas melirik ke arah Kiki yang memasang wajah sok imut dengan menampilkan puppy eyes. Selain Dion, ada Doni, Radit, Kak Arden dan yah, semua anak-anak itu.
"Dek? Kok di kantin?" tanya Kak Arden menunjukku dengan telunjuk kanan, sementara tangan kirinya berkacak pinggang.
"Jam kosong, Kak. Lagian laper, ya udah deh. Kakak sendiri ngapain? Minggat ya? Minggat berjemaah!" selidikku dengan menyipitkan mata menginterogasi mereka satu-satu. "Enggak dong. Enak aja. Jam kosong juga," bela Kak Arden lalu menyeret kursi kosong di dekatku.
Kami semua duduk di meja yang sama lalu memesan makanan. Doni langsung duduk di samping Kiki. Tingkah mereka tidak bisa disembunyikan lagi. Tapi aku yakin belum banyak yang tau tentang gosip ini.
"Eh, makan-makan, ya!" tuding ku ke arah mereka berdua. Sebuah kalimat yang mengandung banyak arti. Dan aku yakin mereka mengerti arah pembicaraan ku.
"Makan-makan dalam rangka apa, Tha?" tanya Dedi.
"Noh! Temen elu, jadian sama teman gue!"
"Hah!" seru mereka lalu mendekat ke Doni dan mengapit kepala Doni. "Jadian nggak bilang-bilang ya, pantesan sikap lu aneh dari kemarin. k*****t!" umpat Ari. Sekalipun p********n tadi terlihat kejam, tetapi satu per satu menyalami Doni. Pertanda bahagia. Akhirnya Doni menjadi satu-satunya anggota yang tidak jomblo, atau bahkan berkurang dua anggota yang berstatus jomblo.
"Thanks, Bro! Sesuai kata Aretha ... Gue yang traktir!" kata Doni bangga. Cih, sombong sekali dia. Tapi lumayan, uang jajanku utuh.
Bakso menjadi penyumpal mulut kami sekaligus menyumpal cacing di perut tentunya. Hubungan Kiki dan Doni mendapat restu dari kami semua. Radit sesekali melirik ke arah ku, begitu juga denganku. Kejadian kemarin cukup berkesan. Tiba-tiba Kak Arden berdeham dan melirik kami.
"Kenapa, Den? Baksonya diabisin, nanti dingin nggak enak," sergah Radit sok baik. Kak Arden hanya melirik sambil terus menyantap bakso pedas di hadapannya.
===========
Kelasku berbondong-bondong menuju ke aula. Ada penyuluhan kesehatan dari puskesmas terdekat mengenai pergaulan anak remaja zaman sekarang. Bahaya s**s bebas hingga n*****a. Penyuluhan ini akan terus dilakukan perangkat kesehatan desa di tiap sekolah.
Sejak masuk Aula, Aku sering menekan kepala. Rasa berat dan pusing terus kurasakan. Apalagi dengan bisingnya suara teman-teman, membuat ku makin tidak nyaman.
"Tha? Kenapa?" tanya Kiki dengan berbisik.
"Pusing banget, Ki." Tengkuk terus kutekan, tubuhku juga terasa makin berat. Tiba-tiba seseorang berteriak. Temanku yang duduk paling depan menangis histeris membuat semua orang bingung. Awalnya beberapa orang mendekat karena ingin membantu, tetapi Siwi, malah mengamuk dan mencakar orang-orang itu. Ia menggeram dan bertingkah layaknya macan.
"Tha ..." panggil Kiki tanpa melepaskan pandangannya ke Siwi. Ia ketakutan namun masih bersikap tenang. Terlihat sekali dari cengkeraman tangannya di lenganku. Dan langkah seribu belum juga ia lakukan. Biasanya Kiki akan langsung kabur jika bertemu hal seperti ini. Semua orang sudah tahu kalau Siwi kerasukan.
"Kabarin Kak Arden," sahutku lalu berjalan mendekat. Baru beberapa langkah, siswi lain ikut histeris. Kini ada sekitar lima siswi yang kesurupan. Bersamaan. Aku menoleh ke Kiki yang terlihat masih melongo.
"Kiki! Buruaaan!" teriakku kesal.
Kiki meraih gawai di sakunya, lalu menekan panggilan. Sementara Aku, mendekat ke Siwi yang makin menjadi.
"Pegangin, Woi! Jangan diam aja!" omelku ke Danu dan Dion yang ada di dekatku. Seolah kembali ke kesadaran, mereka bergegas membantu. Aku mulai melantunkan doa-doa rukiah yang sudah dipelajari sejak dulu. Didikan Pakde Yusuf, membuat kami lebih kuat jika harus menghadapi hal seperti ini. Itu karena kami sendiri adalah anak indigo, jika kemampuan kami tidak diasah dan diarahkan maka hidup kami akan kacau. Tidak semua orang mempunyai kemampuan unik melihat makhluk astral, dan bertahan dengan keadaan mereka. Jika tidak kuat dengan keadaan itu, mereka bisa gila. Begitulah kata Pakde Yusuf.
"Aaawww!" Danu melepaskan tangannya karena Siwi menggigit hingga sedikit mengeluarkan darah. Hal itu membuatku yang masih melantunkan ayat suci terlempar jauh karena tendangan Siwi yang cukup kuat. Namun aku segera berdiri kembali dan mendekat ke Siwi. Aku yang tidak memperhatikan sekitarnya, dan hanya fokus pada Siwi saja, hampir terkena lemparan kursi dari arah belakang.
Tubuhku jatuh ke lantai karena dorongan seseorang yang sekaligus juga memelukku. Radit meringis kesakitan karena punggungnya membentur tembok dengan cukup keras. Kami berdua saling melempar pandangan. Hampir aja aku mati, pikirku. Dan sejak kapan dia muncul di sini.
Di belakang Radit muncul Kak Arden dan yang lainnya. Mereka sudah paham apa yang harus dilakukan, hingga tanpa mendapat komando lagi, Dedi, Ari, dan Doni, sudah membantu yang lain. Kebanyakan anak Rohis yang ada di sini, membantu siswa yang kesurupan.
"Kamu nggak apa apa, Dek?" tanya Kak Arden langsung memeriksa keadaanku. Aku menggeleng sambil memeluk tubuhku sendiri karena rasa sakit yang cukup kuat. Setidaknya dengan begini sedikit tertahankan. Perutku pun sedikit nyeri karena tendangan Siwi. Hanya saja apa yang aku rasakan tidak seberapa, karena hal ini adalah hal yang kerap terjadi dahulu.
"Kakak ngecek yang lain dulu, ya. "
Aku mengangguk lalu berjalan menuju Radit yang sedang memeriksa punggungnya. "Coba aku lihat," kataku lalu menaikkan baju Radit. Punggung Radit memar dan ada beberapa luka gores. Aku menghampiri Diah untuk meminta obat. Diah adalah anak PMR yang sudah bersiap di luar aula. Rupanya anak PMR harus cekatan, seperti Diah. Ia tahu akan terjadi banyak korban dan segera mengambil kotak P3K di UKS .
Aku mengobati luka Radit dengan perlahan. "Pelan, Tha. Sakit."
"Iya. Ini juga pelan kok."
"Tha ... kamu ... nggak apa-apa, kan?"
Aku menghentikan gerakan sambil tersenyum tipis. Lalu kembali mengambil obat oles di samping, melanjutkan mengobati luka Radit. "Aku nggak apa-apa. Makasih ya, Dit."
"Sama-sama, Tha."
Pak Idris datang dengan seorang pria berpeci putih. Saat memasuki aula, pria berpeci itu tersenyum, melirik padaku yang memang berada tidak begitu jauh darinya. Aku mengernyitkan kening, dan diam tak mengucapkan apa pun. Satu per satu siswa yang kerasukan mulai sadar. Kegiatan penyuluhan akhirnya dihentikan.