"Aretha!" Radit berlari kecil berteriak di sepanjang koridor sekolah menuju padaku yang hampir masuk ke ruang kelas. Aku menatapnya heran. Hingga saat kami hanya berjarak satu meter saja, Radit menekuk tubuhnya dengan bertumpu pada lutut. Napasnya tak beraturan. Seperti dikejar setan saja.
"Kenapa?" tanyaku dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Nanti sore. Kita ... nonton, yuk," ajak Radit sambil mencoba menetralkan napasnya.
"Nonton?" tanyaku melihat ke langit-langit mencari jawaban yang sebenarnya mudah, tetapi bayangan sosok di bioskop kemarin, masih terngiang jelas.
"Eh, tapi kalau emang kamu nggak mau, ya udah. Kita ke mall aja yuk, atau makan. Terserah kamu deh pokoknya, yang penting kita pergi besok sore." Kalimat Radit agak kacau membuatku terkekeh.
"Jadi, mau nonton, ke mall atau makan?"
"Tiga-tiganya juga boleh."
"Oke, jam tiga jemput aku," sahutku, lalu melenggang masuk ke dalam kelas. Samar tapi pasti, aku mendengar jeritan suara Radit yang bersorak tertahan, mungkin sambil menutup mulut. Di sisi lain, aku juga menahan senyum karena ajakkan barusan. Kuakui hati ku berbunga-bunga, bagai ada kupu-kupu yang ingin keluar dari jantung dan terbang. Ini adalah kencan pertama seumur hidupku. Pergi berdua dengan laki-laki selain keluargaku, dan tentu aku memang menyukai laki-laki itu.
==0==
Mobil Radit masuk ke halaman rumahku. Suaranya terdengar sampai kamarku yang kebetulan dekat halaman. Aku menengok ke jendela dan melebarkan senyum. Kebetulan, ayah dan bunda ada di teras sedang bersantai sambil menikmati secangkir kopi dengan kue. Bunda pandai memasak. Bahkan sekarang membuka katering di rumah.
"Deeek! Ada Radit nih!" seru Kak Arden yang suaranya terdengar pelan.
Aku yang sudah siap lantas berlari kecil keluar kamar guna bertemu Radit. Sampai di teras kedua orang tuaku saling bertukar pandang. "Nyari Aretha?" tanya mereka bersamaan dengan sedikit heran.
Aku yang baru sampai teras hanya melongo tidak paham. Sementara Radit hanya mengangguk sungkan. Bunda menaikkan sebelah alisnya menatap ayah. Sementara ayah hanya mengedikkan kedua bahunya. Yah, ini pertama kalinya anak gadis mereka kencan. Begitulah yang bisa kutebak dari raut wajah kedua orang tuaku.
"Bilang dong, kalau cari Aretha," seru bunda menepuk bahu Radit pelan. Aku pun ikut duduk bersama mereka. Radit hanya menatapku tegang. Sepertinya akan ada wawancara ekslusif dahulu, terlihat dari sikap ayah.
"Bapak kerja di mana, Nak Radit?" tanya ayah serius. Mendengar pertanyaan ayah, Kak Arden menahan tawa sambil mengambil kue di meja. Seakan-akan sedang meledek Radit. Kak Arden hanya diam saja sambil mendengarkan interviu dari ayah kepada kawannya itu.
"Papa cuma wirausaha saja, Om. Membuka toko keramik di luar kota. Kalau Mama, desainer."
Ayah manggut-manggut paham. Lalu menutup koran yang ia baca tadi. Kedua tangannya dilipat ke d**a dengan terus menatap Radit. Radit hanya menunduk menatap kedua kakinya di bawah. Baru kali ini ia terlihat sangat gugup.
"Toko keramik apaan? Lu mah merendah. Ayah, dia ini anak juragan keramik terkenal loh," timpal Kak Arden sambil menepuk bahu Radit, "Tenang aja, bokap gue nggak galak kok, cuma s***s," bisik Kak Arden pelan. Namun masih dapat kudengar dari tempatku duduk. Radit memukul lengan Kak Arden lalu tersenyum ke ayah
"Bohong, Om. Juragan apaan sih?"
Ayah tersenyum lalu menarik napas dalam. "Saya tahu siapa Papa kamu."
"Tahu dari mana, Om?" tanya Radit sedikit terkejut.
"Nama Papa kamu Sandy Wiratama, kan?"
Radit mengangguk pelan dengan wajah sedikit bingung. Begitu pula denganku. Darimana ayah tau? Sementara ayah malah tersenyum.
"Hati-hati ya, jangan macam-macam sama anak saya, saya tahu semua soal kamu!" hardik ayah dengan nada mengancam. Wajah Radit memucat, Kak Arden mendekatkan wajahnya ke Radit.
"Jangan main-main sama bokap gue, kalau Aretha sampai kenapa-kenapa ...." jari telunjuk Kak Arden diletakkan di lehernya, lalu membentuk garis melintang sebagai ancaman. Mulut Kak Arden mengucap kata 'mati' tanpa mengeluarkan suara apa pun. Hanya gerak bibirnya saja yang terlihat.
Glekk! Radit terlihat menelan ludah. Dan membuatku menahan tawa. Mereka ini bisa saja mengerjai Radit sampai seperti ini. Seketika Kak Arden tertawa terbahak-bahak.
"Serius banget, Dit! Becanda kali," seru Kak Arden tanpa berhenti tertawa.
"k*****t lu! Nakut-nakutin aja!" umpat Radit berbisik.
Bunda mengantarku sampai halaman. Wanita di samping ku ini memang selalu menempatkan dirinya bukan hanya sebagai ibu, tetapi juga teman, dan sahabat. Di saat anak gadisnya dilirik temannya, mereka tidak akan melarang, hanya saja gerakan ayah lebih cepat dari dugaanku. Mungkin, kah, ayah selalu memantau tiap orang yang dekat dengan anak-anaknya, ya. Mulai dari siapa orang tua mereka, pekerjaan, bibit, bebet, dan bobot. Buktinya ayah tau tentang ayah Radit.
"Hati-hati ya, Nak Radit," pinta bunda ramah yang masih memeluk lenganku. Bagi bunda, mengenal pria yang sedang mendekati anaknya adalah hal yang tepat, agar bunda tahu bagaimana perilaku pria itu. Tentunya, agar aku mendapat pasangan yang baik. Begitulah kata bunda beberapa waktu lalu. Katanya setelah masuk SMU bunda sangat yakin kalau aku akan bertemu laki-laki yang mungkin menyukaimu atau aku menyukainya. Atau keduanya. Bunda memang paham sekali.
Kami berpamitan lalu segera pergi meninggalkan rumah. Selama perjalanan Radit banyak diam. Aku yang melihat keanehan itu, akhirnya angkat bicara. "Kamu kenapa?"
"Ah, aku? Aku ... Nggak apa-apa kok, Tha." Radit cengengesan menutupi kegelisahannya. Sesekali pandangannya tertuju ke arah jendela di samping. Gerak gerik nya terlihat aneh. Dan itu terlihat jelas sekali.
"Jangan bohong!" hardikku dengan lirikan tajam. Merasa ditatap begitu, Radit pura-pura fokus pada kemudinya. Aku menyentuh lengan Radit pelan, "Radit."
Radit menoleh pelan, lalu memaksa melebarkan bibir. "Aku cuma grogi dikit tadi. Ayah kamu mirip intel, ya?" tanya Radit
Aku mengernyitkan kening lalu tertawa lepas. Radit yang bingung lalu berkali-kali menoleh ke Aretha yang terus tertawa.
"Kok ketawa?" tanya Radit dengan nada bicara yang sedikit dinaikkan.
"Ayahku emang intel kali, Dit. Pppfff ...."Aku menutup mulut, merasa lucu melihat reaksi Radit.
"Pantesan, Ayah kamu tahu nama papaku, terus semuanya," cetus Radit semangat. "Padahal, kan aku nggak pernah cerita ke kalian selama ini."
"Iya, ya? Aku juga baru tau tadi malah. Hahaha ... Papaku mirip dukun ya? Serba tahu," candaku.
"Dih, kamu malah ketawa mulu."
Tak terasa kami sampai di mall. Setelah memarkirkan mobil, kami segera menuju lantai empat, wahana hiburan timezone ada di lantai itu. Selama satu jam kami mencoba berbagai permainan. Dari basket, balap mobil, naik kereta mini, sampai photo box dengan mimik wajah bermacam-macam.
"Udah mau magrib, kamu nggak salat dulu?" tanya Radit sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
"Eum, kamu gimana?"
"Aku nunggu di depan nggak apa-apa kok, Tha," ujarnya. Radit memang non muslim.
Aku pun mengiyakan tanpa banyak berkomentar. Mall ini juga disediakan musala di tiap lantai. Beberapa orang sudah mulai berwudu. Ada juga yang sudah bersiap akan salat.
Aku masih duduk menunggu mukena yang disediakan di musala. Karena mukena hanya beberapa saja, maka untuk wanita harus mengantre. Aku menyapu pandang ke sekeliling. Beberapa kali juga, ia menatap Radit yang sedang menunggu di luar. Ia tersenyum.
Giliranku salat. Aku memutuskan berada di karpet hijau paling depan. Di sini khusus wanita saja. Dan untuk pria ada di ruangan sebelah. Saat salat, aku mencium bau wangi. Dan dari ujung ekor mataku, ada seseorang yang menjejeri shaf ku. Tapi entah kenapa dia terlihat bersinar terang. Hingga aku sedikit tidak fokus. Namun saat rakaat terakhir dan salam, orang itu tidak ada di samping ku.
"Mba? Saya pinjam mukenanya, ya?" tanya seseorang di sampingku yang membuat perhatiannya teralih, aku mengangguk lalu menyunggingkan senyum melepaskan mukena dan memberikan pada ibu tersebut. Aku menoleh ke Radit, dia yang sejak tadi melihatku bertanya dengan bahasa isyarat. Dan aku hanya menggeleng. Sosok tadi tidak ada sekarang.
Selesai salat kami makan dahulu di sebuah kedai yang ada di mall lantai atas. Radit memilih meja yang berdekatan dengan jendela. Pemandangan kota terlihat dari tempat mereka duduk. Gemerlapan lampu membuatku terus menatap pemandangan itu sambil tersenyum.
"Kamu suka?"
"Suka. Aku suka daerah tinggi, soalnya aku bisa lihat keadaan di bawah dengan gampang, tapi aku nggak suka tempat sempit. Karena aku takut. Aku bisa langsung nggak bisa napas kalau gitu."
"Kamu tahu nggak, kalau dulu aku paling takut setan."
"Masa sih? Tapi kemarin-kemarin kamu ...."
"Iya. Sejak ada kamu, aku jadi berani. Aku pikir, kalau aku takut, terus gimana sama kamu. Gimana cara aku melindungi kamu nanti. Padahal tiap hari kamu harus berurusan sama makhluk-makhluk itu, kan? Jadi aku nggak boleh takut. "
Aku tersenyum tipis saat pelayan kedai datang, kami akhirnya menyantap makan malam di atas gedung tinggi ini. Dan hal ini adalah hal paling romantis seumur hidupku. Dan juga pertama kali.
__