Sepulang sekolah aku ikut latihan band bersama Danu dan Dion. Kami bertiga mengambil ekstrakurikuler musik. Sementara Kak Arden dan teman-temannya memilih olahraga. Dan, basket adalah pilihan mereka. Kebetulan besok ada acara pentas seni di sekolah. Semua akan menunjukkan performa masing-masing dengan bakat yang berbeda-beda. Terutama anak-anak seni. Mulai musik, tari daerah, modern dance dan masih banyak yang lain.
Pukul delapan malam kami selesai latihan. Sudah hampir dua minggu ini, mereka selalu pulang malam. Kini, sembari istirahat, kami duduk di ruang musik, dan membahas persiapan rencana esok hari. Aku, Danu, Dion, Tomi dan Raka membentuk satu grup band bernama Lolipop Band. Tak lama masuk Billy, senior kami, sekaligus penanggung jawab band. Billylah yang membimbing kami selama beberapa hari ini. Ia salah satu anak band terkenal di sekolah dengan banyak talenta. Bahkan prestasinya sudah mengharumkan nama sekolah. Billy memilih duduk di sampingku. Itu membuatku sedikit risi. Gelagat Billy sudah memperlihatkan bahwa ia tertarik padaku. Billy memberikan beberapa wejangan untuk kami agar lebih percaya diri dan tampil memukau esok hari. Beberapa kali sikap Billy semakin memuakkan. Bahkan Billy tak segan-segan merangkulku.
"Maaf Kak, jangan gitu. Nggak enak sama yang lain," ujarku mencoba bersikap ramah, tetapi sekaligus menepis tangan Billy. Aku mengatupkan rahang, menahan emosi. Andai saja aku tidak bisa menahan emosi, sudah ku pukul dia.
Tiba-tiba ada sesosok wanita yang muncul di samping Billy. Dahiku berkerut saat menatap ke sisi sebelah Billy. Dia berpakaian SMU seperti kami. Baru kali ini aku melihat sosok wanita tersebut. Ini membuatku penasaran. Padahal sudah beberapa hari Billy ada di tengah-tengah kami. Danu menatap padaku dan Billy bergantian. Sepertinya dia sadar kalau aku sudah sangat jengah dengan sikap laki-laki itu selama ini. Billy adalah sepupu Tomy. Jadi, aku harus benar-benar bersabar. Jika tidak karena Tomy, mungkin Billy sudah babak belur dihajar oleh ku.
Selesai diskusi, kami segera pulang. Billy kembali mendekat padaku.
"Maaf, Kak. Aku udah dijemput Kak Arden," tolakku halus sambil terus berjalan keluar halaman sekolah. Sosok wanita tadi juga terus mengekor ke Billy, hal ini membuat aku benar-benar tak nyaman. Aku ingin segera pergi dari laki-laki penguntit dadakan itu. Alasan yang dibuatku tadi spontan terlintas di kepala. Padahal Kak Arden sendiri sedang pergi bersama bunda, dan aku kini dalam dilema. Danu dan Dion berhenti di dekat gerbang sekolah. Mereka sepertinya paham, kalau aku sedang butuh pertolongan.
"Tha? Arden belum datang?" tanya Danu basa basi, sambil melirik ke Billy yang tengah berdiri di sampingku. Dion yang juga melihat hal itu lalu turun dari boncengan motor Danu.
"Mau gue teleponin si Arden, Tha?" Dion meraih ponselnya lalu menekan beberapa tombol. Nahasnya nomor Kak Arden tidak aktif. Aku tau, karena dia bilang baterai ponselnya habis tadi saat pulang sekolah. Aku menatap Dion penuh harap." Gimana?" tanyaku berharap ponsel kak Arden sudah menyala. Dion hanya menggeleng pelan, agar tidak terlihat oleh Billy.
"Duh," gumamku pelan.
"Aku anter aja, Tha. Tunggu sebentar," kata Billy berlari ke dalam sekolah hendak mengambil mobilnya, tetapi belum sampai Billy masuk, ada sebuah motor berhenti di samping motor Danu.
"Wooo! Radit!" seru Danu lalu mereka berdua berjabat tangan ala-ala pria pada umumnya. "Ya udah, kita temanin sampai Arden datang," ujar Danu lalu melepas helm.
"Ngapain lu, Dit?" tanya Dion ikut mendekat ke Radit. Sementara Aretha hanya diam dengan sesekali menatap jam di pergelangan tangan.
"Jemput Aretha," sergah Radit menatapku lalu ke Billy, seolah tahu masalah yang sedang terjadi, "Yuk, Tha!"
Aku melirik ke Billy, lalu menarik napas panjang. Ada sedikit kelegaan di hatiku. Lega karena terlepas dari makhluk nyata sekaligus tak kasat mata yang ada di dekatku. "Aku duluan, Kak," pamitku, melirik wanita tadi. Aku tidak tahu siapa wanita itu. Wajahnya asing, tetapi kenapa ia terus menempel ke Billy. Sedangkan Billy terus menatap sinis ke arah ku dan Radit yang bersiap akan pergi.
"Duluan, gaes!" kata Radit lalu menyalakan mesin motor.
"Hati-hati, Dit. Aretha ... pegangan yang kencang. Radit kalau naik motor kaya setan!" seru Dion sambil tertawa lalu naik ke motor Danu. "Bill, duluan ya," pamit Danu. Billy yang ditinggalkan seorang diri tidak menyahut apa pun. Hanya menatap mereka penuh dendam. Terutama padaku dan Radit.
"Kok kamu bisa jemput aku, Dit?" tanyaku saat mereka dalam perjalanan.
"Kamu kan tiap hari pulang malam, tadi Arden bilang dia mau nganterin Bunda, kan? Aku pikir kamu pasti pulang sendirian, kasihan nanti anak gadis diculik kalongwewe. Jadi aku iseng ke sini. Eh bener, mau diculik jurik sok ganteng," sahut Radit sambil tertawa lebar, lalu ku cubit bertubi-tubi pinggangnya.
Sampai rumah, ternyata ayah baru saja pulang. Radit turun dari motor, lalu menyapa ayah sebentar.
"Mampir dulu, Nak Radit. Kita ngopi sebentar," ajak ayah sedikit memaksa. Radit pun pasrah. Aku segera membuatkan dua cangkir kopi. Ayah dan Radit yang terlibat obrolan ringan di ruang tengah sesekali mengeluarkan suara tawa yang terdengar sampai kamarku. Aku baru saja pamit berganti pakaian dan salat isya, setelah membuatkan kopi tadi tentunya. Karena penasaran aky lalu keluar dari kamar untuk bergabung dengan dua pria di luar. Kak Arden dan bunda belum juga kembali.
"Nggak tidur, Nduk?" tanya ayah saat melihatku keluar dari kamar.
"Bentar lagi, Yah," sahutku tanpa melepaskan pandangan dari benda pipih di tangan, lalu duduk di samping ayah.
"Mentang-mentang ada Radit ..." kelakar ayah, sengaja meledekku. Aku merengek lalu bersikap manja, yang membuat Radit terus mengulum bibir. Aku memang jarang bersikap manja. Dan kini aku kelepasan melakukan ini di depan Radit. Ini kebiasaan ku saat bersama ayah. Tidak ada rasa sungkan pada sosok pria di samping ku ini.
Gawaiku berdering. Ada sebuah pesan masuk dari Danu.
[Tha, kamu harus hati-hati sama Billy. Kalau bisa jaga jarak. Aku baru dengar kabar, dia pernah punya pacar, dan pacarnya hilang, sampai saat ini belum juga ditemukan. Namanya Friska. Orang-orang mencurigai bahwa Billy pelakunya, tetapi kasusnya ditutup karena nggak ada cukup bukti.]
Seketika perasaanku berkecamuk. Aku langsung teringat sosok yang tadi terus menempel Billy.
[Kamu punya foto Friska?]
[Ada. Sebentar]
Sebuah foto wanita berambut blonde sedikit ikal, terpampang jelas di ponselku. Seketika aku menutup mulut dan ponsel pun jatuh. Tubuhku seperti lemas. Dengan mata berkaca-kaca, aku menahan takut dan sedih yang datang bersamaan.
"Aretha?" panggil ayah cemas. Tawa kedua pria itu hilang melihat aku yang tiba-tiba aneh. Radit pun ikut beranjak dari duduk, lalu mendekat kepadaku. Diraih gawai yang tergeletak di lantai, ia terlihat membelalakkan matanya.
"Friska ..." gumam Radit pelan.
"Kamu kenal?" tanyaku terkejut. Sementara ayah terus mengelus punggungku sambil menyimak permasalahan yang sedang kami hadapi.
"Dia sepupuku. Hilang sejak setahun lalu. Keluarga nggak tahu dia pergi ke mana. Banyak yang bilang, Friska kabur dari rumah karena hamil, tapi ... entahlah. Eh, kenapa Danu kirim foto ini ke kamu?" tanya Radit penasaran. Aku sedikit bingung dan iba. Ternyata kematian gadis itu belum diketahui keluarganya.
"Dia ... udah meninggal," ucapku pelan. Aku menatap Radit, menunggu reaksi laki-laki di depan ku ini. Bagaimana pun aku memang harus mengatakan hal ini. Kemungkinan besar mayat Friska juga belum ditemukan.
"Apa? Kamu yakin, Tha?" cecar Radit menaikkan nada bicaranya.
Ayah mengambil ponselku, dan menatap foto itu karena ikut penasaran.
"Kamu kok bisa yakin gitu, Nduk?" tanya ayah.
"Tadi aku lihat, Yah. Dia terus ada di dekat Billy, " jelasku penuh emosi.
"Jadi ... Billy yang bunuh Friska," tukas Radit berasumsi sendiri. Hilangnya Friska selama setahun ini, membuat keluarganya terus mencari. Mereka sangat berharap Friska segera ditemukan, bagaimanapun keadaannya.
"Jangan terburu-buru ambil kesimpulan, Nak Radit. Belum ada bukti yang cukup kuat," nasihat ayah sambil meletakkan ponselku lalu mengambil ponselnya sendiri. Ayah segera menghubungi rekannya. "Selidiki lagi kasus ini. Jangan lupa, masukkan Billy sebagai saksi sekaligus tersangka," kata Ayah menutup panggilan itu lalu kembali menenangkanku.
==0==
Hari ini adalah hari spesial. Aku dan teman-teman sudah bersiap akan tampil di acara Pensi sekolah. Setelah geladi resik tadi, kini saatnya kami tampil di hadapan semua orang di panggung besar ini. Momen ini adalah hal yang sudah kami tunggu-tunggu.
"Tha!" teriak Radit sambil berlari tergopoh-gopoh membawa kantung berwarna cokelat.
"Radit? Ada apa?" tanyaku menatap Radit heran. Ini adalah kali kedua Radit berlari mengejarku. Mungkin akan menjadi hobi barunya nanti. Radit langsung menyerahkan bungkusan cokelat itu. "Nih, pakai ya, semoga kamu suka."
Aku segera membuka lalu terpekik, "Syal?" segera aku kenakan syal berwarna pink dengan motif daun mapel mini. Dan aku langsung suka dengan hadiah dari Radit. Bibirku melebar dengan mata berbinar.
"Cantik," kata Radit dengan terus menatapku tanpa kedip.
Aku balik menatap Radit lalu memukul bahunya pelan, "Gembel!" sergahku malu-malu.
"Udah sana. Bentar lagi giliran kalian, kan?" ungkap Radit. Aku menatap jam di pergelangan tangan Radit, lalu pamit bergegas menuju ke lapangan, tempat panggung berdiri.
Suaraku mulai melantun ke seoanjang sekolah. Dentuman alat musik dari yang lain juga menambah kesan positif dari penonton. Kolaborasi yang sangat pas. Tentu saja penampilanku yang menjadi sorotan penonton. Mereka terus menerus memanggil namaku. Dan aku hanya melambaikan tangan ke arah mereka yang terlihat antusias padaku.
Penampilan kami mendapat apresiasi dari semua penonton. Walau beberapa kali, aku terganggu dengan sosok Friska. Tapi aku bertekad setelah acara selesai, akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ayah juga sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Friska, tetapi bukan aku namanya, jika tidak berbuat nekat.
"Waaaw! Luar biasa penampilan kalian!" seru Dedi lalu menyalami kami satu per satu. Aku, Danu, Dion, Tomy dan Raka merasa puas dengan penampilan tadi. Beberapa mengomentari acara tadi dengan antusias. Bahkan ada yang meminta foto bersama. Rupanya kami berubah jadi artis dadakan.
Hari sudah semakin siang. Acara juga sudah selesai.
"Aku ambil tas dulu ya," pamitku. Karena merasa sudah sangat lelah.
"Aku antar, Tha," timpal Radit yang sepertinya ingin terus menempel padaku. Alhasil kami ditanggapi ledekan dari teman-teman yang lain. Bahkan syal pemberian Radit menjadi trending topic siang ini. Dan membuatku malu, akhirnya menolak tawaran itu
Langkahku terhenti di studio musik, aku masuk dan segera meraih tas milikku. Hanya saja karena terburu-buru, seluruh isinya jatuh ke lantai. Aku lupa menutup tas sebelumnya. Segera aku memungut kembali barang milikku. Derit pintu terdengar. Pintu dibuka. Dan seseorang masuk.
"Eh, mau ambil tas juga?" tanyaku basa-basi melihat salah satu temanku datang.
"Iya," jawabnya singkat, lalu perlahan masuk ke dalam. Saat pintu ditutup, aku sedikit gentar karena gelagatnya yang mencurigakan. "Kamu mau apa?"
_________
POV AUTHOR
Di sisi lain, Arden tampak cemas karena hampir tiga puluh menit berlalu dan adiknya belum juga terlihat. "Gue susul Aretha dulu," kata Arden.
"Ikut, Den!" sahut Radit. Otomatis mereka semua beranjak dan mulai mengekor Arden.
Sampai di studio, pintu terbuka setengah.Arden bergegas masuk, firasatnya makin buruk. Di dalam studio tampak kacau. Beberapa barang hancur. Alat musik dan tas Aretha tercecer di lantai. Arden memungut syal pemberian Radit tadi. Digenggamnya erat, lalu menoleh ke teman-temannya. "Aretha diculik!"
Mereka bergegas berpencar mencari Aretha ke seluruh penjuru sekolah. Sampai lima belas menit kemudian semua berkumpul di halaman parkir depan sekolah. "Nggak ketemu!"
"Ke mana kamu, Dek!" gumam Arden frustrasi. Ia terus mondar-mandir sambil menjambak rambutnya sendiri. Teringat akan sesuatu, ia segera merogoh ponsel di sakunya dan melakukan panggilan.
"Ayah! Aretha diculik!" Spontan ia mengatakan hal itu tanpa basa basi apa pun lagi.
"Kok bisa, Den?" tanya Indra dari seberang.
Arden menceritakan semua kejadian tadi. Indra mengakhiri panggilan dan segera bergegas mencari di mana keberadaan putri kesayangannya itu.
"Billy!" tunjuk Radit dengan suara lantang melihat laki-laki itu yang baru saja turun dari mobilnya. Semua mengerumuni Billy dan membuat ia terpojok. "Mana Aretha?" tanya Radit dengan penuh emosi. Ia mencengkeram kerah baju Billy sambil menekan leher laki-laki itu dengan sikunya. Sementara Dedi dan lainnya memeriksa setiap bagian mobil Billy, guna mencari petunjuk keberadaan Aretha.
"Apa-apaan kalian?" sergah Billy yang sedang terpojok di pintu mobilnya.
"Mana Aretha?" tanya Radit dengan menekankan tiap kata.
"Aretha? Mana gue tahu! Baru aja gue sampai. Tadi ada yang ketinggalan di rumah, terus gue balik. Ini baru sampai sini. Boro-boro ketemu Aretha. Turun aja baru sekarang," jelas Billy kebingungan.
Radit mendorong Billy lebih keras ke belakang hingga punggungnya membentur pintu mobil. Billy mengerang kesakitan.
"Beneran, Dit! Gue nggak bohong. Berani sumpah!" ungkap Billy. Arden mendekat lalu menatap tajam mata Billy.
"Dia nggak bohong!" ucap Arden lalu berteriak frustrasi. Ia juga mempunyai bakat mendeteksi kebohongan hanya dari tatapan mata seseorang.
Sekalipun demikian, Radit belum juga mau melepas cengkeramannya di kerah baju Billy. "Kalau gitu, Friska? Di mana dia? Elu kan yang culik dia?" tuduh Radit.
"Ngaku loe!" hardik Danu ikut tersulut emosi. Mereka kompak menyudutkan Billy yang terlihat tidak mengetahui apa pun perihal Aretha dan Friska. Padahal semua tuduhan sangat pas dilayangkan untuknya.
"Ini lagi! Soal Friska juga gue nggak tahu, gue berani sumpah! Kenapa sih gue yang dituduh culik Friska? Aretha juga! Walau gue playboy tapi gue nggak kampungan. Nyulik cewek sembarangan, dikira gue nggak laku banget apa?" bela Billy dengan alasan yang masuk akal. Gawai Arden bergetar, sebuah pesan masuk dari Indra, membuat matanya berbinar.
"Aretha ketemu! Ayo kita ke sana?" ajak Arden hendak naik motornya.
"Tunggu, Den. Mending naik mobil gue aja. Kita ke sana bareng," sahut Billy menawarkan bantuan. Mereka semua saling beradu pandang satu sama lain, tetapi berhubung Radit juga tidak membawa mobil, Arden pun menyetujuinya. Mereka menaiki mobil Doni dan Billy. Di dalam mobil Doni, ada Kiki, Dedi, dan Ari. Sedangkan di mobil Billy, ada Arden, Radit, Danu dan Dion.
"Kita ke mana, Den?" tanya Billy sambil menyalakan mesin mobil. Arden duduk di sampingnya. Sedangnya Radit, Danu dan Dion di kursi belakang.
"Jalan Ahmad Yani no 345," kata Arden dengan terus menatap pesan dari ayahnya. Billy menghentikan mobilnya lalu menatap Arden tak percaya.
"Kenapa?" tanya Arden.
"Yakin itu alamatnya?"
"Iya. Nih! Ayahku yang kirim sendiri," terang Arden sambil menunjukkan layar gawainya ke Billy. Belum sempat Billy menjawab, Dion bertanya, "Bokap elu kok bisa tahu, Den? Kalian dipasangin GPS?" tanya Dion dengan nada meledek.
"Iya ..." tukas Arden dengan menatap jendela sampingnya. Indra memang sangat protektif terhadap keluarganya. Semua keamanan selalu menjadi prioritas utama. Jadi, bukan hal aneh jika ia memasang aplikasi GPS khusus terhadap kedua putra putrinya. Karena, sebelumnya Nisa juga mendapat perlakuan yang sama sebagai istri.
"Elu kenapa, Bill?" tanya Radit yang duduk di belakangnya. Sikap Billy memang lain saat mendengar alamat yang disebutkan Arden.
"Itu ... Itu rumah Tomy ..." jawab Billy pelan.
Seketika semua mata menoleh dan menatapnya tak percaya.
"Apa? Tomy?" tanya mereka bersamaan. Billy mengangguk dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Sebenarnya aku juga sedikit curiga ke Tomy tadi. Kalian ingat, setelah Aretha pamit ambil tas, Tomy juga pamit pulang. Cuma arah dia pergi bukan keluar sekolah."
Arden menganalisa kejadian tadi secara runtut. Semua diam sambil berpikir dan akhirnya mereka mengangguk. Setuju dengan pernyataan Arden.
"Ya udah, buruan kita samperin Aretha!" pinta Radit cemas.
Mobil melesat cepat menembus jalanan yang ramai. Billy yang cukup gesit menyetir membuat mereka sampai di halaman rumah Tomy dengan waktu yang cukup singkat.
"Gila! Rumah jenderal? Dijaga banyak orang gini?" tanya Danu heran. Di depan rumah Tomy, sudah banyak orang berjaga. Sepertinya Tomy sudah mempersiapkan segala hal. Radit segera turun tanpa berpikir apa pun lagi, lalu disusul yang lain. Salah seorang penjaga menghampiri Radit, namun dengan gerakan cepat ia memukul perut orang itu. Ia sudah cukup emosi mengetahui pujaan hatinya hilang, yang ternyata pelakunya adalah Tomy. Dengan kemampuan Radit dan teman-temannya yang mumpuni, ia berhasil membekuk penjaga dan berhasil merangsek masuk ke dalam. Keadaan di dalam rumah tak kalah berbeda dengan di halaman tadi. Entah sudah berapa penjaga yang Tomy sewa untuk menjaga rumahnya. Tomy memang anak jenderal yang cukup disegani di daerahnya. Tetapi, sikapnya sangat memalukan kedua orang tuanya jika sampai kebusukannya terbongkar.
"Dit! Den! Kalian cari Aretha, biar kami yang urus di bawah!" Billy memukul beberapa orang dengan cepat. Begitu juga dengan Danu dan yang lainnya. Sementara Kiki menunggu di luar sambil menghubungi polisi. Penjaga rumah Tomy seolah tak ada habisnya. Mereka cukup kuat, dengan jumlah pihak Arden yang sedikit, membuat keadaan seolah tidak seimbang.
Sampai di lantai atas, Arden dan Radit mulai mencari Aretha ke seluruh ruangan, sambil meneriakkan nama Aretha mereka memasuki ruang demi ruang. Hingga sampai di sebuah kamar terakhir yang belum mereka buka. Radit membuka perlahan pintu ini, matanya terbelalak melihat Aretha tidur dalam keadaan terikat. Di sampingnya ada Tomy sedang memegang pistol dan mengarahkannya ke Aretha. Seolah tahu, ia sedang dicari, persiapan Tomy cukup baik sebagai seorang peculik yang menyekap sanderanya.
"Maju satu langkah, gue pecahin kepala dia!" ancam Tomy tak main-main. Aretha ditarik hingga berdiri di depan Tomy. Tangan kirinya melingkar di leher Aretha, sementara tangan kanannya menodongkan pistol ke kepala Aretha. Tangan Aretha terikat ke belakang tubuhnya sendiri. Mulut disumpal kain, penampilannya acak-acakan. Aretha menangis ketakutan. Sorot matanya menunjukkan rasa takut yang teramat sangat.
"Tom ... Lepasin Aretha, please. Kita bisa omongin ini baik-baik, kan?" tanya Arden sedikit membujuk. Sementara Radit terus siaga, jika ada kesempatan, ia harus menyelamatkan Aretha terlebih dahulu.
"Enak banget kalian bilang gitu? Kalian nggak akan keluar dari sini hidup-hidup!"
"Jadi, elu yang bunuh Friska?" pertanyaan Radit makin menyulut emosi Tomy, pistol ditodongkan ke arah Radit.
"Apa loe bilang?" Perhatian Tomy teralih.
Kaki Tomy langsung diinjak kuat-kuat oleh Aretha. Saat pegangan Tomy mengendur, Aretha berlari menjauh. Nahas, Tomy menarik pelatuknya dan tembakan pun tak terelakkan lagi. Dengan cepat, Radit berlari mendekap Aretha dan peluru menembus punggungnya.
"Radit!" teriak Aretha yang sedang dalam pelukan Radit. Radit tersenyum sambil menahan sakit. Ia menggeleng untuk menenangkan Aretha sambil meringis kesakitan. Tubuhnya makin lama melemas. Sementara itu, suara langkah kaki mendekat ke kamar itu, dan sebuah tembakan lain terdengar dari arah pintu, tepat mengenai tangan Tomy. Sekelompok polisi masuk meringkus Tomy yang kini sudah terkapar sambil mengerang memegangi kakinya.
Indra juga datang untuk menjemput putrinya. Semua orang mendekat ke Radit.
"Cepat kalian bawa Radit ke Rumah sakit!" perintah Indra.
"Kalian pakai mobil gue, gue di sini aja, urus Tomy. Gimana pun, dia sepupu gue."
Billy menyerahkan kunci mobil ke Arden. Radit segera dibawa ke mobil, menuju rumah sakit terdekat.
"Den, buruan napa sih nyetirnya, keburu gue keabisan darah di jalan. Nyetir kok kaya siput sih," ejek Radit yang duduk di belakang Arden.
"Enak aja! Kalau elu yang nyetir, bisa-bisa kita semua masuk rumah sakit bareng-bareng," sahut Arden sinis, ia mendengus lalu melirik ke sampingnya. Gadis itu gemetaran. Radit lantas menggenggam tangan Aretha.
"Tha, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Radit memeriksa setiap inci wajah Aretha. Namun sebuah pukulan melayang ke lengan Radit. "Kamu nih, malah khawatirin aku! Jelas-jelas kamu yang butuh dokter sekarang!" omel Aretha. Seketika Radit memeluk Aretha untuk menenangkannya.
"Aku nggak apa-apa, Tha," bujuk Radit membelai punggung Aretha. Ia tahu kalau Aretha syok atas kejadain tadi. Kiki yang duduk di kursi depan, berdeham. Arden melirik kaca depan.
"Eh eh eh! Lepas. Lepas. Pakai acara pelukan segala," omel Arden tanpa menoleh ke belakang. Karena dari kaca spion saja, Arden sudah bisa melihat mereka dengan jelas.
Radit melepas pelukannya, sementara Kiki tertawa kencang melihat mereka salah tingkah. "Elu pelit banget, Den. Sesekali nyenengin teman napa!" tutur Radit dengan mengerucutkan bibirnya.
"Nggak boleh! Jaga jarak aman."
"Yaelah ...."
Sampai rumah sakit Radit langsung dibawa menuju ruang IGD. Ia perlu operasi untuk mengambil peluru di tubuhnya. Beruntung, Radit cukup tangguh.