Kejujuran yang disampaikan Meisha, membuat Rhey bagai tersambar petir. Sedikit pun Rhey tak menyangka jika di hati Meisha masih ada lelaki lain yang dicintai. Rhey masih maklum jiika Meisha belum mencintainya tapi, Rhey tak habis pikir, kenapa Meisha tidak jujur dari awal kalau dia memiliki lelaki yang dicintainya?
"Kenapa kamu gak bilang sebelum kita belum meniikah, Mei?" tanya Rhey datar. Ia menarik napas panjang, berusaha menetralisir perasaan kecewa. Bukan hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi hati Rhey langgsung kecewa dan terluka.
Meisha merunduk, menangis tersedu-sedu.
"A-aku takut ka-kalau kamu batalin perjodohan ini."
Rhey menoleh, menatap gadis yang duduk di sampinngnya. Suara Meisha terdengar bergetar.
"Kalau kamu masih mencintai laki-laki lainnn, kenapa juga gak minta dinikahin dia? Kenapa justru mau terima perrjodohan ini, Mei?"
"Aku gak mau menolak permintaan mamah papah. Aku ingin tetap berbakti walau ... walau hatiku sakit."
"Sekarang bukan cuma hatimu yang sakit, hatiku juga sakit. Orang tuamu tau gak, kalau kamu cinta sama laki-laki lain?"
Sungguh, Rhey tak habis piikir. Meisha benar-benar tidak sesuai yang dipikirnya. Rhey pikir, Meisha memang seperti dirinya. Belum punya kekasih atau orang yang dicintainya.
"Tiga tahun lalu, dia pernah datang ke rumah, tapi aku hanya mengenalkannya sebagai teman. Dia datang bersama temanku yang lain."
"Terus, kenapa dia gak cepat-cepat nikahin kamu?"
Rhey mulai tersulut emosi. hatinya benar-benar hancur. Tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Meisha.
"Katanya dia belum siap. Dia belum mapan."
"Astaghfirullah ... dia pengangguran?"
"Enggak. Dia ... dia seorang pengusaha cafe. Dulu, aku dan dia satu kampus waktu kami masih menempuh S1."
"Oh dia juga S2?"
"Enggak. Hanya S1."
Rhey bingung, tidak tahu harus bersikap dan berbuat apa lagi. Malam perttama yang dibayangkannya terrnyata tidak bisa dilakukan malam ini. Rhey tidak mungkin memaksaa Meisha untuk melayaninya, sementara hati Meisha ada pada orang lain. Rhey menghela nappas berat. Ia memandang wajah yang basah oleh air mata.
"Sekarang maumu gimana? Kita cerai?"
"Jangan!" sergah Meisha membalas tatapan suaminya.
"Aku gak mau cerai. Aku ingin tetap menjadi istrimu."
Jawaban Meisha membuat Rhey mengacak rambut. Satu sisi, dia bahagia karena Meisha masih mau mempertahankan rumah tangganya. Tapi sisi lain, Rhey tidak mau terus-menerus berumah tangga dengan wanita yang tak mencintainya.
"Bagaimana caranya kita berumah tangga sedangkan hatimu ada pada lelaki lain, Mei? Apa kau tak takut dosa?"
Pertanyaan Rhey menyentak Meisha. Rhey mengubah posisi duduk, lebih menghhadap Meisha.
"Setau
ku, perasaan cinta pada lelaki lain ketika sudah menikah, itu bisa dikatakan zina perasaan. Benar gak?" Tatapan Rhey yang menusuk membuat Meisha merundukkan kepala lagi. Ia mengangguk, berurai air mata. Rhey menghela napas berat.
"Terus kita mau gimana? Mau sampai kapan kamu zina perasaan, Mei??"
Meisha menangis tersedu-sedu. Ia memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Meisha bingung dan bersedih karena hingga kini sulit melupakan lelaki yang bernama Fahri Setiawan.
"Ya sudah, enggak apa-apa. Kalau kamu belum bisa cinta aku, kalau masih cinta sama laki-laki lain, ya udah. Aku bisa apa? Perasaan cinta datang dan pergi dengan sendirinya. Enggak bisa kita undang atau kita usir. Aku mau istirahat dulu." Rhey berdiri, berjalan ke tempat tidur, hendak memejamkan kedua mata.
"Sebentar lagi masuk waktu Magrib. Apa gak salat dulu?"
"Oh iya ya. Kalau gitu, aku mau salat di Masjid aja." Rhey kembali bangkit, mengambil kain sarung dan peci.
"Memangnya di dekat sini ada Masjid?"
"Gak tau."
Rhey tetap berjalan keluar kamar hotel. Hatinya benar-benar sakit. Dia tidak tahu harus melakukan dan mengambil keputusan apa. Pernikahannya yang baru hitungan jam, telah menghancurkan hati. Andai Meisha mengatakannya sebelum pernikahan terjadi, mungkin Rhey akan mundur. Tapi, sekarang sudah terlanjur. Rhey tidak bisa mengulang waktu. Dia hanya bisa pasrah dan memohon petunjuk pada Tuhannya.
Hati Meisha semakin bersedih. Meisha juga tidak tahu, apakah kejujuran yang baru saja diungkapkannya adalah kesalahan besar? Meisha masih menangis, duduk di atas lantai hingga masuk waktu Magrib.
***
Sudah pukul sepuluh malam, Rhey tak kunjung pulang ke hotel. Beberapa kali Meisha menghubungi Rhey, tapi telepon suaminya tertinggal. Meisha tidak tahu mencari keberadaan Rhey kemana. Dia sudah keluar kamar, menanyakan pada resepsionis hotel di mana letak Masjid terdekat. Ternyata dekat hotel ini tidak ada Masjid. Entah kemana Rhey pergi? Apa mungkin Rhey meninggalkannya?
"Astaghfirullahalazhim, ya Allah maafkan aku, ya Allah," sesal Meisha.
Meisha gelisah, ia takut kalau Rhey menemui kedua orang tuanya dan menyampaikan tentang kejujuran yang diungkapkan. Meisha yang tak mengenakan cadar, duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya menutup wajah, menghela napas berulang kali. Ia benar-benar takut pernikahan yang baru hitungan jam berakhir dan membuat keluarga malu.
Pintu kamar hotel terbuka. Meisha terkejut tapi kedua mata berbinar, melihat sosok lelaki yang menjadi suaminya itu telah datang.
"Kamu, dari mana? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Meisha saat Rhey melangkah masuk. Wajah lelaki itu terlihat lebih tenang. Rhey tersenyum, mengusap kepala Meisha. Meski hati Meisha belum bisa dimiliki, tapi Rhey cukup bahagia melihat kecemasan dari raut wajah cantik itu. Ingin sekali Rhey mengecup kening Meisha, namun urung ia lakukan.
"Dari Masjid. Tadi selepas salat Isya, aku ketiduran," jawab Rhey santai. Membuka pakaian, hendak mengganti dengan piyama. Sontak, Meisha membalikkan badan, melihat Rhey sudah bertelanjang d**a. Rhey terkekeh, melihat reaksi istrinya.
"Kita ini udah suami istri. Harusnya kamu gak perlu malu atau menghindar kalau lihat auratku, Mei. Tapi, sayangnya pernikahan kita hanya status. Bukan untuk menunaikan ibadah. Betul 'kan?"
Rhey menyindir gadis itu. Meisha merunduk, lalu perlahan membalikkan badan, dan menghampiri Rhey yang tengah mengancingi baju piyama.
Tangan Meisha terulur, mengancingi piyama yang tengah dikenakan Rhey.
"Kak, meskipun hatiku belum sepenuhnya mencintaimu, tapi tolong izinkan aku berbakti padamu sebagai seorang istri."
"Iya. Terserah apa katamu. Aku akan ikuti," timpal Rhey menghampiri tempat tidur, mengambil bantal satu dan berjalan ke arah sofa yang berada di sudut kamar.
"Tidurlah, Mei. Udah malam," titah Rhey sambil merebahkan tubuh di atas sofa.
"Kenapa kamu tidur di sofa?"
"Memangnya harus di mana?"tanya Rhey membuka kedua mata. Meisha berjalan ke tempat tidur, duduk di sisi, dan menepuk bantal.
"Tidurlah di sini. Kita tidur satu ranjang. Aku gak mau, kamu tidur di sofa."
Rhey bingung, antara bahagia dan takut. Takut kalau dia khilaf dan melakukan hal yang tak bisa ia kontrol.
"Enggak, Mei. Aku tidur di sini aja."
"Kak Rhey ...." panggil Meisha lembut. Rhey kembali membuka kedua mata. Melihat air mata yang membashi wajah istrinya. Ia tak bisa menolak, akhirnya Rhey mengikuti keinginan Meisha.
Rhey naik ke atas ranjang. Meletakkan bantal guling diantara mereka. Lalu, membelakangi istrinya.
"Kak Rhey?"
"Hm?"
"Kamu marah?"
"Enggak."
"Kenapa tidurnya membelakaangiku?"
Rhey menghela napas berat. Ia pun akhirnya berbalik, menatap wajah gadis yang dicintai. Namun, belum bisa membalas cintanya. Ngenes.
"Aku membelakangimu bukan karena marah tapi, karena aku lelaki dewasa yang normal."
"Kalau begitu, lakukan saja selayak suami terhadap istrinya."
Rhey mengulas senyum, menggelengkan kepala.
"Enggak, Mei. Aku gak mau melakukan hubungan suami istri tanpa dilandasi suka sama suka, mau sama mau. Kalau aku tetap melakukannya sekarang, aku merasa seperti pemerkosa."
Hati Meisha terenyuh mendengar kalimat yang diucapkan Rhey.
"Kamu menunggu aku mencintaimu baru mau menyentuhku?"
"Bukan. Tapi, aku menungu kamu bisa melupakan cintamu pada lelaki lain. Kalau kamu belum bisa mencintaiku, aku maklum. Tapi, kalau kamu masih mencintai laki-laki lain, aku gak bisa. Sudahlah, pejamkan kedua matamu. Tidurlah!"
Meisha terdiam, menatap wajah lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.
"Kak Rhey?"
"Hm?"
"Aku akan berusaha mencintaimu dan melupakan lelaki lain." Rhey membuka mata, tersenyum tulus dan membelai pipi istrinya dengan lembut.
"Iya, semoga kamu bisa. Aku hanya bisa berdoa, tidak bisa memaksa."