Tak terasa hari ini adalah hari pernikahan Rhey dan Meisha. Kedua belah pihak keluarga sangat bahagia menyambut pernikahan anak tunggal mereka. Akad nikah dan resepsi pernikahan dilakukan dalam satu hari di salah satu auditorium hotel berbintang. Busana pernikahan Meisha tetap mengenakan cadar. Penampilan Rhey sangat gagah. Seolah tak ada cacat dalam diri pemimpin perusahaan besar itu. Wajah tampan, bertubuh atletis dan terlihat berwibawa. Siapapun yang melihat Rhey hari ini, akan tersihir oleh pesonanya.
Rhey dan Meisha duduk berdampingan. Dengan satu kali ucapan, ijab qobul disah-kan saksi dan penghulu. Semua tamu undangan mendoakan pernikahan Rhey dan Meisha. Dua manusia yang dulu sempat berteman kini menjadi teman hidup selamanya.
Selesai acara, Rhey dan Meisha tinggal di salah satu kamar hotel. Sedangkan kedua orang tua mereka langsung pulang ke rumah masing-masing. Sebenarnya Rhey memiliki rumah pribadi dan juga memiliki apartemen. Hanya saja, ia belum sempat bertanya pada Meisha ingin tinggal di mana?
"Mei?"
"Kak Rhey?"
Mereka memanggil berbarengan ketika baru masuk ke dalam kamar hotel, berhias aneka macam bunga indah yang menguarkan aroma wangi.
"Kenapa? Kamu tanya apa?" tanya Rhey tersenyum manis.
Tidak dapat dipungkiri, Rhey jadi salah tingkah. Seumur hidup, baru kali ini Rhey tinggal satu kamar dengan wanita selain ibu kandungnya. Meisha pun tak kalah gugup. Ia berjalan pelan ke arah tempat tidur, duduk di sisi. Rhey mengikuti, duduk di samping gadis yang sudah sah menjadi istrinya.
"Kamu mau mengatakan sesuatu atau mau tanya?" Lagi, Rhey bertanya karena Meisha masih saja diam. Wanita itu merunduk. Cadar yang menutupi wajahnya belum juga terlepas. Padahal Rhey sudah tidak sabar ingin melihat wajah Meisha yang menurutnya bagai bidadari.
"Aku, aku, boleh bicara jujur?" Meisha memberanikan membalas tatapan Rhey. Lelaki itu tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak.
"Kalau kejujuranmu membuat hatiku sakit, gak boleh dikatakan. Kalau membuat hatiku bahagia, katakan saja." Kedua mata Meisha mengerjap. Terlihat sekali kebimbangan dari sorot matanya.
"Kenapa begitu?"
Rhey menghela napas berat. Merunduk, lalu memberanikan diri meraih kedua telapak tangan Meisha. Gadis itu tersentak, ingin menarik telapak tangannya dari genggaman Rhey. Namun, tak bisa.
"Kamu udah jadi istriku. Aku pegang begini boleh 'kan?" tanya Rhey, mengangkat genggaman tangan mereka ke depan wajah Meisha. Gadis itu mengangguk tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa aku melarangmu jujur kalau kejujuran itu menyakiti hatiku? Karena saat ini, aku sedang bahagia. Aku sedang bahagia bisa memilikimu seutuhnya. Sekarang aku ingin memelukmu, boleh 'kan?" Rhey mendekatkan diri pada Meisha, merengkuh pundak gadis itu. Meisha tidak menjawab, ia terdiam.
"Mei, aku mau jujur. Tapi, menurutku kejujuran ini tidak akan menyakiti siapapun. Tapi, aku gak tau, apakah kejujuranku ini membuatmu bahagia atau sebaliknya?" ucap Rhey menatap wajah istrinya dari samping. Meisha menoleh, pandangan mereka beradu. Cukup lama, Rhey dan Meisha saling memandang. Sampai akhirnya Meisha tersadar, melepaskan diri dari rengkuhan Rhey.
"Memangnya kamu mau jujur apa?"
Rhey tersenyum. Meisha bertanya tanpa berani membalas tatapan lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Aku mau jujur, jatuh cinta sama kamu saat pertama kali aku melihat wajahmu. Aku juga, merasa nyaman saat kita berdua. Saat kita berbicara, saat kita berdekatan seperti ini."
Meisha memejamkan kedua mata. Harusnya sebagai istri, ia bahagia mendengar ungkapan cinta dari suaminya. Tetapi, kenyataannya Meisha justru bersedih.
"Mei, sebelum kita menikah, kamu pernah bilang. Aku boleh menitipkan hatiku padamu kalau aku udah menghalalkanmu. Sekarang kita udah halal. Boleh, aku menitipkan hatiku padamu? Dan boleh, kamu titipkan hatimu hanya padaku saja?"
Tangisan Meisha tak dapat terbendung. Ia menutup muka, menangis tersedu-sedu. Kedua pundaknya berguncang. Rhey terkejut melihat Meisha yang tiba-tiba menangis menjelang malam pertamanya. Apakah ada yang salah dari kalimat yang dia ucapkan? Apakah ada kata-kata yang menyakiti hati Meisha?
Hati Rhey bertanya-tanya. Rhey merengkuh kembali bahu Meisha, berusaha menenangkan. Meisha tak dapat berkata-kata. Hanya isak tangis yang terdengar. Rhey bingung akan sikap istrinya.
"Mei, aku, aku minta maaf kalau ucapanku menyakitimu. Aku gak ada maksud untuk itu. Mei, tolong maafin aku, Mei."
Meisha menggelengkan kepala, tapi tangisannya semakin histeris. Ia seolah ingin melepaskan beban di dalam hatinya. Rhey berlutut di depan Meisha. Ingin melihat sorot mata yang Meisha tutupi dengan kedua tangannya. Rhey berusaha melepaskan kedua tangan Meisha dari wajah.
"Ada apa, Mei? Apa yang membuatmu menangis?"
Rhey menggenggam telapak tangan Meisha, kemudian sebelah tangannya terulur menyeka lelehan air mata. Rhey ingin membuka cadar itu, tapi ia tak berani.
Meisha berusaha menahan isak tangis. Sorot matanya menatap lelaki yang tengah berlutut di bawah kedua kakinya.
"Aku mau mandi dulu, mau ganti pakaian."
Meisha melepaskan genggaman tangan Rhey, beranjak ke lemari pakaian, mengambil pakaian ganti yang sudah dirapikan oleh asisten rumah tangganya. Kemudian, masuk ke dalam toilet.
Rhey yang masih berlutut bingung sendiri. Tidak tahu apa yang membuat istrinya menangis tersedu-sedu. Bahkan Meisha mengganti pakaian di dalam toilet padahal hubungan mereka sudah sah menjadi suami istri. Apa Meisha masih malu atau justru tidak ingin Rhey melihat tubuh Meisha?
Berbagai asumsi melintas dalam pikiran Rhey. Lelaki itu pun, dengan sabar menunggu Meisha selesai mandi dan mengganti pakaian.
Setelah 15 menit, Meisha keluar toilet. Ia sudah mengganti pakaian dengan piyama berwarna navy. Kepalanya masih ditutupi hijab hanya saja cadar tidak lagi melekat di wajahnya. Rhey tersenyum melihat wajah Meisha tanpa riasan make up. Gadis itu berjalan ke meja rias dan duduk di atas kursi.
Meski kedua mata Meisha memerah dan agak sembab karena menangis, tapi kecantikan Meisha tidak luntur.
Rhey mendekati Meisha, berdiri di belakangnya. Ia memerhatikan wajah istrinya dari pantulan cermin.
"Mei, habis salat Magrib, kamu mau ngapain?" tanya Rhey, memandang wajah putih berseri lewat patulan cermin.
"Menunggu waktu Isya," jawab Meisha lembut. Bibirnya yang merah muda membuat Rhey ingin mencicipinya.
"Habis salat Isya, kamu mau ngapain?"
Meisha bukan anak kecil, ia sudah dewasa. Sangat mengerti arah pertanyaan suaminya. Meisha tak mampu menahan beban di dalam hati.
"Terserah padamu." Dua kata itu membuat Rhey tersenyum lebar. Ia benar-benar bahagia.
Namun, Meisha bingung, apakah malam ini saat yang tepat mengungkapkan kejujuran hatinya atau menunggu waktu lain? Tapi, rasanya Meisha tak sanggup memendamnya.
Rhey berjongkok di samping kursi meja rias. Meraih telapak tangan Meisha.
"Kalau terserah padaku, berarti suka-suka aku melakukan apapun padamu. Begitu maksudmu?"
Sungguh, hati Meisha tak sanggup lagi. Ia kembali meneteskan air mata. Tubuhnya pun luruh, duduk di depan Rhey. Seketika, Rhey bingung dengan perubahan sikap istrinya.
"Ya Allah, kenapa kamu nangis lagi? Apa yang membuatmu menangis seperti ini? Mei, kalau begini terus, lebih baik jujur aja dah. Gak apa-apa, kalau kejujuranmu menyakiti hati aku. Gak apa-apa. Please, Mei ... jangan nangis terus."
Meisha mencium punggung tangan Rhey cukup lama. Namun, air matanya semakin deras. Rhey bingung, ia pun menarik tubuh Meisha ke dalam pelukannya. Mereka berpelukan.
"Katakan sejujurnya, apa yang membuatmu menangis? Apa, Mei?" Sangat lembut, Rhey berkata disela pelukannya.
"A-aku, aku, aku belum bisa mencintaimu, Kak ...."
Kedua mata Rhey terpejam. Menarik napas panjang. Menyakitkan, sangat menyakitkan ketika cinta bertepuk sebelah tangan. Rhey mengelus punggung Meisha, sambil berkata, "Enggak apa-apa. Sekarang kamu belum bisa mencintaiku. Tapi, aku janji. Setiap waktu dan setiap saat, aku akan berusaha terus membuatmu jatuh cinta padaku, Mei. Aku janji."
Meisha melepaskan pelukan. Ia masih terisak-isak.
"Bukan cuma aku belum bisa mencintaimu. Tapi, tapi aku ----" Meisha menjeda kalimat. Kening Rhey mengkerut dan bertanya. "Tapi, aku apa?" tuntut Rhey penasaran. "Tapi, aku masih mencintai laki-laki lain."