Rencana Dinda

1041 Words
Ketika Mantan Suamiku Menjadi Keponakan. Bab 3 "Tidak, ini tidak mungkin," gumamnya seolah tidak percaya, begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Bagaimana bisa Dinda gegabah, memilih pria itu ia pikir bisa mengangkat derajat hidupnya. Wanita itu lantas berlari seraya menutup kedua telinganya, kenyataan itu sungguh memukul hati dan batinnya, rencana balas dendam kepada Nisa, nyatanya terpatahkan dengan kebenaran yang ada. Zidan sama sekali tidak memiliki kekayaan yang seperti terlihat olehnya, justru keberadaan pria itu tidak diakui oleh keluarga besar Kusuma. Sementara Nisa menggenggam erat tangan suaminya, wanita itu ingin memberikan dukungan atas kehilangan sosok sang mama. Acara pemakaman segera dilanjutkan setelah sempat tertunda, akibat insiden yang diciptakan Dinda. Seluruh keluarga besar ikut mengantar jenazah Anggraini, yang sebentar lagi akan disemayamkan. Gurat kesedihan tergambar, di setiap wajah anggota keluarga Kusuma, termasuk Nisa yang baru saja bergabung menjadi bagian dari mereka. Doa pun dipanjatkan untuk mengiringi kepergian orang-orang yang mereka cintai, Kirana tampak terisak, ia tidak menyangka jika kemarin merupakan pertemuan terakhirnya dengan sang mama. "Kita semua harus kuat ya kak, agar mama bisa tenang di sana," hibur Nisa yang diangguki Kirana. Hingga tiba-tiba, Lastri meraung diatas pemakaman Anggraini, yang sontak menjadi perhatian seluruh keluarga besar Kusuma. "Mama, kenapa mama begitu cepat meninggalkan kami?" ucapnya setelah histeris, yang tentu saja disengaja oleh Lastri, agar semua orang berpikir, jika dirinya merasa begitu kehilangan akan sosok Anggraini. "Mama..." lagi-lagi Lastri meratapi kepergian Anggraini. Melihat kelakuan istrinya, Artha segera mensejajarkan tubuhnya dengan Lastri, membuat hati wanita itu sempat bersorak gembira, namun... "Sekali lagi kamu bersikap seperti tadi, detik itu juga aku ceraikan kamu," bisik Artha membuat ekspresi Lastri mendadak pias. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, segera berdiri, kemudian mengikuti langkah suaminya untuk segera meninggalkan tempat itu. Lastri sama sekali tidak habis pikir, kenapa Artha begitu sulit ia bohongi, padahal usia pernikahan mereka sudah berjalan dua puluh tahun, meskipun baru belakangan ini dirinya dinikahi secara resmi, itupun karena Nilam, istri pertamanya Artha meninggal dunia. ????? "Apa maksudmu berkata seperti itu Dinda, kamu ingin bercerai dariku?" "Ya, aku ingin kita berpisah sekarang juga, ternyata kamu bukan bagian dari keluarga Kusuma," "Sayang, kamu pasti sedang marah, karena aku tidak membelamu pada waktu itu kan?" ucap Zidan berusaha memahami Dinda. Pria itu berpikir, jika saat ini Dinda sedang merajuk dengannya, karena Kirana menegurnya. "Tidak mas, aku mau kita berpisah sekarang juga, aku tidak mau diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh orang lain, kamu itu bukan lelaki idaman ku," ucap Dinda menyinggung perasaan Zidan sebagai seorang laki-laki. "Maksudmu, aku tidak pantas bersanding denganmu?" "Ya!" *Lalu siapa yang pantas, Chandra?" "Tepat sekali, Chandra lah layak mendampingiku." ucapnya penuh percaya diri. Dinda yakin, jika dulu dirinya dengan mudah merebut Zidan dari Nisa, tentu hal itu masih berlaku hingga sekarang. Terbukti, hanya dengan sekali rayuan, Zidan bertekuk lutut kepadanya, dan langsung memenuhi permintaannya untuk menceraikan Nisa. Bukankah ia lebih cantik dan seksi dibandingkan nilai Nisa? Itulah yang ada dipikiran Dinda saat ini. Wanita itu segera mengemas seluruh pakaiannya serta perhiasan yang ia miliki, tekadnya sudah bulat untuk berpisah dengan Zidan. Setelah selesai, Dinda segera menghampiri Zidan yang masih terpaku. "Aku pergi, segera urus surat perceraian kita, agar aku bisa menikah lagi," ujarnya dengan ringan, membuat Zidan semakin shock. ????? Nisa dan Chandra sedang menikmati makan malam berdua, keduanya memutuskan untuk tinggal terpisah dari keluarga besar Kusuma, meskipun Kirana berulang kali membujuk keduanya. Namun Chandra tetap menolaknya, pria tampan itu beralasan ingin menikmati kebersamaannya dengan Nisa, tanpa gangguan dari siapapun. "Apa kamu suka suasananya," tanya Chandra setelah mereka selesai menikmati sajian makan malamnya. "Tentu saja, hanya saja, apa rumah ini tidak terlalu besar untuk kita tempati berdua?" "Siapa bilang hanya kita berdua, nanti rumah ini bakalan ramai," ucap Chandra sambil menatap wajah istrinya. Tentu saja, Nisa tersipu malu, karena Chandra terus saja memandangi wajahnya. "Bakalan ramai, maksud Mas?" "Rumah ini bakalan ramai dengan kehadiran anak-anak kita, dan mas ingin memiliki anak yang banyak darimu, kamu tidak keberatan kan?" tanya Chandra yang membuat wajah Nisa semakin merona. Saat keduanya sedang asyik merencanakan masa depan bersama anak-anak, tiba-tiba terdengar pintu rumah yang diketuk dengan kasar. Chandra terpaksa berdiri, lalu melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang berkunjung ke rumahnya di waktu yang tidak tepat. Nisa menyusul langkah suaminya, dan saat pintu itu terbuka, betapa terkejutnya sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu. Dinda muncul dalam keadaan menyedihkan, bahkan tubuh wanita itu terlihat basah kuyup karena terkena hujan. "Dinda?" Nisa memanggil nama wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu. Dan tanpa disangka, wanita itu justru menubruk tubuhnya kearah Chandra, berharap pria itu memeluknya. "Tolong aku, mas Zidan telah mengusirku, bahkan dia juga menjatuhkan talak tiganya, aku tidak tahu, kepada siapa lagi bisa meminta perlindungan," ujarnya sambil terisak. Chandra mendorong tubuh Dinda, kemudian menjauhinya, seraya menatap wajah istrinya. Ada kecemburuan yang terlukis di wajah istrinya. "Maaf Dinda, kami tidak bisa menerimamu di sini, tapi aku bisa meminta seseorang untuk mengantarmu ke hotel," ucap Chandra membuat Dinda merasa sedikit kecewa. Apa pria itu tidak memiliki rasa ketertarikan pada tubuhnya, meskipun saat ini dirinya sudah berpakaian minim? Bahkan Dinda terlihat menggigil kedinginan, pakaian yang dikenakan terlihat tembus pandang, hingga menampilkan lekuk tubuhnya. Tidakkah naluri kelaki-lakian Chandra bangkit melihat tubuhnya? Bruuk... Sebuah selimut tiba-tiba mendarat di atas kepala Dinda, ternyata Nisa lah yang melemparnya. "Pakailah, jangan membuat suamiku merasa jij*k karena melihat tubuhmu!" ujar Nisa dengan ketusnya. Nisa tidak akan tinggal diam, melihat mantan sahabatnya itu berusaha menggoda suaminya. "Aku tidak memerlukan selimut ini, tolong izinkan aku tinggal di sini, agar mas Zidan tidak berani menyakitiku lagi," ucapnya sambil menatap Nisa dengan tatapan nyalang. Sementara Chandra lebih memilih untuk masuk ke kamarnya, pria itu enggan berhadapan dengan Dinda karena penampilannya yang seperti itu. "Pergilah, aku sudah memesan taksi online untuk membawanya ke hotel," ucap Nisa membuat Dinda terkejut. "Tidak, aku tidak mau, aku mau tinggal di sini, kamu tidak berhak mengusirku, karena rumah ini bukan milikmu, tapi milik mas Chandra," "Tapi aku istrinya, aku berhak menentukan siapa saja yang diperkenankan tinggal atau menginap di sini?!" "Kamu jangan sombong Nisa, lihat saja nanti, aku pasti bisa merebut mas Chandra darimu, seperti yang pernah kulakukan pada Zidan, dan bila itu terjadi, akulah yang akan mengusirnu keluar dari rumah ini, camkan itu!" ujarnya dengan penuh kemarahan, kemudian berlalu pergi dengan cara menghentakkan kakinya. "Dan aku pastikan, rencanamu gagal kali ini!" balas Nisa tidak mau kalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD