Ternyata Zidan bukan bagian dari keluarga Kusuma

713 Words
Membalas Pengkhianatan Suami Dan Sahabatku. Bab 2 Plak. Dinda terkejut, karena seseorang yang tadi menghardiknya, kini melayangkan tamparan kepadanya, apalagi itu dilakukan di hadapan semua tamu undangan. "Tante, mengapa memukul istriku?" protes Zidan karena Dinda terlihat memegangi pipinya yang memerah. "Ganjaran yang pantas untuknya, dia kira dia siapa, hingga berani bersikap seperti kepada Nisa?" ucapnya dengan tatapan meremehkan. Sudah bukan hal yang mengejutkan bagi Zidan, jika sosok wanita yang kini berdiri di hadapannya, begitu tidak menyukai dirinya, semua itu terjadi, karena Kirana tidak menyukai kehadiran ibu dan juga dirinya, yang dianggap merebut kebahagiaan Nilam beserta anak-anaknya. "Kak Kirana, aku senang akhirnya kakak datang," ujar Chandra berusaha meredakan ketegangan, di tengah pesta yang sedang berlangsung. Nisa pun ikut memeluk Kirana, seraya mengusap lembut lengan wanita cantik tersebut. "Zidan, sebaiknya kamu pergi dari sini, dan bawalah istrimu, aku tidak mau karena kehadirannya, menimbulkan kekacauan!" ujar Chandra membuat Zidan merasa begitu kecewa. Sementara Dinda, wanita itu merasa sakit hati dan sedikit terhina, karena keluarga besar Kusuma, tidak menganggap keberadaannya. "Ayo sayang, sebaiknya kita pulang sekarang," bisik Zidan ke telinga istrinya tersebut. Dengan berat hati, Dinda terpaksa mengikuti langkah suaminya, meskipun beberapa pasang mata menatap kepergian mereka, seolah mengejek, jika kedatangan mereka memang tidak diharapkan sama sekali. ????? Prang... Dinda melampiaskan seluruh kekesalannya, wanita muda yang selalu berpakaian minim itu tidak terima, karena diperlakukan kasar oleh Kirana. "Aku tidak terima Mas, mengapa mereka hanya memandang kita sebelah mata, sementara Nisa, semua orang menyanjungnya!" ucapnya dengan nada tinggi. Zidan berusaha menenangkan istrinya, namun, lagi-lagi Dinda tetap tidak terima, melihat keberuntungan dipihak mantan sahabatnya itu. "Lihat saja, jangan panggil namaku Dinda, jika tidak bisa membuatnya terpuruk!" ucapnya dengan penuh kebencian. "Dinda, sudahlah, untuk apa kita mengusik Nisa, lagipula dia sudah memiliki kehidupannya sendiri," ucap Zidan, karena ia tidak ingin berurusan dengan keluarga besar Kusuma. Mereka memiliki pengaruh yang besar, hingga siapapun yang berurusan dengan mereka, bisa dipastikan hidup orang itu akan hancur, dan Zidan tidak mau hal itu menimpa Dinda. Jika Zidan ingin menghindar, tidak dengan Dinda, justru wanita itu begitu terobsesi ingin menghancurkan Nisa, hatinya dipenuhi rasa iri dan dengki, karena Nisa mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik, jika dibandingkan dengan dirinya. "Lihat saja Dinda, jika dulu aku bisa menghancurkan kebahagiaanmu, aku pastikan, kali ini aku juga bisa menghancurkanmu," janjinya dalam hati, dengan tangan terkepal. ????? Chandra memohon maaf kepada Nisa istrinya, karena rencana mereka untuk berbulan madu harus tertunda. Pasalnya, nyonya besar Anggraini, ibu kandungnya mendadak jatuh sakit dan harus segera ditangani. Nisa tidak mempermasalahkan hal itu, baginya, keluargalah yang terpenting. Semua orang terlihat panik, karena Anggraini yang tiba-tiba pingsan, masih belum sadarkan diri hingga saat ini. "Kita harus tetap berdoa untuk memohon keselamatan mama, Mas," ucap Nisa berusaha menguatkan suaminya. Chandra hanya mengangguk, namun, hatinya tetap diliputi rasa takut kehilangan ibu kandungnya. Malang tidak dapat ditolak, Nyonya Anggraini menghembuskan nafas terakhirnya, yang tentu saja membuat keluarga besar Kusuma terpukul. Baru saja kemarin, mereka merayakan kebahagiaan pernikahan Chandra, namun esoknya harinya, keluarga itu diselimuti duka yang mendalam. Semua terlihat begitu sedih dengan kepergian Anggraini, namun tidak dengan beberapa orang. Justru Dinda dan Lastri merasa sedikit senang dengan kepergian Anggraini, itu artinya satu persatu keluarga Kusuma akan berkurang, dan keinginan mereka untuk mendapatkan bagian dari harta keluarga itu semakin dekat. Chandra dan Nisa mendekati jenazah Anggraini sebagai penghormatan terakhirnya, disitulah Dinda mulai menunjukkan taringnya. "Kalian bisa lihatkan, jika kehadiran wanita itu membawa s**l pada keluarga besar Kusuma, sejak Nisa menjadi bagian keluarga kita, Oma meninggal!" ucap Dinda dengan lantangnya. "Apa maksud ucapanmu Dinda," sela Chandra tidak terima. "Cukup Dinda, siapa yang mengizinkanmu berbicara seperti itu, dan tadi apa katamu, keluarga besar kita? Memangnya siapa yang mengakuimu, bagian dari keluarga Kusuma?" balas Kirana dengan tatapan mengintimidasi. "Tentu saja aku bagian dari keluarga Kusuma, karena suamiku Zidan bagian dari keluarga ini." ucapnya penuh percaya diri. Kirana menatap sinis kearahnya. "Zidan bukan bagian keluarga ini, karena di tubuhnya, tidak mengalir darah Kusuma, apalagi kamu yang hanya isterinya." ucap Kirana membuat Dinda terkejut. "Bukan bagian keluarga ini, bukankah dia putranya papa Artha?" "Hanya putra tiri, karena mas Artha menikahi Lastri, saat usia Zidan lima tahun, dan itupun secara siri," Dinda terkejut, ia tidak menyangka jika status Zidan di keluarga besar Kusuma, hanyalah saudara tiri yang tidak memiliki hubungan darah apapun. "Tidak, ini tidak mungkin" desisnya sambil tersurut mundur mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD