bc

Penyihir Penjaga Waktu

book_age12+
4
FOLLOW
1K
READ
adventure
dark
reincarnation/transmigration
confident
drama
humorous
mystery
brilliant
female lead
special ability
like
intro-logo
Blurb

Eri adalah seorang gadis, salah satu penerus Klan besar yang bertugas menjaga alur waktu dalam sebuah kekaisaran.

Dia bereinkarnasi dari bumi ke dunia ini dengan tetap mempertahankan ingatannya tanpa tahu alasannya. Perjalanannya penuh dengan bahaya dan hal baru.

Demi menjalankan tugas sebagai Time Keepers, Eri menjelajahi berbagai sudut dunia untuk mencegah rencana musuh yang tersembunyi. Pertempuran antara klan bawah tanah melawan klan bawah tanah lain.

Siapakah yang akan muncul ke permukaan dahulu dan menjadi sasaran?

chap-preview
Free preview
1. Menyalakan Api Untuk Memasak
Apa yang membuat setiap manusia begitu berbeda? Diantara keringnya dedaunan Eri melangkahkan kakinya perlahan. Rintik perlahan turun membasahi bumi. Langkahnya terhenti pada sebuah batu di bawah pohon di tengah hutan. Ia pun mengamati sekitarnya yang berkilauan oleh air. "Hahhhhhh.. makin susah saja." Sembari menunggu hujan, dia mulai membuka tasnya. Diambilnya sebuah pisau yang biasa dipakainya untuk menguliti buruannya. Lalu dikupasnya kentang yang telah disimpannya sebagai cadangan makanan dan mulai melahap. Belum lama berselang, terdengar suara langkah dari kejauhan ke arahnya. "Dua orang?" Benar sesuai dugaannya, 2 orang datang dan menyibakkan semak dari hadapannya. Mereka terhenti sejenak, mencoba mengamati seolah mempertimbangkan apakah Eri merupakan ancaman atau bukan. Namun wajah mereka melunak, senyum tersimpul dari seorang yang tinggi dan tampan yang pertama muncul di hadapannya. "Salam." "Salam." Eri membalas singkat. "Boleh kami ikut berteduh?" "Silakan." Kedua orang itu pun merebahkan diri di bawah pohon. Terdengar si pria tampan menghela nafas panjang dan mulai membuka mulutnya. "Sedang berburu kah Nona Muda?" Eri memiringkan kepala mendengarnya seperti bingung dengan ucapannya. Sudah 15 tahun dia bereinkarnasi di dunia ini. Namun ingatan dunia lamanya masih jelas terngiang dan seolah dia lupa akan umurnya. "Tidak, sedang dalam perjalanan." "Ke Exavetica?" Pria tersebut menyebutkan sebuah nama kota yang tidak jauh dari situ. Satu hari perjalanan jaraknya. "Iya." "Kebetulan sekali, mau bergabung bersama kami? Tidak ada salahnya berangkat bersama - sama, akan lebih aman." Eri diam dan berpikir. Pria tersebut terlihat seperti seseorang yang sedang mengantarkan seorang gadis berkerudung tadi ke Exavetica untuk tujuan tertentu. Tentu, ada alasan dibalik perjalanan mereka. Tapi dia merasa tahu si pria tadi sebenarnya adalah seseorang yang cukup terlatih. Eri tidak menemukan alasan apapun untuk menolak tawaran mereka. "Baiklah." "Senang mendengarnya, namaku Ender, gadis yang bersamaku ini Revanna." "Namaku Eri." "Kau masih muda sekali, ingin mendaftar akademi kah?" "Mungkin." "Wow, dari kota manakah?" "..." Sadar bahwa Eri tidak ingin menjawabnya, Ender hanya diam dan menghentikan pertanyaan - pertanyaannya. Ada satu alasan mengapa Eri tidak ingin terlalu banyak bicara. Itu karena dia bisa melihat papan statusnya dan jelas terlihat, bahwa nama yang mereka berdua pakai adalah nama samaran. Ini juga alasan mengapa Eri tahu bahwa Ender juga seorang yang lumayan terlatih, bahkan sangat terlatih. Yang lebih mencurigakan adalah, pekerjaan yang dimiliki Ender adalah seorang Royal Knight, level 23. Rata - rata level orang pada umumnya adalah 3 hingga 6. Level 15 sudah termasuk dalam daftar pengembara profesional, level 20 adalah pengembara - pengembara yang bisa dikatakan veteran dan memiliki kemampuan jauh di atas rata - rata. Jadi level 23 merupakan level yang sangat tinggi. Tapi sayangnya hal ini tidak mempengaruhi apapun baginya. Hujan terhenti, mereka bertiga pun bersiap untuk berangkat kembali melanjutkan perjalanan. Baru saja ketiganya berdiri tegap, Eri menodongkan tongkatnya ke arah Ender dengan tatapan dingin. "Ada apa dengan nama palsu?" Tanya Eri. "Kenapa tiba - tiba.. " Ender menyadari sesuatu, dia hanya terdiam, menunduk dan menghela nafas. Dia berasumsi bahwa Eri memiliki sebuah kemampuan khusus yang dapat mengetahui kejujuran seseorang. "Ada yang ingin kau je-" Belum sempat mengakhiri ucapannya tiba - tiba Eri melihat Ender menghunus pedangnya seolah ingin memotong tangannya yang terjulur untuk menodong ke arah leher Ender. Belum sempat mengenai sasaran, pedang tadi seolah menebas angin, Ender terkejut bahwa tebasannya seperti menghapus ilusi Eri di hadapannya. "Shadow Magic?" Ender semakin terkejut, meskipun jawabannya mirip, sayangnya tidak tepat. Eri hanya berdiri terdiam dengan jarak 2 meter dari tebasan tadi. Seolah sudah memperhitungkan semuanya. Belum sempat Ender bersiap, tiba - tiba Eri melangkah maju dan mengayunkan tongkatnya dari bawah, "[Overclock]" Ender semakin terkejut dibuatnya, seorang penyihir tiba - tiba menyerang maju dalam pertarungan jarak dekat. Sekuat tenaga diayunkannya kembali pedangnya mencoba menangkis, tapi Eri memutar ujung tongkat lainnya dan mengayun pada sisi atasnya. Tanpa bisa merespon sempurna Ender hanya menghindarkan kepalanya, mencegah pertarungan berakhir secara singkat sehingga tongkat itu mengenai pundaknya dan rasa sakit yang luar biasa menjalar karena bahunya retak. "Kekuatan macam apa ini!? Sakit sekali!" Ender mencoba meloncat mundur, namun Eri sudah berada kembali di hadapannya dengan gerakan menusuk dengan tongkatnya. Dia pun kembali mencoba menangkisnya, tapi karena bahu kirinya yang retak, tangkisan itu pun tidak sempurna dan kembali mengenai bahu sebelah kanannya. Pedangnya pun terjatuh, Ender hanya bisa tercengang dengan tongkat yang kembali berada di lehernya. "[Rollback]" Terlihat cahaya putih dari tongkat Eri. Kedua bahu Ender yang retak pun kembali pulih. "Light Magic!? Kau menguasai dua sihir yang berbeda atribut!?" Sekilas memang sihir Eri terlihat seperti Light Magic karna warna cahaya yang dihasilkan. Tapi Ender tidak menyadari bahwa sebenarnya yang digunakan oleh Eri adalah sihir yang lebih mengagumkan, yakni Time Magic, sihir yang telah sirna sejak entah berapa milenia lamanya. Eri tidak menjelaskan apapun, Tujuannya adalah membuat Ender berada dalam posisi takut, khawatir bahwa Eri jauh lebih kuat darinya dan mampu menghancurkannya berapa kali pun Ender mencoba melawannya. Dan tujuan itu telah tercapai. Ender yang hanya bisa pasrah, mengangkat kedua tangannya menyerah. "Ada yang ingin kau jelaskan?" Eri mengulang pertanyaannya yang tadi berusaha diucapkannya. Rasa deja vu lah yang hanya terpikir di benak Ender. Suatu ironi bahwa waktu seperti mempermainkannya, walaupun bisa dikatakan benar demikian. "Tunggu! Nama asliku Veranna, pria ini adalah Deren. Kami sedang dalam perjalanan untuk singgah sementara di Exavetica dan berencana untuk ke tujuan berikutnya. Maaf kalau kami harus membohongimu, namun ada alasan yang tidak bisa kami jelaskan." Veranna mencoba menengahi pertarungan tersebut. Eri pun menurunkan tongkatnya, dia hanya membalasnya dengan tersenyum. Meskipun sedikit banyak dia bisa menebak apa tujuan mereka, namun jelas bahwa Deren dan Veranna bukan orang yang berencana buruk terhadapnya. Intuisinya berkata demikian karena salah satu yang dilakukannya barusan juga bertujuan untuk mengukur kemampuan Deren, selain kejujurannya tentunya. "Mari berangkat, sebelum terlalu malam." Eri memimpin di depan ke arah Exavetica. Deren hanya bisa terdiam, menggelengkan kepala lalu tersenyum. Dia telah kalah oleh seorang gadis berusia 15 tahun, telak. Selama perjalanan, mereka berbincang singkat. Hingga akhirnya Deren memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. "Apakah tadi benar Shadow Magic dan Light Magic?" "Bukan, itu sesuatu yang kujelaskan pun kau tidak akan mengerti." "Mengapa demikian?" Deren sedikit bingung dengan gaya bicara Eri yang semakin terdengar bukan sesuai umurnya. Eri pun menghentikan langkahnya dan kembali bertanya padanya, "Mengapa kau menanyakan hal seperti itu?" "Aku hanya ingin tahu, mungkin terdengar seperti mencari pembelaan diri. Namun rasanya sangat tidak mungkin seseorang memiliki dua atribut yang berbeda." "Hmmmm, kalau kuberitahu, apa yang kau bisa berikan?" Deren pun berpikir singkat dan kemudian menjawab, "Aku membawa sesuatu yang mungkin menarik perhatianmu." Dia mengeluarkan sebuah Skill Book yang bertuliskan [Medium Blade Mastery]. Eri terbelalak melihatnya, bukan karena ranking dari Skill Book tersebut, tapi karena buku tersebut bertuliskan "Blade" dan bukan "Sword". Dimana artinya semua benda yang bersisi tajam, dapat diterapkan oleh buku tersebut. "Tertarik?" "Hmmm, kau seperti meminta sesuatu yang jauh melebihi porsi pertanyaanmu dengan menawarkan buku tersebut." "Oh?" Deren lagi dan lagi terkejut kembali dengan pengetahuan dan cara berpikir Eri yang jauh melebihi umurnya. "Kalau begitu akan kujelaskan sesuatu yang jauh lebih menarik. Kau diam disitu." Eri mengambil 4 langkah ke depan sehingga jarak mereka tepat satu serangan tongkat dengan sisa satu jengkal. Dia kemudian menjelaskan sebuah konsep yang jauh berbeda dari apa yang Deren pernah bayangkan atau pelajari. "Kau pasti paham bahwa pada dasarnya gerakan mengayun tongkat adalah konsep yang sama dengan gerakan menebas sebuah pedang. Permasalahannya, kalau seranganmu tidak kena, kau akan kehilangan momentum karena ayunanmu tidak dapat dihentikan setelah sebuah gerakan dengan energi. Contohnya seperti ini." Eri kemudian mengayunkan tongkatnya kembali dari bawah dan tentu, tidak mengenai Deren. "Tapi, kalau seranganmu sudah jelas tidak kena, kenapa diteruskan?" "Menurut yang kupelajari, masalahnya bukan pada kalau tidak kena, tapi bagaimana bisa tidak kena. Dan kalaupun benar tidak kena, untuk menghentikan serangan tersebut dan mengubah arah momentumnya dibutuhkan energi yang jauh lebih besar dari ayunan sebelumnya." "Siapa bilang kita harus menghentikan momentumnya? Dan siapa bilang kita harus mengubah arah momentumnya? Kau tinggal menarik energimu dan mengalirkan energi pada momentum berikutnya dengan arah momentum yang sama seperti sebuah rotasi." Eri mempraktekkannya dengan melangkah dan mengayunkan sisi lain tongkatnya dari bawah, tidak menggunakan sisi tongkat yang sama. "Betul masuk akal, tapi itu tidak bisa diterapkan pada s*****a seperti pedang." "Jangan terlalu kaku, pada dasarnya semuanya sama. Tongkat memiliki poros yang dipakai untuk mengayun, pedang pun juga sama. Bahkan pedang memiliki 2 poros yang lebih tegas, ada di pergelangan tangan dan ada di siku." Deren terkejut luar biasa dengan cara berpikir tersebut. Benar yang dikatakan Eri, seseorang dapat menebas 2 kali dengan kekuatan yang sama apabila dia dapat memanfaatkan rotasi pedang tersebut tanpa menghentikannya. Permasalahannya adalah, berat pedang melebihi kemampuan dari tangan manusia tersebut. Sehingga untuk melakukan gerakan tersebut, seseorang membutuhkan lengan dan pergelangan yang jauh lebih fleksibel dari yang semua orang pelajari, atau pedang yang lebih ringan untuk melakukan gerakan tersebut. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, kau meragukan kebenarannya karena sendi manusia tidak didesain selentur itu bukan? Tapi menurutku bukan soal sendi yang lentur, tapi kau kurang kreativitas." "Kenapa bisa begitu?" "Karena ada 4 poros lain yang tidak disadari ada, hanya karena semua orang belajar gaya pedang yang sama dari gaya pedang Kekaisaran, yakni telapak kaki, lutut, pinggang dan bahu." "Kau berbicara seolah ada gaya pedang lain yang jauh lebih baik." "Aku tidak berbicara seperti itu. Aku hanya menjelaskan bahwa sebenarnya, tergantung dari tujuan yang ingin kau capai dalam sebuah ilmu pedang tersebut. Kalau yang ingin kau capai adalah fleksibilitas dan kesempurnaan ilmu pedang, kau seharusnya menemukan jalanmu sendiri." Nada bicara Eri terdengar seperti pertapa yang singgah di gunung selama ratusan tahun dan dipenuhi dengan kebijaksanaan. Sulit dipercaya bahwa hal tersebut diucapkan oleh seorang gadis berusia 15 tahun. Deren terbelalak dengan penjelasan tersebut, sangat masuk akal dan jauh melampaui eranya. Tanpa ragu, Deren pun berlutut pada satu lututnya dan memberi hormat. "Kumohon, ajari aku." "Kau tidak sadar bahwa kau sedang meminta diajari sebuah ilmu pedang dari seseorang berprofesi Mage?" "Aku tidak tahu, aku hanya ingin melampaui diriku. Dan kurasa kau bukan sekadar seorang Mage." "Hmmm, bisa jadi, aku tidak pernah bangga dengan menyebut diriku seorang Mage." "Lantas, kau menyebut dirimu apa?" "Battlemage."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
9.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
9.0K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.7K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.5K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
23.4K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
8.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook