3. Di Roasting Pembantu Sendiri

1700 Words
Kinanti seketika memegang tengkuk lehernya, disertai dengan kepala yang berdenyut-denyut saat melihat total belanjaan yang diberikan padanya. Dua hari ini, banyak yang membuatnya semakin shock. “Apa masuk akal, sebanyak ini hanya untuk isi dapur?” pekiknya. “Kalian pasti menggelapkan uang, ya?” tuduhnya, Kinanti tidak terima dengan nominal yang tembus hingga puluhan juta itu. Ekspresi Kinanti serta tuduhan yang dilontarkan padanya membuat Bi Sumi, asisten rumah tangga senior merasa kebingungan. Padahal, selama lima tahun ini tidak pernah ada yang berubah. “Kami tidak pernah mencuri, Nyonya. Semua harga barang sudah tertera di struk. Bahan-bahan yang dibeli semuanya kualitas terbaik, bahkan import karena Nyonya Retno dan Nona Laura terkadang pilih-pilih makanan bahkan Tuan Naren juga seperti itu. Makanya, Nyonya Leoni membuat daftar apa saja yang harus di stok, termasuk jajanan sesuai kesukaan semua orang di rumah ini,” jelas Bi Sumi dengan santai, begitu apa adanya. Darah tinggi Kinanti seketika kambuh, mengetahui harga yang sangat tidak masuk akal itu untuk mengisi dapur. Rasa sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. “Nyonya, ini bahkan baru tagihan untuk stok dapur mingguan,” sambung pembantu yang lebih muda dari Bi Sumi—Kinanti namanya. “Nyonya. Belanja bulanan berbeda catatannya, seperti stok sabun cuci pakaian, piring, dll. Untuk sayuran segar, ikan laut, daging, itu termasuk ke tagihan harian. Apalagi kalau Nyonya Besar request ingin dimasakkan menu khusus. Benar-benar merepotkan.” Satu orang lagi menimpali, bernama Giani, “Gaji kami bahkan belum dibayarkan, Nyonya. Lagi butuh uang buat beli skincare dan jajan seblak. Kami pergi menemui Nyonya Leoni, tapi beliau bilang kami harus memintanya pada Nyonya.” Kinanti tidak bisa mendengar semua yang dikatakan oleh para pembantu di rumahnya, kepalanya terasa berat hingga suara-suara itu mengabur, seiring dengan dirinya yang terkulai di lantai membuat semua orang panik. Mungkin, disaat-saat Kinanti pingsan, dia menyadari jika sulitnya mengelola keuangan keluarga. Dulu dia tidak pernah melakukannya karena Retno yang mengurus semuanya, saat mertuanya stroke, Leoni yang mengambil alih, dia tidak pernah menyangka jika pengeluaran sebanyak itu hanya untuk keperluan dapur. Leoni yang tengah di rumah sakit, terpaksa pulang ketika mengetahui jika mertuanya tidak sadarkan diri, untung saja tidak ada jadwal operasi yang membuatnya dapat kembali ke rumah. Saat dia keluar dari kamar Kinanti, dia di hadapkan oleh beberapa pembantu yang telah menunggunya. “A-anu ... apa Nyonya Kinanti baik-baik saja?” Bi Sumi bertanya karena penasaran. Tiba-tiba Giani, mengeluarkan celetukannya, “Ugh. Kenapa pula Nyonya Kinanti pake pingsan segala, coba. ‘Kan kita nggak jadi gajian.” Celetukannya itu berhasil membuatnya mendapatkan pukulan. “Aw, tapi benar kok. Lagian, masa cuman dengar harga belanjaan langsung pingsan, padahal ‘kan, biasanya juga kita belanja seperti itu. Bahkan menuduh kita semua menggelapkan uang.” Mendengar celetukan itu, Leoni memahami alasan dari pingsannya sang mertua. Bahkan, dia harus mengeluarkan uang pribadinya, untuk menutupi kekurangan uang belanja karena selera makan keluarga Andrea benar-benar berkelas, tepatnya boros tanpa sadar jika tidak punya uang. “Hei, bukankah selama ini mereka saja yang boros? Nona Laura selalu minta yang aneh-aneh, beberapa hari lalu ingin dimasakin lobster dan mengundang teman-temannya.” Giani benar-benar melanjutkan celetukannya itu, menguak banyak gosip yang selama ini mereka tahan, sedangkan tiga orang mengangguk membenarkan, Bi Sumi yang mendengar itu pun tidak menyangkalnya. Biasanya Leoni tidak terlalu mempedulikan gosip-gosip yang keluar dari mulut para pembantu di rumah itu, tetapi dia setuju jika keluarga Andrea cukup boros. “Bukankah itu karma buat Nyonya Kinanti karena sudah setuju anaknya selingkuh? Padahal ‘kan Nyonya Leoni sangat baik, lemah lembut, pengertian, cantik, dan pintar bahkan tidak ada masalah gaji kita selama ini, tapi Tuan ... benar-benar breng—” Seketika Giani yang berceletuk itu tidak melanjutkan kalimatnya karena menyadari jika sejak tadi Leoni mendengarkan mereka bergosip. Semuanya menunduk, takut jika Leoni marah. Namun, diluar dugaan, mereka tidak dimarahi. “Anda baik-baik saja, Nyonya?” Bi Sumi bertanya dengan hati-hati, dialah yang mendengar sendiri percakapan malam itu di ruang keluarga saat Sang Nyonya Muda mereka dipaksa mengizinkan pernikahan kedua. Andai, dia boleh ikut campur, rasanya ingin melemparkan sisa cangkir yang di atas meja saat itu. Sambil tersenyum tipis Leoni menjawab, “Memangnya ada yang akan baik-baik saja saat suaminya direbut pelakor?” Bi Sumi seketika menundukan kepalanya, dia merasa bersalah. “Hei, kalian tidak perlu memikirkannya, lagi pula ini urusan rumah tanggaku.” “Kami hanya tidak terima Tuan tega berselingkuh. Nyonya seharusnya tidak mendapatkan perlakuan seperti itu.” “Apa Anda akan bercerai dengan Tuan Naren?” Alis Leoni terangkat, pertanyaan itu sedikit sulit dijawab. “Kenapa kau berpikir seperti itu, Giani?” Terlihat ada keraguan dalam menjawabnya, gadis itu bahkan melihat Leoni sesaat sebelum menjawab, “Soalnya, Nyonya Leoni tidak menyukai hal seperti itu, Anda juga sudah tidak tahan dengan sifat buruk orang di rumah ini,” jawabnya tanpa filter. To the point, begitu jujur sampai semua orang tercengang mendengarnya. “Jika Anda bercerai, aku akan ikut, kami tidak akan tahan di sini jika tidak ada Nyonya Leoni,” tambahnya sambil tersenyum cerah. Semua menganggukan kepala membenarkan perkataan Giani, Leoni bersyukur jika ada yang peduli padanya, walaupun itu adalah pembantu rumah. “Jangan bergosip lagi. Jika ketahuan, kalian bisa kena omel,” tegur Leoni, berusaha untuk menenangkan. “Saya akan kembali ke rumah sakit, jika infus habis segera diganti,” ucapnya sambil mengeluarkan ponsel melihat jam. ** Di kamar, Kinanti merasa begitu berat membuka mata, dia sadar jika tangannya tengah diinfus, kondisinya seperti ini padahal baru dua hari mengelola keuangan, bisa-bisa dia masuk rumah sakit jika terus mengatur keuangan keluarga. “Mama—” Terdengar suara Naren yang mendadak masuk ke dalam kamar, terlihat Selina mengekor di belakangnya. Wajahnya terlihat tidak senang karena mendapatkan sindiran dari Giani the geng di lantai dasar. “Apa yang terjadi, katanya Mama pingsan,” seru Naren sambil duduk di tepi ranjang. Kinanti berusaha untuk membuka matanya, samar-samar dia melihat jika putranya bersama dengan seseorang. “Aku datang bersama Selina, Ma. Saat dia dengar jika Mama jatuh pingsan, dia khawatir dan memintaku segera kembali ke rumah,” jelas Naren, nada bicaranya terlihat begitu membanggakan Selina. Selina yang ada di sana mendekat, “Tante, Selin, bawa buah-buah serta beberapa suplemen untuk Tante dan Nenek,” lirihnya sambil meletakkan barang bawaannya itu di atas nakas. Nenek Retno yang baru saja masuk melihat kedatangan Selina begitu sumrigah. “Oh, Selin datang, ya,” serunya dengan penuh kasih. “Kenapa Leoni tidak kelihatan? Apa dia tidak tahu jika mertuanya sedang sakit?” geramnya yang tidak melihat kehadiran Leoni di sana. “Nyonya Muda kembali ke rumah sakit setelah memberikan pertolongan pertama pada Nyonya Kinanti. Nyonya Muda yang lebih dulu mengetahui jika Nyonya Kinanti sakit.” Giani yang datang sambil membawa bubur segera membantah perkataan Nyonya besarnya, membuat wajah wanita tua itu merah padam karena rasa malu. “Tidak mungkin ‘kan, infus tiba-tiba terpasang,” tambahnya. Nenek Retno benar-benar merasa malu di hadapan Selina karena baru saja di roasting oleh pembantunya sendiri. Tidak tahan berada di sana, dia memilih untuk pergi. Bahkan setelah Retno pergi Giani masih terus menggerutu sambil menyiapkan obat untuk Kinanti serta mengganti infus. “Padahal Nyonya Leoni selalu paling pertama memperhatikan rumah ini, tapi orang lain yang dipuji-puji, huh, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Nyonya Leoni tidak ada di keluarga ini,” gerutunya. “Ah, maaf, Tuan. Saya hanya sedang mengomel sendiri kok,” sindir Giani. Untuk urusan roasting, mungkin Giani lah pemenangnya. Bahkan, Naren yang mendengar perkataannya ikut tersinggung, “Berani sekali kau bicara seperti itu di depan kami,” bentak Naren. “Keluar sekarang,” geramnya. Giani tidak merasa bersalah dengan apa yang dia katakan. Saat Giani pergi, Naren semakin mengomel. “Pembantu sialan, tidak tahu diuntung, digaji tapi malah ngelunjak,” geramnya. Kinanti yang sedang sakit, bukannya merasa baikan dia malah semakin frustasi, kepalanya semakin berdenyut-denyut. “Selin, bisakah meninggalkan kami berdua sebentar? Ada yang ingin Tante bicarakan dengan Naren sebentar,” pinta Kinanti masih dengan mata tertutup. Walaupun Kinanti tidak melihat, Selina mengangguk kemudian melangkah pergi. Namun, wanita itu sebenarnya tidak benar-benar pergi, dia menunggu di depan kamar. “Berapa uang bulanan yang kau berikan pada Leoni sebelumnya?” Kinanti segera mencecar putranya dengan pertanyaan saat Selina tidak berada di sana. “Uang hampir habis hanya untuk keperluan dapur, bahkan tidak mencukupi kebutuhan yang lain. Kita belum bayar gaji pembantu dan satpam,” keluhnya sambil memijat kepalanya yang makin sakit. Mendengar pernyataan dari mamanya, jelas Naren tidak percaya. Kenapa Leoni tidak memberitahunya selama ini. “K-kita juga tidak punya uang mengadakan pesta pernikahan megahmu dengan Selina, Naren,” tutur Kinanti. Dalam keadaan seperti itu, dia masih memikirkan urusan pernikahan itu, serta mahar yang akan diberikan. “Naren ingin menjual beberapa properti yang kita milik, Ma!” Mendengar jika putranya ingin menjual aset milik keluarga, jelas Kinanti tidak setuju, “Tidak, Mama tidak setuju kau menjualnya. B-bagaimana kalau kau membujuk Leoni membiayai pesta pernikahanmu? D-dia masih punya banyak uang asuransi orang tuanya yang masih disimpannya,” bujuk Kinanti. Pembicaraan Ibu dan Anak itu terhenti ketika mendengar kegaduhan di balik pintu, hingga pintu terbuka mendadak, memperlihatkan Leoni yang sedikit acak-acakan karena baru menyelesaikan operasi penyelamatan. “Kau sangat percaya diri membawa pelakor ini ke rumah, ya, Mas,” sindir Leoni. Selina tidak terima jika dirinya dikatai pelakor. “Aku bukan pelakor!” bentak Selina. “Mas, dia mengataiku pelakor,” rengeknya pada Naren sambil bergelayut manja. “Oh, kalau begitu jalang?” sarkas Leoni sambil masuk ke dalam kamar, dia memakai stetoskop bersiap untuk memeriksa kondisi ibu mertuanya. “Jangan berisik, kalian mengangguku,” tegasnya membuat Selina yang ingin mengamuk terdiam. “Sebaiknya besok, Mama ke rumah sakit untuk cek up. Lebih baik banyak istirahat,” saran Leoni dengan tegas, walaupun dia kesal, tetapi dia tidak bisa mengabaikan orang yang tengah sakit, setelah memeriksa mertuanya dia segera keluar, rasanya dia begitu jijik jika terus berada di sana. “Pergi dan bujuk dia, dia masih istrimu. Kalau kau membujuknya dia pasti akan memberi kita uang,” saran Kinanti. Ketika Naren masuk, dia langsung disuguhi oleh pemandangan Leoni yang baru saja keluar dari kamar mandi, telihat air masih menetas di lekuk bahu serta leher istrinya, membuat gairahnya menjadi naik. Leoni awalnya tidak menyadari keberadaan suaminya, hingga ketika pria itu hendak memeluk dan menciumnya, Leoni mendorongnya sekuat tenaga. “Jangan menyentuhku, kau membuatku jijik!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD