Leoni menatap layar ponselnya, dia baru saja mengirimkan pesan pada kakeknya, tetapi belum mendapatkan balasan. Hingga lamunannya itu, buyar saat seorang wanita dari luar kamar memanggilnya, disaat yang bersamaan sebuah pesan baru masuk, Leoni melirik pesan itu sesaat sebelum melangkah menuju pintu.
“Kak Leoni, apa kakak di dalam? Mama dan Nenek menyuruhku memanggilmu,” serunya. “Mereka khawatir karena kakak tidak kelihatan di pesta tadi,” seru wanita itu. Leoni mengenali suara itu, suara adik iparnya—Laura Andrea.
Dengan sedikit kikuk, Laura bertanya, “Apa kakak baik-baik saja?” tanyanya lagi. “Jika sakit, kita bisa pergi ke dokter.”
Leoni menghela napas kasar, “Aku hanya sedang banyak pikiran! Itu, saja!” jawabnya datar, setelah itu melangkah menuruni anak tangga. Laura mengekor di belakang.
“Mama dan Nenek di ruang utama, mereka—”
“Aku tahu, Laura!” Leoni segera memotong perkataan iparnya, nada bicara sedikit kesal, hanya saat ini dia benar-benar tidak ingin mendengar suara apapun disaat kepalanya cukup berisik. Sepanjang jalan menuju ruang utama, keadaan tampak canggung, tidak ada yang memulai pembicaraan hingga mereka tiba.
Saat Leoni baru saja masuk, dia melihat Nenek dan ibu mertuanya tengah menikmati teh dengan begitu santai. Kinanti ketika melihat Leoni baru saja masuk, segera beranjak dari tempat duduk dan menghampirinya.
“Sayang, apa yang terjadi? Mama tidak melihatmu di pesta, padahal kau yang menyiapkan seluruh pesta ini,” seru wanita paruh baya itu sambil menarik tangan Leoni untuk segera duduk, serta menuangkan teh. “Minumlah, ini teh herbal sangat cocok untuk badan lelah. Minumlah, selagi hangat. Kenapa wajahmu terlihat pucat, sih.” Suara Kinanti begitu lembut, dia bahkan menangkup wajah Leoni sambil memeriksanya dengan teliti.
Di seberang, Retno beberapa kali ikut mengangguk. “Apa yang dikatakan mertuamu benar. Walaupun pekerjaan di rumah sakitmu sangat berat, kau masih memikirkan urusan keluarga ini,” sambung Retno. “Kami jadi semakin khawatir dengan kondisimu.”
Dari pantulan teh di hadapannya, Leoni bisa melihat dirinya. Rasa khawatir yang saat ini diterimanya, sedikit canggung.
“Naren sudah cerita pada kami berdua, jika kau menolak jika dirinya menikah lagi,” lirihnya membuat Leoni tadinya menunduk kini melihat ke arah wanita tua itu.
Kini, Leoni paham mengenai rasa canggung yang dirasakannya sejak tadi itu.
“Kami juga setuju dengan apa yang kau lakukan!” sambung Kinanti sambil mengusap punggung tangan menantunya itu dengan senyuman tipis. Jujur saja, Leoni tidak menyangka dengan perkataan yang diucapkan mertuanya itu. “Kau melakukannya dengan benar! Memangnya siapa yang menginginkan suaminya memiliki wanita lain,” tambahnya. “Tapi—”
Kinanti menjeda kalimat terakhirnya, “Tapi, Sayang. Keluarga ini membutuhkan dukungan keluarga Santoso, apalagi Naren saat ini seorang CEO. Serta, kau membutuhkan teman untuk mengurusi keluarga ini, jadi kami—” Kinanti lagi-lagi tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kami memutuskan menyetujui pernikahan Naren dan Selina!” Retno menyambung. Nada bicaranya tegas dan menuntut.
Ah, begitu rupanya. Perasaan yang sulit diartikan sejak tadi dirasakannya karena semua yang dilakukan penuh dengan kemunafikan. Membuatnya teringat perkataan pria itu.
“Lihat, mereka sangat antusias menyambut wanita itu bahkan tidak mencarimu, padahal kau adalah menantu keluarga ini.”
“Jangan salah paham! Kami melakukan ini demi meringankan bebanmu, Selina memiliki koneksi untuk pekerjaan Naren dan Selina bisa membantumu mengurusi rumah saat kau sibuk di rumah sakit. Bukankah kau akan memiliki banyak waktu untuk istirahat?”
Leoni ingin tertawa mendengar omong kosong yang baru saja diucapkan oleh nenek dan ibu mertuanya. Mereka begitu bersikap manis padanya sejak dia datang ternyata memiliki niat lain.
“Jadi, Mama dan Nenek ingin aku menyetujui pernikahan mereka?” tanyanya dengan tenang, tetapi wajah datarnya itu membuat suasana jadi canggung.
Sambil tersenyum Kinanti kembali mengusap punggung tangan Leoni, tetapi segera ditepis yang membuat wanita itu gelagapan. “I-ini dengan kebaikan bersama, Sayang,” serunya dengan sedikit terbata-bata.
Suasanya jadi semakin canggung, ketika tidak ada respon dari Leoni. Wanita yang berhasil menjadi Wakil Kepala Dokter Bedah itu tengah memejamkan mata, dia teringat mengenai interaksi wanita-wanita yang tengah di hadapannya saat di pesta. Dia bukannya tidak ada di sana, tetapi dia berada di lantai dua, memperhatikan suaminya yang begitu antusias memperkenalkan Selina seakan wanita itulah pasangannya.
Kata-kata manis yang mereka lontarkan berbalut dengan rasa khawatir adalah kemunafikan, sejak awal mereka setuju jika Naren menikah lagi. Bulshit, saat ibu mertuanya mengatakan jika dia pun setuju dengan keputusannya, ternyata itu hanyalah sebuah silat lidah yang penuh omong kosong.
“Kau yang paling tahu mengenai keluarga itu. Kau pastinya sadar jika mereka benar-benar keluarga tidak tahu malu, melihatnya saja membuatku jijik. Aku akan memberikanmu waktu memikirkan tawaranku tadi, Nona Danendra.”
Leoni tertawa membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Bagi Leoni, dia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Sambil meluruskan tubuhnya, Leoni dengan anggun memangku kaki kanannya di atas kaki kiri.
Kehangatan yang tadinya terlihat begitu harmonis menguap, bersamaan dengan senyum Kinanti maupun Retno. Senyuman itu berubah menjadi penuh kekesalan.
“Aku tidak bisa menerima suamiku berselingkuh dan ingin menikah lagi,” tegas Leoni membuat Kinanti yang duduk di samping Leoni seketika berdiri.
“Apa?” pekiknya.
“Di keluargaku tidak membenarkan perselingkuhan.” Sekali lagi Leoni menegaskan, membuat rahang Retno maupun Kinanti mengeras, penuh kekesalan. “Sebelum menikah kami telah membuat perjanjian pernikahan, Naren bersumpah tidak akan menikah lagi.
“Dasar perempuan keras kepala!” Retno membentak, suaranya tidak lagi serak lemah, melainkan melengking penuh kebencian. “Kenapa kau menentangnya? Harusnya kau sadar diri dan tahu batasan. Gelar doktermu itu tidak berhak mengatur cucuku seperti boneka di rumah ini.”
Sungguh miris, ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan sikap mereka berubah, dan hanya memperlihatkan wajah asli yang ditutupi dengan senyuman palsu. Leoni masih dengan posisi yang sama, tetapi kali ini dia tersenyum.
“Saya memang hanya tapi saya sudah menyelamatkan beberapa nyawa keluarga ini termasuk nyawa Anda, nenek buyut saat keluarga ini hampir tidak bisa makan, dan jangan lupa saya ini istri dan menantu sah di keluarga ini,” seru Leoni setengah menyindir membuat wanita tua yang baru saja mencecar Leoni dipenuhi rasa malu. “Saya memiliki hak untuk menolak suami saya menikah lagi!” tambahnya dengan tegas.
Mendapatkan jawaban seperti itu, tidak hanya Retno, Kinanti pun ikut tersinggung. Hingga sebuah cangkir mendarat tepat di dahi kiri Leoni sebelum menyentuh lantai dan pecah.
“Kurang ajar! Dasar tidak punya sopan santun bicara dengan orang tua. Orang tuamu pasti tidak mendidikmu dengan benar jadi melawan perkataan suami. Seharusnya dulu aku tidak setuju, saat kau dan Naren menikah.”
Mendengar perkataan dari orang-orang yang telah dibantunya selama ini, sangat memuakkan. Leoni masih ingat jelas, itu tiga tahun lalu. Saat Naren memohon padanya, untuk menggunakan uang asuransi kecelakaan orang tuanya demi menyelamatkan perusahaan, walaupun akhirnya koleps lagi.
Darah terlihat menetes tepat di dahi kiri Leoni. “Tsk,” terdengar decakan pelan penuh kekesalan dari mulut Leoni. “Keluarga tidak tahu diri,” gerutunya setengah berbisik bahkan hampir tidak terdengar.
“Leoni, tolong mengerti,” seru Kinanti yang akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar lembut tetapi ada sedikit kearoganan. “Sekarang Naren seorang CEO. Dia membutuhkan dukungan dari keluarga berpengaruh termasuk keluarga Santoso, Selina—anak itu menyukai Naren, jika bukan karena Selina keluarga Santoso tidak akan mendukung Naren, jadi bisakah kau mengizinkannya untuk menikah lagi?” Kinanti berusaha untuk melerai ketegangan yang ada tetapi tetap menuangkan minyak di bara api.
“Apakah berbagi suami di keluarga ini sangat dijunjung tinggi? Seingatku, Ayah Mertua pernah tidur dengan wanita lain dan wanita itu hamil, bukankah Mama menjambak rambut wanita itu.” Sindiran itu benar-benar melemparkan aib yang pernah ditutup rapat ke wajah Kinanti.
“Tutup mulutmu!” pekik Kinanti tidak terima aib yang ditutupinya beberapa tahun ini kembali diumbar oleh menantunya sendiri.
Sayangnya, itu tidak berpengaruh, Leoni begitu tenang membuat Kinanti semakin diliputi oleh amarah. “Aku bicara tentang fakta, Bu. Kemudian, Naren sudah berjanji tidak akan menikah lagi.”
Dalam keluarga Andrea, menantu hanyalah alat untuk melayani, bukan menuntut hak apapun dalam keluarga. Itulah yang mereka terapkan selama ini. Wajah Nenek Retno begitu merah padam, untuk pertama kali dia menemukan lawan yang setimpal.
“Dasar wanita sialan. Orang tuamu yang mati mengenaskan itu benar-benar tidak mendidikmu dengan benar.” Tatapan Leoni berubah tajam ketika orang tuanya lagi-lagi direndahkan. Bukan orang tuanya yang gagal mendidiknya tetapi keluarga Andrea yang sejak awal tidak tahu diri. “Berani sekali kau mengancam kami dengan perjanjian yang kami saja tidak tahu,” bentak Nenek Retno lagi napas memburu dia bahkan menunjuk-nunjuk ke arah Leoni. “Kau harusnya berterima kasih, kami mau menerimamu di keluarga ini. Dasar wanita yatim piatu, tidak tau tempat. Hanya karena gaji kecilmu untuk keluarga ini kau berani mengatur Pewaris Keluarga Andrea?”
Pewaris? Apa yang diwariskan? Hutang? Sayangnya, Leoni hanya bisa menggerutu dalam hati.
Darah di dahi Leoni bahkan masih basah, tetapi Retno kembali melemparkan cangkir, sayangnya kali ini Leoni dapat menghindari. “Wanita sialan! Tidak tahu terima kasih!”
Kinanti memekik melihat emosi mertuanya yang begitu memburu. “M-mama, jangan emosi ... nanti penyakit Mama kambuh lagi,” seru Kinanti mencoba menenangkan. Matanya beralih cepat menatap Leoni. “Cepat minta maaf, pada Nenek. Jangan keras kepala,” tuntutnya.
Leoni menatap lantai, kini dua gelas telah dilayangkan ke arahnya. Bahkan, mengenai dirinya, Leoni tidak menyeka darah yang menetes di dahinya, dia perlahan beranjak dari tempat duduk. Membuat Nenek Retno dan Kinanti menjadi waspada dengan gerakan tenangnya itu. Mereka menyadari jika wanita berusia 33 tahun di hadapan mereka itu bukan seseorang yang akan patuh dengan perkataan mereka.
“Sopan santun, ya,” gumamnya pelan sambil membersihkan pecah-pecahan cangkir yang berada ditubuhnya. Dia mendongak sesaat kemudian berucap, “Miris sekali, ya, keluarga yang telah bangkrut tetapi masih menganggungkan sopan santun kelas atas itu malah memaksa seorang istri menerima perselingkuhan suaminya demi memanjat status sosial.”
“Tutup mulutmu!” pekik Kinanti, Leoni benar-benar mengguliti harga diri mereka. “Kau tidak punya hak bicara ataupun membuat keputusan di rumah ini!”
“Baiklah. Karena saya tidak punya hak apapun di rumah ini, maka terserah kalian saja, saya tidak lagi peduli, Naren akan menikah dengan siapa,” serunya membuat raut wajah semua orang di ruangan itu begitu bahagia. “Karena itu, saya akan mengembalikan dan tidak akan pernah menyentuhnya lagi,” tegas Leoni sambil mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Itu adalah buku tabungan serta Kartu ATM yang diberikan oleh Naren padanya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Leoni melangkah keluar sebelum pergi dia menengok ke belakang, melihat wajah wanita-wanita yang begitu senang. Namun, Leoni tidak merasa rasa sakit lagi, tetapi sebaliknya, belenggu yang bebannya terlepas.
“Aku penasaran, apa uang yang sedikit itu akan memenuhi kebutuhan mereka atau tidak,” gumamnya.