Benci dan marah berkecamuk di hati Agasta, hingga saat pulang dari jogging dia melempari semua barang yang ada di kamar, cermin dinding sampai pecah karena Agasta memukulinya. Agasta sangat frustasi, ia membenturkan kepalanya hingga terluka. "Agasta.. Lo gila!" Irfan mendengar keributan dari kamar Agasta langsung menghampirinya. Napas Agasta terengah sambil menatap Irfan yang tak jauh darinya. Laki-laki itu terduduk di lantai dengan matanya berkaca-kaca. "Gu..gua Gua cinta sama Ranum." Kalimat yang tak pernah keluar dari mulut Agasta akhirnya terungkap sendiri. Irfan mendekat. "Kalau lo cinta Ranum seharusnya ungkapkan sama Ranum." Agasta memukuli kepalanya berulang kali, ia merasa dirinya sangat bodoh dengan perasaannya sendiri. "Hidup lo gak harus belajar dong. Gua yakin Athala ngg

