10 tahun berlalu Barra berada dikantor kepala sekolah tingkat dasar. Hampir tiap hari Barra mengurus kenakalan putrinya lakukan. "Maaf, Pak. Saya memanggil Bapak lagi hari ini." "Tidak masalah. Apa yang Reisya lakukan lagi." Tanya Barra to the point pada kepala sekolah tersebut. "Tadi dia menganggu anak baru, hingga tas anak basah dibuat Reisya. Maaf sebelumnya, menurut saya Reisya tidak mengenal sosok ibu. Mungkin itu membuat Reisya kurang perhatian. Sementara Bapak sibuk diluar. Saya Hanya prihatin dengan perkembangannya nanti." Barra mengerjapkan matanya sejenak. Ibu? Seorang ibu, dimana Barra mencari sedangkan dirinya hidup tapi seakan mati. Kalau bukan kehadiran Reisya, mungkin Barra tidak tahu bagaimana cara hidup lagi. Kenyataan 10 tahun yang lalu membuatnya hancur. Dia bahkan

