"Heh? Dia nembak lo?!" teriak Paula yang berhasil menarik seluruh perhatian anak-anak yang sedang hening mengerjakan tugas matematika. Cewek manis bermata sipit itu buru-buru nyengir kuda karena ditatap judes oleh anak sekelas. Dia lalu menyikut Khaylila sampai cewek itu menoleh dengan kening berkerut. "Tuh, Kay, gue bilang juga apa. Dia tuh suka sama lo."
Khaylila melengos. Daripada menanggapi Paula yang sok tahu, lebih baik mengerjakan soal memusingkan di depannya. Khaylila langsung garuk-garuk kepala setelah baru beberapa detik dia membaca ulang barisan angka-angka itu. Otaknya benar-benar payah, padahal cuma integral sederhana, tapi kenapa susah sekali?!
Sadar kalau dicuekin, Paula kembali menyikut kawan sebangkunya, kali ini lebih s***s dan berhasil membuat Khaylila menoleh padanya dan menatapnya judes.
"Heh, tangan lo tuh kaya tangan gajah, sama kaya Tobi. Nggak usah nyikut-nyikut gue!" amuk Khaylila sambil mengusap-usap lengannya yang nyeri. Tiba-tiba saja kepalanya dipukul dari belakang. Membuatnya memekik kesakitan. "Adow!"
"Sssst!"
Suara itu langsung memenuhi kelas, membuat Khaylila mengedarkan pandangannya sambil cengar-cengir tak enak hati. Lalu sambil mengusap kepalanya, Khaylila menoleh ke belakang dan kontan melotot melihat Tobi yang menatapnya galak sambil memegang gulungan LKS matematika.
"Lo kira-kira dong kalo mukul gue! Kalo gue jadi oon, lo mau tanggung jawab?"
"Lo emang udah oon, sebelas dua belas sama Paula," balas Tobi ketus. Detik berikutnya, wajah cowok tambun berpipi chubby itu berbinar penasaran. "Siapa yang nembak lo?"
"Eh, gemblong Belanda, otak lo juga nggak jauh beda kayak kita, sekarang sok mau tau aja urusan cewek!" sahut Paula dan segera diangguki Khaylila. Tobi melirik mereka sinis sambil cemberut.
Khaylila baru akan menyentuh tugas matematikanya lagi saat lengannya ditahan oleh Paula. Cewek itu kembali menoleh pada Paula sambil mendengus. Kalau begini terus, kapan dia bisa menyelesaikan integral sederhananya? "Apaan?"
"Jadi, lo jawab apa ke kak Agas?"
"Oke, anak-anak, silakan tugasnya dikumpul ke depan!"
Suara pak Zaki, membuat Khaylila dan Paula saling melotot, lalu menyambar pulpen masing-masing dan segera mengerjakan tugas itu. Mereka segera membuang napas lega saat Fahira, si ketua kelas menarik buku mereka. Untung saja soal-soal mengerikan itu bisa mereka atasi secepat kilat. Betul atau tidaknya, itu masalah belakang.
***
"Jadi kak Agas nembak lo cuma biar lo bisa jadi tukang pijitnya dia?"
Khaylila cemberut mendengar tawa menggelegar milik Tobi dan Paula. Dia lalu berjalan cepat menuju gerbang, mendahului duo racun yang masih sibuk menertawakannya. Ck, apanya yang lucu coba?
Khaylila baru beberapa langkah berjalan cepat saat Paula menyejajarinya dan merangkul pundaknya. Khaylila segera menepis tangan Paula dan menatapnya sinis. "Nggak usah sok akrab!"
"Yeee, ngambek." Paula terkekeh lalu kembali merangkul bahu Khaylila. "Tapi serius deh, Kay, gue pikir kak Agas beneran suka sama lo."
"Suka jadiin gue babunya, maksud lo?"
"Dasar mental babu."
Mendengar selentingan barusan, Khaylila kontan menghentikan langkahnya dan berbalik badan, lalu menatap galak pada Tobi. Cowok itu menyilangkan tangannya ke d**a, sok takut, kemudian tertawa terbahak-bahak. Khaylila mengangkat kepalan tangan kanannya ke udara, mengancam. Tobi buru-buru menekap mulutnya, takut Khaylila benar-benar mengeluarkan jurus taekwondonya. Meski otak Khaylila pas-pasan, cewek itu tetap pemegang sabuk hitam.
"Awas kalo lo ngomong lagi!" ancam Kay galak. Tobi manggut-manggut, lalu menggerakkan tangannya ke depan mulutnya, seolah di mulutnya ada resleting.
Khaylila memutar badannya dan tepat pada saat itu, matanya langsung menangkap sosok Karim yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang. Wajah Khaylila berubah berseri-seri. Dan tanpa sadar berjalan mendahului kedua temannya.
"Gemblong, Pau-pau, gue duluan ya, bye-bye...." pamitnya pada Tobi dan Paula begitu sadar. Langkahnya sudah lumayan jauh. Tanpa menunggu persetujuan dua orang itu, Khaylila berlari riang menghampiri Karim.
"Kak Karim!" sapanya antusias sambil menepuk pelan bahu Karim. Cowok itu tampak kaget dan spontan memundurkan badannya. Dia mengerutkan kening tak suka, berharap cewek itu segera pergi dari hadapannya. Khaylila tahu itu, tapi dia malah menggelendot manja di lengan Karim sambil tersenyum manis sekali. "Ini sabtu lho... Berarti kak Karim pulang ke rumah, kan?"
"Nggak tau," jawab Karim sambil mengempaskan tangannya agar terlepas dari cengkeraman erat Khaylila. Cewek itu segera mengerucutkan bibirnya saat Karim berhasil melepaskan diri dengan mudahnya. Karim tampak tak peduli dan memilih memainkan ponselnya.
Melihat keseriusan Karim, Khaylila lantas melongokkan kepalanya ke layar ponsel Karim dan otomatis membuatnya semakin dekat dengan Karim. Senyumnya merekah lebar begitu aroma wangi Karim menyebar di indera penciumannya.
Merasa terganggu dengan tingkah cewek aneh di depannya, Karim mengulurkan telunjuknya ke dahi Khaylila lalu mendorongnya ke belakang agar menjauh darinya. Khaylila mendongak sambil tersenyum lebar.
"Lo ganggu gue," kata Karim dingin. Harusnya tatapan dingin Karim bisa membuat siapa saja paham kalau dia tidak mau diusik lagi, tapi kenyataannya, itu tidak bekerja pada Khaylila. Cewek itu justru menganggap tatapan itu begitu menggemaskan dan membuatnya ingin mencubit kedua pipi Karim.
"Karim, yuk!"
Khaylila hampir melakukan misi gilanya saat terdengar suara lembut dari belakangnya. Khaylila menoleh ke belakang dan segera mendengus pelan saat mendapati Bellen, salah satu primadona kelas dua belas, sedang memandang Karim dengan mata beningnya.
Melihat kedekatan Bellen dan Karim selama ini, membuat Khaylila menganggap Bellen sebagai saingan terberatnya dalam mendapatkan Karim. Tapi, meski saingannya adalah primadona, Khaylila tetap yakin kalau Karim adalah cowok yang ditakdirkan untuknya-yah, setidaknya sampai detik ini.
"Hai, Kay!" sapa Bellen ramah sambil tersenyum lebar. Khaylila hanya membalas dengan senyum simpul, meski dalam hati mendengus kesal karena Bellen muncul di saat dia sedang asyik mengobrol dengan Karim.
Khaylila kembali melihat Karim. Cowok yang dia anggap sebagai calon suaminya itu tampak semakin tampan karena tersenyum manis. Tapi hal itu justru membuat Khaylila cemberut saat sadar bahwa senyuman manis itu bukan untuknya, melainkan untuk Bellen.
"Cepet amat ke toiletnya, Len," komentar Karim sambil menahan senyumnya. Khaylila bersumpah kalau Karim benar-benar ganteng, tapi kenapa senyum itu untuk Bellen?!
"Duh, lo nungguinnya lama, ya? Maaf ya, Rim," kata Bellen sambil menangkupkan kedua tangannya, mengangkatnya ke depan wajahnya dengan muka menyesal. Khaylila akui kalau Bellen cantik dan imut, tapi lebay!
Karim tertawa sambil membenarkan letak ranselnya. "Santai kali, Len, yuk!" ajaknya dan segera diangguki Bellen.
Oh, apa-apaan ini? Karim mau meninggalkan Khaylila sendiri dan pergi bersama Bellen? Tidak-tidak! Khaylila tidak akan membiarkan itu terjadi. Lagipula Bellen itu apa-apaan, sih? Datang-datang langsung main embat calon suami orang. Khaylila harus menahan Karim agar tidak pergi dengan Bellen.
"Kak Karim!" panggil Khaylila pada Karim, tepat sebelum Bellen membuka mulutnya. Sepertinya cewek imut itu akan pamit pada Khaylila, namun Khaylila nampaknya tak peduli dan hanya memandangi Karim. Khaylila tersenyum lebar saat melihat Karim setengah berbalik badan. tapi senyumnya segera hilang saat Karim hanya memandang Bellen. Benar, hanya Bellen!
"Ayo, Len!" katanya sambil mengulurkan tangannya pada Bellen.
Sakit. Khaylila ingin sekali mencegah Bellen agar tidak menyambut uluran tangan itu, namun entah kenapa dia hanya bisa bergeming saat melihat Bellen menghampiri Karim dan menyambut uluran tangan cowok itu. Khaylila masih mematung di tempat saat Bellen berpamitan lalu diikuti dengan Karim yang meliriknya sekilas sebelum akhirnya pergi menjauh bersama Bellen.
Pandangan Khaylila tidak terlepas dari Karim dan Bellen yang semakin menjauh sambil tertawa-tawa, entah karena apa. Jantungnya kembali terasa diremas kuat-kuat. Dia tahu kalau Karim dan Bellen dekat, tapi baru kali ini dia merasakan cemburu yang begitu menyakitkan seperti ini.
Melihat Karim mengulurkan tangannya untuk cewek lain di depan mata kepalanya sendiri, rasanya benar-benar buruk, lebih buruk daripada diabaikan Karim selama bertahun-tahun. Tanpa sadar, Khaylila cemberut berat sambil meremas-remas tangannya, selanjutnya dia mengentak-entakkan kakinya ke lantai, gemas.
"Dudududu... ada yang lagi panas nih...."
Khaylila menoleh ke sumber suara dan melotot galak ketika menemukan Tobi dan Paula sedang berjalan ke arahnya sambil cekikikan mirip orang gila.
Sesampainya di depan Khaylila yang menatap judes, Paula buru-buru merogoh tasnya, dan seperti mencari sesuatu. "Ya ampun, Kay, gue punya plester nih, mau nggak?"
Plester? Kenapa juga si sipit menawarinya plester? Masih dengan perasaan dongkol Khaylila bertanya, "Buat apaan?"
Paula menghentikan gerakan tangannya dan menatap Khaylila dengan senyuman mengejek khasnya. "Buat nyatuin lagi hati lo yang retak."
Suara Paula barusan benar-benar terdengar sangat menjengkelkan di telinga Khaylila, membuat tatapannya semakin bengis. Hidungnya kembang kempis, seolah siap menyemburkan api sampai radius satu kilo meter sewaktu-waktu. Sedetik kemudian, suara tawa dua makhluk menyebalkan itu membahana di tengah koridor sekolah yang mulai sepi, membuat Khaylila yang awalnya masih bisa menahan amarahnya, benar-benar hilang kendali.
"DIAAAM!!!" bentaknya pada Tobi dan Paula yang kontan melompat saking kagetnya. Duo racun itu lantas menatap ngeri Khaylila yang terengah-engah sambil melempar tatapan mautnya. Cewek manis itu lantas berbalik badan dengan kasar dan berjalan menjauh.
Tobi dan Paula saling berpandangan sejenak, lalu sama-sama kesusahan menelan ludah yang mendadak terasa pahit. Baru kali ini mereka melihat Khaylila yang biasanya ceria dan tidak mudah tersinggung tampak benar-benar kesal seperti tadi.
"Susul nggak, Mak?" tanya Tobi pada Paula dengan tampang linglungnya.
"Susul aja deh, kayaknya dia butuh kita," jawab Paula sambil terus memandangi punggung Khaylila yang semakin menjauh. "Tapi kok gue takut disembur lagi ya, Tob."
"Lo, kalo ngomong keterlaluan, sih."
Paula kontan memandang Tobi dengan tatapan membunuh. "Menurut lo, omongan lo nggak berduri? NGA-CA!" ucapnya lantas berjalan meninggalkan Tobi yang mencibir di belakangnya. Tak lama, cowok itu menyusul Paula juga.
"Kay, tunggu!" teriak Paula sembari berlari kecil mengejar Khaylila. Namun karena Khaylila tidak juga merespon dan terus saja berjalan, Paula kembali memanggilnya. "Khaylila!"
"Akhirnya, gue olahraga juga," ujar Tobi sambil memaksa badan tambunnya berlari kecil. Napasnya sudah ngos-ngosan, padahal baru beberapa langkah.
"Khaylila lo nangis?" tanya Paula sambil memandang wajah kawannya yang tampak sembab. Akhirnya setelah mempercepat larinya, Paula berhasil juga menahan Khaylila dan berhenti di depan tangga menuju lantai dua. "Duduk dulu, deh, yuk."
Khaylila tak menyahut. Dia bahkan tidak bergerak saat Paula mengajaknya duduk di tangga. Cewek itu malah memalingkan muka ke arah gerbang sambil menarik dan mengembuskan napas berkali-kali.
"Khaylila?" panggil Paula hati-hati. Dia segera mundur selangkah saat Khaylila memandangannya. Mata Khaylila memerah dan agak bengkak. Sebisa mungkin Paula nyengir-yang lebih menyerupai seringaian ngeri-sebelum kembali mengajak Khaylila duduk. "Duduk dulu, deh."
"Gue sakit hati, Pau," kata Khaylila tiba-tiba. Detik berikutnya cewek itu berjalan ke tangga, duduk lalu mewek sambil menenggelamkan wajahnya ke lutut. "Huaaa... gue sebel sama kak Karim...."
Paula menghela napas pelan lalu duduk di sebelah Khaylila. Diusapnya punggung cewek itu yang bergetar dengan sabar.
"Gue yakin abis ini berat gue turun lima kilo."
Paula menoleh dan mendapati Tobi yang membungkukkan badan sambil ngos-ngosan. Cowok itu kemudian menegakkan badannya dan meregangkan tangannya ke atas. Tampang lucunya semakin lucu saat dia monyong maksimal. Mau tak mau Paula tertawa melihat aksi anakan mamoth di depannya.
"Dasar aneh! Sejak kapan jalan ala gajah semeter doang bisa bikin berat badan turun lima kilo?"
Tobi kontan menghentikan kegiatannya dan menoleh kaget pada Khaylila, Paula juga ikut-ikutan menoleh pada Khaylila. Cewek itu sudah bersedekap sambil menatap penuh cibiran pada Tobi.
"Ya ampun, gue pikir anaknya upil nggak bakalan bisa nangis," balas Tobi tak mau kalah. Dalam hati cowok itu merasa lega karena Khaylila sudah kembali menyebalkan seperti biasa.
"Gue cewek, gemblong Singapura!" sambar Khaylila. "Dan cewek itu normal kalo nangis pas lagi sakit hati."
Tobi pura-pura kaget. "Oh, gitu ya?"
"Nah, kalah kan, lo, sukurin!" Khaylila tertawa ngakak. Menertawai Tobi yang menurutnya kehabisan bahan untuk menyerangnya balik. Tobi sendiri saling lirik dengan Paula yang tersenyum geli. Cowok itu hanya mengangkat bahu lalu duduk di salah satu anak tangga yang ada di bawah kaki Khaylila dan Paula.
"Gue menyedihkan banget, ya?" tanya Khaylila setelah menghentikan tawa ngakaknya yang dipaksakan. Pandangannya jauh ke arah lapangan basket yang sepi.
"Iya."
"Iya."
Khaylila berjengit kaget mendengar seruan Paula dan Tobi yang serempak. Dia lalu memandang kedua kawannya itu bergantian. "Gue yakin kalian berdua itu berjodoh."
"Apa??"
"Apa??"
Khaylila tertawa karena lagi-lagi dua orang itu merespon dengan begitu kompak. Sementara itu, Paula dan Tobi saling memandang dengan tatapan sampai-kapanpun-aku-nggak-sudi-berjodoh-sama-dia. Mereka kemudian saling memalingkan muka sambil manyun. Khaylila terhibur dengan sikap sok jual mahal kedua temannya itu.
"Ih, amit-amit... mendingan gue jadi pelayannya mamoth seumur hidup daripada berjodoh sama nenek lampir kaya dia," kata Tobi sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya sebanyak tiga kali.
Paula memutar bola mata dan memilih menatap Khaylila, malas meladeni Tobi si Drama King. "Move on, Khaylila."
Khaylila menatap Paula yang tampak serius lalu menghela napas. Pandangannya kembali ke arah lapangan basket. "Gue nggak bisa, Pau. Hati gue kayak udah terikat sama kak Karim."
Paula mengatur napas, mulai gemas. "Tapi hati kak Karim udah terikat sama kak Bellen. Dan lo bisa apa?"
"Bisa nangis," sahut Tobi dan langsung mendapat pelototan super s***s dari Khaylila dan Paula. Tobi pura-pura mengerut takut lalu kembali memainkan ponselnya.
"Dia emang pacarmu, tapi kalo Tuhan mau dia sama aku, kamu bisa apa?" Paula menoleh pada Khaylila. Cewek itu tampak menerawang ke kejauhan sambil manggut-manggut, dan tak seberapa lama dia menatap Paula dengan mata berbinar. "Lo pernah denger quote itu, Pau?"
Paula terdiam, tampak berpikir sebelum akhirnya menepuk bahu Khaylila dan tersenyum lembut. "Sekarang gini," katanya. "Hati lo emang udah terikat sama Kak Karim, tapi kalo Tuhan maunya hati kak Karim terikat sama hati kak Bellen, lo bisa apa?"
Seketika itu juga, wajah Khaylila berubah muram. Moodnya yang hampir terbangun, kembali hancur berkeping-keping. Dalam sekejap, s*****a yang dia andalkan malah berbalik menyerangnya. Telak.
Suasana berubah hening total, seolah ikut berduka atas kekalahan Khaylila yang mengenaskan.
"Gue balik duluan," kata Khaylila lemas lalu beranjak mendahului Paula dan Tobi. Duo racun itu saling pandang prihatin lalu menyusul Khaylila. Suasana hati cewek itu kembali kacau, dan duo racun merasa perlu menghiburnya.
Sementara itu, dari atas tampak Agas yang baru menuruni tangga dan berhenti tepat di anak tangga yang tadi diduduki Khaylila. Ternyata sedari tadi cowok itu mendengarkan percakapan tiga s*****n itu dari ujung tangga. Dia pandangi lantai yang dipijaknya lalu ke arah tiga anak manusia yang saling bersusulan di depan sana. Tatapannya lantas tertuju pada satu perempuan yang berjalan paling depan, Khaylila.
"Nggak ada yang boleh nyakitin lo, Kay," gumamnya. Tangannya lantas mengepal erat saat nama Karim terlintas di kepalanya. Sekalinya dia mendapat kesempatan untuk bertemu Karim, dia akan membuat perhitungan pada cowok itu.
***