3

1910 Words
Bel istirahat sekolah berbunyi tepat setelah Bu Endah—guru kimia—keluar dari kelas XII MIA 1. Karim melirik waspada ke arah pintu kelas yang jaraknya cukup jauh dari tempat duduknya yang berada di pojok belakang. Dia segera menghela napas lega saat orang yang paling malas dia temui belum muncul di sana. Dan sebaiknya dia memanfaatkan momen ini untuk kabur ke kantin. "Lon, kantin yuk! Laper nih," ajaknya pada Lolon, teman sebangkunya yang masih sibuk menyalin rumus mahapenting di papan. "Tumben lo ke kantin?" tanya Lolon sambil menatap Karim heran. Detik berikutnya, dia menoleh ke arah pintu. Senyuman jahilnya muncul begitu kembali menatap Karim. "Kemana pacar lo yang biasanya bawain ransum buat kak Karim tersayang?" "Dia bukan pacar gue!" bantah Karim lalu mendecak kesal. Lolon mencibir. "Ayo deh, buruan! Keburu masuk lagi, nih." Lolon terkekeh lalu bangkit, mengabaikan buku catatannya yang masih terbuka lebar. Dirangkulnya bahu Karim. "Kemon!" "Kak Kariiim...!" Mereka hampir melangkah ketika tahu-tahu terdengar suara mendayu-dayu dari arah pintu. Karim yang sudah sangat hapal pemilik suara itu, buru-buru melepaskan rangkulan Lolon dan duduk kembali ke kursinya. Dia tarik buku milik Lolon dan membukanya asal lalu pura-pura membaca dengan meletakkannya di depan wajah. Dia berharap agar cewek itu tidak mengganggunya. "Eh, Kaylila! Tumben baru muncul? Kak Karim udah nungguin dari tadi lho...." Karim melotot kaget. Bisa-bisanya Lolon berkata ngaco seperti itu! Sambil meremas buku yang dipegangnya, Karim menendang kaki Lolon sampai cowok itu sedikit terdorong ke depan. Lolon terkekeh. "Tuh, disuruh nyamperin katanya." Karim menurunkan bukunya dan berniat menjitak kepala Lolon saat itu juga, tapi Lolon sudah keburu kabur. Sialnya, dia malah bertatapan dengan Khaylila yang langsung berlari mendekatinya. Cewek itu segera duduk di kursi yang ada di sebelah Karim dan menatapnya bahagia. "Bener, kak Karim nungguin aku?" tanyanya riang. "Kayak nggak ada kerjaan lain aja," gumam Karim kesal sambil melengos mengambil ponsel dari sakunya dan memasang earphone. Tak lama kemudian dear, God milik Avenged Sevenfold mengalun di telinganya. Menurutnya ini lebih baik daripada mendengar suara kecentilan milik cewek di sampingnya. Dia sama sekali tidak peduli pada Khaylila yang malah tersenyum geli meski sudah dicuekin. Khaylila sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Karim, karena sudah sangat terbiasa. Khaylila malah senang, karena Karim yang cuek begini malah terlihat cool sekaligus menggemaskan di matanya. Kay sama sekali tidak menyesal karena suka pada Karim sejak kecil. "Nih, buat Kakak!" katanya sambil meletakkan sebuah kotak makan berwarna biru laut dan sebotol air mineral ke atas meja Karim. Tapi Karim tidak bergerak sama sekali, menoleh pun tidak. Khaylila tersenyum saat menyadari Karim ternyata menutup matanya. Seperti terhanyut dalam lagu yang didengarnya, makanya dia tidak menyahutinya. Kay sedikit memiringkan kepala ke atas meja agar bisa melihat wajah Karim baik-baik. Belum begitu lama Kay menikmati wajah ganteng di depannya saat si pemilik tiba-tiba membuka matanya. Karim refleks melempar badannya ke belakang karena kaget ditatap oleh Khaylila yang tersenyum genit di depannya. Tatapannya berubah tajam, seusai menarik earphonenya dengan kasar. "Ngapain sih, lo?!" tanyanya sebal. Khaylila nyengir sambil menegakkan badannya. "Cuma mandangin calon suami aku yang makin hari makin ganteng aja," jawab Kay dengan suka cita. Karim melotot ngeri, sementara Kay malah mengedipkan matanya lucu. Cewek itu lalu menyodorkan makanan yang dibawanya ke depan Karim. "Di makan ya, Kak. Uang saku kakak disimpen aja buat beli rumah masa depan kita." Setelah itu Khaylila segera beranjak keluar kelas sebelum Karim sempat menolak seperti biasanya. Karim memijit-mijit kepalanya, frustasi. Satu hal yang ada di kepalanya saat ini: kapan Kay akan tobat dan berhenti mengerjar-ngejarnya?! Siapa yang tidak ngeri kalau dikejar-kejar sama cewek yang ganjen amit-amit kayak si Kay? Dari kecil lagi! Padahal selama ini Karim sudah bersikap judes, bahkan mengabaikan Kay, tapi cewek itu masih saja menempel padanya. Belum lagi Kay yang suka ngomong ngaco. Cewek itu selalu saja mengaku-aku kalau Karim pernah berjanji untuk menikahi dia. Padahal, TIDAK PERNAH!!! Hiii... jangankan untuk menikah dengan Kay, meliatnya saja sudah membuatnya jantungan saking kesalnya. Sialnya, selain bersekolah di tempat yang sama, mereka juga bertetangga. Jadi, segigih apapun Karim menghindar di sekolah, Kay tetap bisa datang ke rumah dan mengganggu pemandangannya. Akhirnya, saat masuk SMA, Karim memohon-mohon ke orang tuanya agar dibolehkan tinggal di rumah Oom Gandhi—adik mamanya, dengan alasan, rumah Oomnya lebih dekat dengan sekolah, jadi bisa menghemat uang saku. Padahal motif utamanya adalah agar dia bisa menghindari Kay! Karim menghela napas berat sambil memandangi bekal di depannya tanpa minat. Aslinya dia males banget buat makan bekal yang dibawa Khaylila. Tapi daripada mubadzir, Karim akhirnya menyantap juga bekal itu. *** Karim memang menggemaskan! Cowok itu masih aja sok malu-malu menerima bekal yang Kay buat khusus untuknya. Selalu pura-pura menolak tapi pada akhirnya dimakan juga. Khaylila menarik kepalanya dari ambang pintu kelas karim, lalu berjalan ke kelasnya sambil terkekeh geli. Di tengah perjalan menuju kelas, langkahnya terhenti saat melihat Agas berjalan cepat ke arahnya. Tampangnya yang biasa cool berubah suram. Khaylila sempat berpikir Agas mau menghampiri seseorang di belakangnya sebelum cowok itu berhenti di depannya. "Ikut gue ke atap!" perintahnya singkat lalu kembali melanjutkan jalannya. Khaylila baru mau tanya ada perlu apa, tapi Agas keburu menaiki tangga. Khaylila mendesah lalu berjalan menyusul Agas. Kalau dilihat dari tampang masamnya, Khaylila bisa menebak kalau ada sesuatu yang tidak beres. Tapi dia tidak tahu ada apa? "Kenapa, Kak?" tanyanya begitu sampai di atap. Dia berdiri di belakang Agas yang memunggunginya sambil berkacak pinggang. Cowok itu lalu memutar badannya dan menatap gusar ke arah Kay. "Kenapa nama lo bisa ada di buku poin?" Kay kaget. Dia lalu mengumpat si Tiki dalam hati. Cewek itu memang beneran perlu dijitak. Kay kemarin sudah menjelaskan ke Tiki kalau dia cuma akting di depan Karim, tapi namanya masih saja dicatat. Tangan Kay sudah mengepal karena gemas dengan Tiki yang tidak bisa diajak kompromi, dan sekarang dia yang kena batunya harus berhadapan dengan Agas. "Itu... kemaren tuh salah paham aja, Kak," bantah Kay lalu nyengir. Agas menyilangkan tangan ke depan d**a. Tatapannya berubah serius dan sangat ingin tahu. "Salah paham gimana?" "Mm...." Khaylila garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Sekali lagi dia nyengir. "Jadi kemaren itu... aku... aduh, gimana ya?" "Lo musti dapet hukuman!" sambar Agas. Kay yang masih kebingungan untuk menjelaskan kesalah pahaman kemarin pagi, sontak menoleh kaget pada Agas. "Kak, aku tuh nggak salah apa-apa lho... masa mau dihukum?" protesnya tak terima. Ya siapa sih yang terima buat dihukum kalau sebenarnya tidak salah? "Lagian yang kemaren tuh cuma salah paham!" "Makanya jelasin ke gue! Salah paham gimana?!" Agas setengah membentak. "Lo itu anak ketertiban, Kay. Apa pantes anak ketertiban dapet poin?" "Aku juga manusia kali, Kak! Bisa salah juga!" Kay menatap Agas kesal. "Tapi aku kemaren tuh cuma mau bantuin kak Karim. Dia harusnya belum telat tapi gara-gara kakak yang semena-mena nyuruh nutup gerbang lebih cepet, nama kak Karim mau dimasukin buku poin sama si Tiki. Si anak buah kesayangan kakak itu!" Agas terdengar menghela napas. Dia lalu menatap Khaylila yang ngos-ngosan cukup lama. "Tapi lo tetep harus gue hukum." Khaylila menatapnya nggak terima. "Kak, aku kan udah bilang, itu salah paham." "Tapi nama lo tetep ada di buku poin, Kay!" Kkaylila tidak membantah lagi, namun tatapannya begitu sebal pada Agas. "Terus aku harus ngapain?" Agas memasukkan kedua tangannya ke saku ke celana, lalu untuk beberapa saat, dia hanya memandangi Khaylila tanpa mengatakan apapun. Hal itu lama-lama membuat Khaylila bersedekap lalu mendengus malas. Tepat setelahnya, kedua sudut bibir Agas terangkat hingga membentuk sebuah senyuman yang terkesan licik di mata Khaylila. Melihat gelagat Agas, Khaylila merasa akan ada hal buruk yang terjadi. "Pijitin gue." Khaylila spontan memijit kepalanya yang medadak terasa berputar-putar. Dia sangat berharap bel masuk segera berdering. *** "Kencengan dikit dong, Kay!" seru Agas sambil menengok ke belakang. Tak lama kemudian, pijitan di bahunya terasa lebih kuat. Dia tersenyum lebar lalu kembali memejamkan mata. "Pokoknya habis ini kak Agas mesti traktir aku," kata Khaylila sambil manyun. Agas terkekeh sambil menepuk-nepuk tangannya beberapa kali sebelum berkata, "Udah deh, lo selesein dulu hukuman lo ini. Pijit yang bener, nanti gue traktir." Khaylila menghentikan pijitannya dan memiringkan badannya agar bisa melihat Agas. "Beneran ya, Kak? Aku pegang nih janji kak Agas!" Agas membuka matanya dan langsung menjitak kepala Khaylila. Cewek itu kembali menegakkan badannya, lalu mengusap kepalanya yang kena jitak sambil bersungut-sungut. "Sakit nih!" semprot Khaylila sambil menatap Agas galak. "Siapa yang nyuruh lo berenti mijit?" omel Agas. "Lanjutin!" "Ish! Ngeselin banget sih!" "Berisik!" Agas mendelikkan matanya kemudian menunjuk-nunjuk bahunya agar Khaylila kembali memijitnya. "Buruan!" Khaylila yang gemas, mendelikkan matanya sambil mengepalkan tangannya di belakang kepala Agas, seolah-olah akan meninju kepala cowok itu. "Kay, buruan... atau lo mau mijitin gue tiap hari?" sahut Agas seolah tahu apa yang dilakukan Khaylila di belakangnya. Ancaman Agas barusan berhasil membuat Khaylila mengerucutkan bibirnya lalu dengan ogah-ogahan kembali mendaratkan tangannya ke bahu Agas. Dia pun kembali memijit Agas, meski secara asal-asalan. Sesekali dia hanya memukul-mukul bahu Agas dengan kepalan tangannya, membuat Agas tersenyum geli sambil masih memejamkan matanya. "Kak...?" panggil Khaylila setelah hening yang cukup lama. Dia masih memijit bahu Agas dengan asal, kali ini hanya dengan menggunakan ujung telunjuknya. "Hm...?" sahut Agas setengah sadar. Pijitan Khaylila yang asal itu rupanya terlalu nyaman hingga membuatnya hampir tertidur. "Cari pacar gih!" Mata Agas langsung terbuka lebar, kaget dengan ucapan ngaco Khaylila barusan. "Ngapain juga lo nyuruh-nyuruh gue nyari pacar?" "Biar ada yang bisa mijitin kakak tiap hari." kata Khaylila. "Biar kakak tuh nggak perlu repot-repot nyari alesan biar aku bisa mijit kakak." Agas mengerutkan kening. "Alesan apaan?" Khaylila mencibir. "Emangnya aku nggak tau kalo kakak manfaatin kesalahan aku biar bisa dapet pijet gratis? Capek tau, mijitin kak Agas mulu." Agas hampir nyengir tapi sekuat tenaga dia tahan. Memang benar apa yang dituduhkan Khaylila barusan. Agas memang sangat senang mengusili Khaylila dengan memperdayanya disaat dia berbuat salah, tapi belum saatnya mengakui keusilannya pada cewek polos di depannya ini. "Berisik, baru mijit sekali ini, juga." Satu pukulan melayang ke punggung Agas dengan cukup keras, membuat cowok itu menoleh sambil melotot pada Khaylila. "Sakit woy!" "Salah sendiri ngomongnya ngaco. Kata siapa aku baru mijit kak Agas sekali? Udah terlalu sering tau... itu juga gara-gara kak Agas suka semena-mena sama aku." Agas diam sejenak mengamati Khaylila yang menatapnya judes. Anak itu malah terlihat lucu dengan mata bulatnya yang melebar sempurna. Agas mau tak mau tersenyum geli dan lama-lama menjadi tawa ringan. Tangannya lalu terulur mengacak rambut Khaylila tanpa ampun. "Kay... Kay... polos banget sih...." "Hiiish!" desis Khaylila kencang sambil menyingirkan tangan besar Agas dari kepalanya. Dia paling sebal kalau rambutnya di acak-acak. Dipukulnya lengan Agas dengan s***s sebelum menyisir rambut sebahunya dengan tangan. Dia segera mendelik begitu Agas menatapnya sambil tersenyum geli. "Besok pijitin gue lagi ya, Kay?" Khaylila segera mengelurkan ekspresi enggannya dengan berlebihan. "Dih, ogah!" Agas tertawa dibuatnya. "Gue udah minta terang-terangan, lho." "Terus, dikira aku bakalan mau gitu?" Khaylila memalingkan muka secara dramatis. "Sori, aku nggak sudi." Memang dia pikir aku ini tukang pijit apa? pikir Khaylila dalam hati. Melihat reaksi Khaylila yang berlebihan, Agas terkekeh. Cewek itu memang selalu bisa membuat hatinya menghangat dengan tingkah anehnya. Itulah kenapa Agas sering mengusilinya, karena dia ingin selalu dekat dengan Khaylila dan mendapatkan perhatiannya. Agas sedang mengamati Khaylila yang meliriknya sambil bersungut-sungut saat usul Khaylila tentang 'cari pacar' tadi, terlintas di kepalanya. Agas mendadak tertarik untuk mengabulkan usul itu. "Tadi lo nyuruh gue cari pacar, kan?" Dengan cepat, Khaylila menoleh penuh minat pada Agas. Dia lalu mengangguk terlampau mantap, hingga lehernya sedikit berderak nyaring. "Iya. kalo bisa, secepatnya, Kak." Agas manggut-manggut lalu membawa matanya ke langit lepas. "Hm... banyak sih cewek yang ngejar-ngejar gue." Khaylila mengangguk-angguk penuh semangat. "Kakak bisa tuh coba PDKT sama mereka, kali aja ada yang cocok," bujuknya. Dia lalu ikut mengedarkan pandangannya ke langit sambil tersenyum-senyum girang. Semoga saja Agas benar-benar cepat mendapatkan pacar. Karena kalau itu terjadi, artinya penderitaannya selama ini akan segera berakhir. Matanya berbinar-binar bahagia ketika kembali memandang Agas. Apa dia perlu membantu untuk menyeleksi calon pacar untuk Agas? Oh, dia sangat siap jika nanti Agas meminta bantuannya. "Terus gimana, Kak? Butuh bantuan buat seleksi calon pacar?" tawarnya begitu percaya diri sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Agas menatap Khaylila lalu menggeleng pelan. "Nggak perlu," jawabnya. Cowok itu lalu kembali diam sambil menatap mata Khaylila lurus-lurus. "Karena gue mau lo jadi pacar gue." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD