love the choirâĄ
Aku dan Bian sudah berteman sejak masih kelas dua SMP. Saat itu sama sekali tidak ada bayangan bahwa hubungan kami akan berlanjut ke tahap sekarang ini. Yah, namanya juga masih bau kencur. Apa sih yang dipikirin anak umur tiga belas tahun waktu itu??
Aku masih ingat betul bagaimana Bian menembakku. Itu pertama kalinya bagiku. Saat itu kami duduk dikelas 3 SMP. Kira-kira di akhir Cawu I, di sekolah kami diadakan sebuah pentas seni. Tahu kan yang namanya pentas seni ramainya minta ampun. Dan selama tiga hari, di sekolah kami tidak ada kegiatan belajar mengajar. Yang ada cuma ngeband, jingkrak-jingkrak, dan jerit-jerit ngga karuan. Bagiku, yang waktu itu benar-benar tipe anak bibliomania, acara macam begitu sama sekali tidak menarik perhatianku. Aku lebih suka menghabiskan waktu-waktu kosong bersama gerombolanku di dalam kelas sambil membahas soal-soal trigonometri.
Waktu aku SMP dulu, aku ini benar-benar ndeso habis. Bayangkan saja, selama tiga tahun lagu barat yang kutahu cuma lagu I Have A Dream-nya Westlife. Ngga ada yang kupikirkan selain belajar dan belajar. Bagiku, pujian dan penghargaan yang diberikan guru dan teman-teman itu adalah segala-galanya. "Gila, Tari pinter banget! Aljabar kan susah banget!". Adalah kalimat yang sudah jadi makananku setiap hari. Aku sampai ti dak ada waktu untuk ngegebet cowok, pakai lipgloss, atau jalan-jalan ke mall seperti yang kebanyakan anak cewek di kelasku lakukan setiap hari. Sama sekali ngga pernah.
Lalu Bian sendiri? Wah, dia itu cowok yang pintar dan receh banget! Entah bagaimana caranya, ia tidak perlu bersusah payah mendapat ranking satu untuk bisa menarik perhatian guru dan teman-teman sekelas. Yang jelas, kepribadian kami bagai bumi dan matahari.
Kami sekelas saat masih dikelas dua. Tapi begitu dikelas tiga, kelas kami berpisah. Tapi meski begitu, kelas kami masih bersebelahan. Jadi, hanya dari dalam saja, aku sudah bisa mendengar jeritan dan ketawanya yang nggak karuan setiap jam istirahat. Kuakui, saat masih kelas dua hubungan kami terbilang akrab. Kami sering bekerja dalam satu kelompok tugas. Dan Bian sering sekali membantuku saat olahraga (terutama kalau tes lompat tinggi, dimana aku SERING sekali NYANGKUT di papan lompat). Dan karena dirinya yang begitu terbuka dan bersahabat, hampir tak ada bagian dari sekolah kami yang tidak kenal namanya. Termasuk aku, yang saat itu menganggapnya sebagai teman laki-laki terhebat yang pernah kumiliki.
Lalu semua itu berubah, saat pentas seni (pensi) hari kedua. Di sekolahku ada ekstrakurikuler paduan suara. Dan paduan suara SMP kami saat itu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba di bandung. Tapi karena kekurangan dana, mereka melakukan semacam "ngamen" dengan tampil di atas panggung pensi dan menyanyikan lagu apapun yang diminta penonton dengan imbalan uang. Saat giliran mereka naik panggung, aku sedang duduk di kursi penonton (saat itu aku di seret-seret temanku yang begitu inginnya menonton paduan suara). Awalnya paduan suara itu menyanyikan lagu-lagu pop biasa, lalu saat memasuki lagu ketiga , sang dirijen itu berhenti dan membalikan tubuhnya kearah penonton.
"Bapak-ibu Guru dan teman-temanku sekalian," kata Ria, sang dirijen. "Sekarang kami akan menyanyikan sebuah lagu yang khusus dipesan oleh seseorang. Lagu ini khusus dipersembahkan olehnya untuk seorang perempuan yang sudah disukainya selama hampir setahun!!" Lautan tepuk tangan dan sorak yang kurasa hampir meledakkan telingaku bergempita dimana-mana. Seluruh murid mendadak berkumpul du tengah lapangan.
"Oke, oke!! Tenang, para hadirin," ujar Ria dengan cengar cengir nggak karuan di atas panggung. " Dia bilang, cewek yang ditaksirnya suka banget lagu ini. Dan demi lagu ini, dia membayar kami dengan semua uang sakunya bulan ini!!!" Ramai lagi. Benar-benar kalah sama suara bom kuningan.
Kemudian Ria berbalik dan menjentikkan tangannya kembali. Suasana mendadak sepi, seakan ingin mendengarkam apa yang bakal paduan suara itu nyanyikan. Lalu kekagetan besar benar-benar menimpaku semenit kemudian. Bukan karena paduan suara itu menyanyikan lagu I Have A Dream-nya Westlife, bukan karena beberapa murid sekelasku kini melirik dengan mata sebesar bola golf ke arahku, bukan juga karena paduan suara di panggung itu, dan juga seisi sekolah, kini melirik ke arah seorang cowok yang memiliki rambut sebahu yang sedang berjalan ke tengah lapangan. Bukan itu!!
Tapi karena si cowok itu kini melirikku dan berjalan kearahku.
Ya. Bian mendatangi AKU!!!!!!!!!!!!
Saat paduan suara itu berhenti bernyanyi, dan seisi sekolah termasuk para guru melirik padaku, dan teman-teman se -geng- ku menatap Bian seakan dia makhluk asing yang baru mendarat di bumi, Lalu Bian menarik tanganku agar aku ikut berdiri bersamanya. Saat itu, saking kagetnya, di kepalaku sama sekali tidak terpikir apapun. Jadi aku ikuti saja apa yang Bian mau. Lalu, dengan sebuah microphone di tangan kanannya, Bian menatapku dan berkata,
"Tari, gue suka sama lo. Lo mau ga jadi pacar gue?" Semua siswa yang berada disana menjerit sehingga kurasa kupingku akan pecah. Semua guru berdiri, mendelik kearahku, dan ikutbertepuk tangan seakan-akan kami ini sedang main drama. Sementara aku? Wah, wajahku sudah nggak karuan. Mungkin sudah semerah darah, atau bahkan seungu terong. Yang jelas, kejadian itu benar-benar membuatku malu. Dan sedikit terharu, mungkin.
Tentu saja . Aku ini sama sekali nggak ada cakep-cakepnya. Malah, kalau boleh jujur nih, waktu itu aku ini GENDUT BANGET. Sama sekali nggak ada potongan covergirl-nya sama sekali deh. Tapi kenapa, Bian, cowok asyik yang meski tampangnya nggak ada coverboy-nya sama sekali, bisa suka denganku yang begini? Sampai harus mengorbankan uang sakunya demiku?
Itu aneh sekali, Tapi romantis.
Tapi dasar diriku. Harga diri ranking satu-ku tetaplah segala-galanya. Aku tidak mau pacaran karena akan mengganggu nilai-nilaiku. Aku tak mau para guru akan menganggap bahwa aku ini sama dengan anak-anak lain. Aku mau mereka tetap menganggap diriku ini adalah murid teladan dan bisa dibanggakan oleh mereka. Dan itulah yang berada di pikiranku sejenak. Jadi, seharusnya aku mengatakan "tidak" pada Bian. Ya, aku harus menolaknya. Lalu kutatap kedua mata besarnya yang entah kenapa terasa memikat untuk sesaat. Kutarik nafasku dalam-dalam dan kuraih microphone ditangannya dan berkata,
"Tentu saja mau!! Kok masih nanya, sih??"
Lalu seisi sekolah menjerit riuh dan mengelu-elukan nama kami. Bian mencium pipiku sebagai tanda sayang. Aku benar-benar tidak tahu mengapa yang kukatakan justru berbeda dengan apa yang ku pikirkan. Tapi begitu Bian mengecup pipiku rasanya semua kekecewaan itu segera lenyap seperti angin.
Saat itulah aku menyadari bahwa saat aku berpikir tadi itulah saat di mana aku sedang berbohong. Tapi hatiku ternyata tidak bisa melakukan itu. Dan setelah kukatakan penerimaan itulah, hatiku menjerit begini,
" Ya ampun, ini dia cowok yang tuhan kirimkan untukku."
Kami berpacaran sejak saat itu. Dan hubungan kami telah berlangsung sampai saat ini. Dan selama tiga tahun ini, Bian sudah membuat hari-hariku terasa berwarna melebihi warna pelangi. Ah, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi andaikan saat itu aku mengatakan "tidak" padanya.