Sang Penolong

1676 Words
Gui Lin adalah kota kota besar yang sangat strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional. Itulah kenapa kota ini berkembang sangat pesat dan modern. Gui Lin juga disebut Heart of the Heaven City, karena terkenal dengan keindahan alam terutama pantai dan gunungnya. Hua Chang tengah menikmati keindahan pantai di tanah kelahirannya itu. Entah mengapa sedari kecil dia sangat menyukai laut. Mungkin karena sedari kecil ibunya sering mengajaknya pergi ke pantai. Hua Chang ingat betul ibunya sangat menyukai laut. Dulu ibunya sering bercerita, ibunya dulu pernah tinggal di rumah desa sederhana yang langsung menghadap ke laut lepas. Bagi sang ibu, itu adalah keindahan yang tiada tara. Sampai ia bertemu sang ayah lalu menikah dan mengajaknya pindah ke kota. Hembusan angin laut yang cukup kencang memainkan rambut indah Hua Chang. Memandang laut lepas memberikan kesenangan tersendiri bagi Hua Chang. Hua Chang menghela nafas panjang. Hari ini hari Minggu, keluarga ayahnya sedang ada urusan bisnis katanya, jadi Hua Chang bebas keluar hari ini. Bayangan ketika Hua Chang bersama ibunya melintas di benaknya. Dulu, ketika ibunya masih hidup mereka selalu menghabiskan waktu di pantai. Hua Chang kecil sangat bahagia memiliki orang tua yang sangat disayanginya. Namun semua kebahagiaan itu terenggut setelah ibunya meninggal dan dinyatakan hilang. Setelah kematian ibunya, tiba-tiba sang ayah membawa istri baru beserta anaknya. Sejak saat itu pula penderitaan dan siksaan selalu Hua Chang terima. Ayah yang dulu selalu penuh kasih berubah drastis. Dia menjadi begitu kejam layaknya Hua Chang adalah anak pungut. Apalagi sebelum kematiannya ibu Hua Chang telah membuat surat wasiat, yang menyatakan semua kekayaan milik sang ibu diwariskan padanya. Semua kekayaan itu akan jatuh ke tangannya setelah usianya 22 tahun. Karena itulah kini ayah dan ibu tirinya menjadi gelap mata dan sering melakukan kekerasan padanya bahkan tidak segan untuk menyiksanya tanpa ampun. Semuanya semata-mata agar Hua Chang mau mengalihkan semua hartanya pada sepasang orang tua yang tidak tahu diri itu. Hua Chang menghela nafas berat. "Sudahlah, jangan terlalu memikirkan beban hidup disini. Aku kesini kan untuk bersenang-senang. Ayo bahagiakan dirimu sendiri, Hua Chang." batinnya menyelamati diri sendiri. Mata hazelnya terus memandang keindahan dunia yang begitu memanjakan mata, birunya samudra bagaikan selimut biru yang tiada ujung. Lalu mata indahnya mengamati para nelayan mulai merapat ke pantai. "Tangkapan kita semakin hari semakin sedikit saja." Keluh salah satu nelayan yang masih jelas terdengar di indera pendengaran Hua Chang. "Iya benar, ikan semakin langka saja." Sahut nelayan yang lain. "Aku perhatikan, terumbu-terumbu karang juga banyak yang mati. Laut rupanya sedang sekarat." "Hush! Jaga bicaramu. Jika laut sekarat kita mau menggantungkan hidup kemana?" Para nelayan itu masih terus mengoceh hingga hilang dari pandangan Hua Chang. Hua Chang tertegun, otaknya memikirkan apa yang dikatakan para nelayan itu. Kemudian ia memandang lautan yang menghampar biru di depannya. Wahai samudera, apa kau sedang sakit? Sedangkan di bibir pantai sisi yang lain, Xiao Xin dan Wan Mei sedang asyik menikmati pantai sambil bercengkrama. Mata awas Xiao Xin menangkap pemandangan yang tidak biasa. Meskipun sedikit tidak jelas, ia hafal betul siapa wanita yang tengah asyik memandang laut. "Hei lihat, bukankah itu si gadis aneh?" Bisik Xiao Xin. Mereka juga sedang berlibur di akhir pekan dan kebetulan melihat Hua Chang yang sedang asyik duduk disebuah bangku dibawah pohon Terminalia. "Siapa?" tanya Wan Mei. "Siapa lagi." Xiao Xin menunjukkan dengan dagunya. Mata Wan Mei memicing, sontak langsung memahaminya. "Apa yang sedang dilakukan gadis bodoh itu disini? Tumben sekali. Atau jangan-jangan dia sengaja menyelinap keluar." ucap Wan Mei menggumam sendiri. "Entahlah, aku pikir dia terlalu meremehkan Na Lin." Xiao Xin langsung mengambil ponsel di sakunya tak berselang lama panggilan pun tersambung. "Ada apa Xiao Xin, aku sedang sibuk. Jangan menggangguku." Ucap Na Lin kesal di seberang telpon. "Jangan marah dulu, ada yang ingin kami tunjukan padamu. Cepat nyalakan kameranya." Perintah Xiao Xin yang membuat Na Lin semakin bertambah kesal. Ia mendecih lalu menyalakan kamera ponselnya. "Sedang dimana kalian? Kenapa berisik sekali?" Tanya Na Lin karena mendengar suara gemuruh dari sesuatu. "Kami sedang ada di pantai Haitang, kau dimana?" Tanya Wan Mei antusias. "Aku sedang berkencan romantis dengan pacarku. Sampai kalian mengacaukannya." "Waaa, apa kau bersama si tampan?" Tambah Wan Mei. Na Lin terlihat jengah dan memutar bola matanya."Tentu saja, jika kau hanya ingin menanyakan itu aku akan mematikan ponselnya." "Tunggu, tunggu Lin...aku punya sesuatu yang pasti akan membuatmu senang." Kata Wan Mei yang membuat Na Lin menjadi penasaran. Terlihat dari sebelum alisnya yang terangkat. "Jika kau hanya ingin menggangguku, lupakan saja." "Lihat. Apa kau sengaja melepaskan anjing piaraanmu, Na Lin? Sehingga ia bisa menyelinap ke pantai." Tanya Wan Mei. Di perhatikan dengan seksama siapa wanita yang kedua sahabatnya tunjukan dari layar ponsel. "Si gadis aneh???" Na Lin sedikit tidak percaya pada penglihatannya. Terlihat Hua Chang sedang termenung dibawah pohon. "Beraninya dia pergi keluar rumah tanpa seijinku." Geram Na Lin. "Kita apakan dia?" Tanya Xiao Xin. "Telanjangi dia di tempat umum, lalu rekam dan unggah ke sosial media. Permalukan dia, buat dia jera seumur hidupnya." ucap Na Lin dengan nada penuh amarah. "Baiklah." Xiao Xin lalu menutup telponnya. "Sepertinya kita akan bersenang-senang hari ini." Tambah Xiao Xin. Kemudian mereka berdua menghampiri Hua Chang. "Hai gadis miskin." ucap mereka berbarengan. Hua Chang terperanjat, tidak menyangka akan bertemu dengan kedua teman adiknya di pantai ini. Hua Chang berlalu menjauhi mereka. Tapi Xiao Xin dan Wan Mei memegangi kedua tangannya. "Mau apa kalian? Lepaskan aku!" Hua Chang berusaha berontak. Namun cengkeraman Wan Mei lebih kuat dan badannya lebih berisi darinya. Sementara Xiao Xin menyalakan aplikasi video untuk merekamnya. "Wah wah, berani sekali kau menyelinap keluar disaat majikanmu tidak ada, anjing kecil. Apa kau sudah bosan hidup, hah?" Ucap Xiao Xin sambil merekam dan mencengkeram pipi Hua Chang. Mereka tertawa begitu puas melihat kepanikan Hua Chang. Xiao Xin berusaha melepaskan kancing baru Hua Chang. Hua Chang semakin panik, berusaha melawan sekuat tenaga. Kakinya menendang Wan Mei dan Xiao Xin membuat kedua gadis itu mengaduh. Kedua gadis itu naik pitam. Sekuat tenaga Wan Mei memegang kedua lengan Hua Chang ke belakang. Sementara, Xiao Xin berusaha menarik kemeja Hua Chang. Kemeja Hua Chang sobek di bagian d**a. Dia menjerit histeris. Dia tak kuasa menerima penghinaan ini, air matanya jatuh berlinang. "Kalian keterlaluan, lepaskan aku!" lalu Hua Chang menggigit tangan Wan Mei. Wan Mei pun berteriak kesakitan. "Dasar wanita jalang. Beraninya kau!" Wan Mei menampar wajah Hua Chang hingga berdarah. Lalu mendorongnya ke pasir dan menendangnya tanpa ampun hingga gadis itu terkapar tidak berdaya. Hua Chang hanya bisa menangis dan pasrah ketika teman-teman Na Lin berusaha membuka pakaiannya dan membuat video. Orang-orang yang lalu lalang hanya memperhatikan kejadian itu tanpa mau melerai. Malah ada yang asyik ikut merekam videonya. "Hentikan!" Teriak seorang pria dengan suara lantang. Semua orang menoleh ke asal suara. Terlihat seorang pria mengenakan pakaian hoodie berwarna hitam dengan tudung di kepalanya. Tidak ketinggalan ia juga mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Sorot mata yang tajam setajam mata elang membuat semua orang gemetar. Siapa orang di hadapan mereka ini sehingga membuat suasana seketika membeku. Aura pria ini begitu kuat yang menakutkan. "Jangan ikut campur urusanku." teriak Xiao Xin. "Apa kau tahu, kelakuanmu itu sangat rendahan?" Sinis pria itu. "Siapa kau? Berani sekali kau mengatakan aku rendahan. APA KAU TIDAK TAHU SIAPA AKU?" teriak Xiao Xin yang naik pitam. Pria itu tersenyum dari balik maskernya. "Siapa yang tidak mengenal Nona dari keluarga Lu, gadis kesayangan Presdir Lu yang selalu ia banggakan." Pria itu berjalan mendekati Xiao Xin dan berhenti di hadapannya. "Tapi apa seperti kelakuan putri kesayangannya yang terhormat itu? Benar-benar sangat memalukan." Kata pria itu sinis. Mata Xiao Xin membola dengan kagetnya. "Siapa kau sebenarnya?" "Kau tidak perlu tahu siapa aku. Gadis rendahan yang tidak punya hati nurani sepertimu tidak layak mengetahuinya." Lalu pria itu berjongkok di hadapan Hua Chang lalu menarik selembar kain yang tergeletak tak jauh darinya lalu menutupi tubuh si gadis malang. Tatapan mereka bertemu. Iris mata hitam legam yang penuh kemisteriusan bertemu dengan mata hazel yang dipenuhi linangan air mata meminta pertolongan. Ditatapnya netra legam itu penuh iba. Si pria misterius pun dapat membaca jelas apa yang dikatakan Hua Chang melalui sorot matanya. Pria itu mengalihkan pandangannya pada kedua gadis yang masih terpaku dengan semua pemikiran dibenak mereka. "Tinggalkan gadis ini, maka aku akan melepaskan kalian!" Sepertinya perintah yang mutlak. Sorot matanya begitu mengintimidasi membuat semua orang yang melihat kejadian itu merinding dan mundur beberapa langkah ke belakang. "Kau mengancam kami?" "Ini bukan hanya sekedar ancaman, tapi ini juga peringatan. Jangan mengganggu gadis ini lagi, jika kau tidak ingin kehilangan semua mimpi indahmu itu." Pria itu lalu menggendong Hua Chang ala pengantin, meninggalkan kerumunan yang mengelilingi mereka dan membawanya pergi. Kasak kusuk pun mulai terjadi. Siapa sekiranya orang misterius itu. Aura mempesona yang dibalut dengan kemisteriusan menguar membuat mereka bergidik ngeri. Seperti aura seorang mafia. Sesaat setelah pria misterius itu pergi, suasana kembali seperti semula. "Xiao Xin, apa kau mengenal pria itu?" Tanya Wan Mei gemetar sekaligus takut. "Tidak. Aku rasa dia salah satu saingan bisnis Ayah." Mata Xiao Xin masih memperhatikan punggung pria itu dari kejauhan. "Auranya begitu mengerikan. Semoga saja aku tidak bertemu lagi dengannya." Wan Mei menutup kedua telinganya tidak jelas. Xiao Xin masih penasaran. Siapa pria itu??? *** Pria itu membawanya ke bawah pohon besar dan mendudukkannya di atas batu. Hua Chang mengusap wajahnya yang basah dan penuh dengan pasir pantai. Sebagian bajunya sobek dan memperlihatkan bagian dadanya yang tersamarkan oleh selembar kain. Ingin dia menjerit, menangis, meratapi nasibnya. Namun ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya di tempat umum. Tuhan kenapa nasibku seperti ini. Melihat wanita dihadapannya terisak, pria itu mundur perlahan. Dia ingin memberikan gadis itu ruang untuk meluapkan emosinya. Kejadian yang ia alami hari ini tidaklah mudah. Ditelanjangi di depan umum sangatlah menyakitkan dan melukai harga dirinya. Pria itu berbalik tanpa mengucapkan sepatah katapun berniat meninggalkan Hua Chang. Tapi sebuah tangan mungil nan dingin menahan tangannya. "Terima kasih." Ucapnya begitu lirih. Air mata Hua Chang jatuh beriringan dengan terpaan angin laut. Diperhatikan lagi sorot mata misterius itu. Mata pria itu seperti menyimpan sesuatu. Tak lama kemudian pria itu melepaskan genggaman tangan Hua Chang tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia berlalu begitu saja. Pria yang aneh. Batin Hua Chang. Tapi setidaknya ada seseorang yang menyelamatkannya hari ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD