Hari mulai berlalu, sang surya pun mulai terbenam diperaduannya. Langit dihiasi warna jingga yang begitu indah. Tapi keindahan alam sangat berbeda jauh dengan nasib Hua Chang yang berbanding terbalik indahnya sunset hari ini.
Ia berjalan tertatih, karena luka yang menganga cukup besar di lutut kanannya.
Ia berjalan menuju toilet terdekat untuk membersihkan luka itu. Wajahnya meringis menahan perih saat air menyentuh luka-luka ditubuhnya.
Rasanya benci dan dendam memenuhi relung hatinya saat ia melihat pantulan wajahnya di cermin.
Rasa kecewa akan hidupnya yang tidak beruntung juga ikut merayap ke dalam hatinya. Ditatapnya wajah pucat itu di dalam cermin. Wajahnya sama sekali tidak menggambarkan gairah hidup.
Wajah penuh tekanan. Tubuhnya yang kurus menggambarkan penderitaan selama hidupnya. Hua Chang benci hidupnya yang lemah. Tapi apalah daya, ia tidak mampu berbuat apa-apa.
Hua Chang mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Kemudian ia berjalan tertatih ke luar.
Hari mulai beranjak senja, jika ia pulang ke rumah dia pasti akan mengalami kekerasan lagi. Hua Chang menghela nafas kasar.
Apa sebaiknya aku menginap dirumah Hao Yu saja?
Hua Chang mengambil ponselnya dari dalam saku. Lalu mencari kontak Hao Yu disana. Bunyi berdering terdengar, namun panggilannya tidak terjawab. Hua Chang mengulanginya beberapa kali, tapi hasilnya nihil.
Hua Chang berdecak kesal. "Kemana Hao Yu?" Pikirnya.
Hua Chang jadi bimbang. Apa yang harus dia lakukan? Jika dia pulang kerumahnya sudah dapat dipastikan dia akan disiksa lebih tidak manusiawi lagi. Membayangkannya saja ia sudah bergidik ngeri.
"Sebaiknya aku menginap di rumah Tian Zu saja."
Kemudian kakinya melangkah menuju halte yang tidak jauh dari pantai.
Hari beranjak malam tapi tidak ada satupun bus yang beroperasi. Jalanan mulai sepi, biasanya kendaraan lalu lalang tapi saat ini jalanan seperti kuburan saja.
Hua Chang mulai gelisah. Pasalnya tidak ada satu manusia pun di tempat ini, halte yang sudah reyot dan hanya diterangi lampu yang sudah cukup tua.
Bagaimana jika ada seseorang yang menculik dan membunuhnya. Lalu membuang tubuhnya ke laut. Hua Chang bergidik ngeri memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi. Meskipun itu semua terjadi, tidak akan seorang yang akan menangisi kematiannya. Bahkan ayahnya sendiri.
Hua Chang berdiri dari halte, melangkah beberapa langkah menjauh dari halte. Kepala serasa akan terbalik karena terlalu lama menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kendaraan yang lewat.
Tiba-tiba ia seperti mendengar suara langkah kaki. Hua Chang mulai gusar. Tubuhnya mulai gemetar. Keringat dingin pun membasahi keningnya. Dia pun mulai mempercepat langkah kakinya. Tanpa memperhatikan arah belakang Hua berlari sekuat tenaga.
Dia berlari dan terus berlari. Nafasnya tersengal seperti ada bongkahan batu yang mengganjal saluran pernafasannya. Sampai ia melihat sorot lampu sepeda motor dari kejauhan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat empat orang pria mengenakan jas hitam tengah memukuli seorang pemuda.
Hua Chang berlari, dan berteriak dengan kencang.
"Hei, hentikan!"
Pria berjas hitam pun menghentikan aksinya. Mereka menoleh serempak. Merasa ada saksi yang melihat kejadian ini, salah satu dari mereka mendekat ke arah Hua Chang.
"Wah, ternyata kau membawa bingkisan kecil rupanya." Pria berjas hitam ini tersenyum mengejek.
"Bukankah dia terlalu kecil, dia tidak akan bisa memuaskan kami." Tambahnya lagi.
Pemuda yang dipukulinya masih terkapar diatas tanah dengan luka di lengan yang cukup dalam. Mungkin ada bagian tubuh yang lain juga terluka. Masker yang menutup wajahnya membuat Hua Chang kesulitan melihat wajah pemuda itu. Ditambah lagi gelapnya malam membuat penglihatan semakin tidak jelas. Apa dia baik-baik saja? Batinnya.
"Kau terlalu berani datang sendiri anak kecil. Kenapa? Apa kau ingin menyelamatkan pacarmu?"
Hua Chang mundur beberapa. Tubuhnya semakin dibanjiri keringat.
"Jangan mendekat. Jika kau berani menyentuhku aku akan menelepon polisi." Gertak Hua Chang. Ya, inilah cara terakhir bagi seseorang yang sudah terpojok. Menggertak.
Pemuda yang masih terkapar itu seketika mendongakkan kepalanya saat mendengar suara gadis itu. Gadis yang ia selamatkan beberapa jam yang lalu. Matanya membelalak. Diperhatikannya lagi gadis itu, memastikan apa yang dipikirkannya adalah benar. Apa yang dilakukan wanita ini disini? Batinnya.
Hua Chang berbalik berlari tapi ia dihadang oleh kedua pria tinggi besar lainnya.
"Mau lari kemana kau, manis?" Salah satu pria itu mencengkeram lengan Hua Chang dengan kuat. Hua Chang menjerit ketakutan.
"Lepaskan aku."
Bahkan pria yang tengah bicara pada pemuda itu pun ikut mendekat. Tapi dengan cepat si pemuda meraih kakinya. Ia terhenti dan menendang perut si pemuda. Si pemuda bangkit dan menghalau tendangan itu. Baku hantam pun terjadi seperti pertarungan di film-film laga. Mereka menghindar dan saling menyerang satu sama lain. Tak lama kemudian tiga dari keempat pria itu dilumpuhkan si pemuda.
Ia berlari ke arah Hua Chang dan menarik tangannya untuk lari bersama menuju motor di pemuda itu yang tidak jauh dari mereka. Dengan sigap dan cepat pemuda itu mengangkat tubuh Hua Chang dan mendudukkannya di jok belakang. Lalu melesat layaknya angin.
***
Hua Chang masih terdiam di atas motor yang melaju. Angannya melayang entah kemana. Kejadian buruk hari ini datang bertubi-tubi. Membuat Hua Chang seakan berada dalam mimpi yang tidak pernah bangun.
Hidupnya sudah terlalu sulit untuk menghadapi ibu dan saudara tirinya. Dan sekarang ia terjebak bersama seorang pria tidak jelas pekerjaan dan ikut menjadikannya sebagai buronan seperti film-film mafia.
Dikejar-kejar sekelompok orang berjas hitam dengan senjata api, melarikan diri dengan motor dengan kecepatan diluar nalar dan entah apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.
Lamunannya terpecah saat dia merasakan ada cairan merah kental dari balik hoodie yang dikenakan pemuda ini. Hua Chang melihat tangannya yang sudah berlumuran cairan merah pekat. Darah?
Hua Chang panik. Dan seketika menjerit, membuat motor yang ditumpanginya oleh. Pemuda itu masih membisu dan hanya menoleh ke arah Hua Chang seperti bertanya Ada apa? Dengan sorot mata tajamnya.
Dengan bibir gemetar Hua Chang mencoba memulai percakapan.
"Tuan..."
Tak ada sahutan dari pemuda itu.
"Tuan, Anda berdarah. Bisakah kita berhenti sebentar dan mengobati luka Anda? Aku takut Anda kehabisan darah."
Pemuda itu masih terdiam. Tapi ia mengurangi laju kendaraan. Tak lama, ia berhenti di sebuah jembatan lengkung kecil yang berada di sebuah danau.
Hua Chang turun dengan gemetar, lalu pemuda itu mengambil sesuatu dari jok motornya dan melemparkan sebuah kotak dengan kasar.
Pria itu masih bungkam.
Hua Chang duduk dengan canggung di tepi jembatan, di samping pria itu.
Pria itu dengan tidak peduli membuka lengan hoodienya. Jantung Hua Chang berdegup dengan kencang. Pasalnya dia tidak pernah mengobati luka seseorang. Luka dalam tubuhnya saja ia biarkan.
Waktu seolah berhenti. Hanya terdengar suara binatang malam yang bernyanyi menandakan malam semakin larut.
Diperhatikan mata hazel yang masih sangat ketakutan itu. Raut wajahnya semrawut. Pakaian yang kuno dan tidak modis. Pasti tidak akan ada yang mau mendekati gadis ini. Pria itu mendecih.
Hua Chang selesai membalut luka itu tanpa sepatah katapun. Tidak sengaja ia menyentuh perut pria itu lalu melihat hoodie yang dikenakan pria itu penuh dengan darah. Pria itu merintih kesakitan meskipun dalam diam. Terdengar dari helaan nafas yang panjang dan berat.
"Tuan Muda, Anda terluka parah. Tidak bisakah kita pergi ke rumah sakit saja?"
Pria itu hanya menggeleng. Lalu melirik kotak P3K yang sedari tadi Hua Chang gunakan.
Hua Chang menggeleng. Tapi pemuda yang mengenakan masker itu menarik Hua Chang untuk duduk kembali.
"Aku tidak bisa." Ucap Hua Chang dengan memohon.
Si pemuda juga menatap manik hazel itu dengan tatapan meminta pertolongan. Pemuda itu lalu melepaskan hoodie. Luka goresan pisau di perutnya cukup dalam, jadi Hua Chang harus menjahitnya jika tidak ingin pria dihadapannya ini mati kehabisan darah. Darahnya terus mengalir. Membuat pria itu merintih menahan sakit. Hua Chang pun semakin panik.
Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membiarkan pemuda ini mati. Bagaimana ini?
Dengan hati yang kacau Hua Chang mulai mengambil obat bius yang ada di kotak obat dan menyuntikkannya pada pemuda itu.
"Tuan, aku bukan seorang dokter. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Jika aku membuatku menjadi lebih buruk, maafkan aku. Aku akan menembusnya di kehidupan selanjutnya."
Hua Chang lalu menyuntikan begitu saja. Mata si pemuda terpejam. Dan dengan cepat Hua Chang menjahit luka yang menganga itu, lalu membalutnya dengan rapi.
Akhirnya ia selesai. Dengan perasaan lega, Hua Chang jatuh dengan lemas. Kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya yang begitu lelah dengan semua kejadian hari ini.
Bahkan Hua Chang tidak menyadari bahwa pemuda yang ditolongnya ini adalah orang yang sama. Pria itu mulai membuka matanya dan memperhatikan Hua Chang yang tergeletak pingsan dengan semua ketegangan yang terjadi.
Pria itu tersenyum dari balik maskernya.
Apa yang harus kulakukan padamu? Haruskah aku membawamu padanya?
gumamnya tidak jelas.