Pertemuan

2052 Words
Mata Hua Chang terbuka perlahan. Kepalanya mendadak pusing dan ingin muntah. "Apa yang terjadi padaku?" Tanyanya pada diri sendiri . "Kenapa aku ada disini?" Hua Chang menatap sekeliling. Ternyata sudah berada di halaman rumah Tian Zu. Ia heran apa yang baru saja terjadi padanya. Yang terakhir dia ingat adalah, pergi ke pantai. Setelah itu Xiao Xin dan Wan Mei mempermalukannya di depan umum. Tapi kenapa sekarang ia berada di bangku halaman rumah Tian Zu? "Siapa yang membawaku kemari?" Hua Chang masih berpikir keras, tapi kepalanya kembali berdenyut. Ia meringis kesakitan. Dengan tertatih ia pun melangkah ke rumah Tian Zu. Tian Zu bukanlah keluarga yang super kaya seperti Hua Chang. Tapi dia juga bukan kalangan dari keluarga miskin. Keluarganya mempunyai perusahaan sendiri mesti tidak sepopuler dan seterkenal perusahaan Hua Chang. Entah mengapa pertemuan tidak sengajanya dulu berbuntut panjang hingga mereka bisa menjadi sahabat karib. Hua Chang mengambil ponselnya untuk melihat jam. Jam sudah menunjukan 23.47. Hua Chang menghela nafas. Ternyata sudah tengah malam, batinnya. Setelah sampai di depan pintu, Hua Chang mengetuk pintu rumah Tian Zu. Tak lama kemudian pintu pun terbuka menampilkan Tian Zu dengan rambut yang acak-acakan sambil menggosok matanya. "Hua Chang? Apa yang kau lakukan di rumahku tengah malam begini?" Katanya sambil menguap. "Aku butuh tempat untuk tidur." Tanpa memperdulikan temannya yang masih setengah sadar dan keheranan, Hua Chang masuk sambil tertatih. Diperhatikannya sahabatnya ini dengan seksama. Mata Tian Zu langsung melebar. "Ada apa dengan kakimu? Dan kenapa kau berdarah?" Tian Zu langsung mengekor dan meraih tangan Hua Chang yang berlumuran darah hampir mengering. Hua Chang bingung. Dia memperhatikan seluruh tubuhnya. Sekelebat bayangan terpampang kabur dibenaknya. Seorang pria dengan pakaian hitam yang memakai masker. Lalu ia pergi bersama pria itu mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Lalu dia mengobati seseorang yang tidak jelas wajahnya. Tian Zu menepuk bahu Hua Chang membuat tertarik kembali ke dunia nyata. "Hua Chang, ada apa denganmu? Apa kau terluka?" "Aku tidak apa-apa. Tubuhku sudah kebal dengan perlakuan mereka." Hua Chang lalu menuju kotak obat mengambil kotak P3K yang tergantung tidak jauh dari sofa. Rumah Tian Zu tidak begitu besar, tapi tertata sangat rapi dan bersih. Tian Zu bukan tipe orang pemalas jadi meskipun hanya rumah sederhana ia akan membuatnya senyaman mungkin. Hua Chang menghempaskan tubuhnya di sofa. Diperhatikannya lagi sahabat ini. "Kau mau terus berdiri disana atau membantuku mengobati lukaku?" Hardik Hua Chang yang menatap sahabatnya masih mematung di dekat pintu utama. "Astaga, ada dengan wajahmu?" ketika melihat lebam di sudut bibir Hua Chang. "Kau pasti tahu siapa pelakunya." Tian Zu menghela nafas panjang. Sedikit banyak dia tahu apa yang dialami oleh sahabatnya ini. "Lalu darah ini, mereka tidak benar-benar menyayat kulitmu kan?" Pekik Tian Zu saat melihat darah di baju Hua Chang yang cukup banyak. "Ini bukan darahku. Aku rasa." Mendengar kalimat yang menggantung dari sahabatnya, Tian Zu jadi penasaran. Tian Zu lalu mengambil alih kapas dan alkohol dari tangan Hua Chang lalu membersihkan luka di pipi sahabatnya. "Maksudmu?" "Aku tidak tahu. Seingatku aku sedang berada di pantai. Saat aku mau pulang aku melihat seorang pemuda sedang dipukuli oleh para penjahat." Mata Tian Zu melebar semakin jernih. "Lalu apa yang terjadi?" "Aku tidak tahu, aku tidak yakin kalau itu nyata." "Lalu siapa yang mengantarmu kemari?" Tian Zu bertanya dengan nada serius. "Aku tidak tahu." Hua Chang memijit pelipisnya yang mulai pening lagi. "Zu, jangan membuatku berpikir lebih keras lagi. Kepala pusing." Keluh Hua Chang. "Ah baiklah. Aku tidak bertanya lagi. Sebenarnya aku masih penasaran. Ngomong-ngomong, apa dia tampan?" Tambahnya sambil nyengir kuda. "Zu..." mata Hua Chang memutar dengan malas. "Sudah lupakan saja pemuda itu. Anggap saja aku sedang bermimpi." "Ya, ya, ya baiklah. Apa kau sudah makan?" Tanya Tian Zu lagi. Hua Chang hanya menggeleng. "Sebentar, akan aku hangatkan makanan." Hua Chang hanya menganggukkan kepalanya. Tian Zu segera pergi ke dapur lalu menyalakan kompor untuk menghangatkan makanan. Setelah selesai dia menyuguhkan semangkuk capcay dan beberapa buah dim sum pada Hua Chang. Tidak lupa juga segelas air. "Makanlah, aku akan menyiapkan baju tidur untukmu." ucap Tian Zu, lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil baju tidur. Hua Chang memakan dim sum itu dengan lahap, walau sesekali ia meringis karena sudut bibirnya terasa sakit saat mengunyah. Cap cay dan dim sum tandas tak bersisa, Hua Chang pun minum dengan puas, lalu meletakkan piring dan gelas kotornya di dapur belakang. Tak lama kemudian Tian Zu kembali dengan membawa satu stel pakaian tidur untuknya lalu memberikan pada Hua Chang. "Mandilah dulu, sekarang kau terlihat seperti vampir yang baru saja keluar dari kolam darah." Hua Chang hanya tersenyum, ia tahu bahwa temannya ini berusaha menghiburnya. "Terima kasih, Zu." Lirih Hua Chang sambil menerima baju tidur dari tangan Tian Zu. Hua Chang terdiam sejenak, lalu meraih kompres ada ada di atas meja untuk mengompres bibirnya yang bengkak. Tian Zu memandang terenyuh pada Hua Chang. "Hua Chang, kenapa kau tidak pergi saja dari neraka itu? Kau selalu disiksa disana. Ibu dan saudara tirimu itu begitu kejam. Bahkan Ayah kandungmu pun lebih memihak mereka. Apalagi yang ingin kau pertahankan?" Ucap Tian Zu kesal pada keluarga Hua Chang. "Sudahlah Zu, aku sedang tidak ingin membahas masalah ini. Aku lelah." ucap Hua sambil meletakkan kompres itu di atas meja. Lalu ia bergegas ke kamar mandi. Tian Zu berdecak kesal, lalu melempar kompres itu ke sembarang tempat. "Sebagai sahabatmu aku hanya tidak ingin kau terus tersiksa. Aku takut mereka akan benar-benar membunuhmu. Pergilah dari neraka itu selagi kau punya kesempatan, Hua chang. Bukankah Hao Yu memintamu untuk tinggal bersamanya? Hei, hei, Hua Chang? Hua Chang?" Hua Chang tidak memperdulikan sahabatnya yang terus mengoceh lalu menutup pintu kamar mandi. Sebenarnya ia mendengar dengan jelas apa yang sudah di katakan Tian Zu, tapi ia pura-pura tuli agar tidak harus menanggapi apa yang dikatakan sahabatnya itu. Ia terlalu lelah. Tuhan, aku lelah. Tak bisakah bumi terbelah dan menelanku sebentar saja? Aku ingin melupakan semuanya untuk sesaat. *** Hua Chang pamit berangkat kerja pada Tian Zu yang terlihat masih bermalas-malasan ditempat tidur. Tian Zu memang tidak bekerja di kantor hari ini, tapi setiap Sabtu dan Minggu ia akan bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji, di sore hari hingga tengah malam. Untuk menghilangkan kebosanan katanya. Hua Chang meminjam sebuah pakaian pada Tian Zu, Kemeja yang dipakai nya kemarin sudah tidak berbentuk lagi. Untungnya ada seorang wanita yang meminjamkannya pakaian waktu itu. Jadi dia tidak telanjang saat pulang ke rumah Tian Zu. Bicara soal kemarin, Hua Chang jadi teringat dengan pemuda yang ia selamatkan. Bagaimanakah keadaannya? Apakah dia selamat? Atau mungkin dia kehabisan darah dan meninggal? Sebenarnya Hua Chang juga sangat penasaran pada pria itu. Apa dia pria yang sama dengan pria yang menyelamatkannya saat dipermalukan di pantai? Wajahnya benar-benar tidak jelas. Ditambah lagi masker di wajahnya. Hua Chang menggelengkan wajahnya saat menatap cermin. Kini dia memakai dress terusan sepanjang mata kaki dengan detail bunga-bunga. Sebuah pakaian yang sudah sangat ketinggalan jaman untuk tahun semodern sekarang. Pakaian ini lebih mirip daster daripada dress. Gaya berpakaian Hua Chang dan Tian Zu sangat berbeda. Jika Hua Chang mempunyai gaya yang casual dan santai, Tian Zu suka berpakaian bergaya seksi. Hua chang tidak suka memperlihatkan lekuk tubuhnya apalagi memakai pakaian yang kurang bahan. Jadi ia lebih memilih dress motif bunga-bunga itu. Dan dress ini mungkin pemberian nenek Zu beberapa abad yang lalu. Bahkan Tian Zu saja tidak ingat kapan dia membelinya. Pakaian ini terlihat sangat kedodoran di tubuh Hua Chang. Tubuhnya terlalu kurus untuk pakaian sepanjang itu. Tanpa memperdulikan apapun, Hua Chang melangkahkan kaki ke perusahaan yang sudah satu tahun ini menjadi rumah keduanya. Hatinya begitu was-was. Dia takut sekali bertemu Na Lin dan kedua dayangnya. Apalagi setelah kejadian di pantai Haitang kemarin, dan juga karena dia tidak pulang ke rumah semalam. Setidaknya ia sudah menyiapkan mental. Sesampainya di kantor ia sama sekali tidak melihat Na Lin. Kemana dia? Tidak mungkin kan dia belum pulang dari luar kota? Batin Hua Chang, tapi setidaknya ia bisa bernafas lega. Sepertinya biasa, karena hari ini senin semua tugas para seniornya tertumpuk dan dialihkan pada Hua Chang. Ia berencana pulang cepat tapi karena segudang laporan-laporan itu ia pasti akan terlambat. "Hua Chang." Panggil salah satu seniornya. "Kau tidak sedang sibuk kan, malam ini tolong selesaikan laporan ini untukku. Aku sedang ada kencan, jadi tolong ya, Hua Chang. Bos sudah menunggu." Ucapnya tanpa rasa bersalah. Hua Chang memeriksanya lagi. Wajahnya sangat kecewa. "Tapi kak Shin, ini bukan bagian departemen kami. Jadi aku rasa, kakak harus menyelesaikannya sendiri." Wanita dihadapannya itu memutar bola matanya jengah. "Oh, jadi kau menolakku?" Matanya menatap Hua Chang dengan mengintimidasi. Shin membisik sesuatu di telinga Hua Chang. "Hua Chang, ku harap kau masih ingat, apa yang terjadi jika kau melawan perintah seniormu. Apa kau ingin kejadian waktu itu terulang kembali?" Ingatannya kembali saat ia dikurung oleh para wanita jalang karena difitnah mencuri, untuk saja waktu itu Hao Yu langsung menolong dan menjadikan dirinya sebagai jaminan bahwa bukan Hua Chang lah pelakunya. Jika tidak, mungkin ia sudah dipecat dan meringkuk di dalam penjara. Hao Yu memang pelindungnya. Jika hal ini terjadi bukan tidak mungkin Hao Yu akan terseret kembali dalam masalah yang sama. Tidak. Ia tidak mau. Apapun akan dia lakukan untuk Hao Yu. Meskipun ia tidak akan tidur semalaman, ia tidak peduli. Hua Chang tidak mau Hao Yu terlibat. Dia tidak akan membiarkan orang yang paling dicintainya masuk dalam dunia yang seharusnya tidak ia masuki. "Apa kau sudah mengingatnya, Nona Chang??" Hua Chang hanya menatapnya penuh amarah. Matanya merah menahan rasa kesal di hatinya. Tanpa sepatah kata pun, ia mengalihkan pandangannya dari si senior yang gila itu. Si senior tersenyum sini meremehkan. Lalu dia pergi begitu saja. Tak berselang lama, Hua Chang selesai. Ia harus buru-buru bertemu dengan bos. Tapi hari ini bos punya seorang klien yang ingin bekerjasama dengan perusahaan. Bagaimana caraku memberikan pada Bos? Hua Chang kebingungan, saat ia berbalik ia tidak melihat ada seorang pria dibelakangnya. Hua Chang terkaget saat menabrak pria itu. Hua Chang termundur dan tidak sengaja menginjak gaunnya yang panjang itu. Pria itu kebetulan sedang membawa segelas kopi langsung mengenai jasnya. Refleks pria itu menangkap tubuh si gadis dengan sigap. Wajah tampan bak dewa Yunani. Hidung mancung, dengan sorot mata sedingin es. "Bruuukk..." Matanya legam itu bertemu dengan mata hazel. Hidung mancung mereka bersentuhan, deru nafas hangat serta aroma mint yang menyegarkan menyeruak dari mulut pria ini. Mata Hua Chang terpejam, aroma ini begitu menyegarkan hingga ia hampir kehilangan akal. Smrik dibibir pria itu terlihat meskipun tidak kentara. Deg... Tak lama kemudian, Hua Chang menggelengkan kepalanya membuat dirinya sadar. "Maaf Tuan...maaf kan saya, saya tidak sengaja menginjak gaun saya." Dalam sekejap raut wajah pria itu berubah drastis. Wajah dingin itu semakin membeku. Tanpa ekspresi dan penuh intimidasi. "Tidak apa." Pria itu hanya memasang wajah datar. "Sepertinya kau dalam situasi yang mendesak?" "Maaf Tuan, saya sedang terburu-buru. Apa Anda terluka?" Pria itu menggeleng. "Oh Tuhan syukurlah. Baiklah, kalau begitu. Jika ada kesempatan, saya akan mentraktir Anda di lain waktu." "Tidak perlu Nona, jangan berlebihan." Masih dengan aksen yang dingin dan tidak bersahabat. Hua Chang menjadi tidak nyaman. "Oh, tidak, tidak. Ini kesalahanku. Biarkan saya menebusnya. Dan untuk jas Anda???" Ia merasa bersalah terlebih lagi melihat jasnya yang mungkin harganya jutaan dolar itu... Apa yang harus kulakukan? Sepertinya dia marah sekali. Hua Chang jadi canggung. Ia masih memperhatikan jas yang sudah menjadi coklat karena kopi. Pria itu menautkan alisnya, ia tahu kalau Hua Chang merasa tidak enak. "Lupakan saja jasnya. Kau bisa mentraktirku minum kopi." Nafas Hua Chang langsung lega mendengar ucapan si pria dingin yang tampan itu, seperti mendapat pasokan oksigen setelah menahannya beberapa lama. Tiba-tiba Hua Chang langsung teringat akan sesuatu lalu melihat ponselnya. Pria itu memperhatikan gadis dihadapannya ini dengan seksama. Gadis malang yang aneh. Entah dosa apa yang di perbuat pria ini dimasa lalu sehingga dia mendapatkan hadiah seperti ini. Ia mendecih. "Astaga, aku harus cepat. Sebenarnya saya ingin mengobrol lebih banyak dengan Anda, tapi saya harus pergi." "Baiklah." Pria itu masih berekspresi dingin. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda." Hua Chang membungkuk lalu buru-buru pergi. "Hei. Tunggu." ucap pria itu dengan suara bariton khas seorang tentara. Pria itu melihat Hua Chang semakin menjauh. Pria itu mendekat, tapi Hua Chang sudah naik lift. Disaat-saat terakhir ia bertanya... "Namaku Zhang, siapa namamu? "Nama saya Hua Chang." Teriak Hua Chang dari kejauhan yang masih sempat didengar oleh pria itu bersama dengan pintu lift yang tertutup. Pria itu tersenyum sinis. Senyum yang menyimpan sesuatu yang misterius. "Aku menginginkan gadis itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD