Mereka memasuki ruangan markasnya, ternyata di dalamnya sudah ramai dengan anak-anak yang lainnya.
Sheila ber Tos ria dengan teman-teman yang lainnya. Sedangkan Faqih? Ia segera duduk di pojok tanpa menyapa teman-temannya. Teman-teman Faqih juga sudah terbiasa dengan sikap Faqih itu.
Nama geng nya CLEOPATRA.
CLEOPATRA Ini awal mulanya berdiri karna anak-anak yang iseng kumpul-kumpul dengan latar belakang hobi balapan dan otak-atik motor hingga berlanjut sampai sekarang, Cleopatra memiliki 50 lebih anggota. Oh iya Cleopatra juga mempunyai rival dengan nama CAKRAWALA.
CAKRAWALA adalah geng yang berisi orang-orang yang latar belakangnya hampir sama dengan Cleopatra tetapi... Cawrawala di kenal dengan kelicikannya di arena balap maupun di luar arena balap.
Sheila adalah satu-satunya perempuan di antara puluhan laki-laki di geng CLEOPATRA. Jangan salah, mereka itu menghormati perempuan dan melindungi perempuan, terutama Sheila Makannya Sheila sangat nyaman berteman dengan mereka.
"Terkadang mereka yang berteman dengan banyak laki-laki itu bukannya murahan, tetapi karna persahabatan dengan laki-laki itu murni tanpa ada kebusukan."
~Sheila Yanuar Gilbert
"Udah kumpul semua?" Ucap Reyhan mengintrupsi. Dan yang lainnya pun mengangguk. Reyhan adalah ketua geng Cleopatra
"Oke sekarang kita mulai aja. Pertama-tama makasih buat semua anggota yang nyempetin waktunya buat kumpul di sini. Langsung aja to the point bulan depan kita akan balapan sama rival kita yaitu dari geng nya CAKRAWALA mereka nantangin kita buat balapan dan gua disini masih bingung siapa yang mau balapan sama anak Cakrawala." Jelas Reyhan panjang lebar.
"Gua aja." Ucap seseorang di pojok.
Refleks semua mata mengarah ke sumber suara tersebut. Dilihatnya Sheila yang mengacungkan tangannya. Memang Faqih dan Sheila yang duduk di pojok itu.
"Sheil lo yakin? Lo tau kan anak Cakrawala kek apa? Lagian nanti lawan lo buat balapan itu laki-laki Sheil." Ucap Reyhan was-was. Karna ia tau geng Cakrawala itu liciknya naudzubillah.
"Tenang aja gua sanggup kok, kalian juga tenang aja ya." Ucap Sheila meyakinkan teman-temannya.
"Nggak-nggak. Lo ngga boleh balapan sama cakrawala Sheil."
"Gue ngga setuju."
"Mending gue aja, jangan lo."
"Lo ngga boleh balapan sama cakrawala."
"Lo tau kan sheil, cakrawala licik."
Teman-teman yang lainnya sangat menolak sheila balapan dengan anak cakrawala. Mereka semua tau betapa liciknya cakrawala dalam arena balapan maupun di luar balapan.
"Gue janji, ini balapan terakhir gue. Gue mau dukungan lo semua." Jawab Sheila kepada teman-temannya.
"Tapi Sheil, lo cewek." Ucap salah satu temannya lagi.
"Tolong biarin gue kali ini balapan sama cakrawala, gue janji setelah ini gue ngga balapan lagi." Ucap Sheila.
Teman-temannya pyn hanya bisa membuang nafas kasar, Sheila memang keras kepala.
Ketika Faqih ingin membuka suara, Sheila lebih dahulu menggenggam tangan faqih dan mengatakan "Its'okay Qih." Faqih pun menghela nafas panjang. Percuma melarang Sheila, dia itu sangat nekad. Faqih hanya berharap Sheila lolos dari kelicikan geng Cakrawala itu.
"Yaudah kita do'a in aja semoga Sheila baik-baik aja nanti, gua juga sebenernya ngga mau Sheila yang maju buat balapan." Ucap Reyhan Dengan lemas.
"Gue ngga papa kok. Lo semua support gue kek yaelah." Ucap Sheila kecewa, tapi niatnya hanya bercanda.
"Gue do'ain lo sheil."
"Gue juga."
"Gue juga."
"Juga gue."
"Apalagi gue."
"Gue apalagi."
"kita semua pasti doain yang terbaik buat lo sheil." ucap reyhan.
"Iya-iya bacot, makasih kalian semuaaaa..." ucap Sheila bahagia.
Setelah Selesai berkumpul, anak-anak yang lain melanjutkan kegiatan di markasnya dengan sekedar duduk-duduk dengan rokok di tangan mereka, ada yang sedang latihan Freestyle, main gitar, pokoknya banyak kegiatan yang mereka lakukan disini. Sedangkan Sheila sekarang sedang berbincang-bincang dengan Reyhan soal persiapan untuk balapan bulan depan.
"Eh Sheil lo bener-bener yakin soal keputusan lo buat ikut balapan ini?" Tanya Reyhan
"Yakin Pak ketua, lo tenang aja." Jawab Sheila.
"Tapi kalo lo kenapa-napa gimana? Gua khawatir sama lo." ucap reyhan penuh khawatir
"It's okay Rey." jawab sheila meyakinkan reyhan
"Gue percaya sama lo." Ucap Reyhan sembari tersenyum
"Oh iya kapan mau mulai latihan?" Tanya Reyhan.
"Kalo besok siang gimana?"
"Oke."
Jauh dari itu ada seorang laki-laki yang memperhatikan pembicaraan tersebut, dia emosi, ntah kenapa hatinya marah akan hal ini. Bukannya dia juga sering berbincang dengan Sheila da Reyhan? Tetapi ntah apa yang ia rasakan sekarang. Dia menghampiri Sheila.
"Sheil ayok pulang." Ucapnya dingin sambil menggenggam tangan Sheila.
"Lah ini masih jam 23.28 Qih masih sore." Jawab Sheila polos.
"Gue pengen pulang." Ucap Faqih dan segera menarik tangan Sheila untuk pergi dari tempat itu cengkraman tangan Faqih di pergelangan tangannya begitu kuat sehingga Sheila hampir menangis karna kesakitan namun lidahnya terasa kelu untuk mengatakan itu apalagi melihat raut emosi di wajah Faqih saat ini.
Reyhan yang melihat itupun merasa kasihan kepada Sheila, lihat saja wajahnya sudah menahan tangis karna cengkraman yang mungkin sangat kencang fikirnya.
"Woy lo bisa ngga kaga kasar ama cewe, apalagi Sheila!" Ucap Reyhan emosi.
"Bukan urusan lo." Jawab Faqih dengan rahang yang sudah mengeras.
"Jelas urusan gue bangsat." Ucap Reyhan emosi.
Faqih tidak memperdulikannya kemudian Faqih segera menjauh dengan tangan yang masih mencengkram pergelangan tangan Sheila.
Ketika sudah sampai di motor mereka, Faqih segera melepaskan cengraman tangan itu. Faqih melihat ada bekas kemerahan di pergelangan tangan Sheila karna ulahnya tadi.
"Maaf." Gumam Faqih sambil menunduk.
"Ngga papa kok, gue duluan." Sheila tersenyum sambil menahan tangisnya dan segera memakai helm dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Sheila tersenyum kecut "kenapa lo lampiasin kemarahannya ke gue Qih, lo kenapa." Batin sheila.
Sheila mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata sampai ia bisa tiba di apartement nya dalam waktu 5 menit, hebat bukan?
Ketika Sheila sampai di apartemennya ia langsung masuk ke kamar dan menguncinya, kemudian ia menuju ke alam mimpi.
Faqih menjambak rambutnya "kenapa gue bisa kaya gini!! Kenapa hati gue sakit saat ngeliat Reyhan sama Sheila tapi hati gue lebih sakit saat liat bekas kemerahan di tangan Sheila karna ulah gue!!" Setelah itu Faqih segera menyusul Sheila dengan motor sportnya.
Ketika Faqih sampai di Apartement Sheila, Faqih segera masuk ke apartementnya dengan pin yang sudah sheila berikan. Faqih merasa bersalah, Sheila itu tidak salah apa-apa tapi hati Faqih yang salah.
Faqih membuka pintu Apartement itu, kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Apa mungkin sheila menangis kamarnya? Oh s**t! Ia tidak tenang sekarang.
Faqih berjalan ke kamar Sheila. "Tok...tok..tok..Sheil buka dulu pintunya sebentar, ada yang mau aku omongin." Tidak ada sahutan dari dalam kamar tersebut.
"Sheila..."
"Sheil."
"Aku minta maaf." Ucap Faqih lagi.
Faqih mencoba untuk membuka pintu kamar Sheila, s**l! Di kunci.
"Sheila maaf."
"Sheil aku salah."
"Maaf Sheil maaf." Ucap Faqih dengan nada menyesal.
"Aku ngga seharusnya ngelakuin itu." Ucapnya lagi.
Sudah hampir 1 jam Faqih menunggu Sheila untuk membukakan pintunya namun mungkin Sheila marah besar kepada dirinya.
Faqih tidak bisa terpejam, ia terus terjaga sampai kini waktu menunjukan pukul 04.00 itu tandanya 4 jam lebih ia di ruang Tv sembari menunggu Sheila keluar. Sampai ia benar-benar lelah dan tertidur dengan sendirinya.
Keesokan harinya....
Sheila terbangun ketika jam menunjukan pukul 07.00 ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai ia langsung bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Ketika ia membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar apartementnya ia tidak sengaja melihat Faqih yang tertidur di sofa dengan tangan yang ia lipat di dadanya
.
"Kek nya tuh bocah kedinginan, lagian kenapa juga ngga tidur di kamar aja." Batin sheila tetapi... ia kemudian melihat pergelangan tangannya ada bekas merah di sana. Sheila menghembuskan nafasnya kasar mungkin ia harus melupakan kejadian semalam.
"Astagfirullah panas." Ucap Sheila agak teriak sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Faqih. Sheila kaget dengan suhu tubuh Faqih sekarang.
Sheila berlari ke arah dapur untuk mengambil air es dan handuk kecil untuk mengompres Faqih.
Sheila segera mencelupkan handuk kecil itu ke Air es kemudian ia peras dan di tempelkan ke dahi Faqih.
Tidak lupa juga dia mengabari Shela untuk Izin hari ini
For : Shela
"Gua ga bisa masuk hari ini, ada urusan mendadak, izinin Shel."
Setelah mengirim pesan ke Shela, Sheila memandangi wajah tampan Faqih, Sheila juga membelai rambutnya dengan sayang. Setelah 15 menit dalam posisi itu tiba-tiba..
"Sheil maaf..."
"Maafin aku Sheil."
Faqih mengigau sambil meng genggam tangan sheila. Sheila terkejut apakah karna ini Faqih bisa demam? Fikir sheila.
"Hustt... aku udah maafin kamu kok." Jawab Sheila sambil terus membelai rambut Faqih dengan sayang.
Kemudian tidak lama setelah itu Faqih tertidur lagi.
Melihat Faqih yang sudah tertidur dengan tenang, Sheila segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaiannya karna ia gagal berangkat sekolah hari ini. Setelah selesai Sheila juga menyiapkan bubur dan obat untuk Faqih.
"Faqih bangun.." ucap Sheila lembut sambil menepuk-nepuk pipi Faqih.
"Faqih hey bangun." Ucap Sheila lagi.
Faqih yang merasa tidurnya terganggu pun perlahan membuka matanya.
"Pusing." Ucap Faqih dengan lemas sambil memegangi kepalanya.
Dan Sheila segera membantu Faqih duduk
.
"Kita ke kamar kamu ya Qih biar enak kamu istirahatnya." Ucap sheila karna tak tega melihat Faqih yang tertidur di sofa.
"Ngga mau."
"Yaudah kalau ngga mau tapi sekarang kamu Makan dulu ya abis itu minum obat biar cepet sembuh." Tawar Sheila.
"Ga mau sheil pait." Bantah Faqih.
"Biar cepet sembuh ya." Faqih hanya bisa pasrah karna ia tidak punya tenaga lagi untuk membantah omongan Sheila.
Sheila menyuapi Faqih dengan sabar dan telaten hingga semangkuk bubur itu kini tinggal setengah.
"Kenyang Sheil."
"Yaudah sekarang kamu minum obat dulu ya abis itu istirahat lagi."
Sekarang Faqih sudah tertidur karna efek obat tadi. Sheila pun membereskan makanan Faqih itu dan kembali ke Ruang TV untuk menemani Faqih.
Sheila duduk di lantai yang di lapisi karpet sambil terus memandangi wajah dingin itu. Sampai-sampai ia tak sadar kalau ia sekarang sudah tertidur dengan tangan yang ia lipat untuk menangkup wajahnya.
Faqih yang merasa Kerongkongannya kering pun terbangun untuk mengambil air minum yang memang di letakan Sheila di meja Tv.
Ketika menengok ke sebelah nya faqih tersenyum karna terdapat Sheila yang tertidur di sebelahnya tetapi Faqih juga kasihan melihat Sheila tertidur dengan posisi yang tidak nyaman.
Faqih memendangi wajah polos Sheila ketika tertidur "Cantik." Bantinnya.
"Sheil..hey." ucap Faqih membangunkan Sheila dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Hmmm..." Sheila mengerang karna tidurnya di ganggu.
Beberapa menit kemudian Sheila terbangun sempurna dengan wajah ciri khas orang baru bangun tidur.
"Kamu udah mendingan Qih? Kamu butuh apa?" Tanya Sheila.
"Iya udah mendingan kok, aku Haus Sheil."
Sheila mengambilkan air putih yang ada di meja TV ia sengaja meletakannya disitu untuk jaga-jaga kalau Faqih tiba-tiba haus.
"Nih." Ucap Sheila menyodorkan air putih itu.
"Susah." Jawab Faqih ia merasa badannya lemas.
Sheila membantu Faqih untuk meminum minumannya.
"Qih ini jam berapa?" Tanya Sheila.
"Jam 14.08"
"Lah anjir gue lupa." Ucap Shiela panik.
"Lupa apa?" Tanya Faqih polos, karna ia tidak tahu apa yang sheila bicarakan.
"Gue lupa hari ini ada janji sama Reyhan buat latihan balapan Qih." Ucap Sheila masih dengan nada panik.
"Berdua?" tanya faqih.
"Iya."
Ntah kenapa hati Faqih tiba-tiba memanas dan ntah kenapa Faqih merasa emosi akan hal ini. Dan Faqih tidak mau hal yang terjadi tadi malam sampai terjadi lagi hari ini sebisa mungkin Faqih mengontrol emosinya.
"Yah....padahal Faqih pengen di temenin Sheila seharian ini." Faqih merajuk.
"Ish.. sejak kapan jadi manja sih." Ucap Shiela dengan nada kesalnya.
"Kan aku manja cuman sama kamu doang."
Sheila memasang ekspresi jijiknya.
"Yayaya, ikut.." ucap Faqih lagi.
"Ngga." Tolak sheila.
"Yaudah ngga usah berangkat." Larang Faqih.
"Yah gimana dong kan gue udah ada janji sama Reyhan ih."
"Tinggal batalin aja." Ucap Faqih santai.
"Ngga bisa Qih, gue ngga enak sama Reyhannya kan udah janji."
"Yaudah kalo gitu aku ikut."
"Kok lu jadi cerewet gini sih, heran." kesal sheila.
"Karna gue sayang sama lo." Ucap Faqih dalam hatinya. "Ya Sheil ya ikuttt." Faqih memohon.
"Nggak. Lo belum sembuh total." Sheila membantah ucapan Faqih.
"Yaudah latiannya ntar aja kalo aku udah sembuh."
"Huftt...." shiela menghela nafasnya kasar.
"Yaudah iya gue temenin lo disini." Ucap Sheila dengan nada datarnya.
Faqih tersenyum. "Yes." Batinnya.
Bosen." Gumam Sheila karna dari tadi siang sampai sore ia hanya menghabiskan waktu dengan menonton Tv sedangkan Faqih? Karna dia masih sakit jadi dia harus istirahat.
Soal Reyhan? Sheila juga sudah izin kepadanya.
Flashback on
Sheila menelfon Reyhan karna ingin mengatakan bahwa latihan perdananya harus di undur.
"Halo Rey." Ucap Sheila
"Iya Sheil ada apa?" Jawab Reyhan di sebrang telfon.
"Mm...gua mau ngomong." Sheila gugup
"Ngomong aja kali ngga usah gugup gitu." Reyhan terkekeh di sebrang telfon.
"Tapi lo jangan marah ya." Ucap sheila dengan nada cemas.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Janji?" Tanya sheila memastikan.
"Janji Sheila yang cantik tercantik se geng Cleopatra." Ucap Reyhan gemas.
Yaiyalah sheila cantik orang sheila perempuan sendiri di geng nya.
"Mmm... maaf sebelumnya Rey."
"Belum lebaran ini udah minta maaf-maafan aja." Rey terkekeh.
"Ish...Reyhan ma, gue serius." Ucap Sheila kesal.
"Ya katanya maaf. BTW mau ngomong apaan sih pake minta maaf segala."
"Gue ngga bisa latihan hari ini." Ucap Sheila pelan.
"Kenapa?" Tanya Reyhan heran, sebab kalau ada apa-apa sheila pasti bisa karna Sheila kan sendirian dan bebas.
"Mm....Faqih sakit."
"Apa hubungannya?" Tanya Reyhan heran.
"Gue harus nemenin dia."
"Oh yaudah." Ucap Reyhan dan segera mematikan pembicaraan tersebut dengan sepihak.
"Lah kok hati gua sakit yak." Batin Reyhan.
Flashback off
"Laperrrrrr...." gumam Sheila.
"Tapi males." Gumamnya lagi.
"Tapi pengen makann...."
"Tapi magerrr."
"Masak apa Delivery ya?" Fikir Sheila.
Setelah lebih dari 15 menit ia bergelut dengan Fikirannya maka ia putuskan untuk memasak.
Sheila masak tumis kangkung, ayam goreng. Setelah itu Sheila makan duluan karna ia tau pasti Faqih minta di suapi. Setelah makan Sheila membuatkan bubur untuk faqih, kemudian ia membawa semangkuk bubur dan minum serta obat tersebut ke ruang TV,
"Qih bangun udah sore." Sheila menepuk-nepuk pipi Faqih pelan.
"Hmm...." faqih menjawabnya masih dengan mata tertutup.
"Faqihh..."
"Iya-iya." Ucap faqih dengan suara seraknya. Faqih pun segera membuka matanya, butuh beberapa menit untuk ia menyadarkan dirinya penuh.
"Mau di suapin apa makan sendiri?" Tawar Sheila.
Faqih pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini maka ia memilih di suapin lah jelas. Siapa sih yang ngga mau di suapin sama perempuan cantik ini.
"Suapin.." ucap Faqih manja.
"Buka mulutnya aaaaaa...." ucap Sheila.
Faqih terkekeh dan segera membuka mulutnya.
"Enak Sheil, lo bikin sendiri?"
"Iya."
"Kok gue baru tau ya Sheila bisa masak." Ucap Faqih sambil mikir dan memasang tampang polosnya.
"YA TERUS SIAPA YANG MASAKIN LO SELAMA TINGGAL DI APARTEMENT INI!" kali ini Nada bicara meninggi sebab ia kesal dengan mimik Wajah Faqih.
"Oh jadi itu lo." Jawab Faqih datar.
"Udah ah, nih makan lagi." Sheila tak mau memperpanjang perdebatannya itu karna ia tau itu akan menambah emosinya saat ini.
Sheila terus menyuapi Faqih hingga Semangkuk bubur itu habis.
"Nih minum sama obatnya juga." Sheila menyodorkan Air putih tersebut.
"Makasih." Faqih meminum obatnya dan meneguk air putih yang di belrikan Sheila tersebut.
"Sheil jalan-jalan yuk sambil cari angin sore." Ajak Faqih.
"Lo kan masih sakit." Ucap Sheila.
"Udah sembuh, kan ada lo hehe." Ucap Faqih terkekeh.
Sheil pun hanya memasang ekspresi datarnya.
"Jadi mau ngga nih?" Tanya Faqih lagi.
"Hmm... yuk! Gue juga bosen disini terus."
Mereka menyusuri trotoar dengan berjalan kaki sampai akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang sangat indah dengan lampu-lampu yang menyala warna-warni. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada di taman tersebut.
"Hmm...seger." ucap Faqih setelah menghirup udara dalam-dalam.
Setelah itu mereka kembali di liputi keheningan malam. Faqih sibuk dengan Fikirannya sedangkan Sheila tampak melamun sembari memperhatikan interaksi orang yang jauh di depannya.
"Gua kangen mamah, papah." Ucap Sheila lirih.
Faqih yang mendengar itupun refleks menengok ke arah Sheila, tatapan Sheila menuju ke depan sehingga Faqih mengalihkan pandangannya dari Sheila dan mengikuti arah pandang Sheila ke depan.
Mereka melihat pemandangan yang sangat indah sekaligus menggores hati mereka.
Jauh di depan sana ada seorang anak kecil berumur sekitar 7 tahun yang sedang memakan eskrim di dampingi orang tuanya, mereka tertawa lepas tanpa beban dan seorang anak itu terlihat bahagia sekali.
"Kapan gue bisa kayak gitu." Gumam Sheila.
"Gua belum pernah sebahagia dia."
Tiba-tiba ntah kenapa air matanya jatuh begitu saja karna melihat pemandangan yang ada di depannya itu "Ah gue kok nangis sih." Ucap Sheila sambil menyeka air matanya dan dia berusaha untuk tegar.
Faqih yang melihat Sheila menangis langsung meebawa gadis itu ke pelukannya, mengusap rambutnya dan berusaha membuatnya tegar.
"Lo pernah bilang, menangislah jika membuatmu tenang. Sekarang lo boleh nangis kalo lo udah bener-bener ngga kuat." Ucap Faqih di dalam pelukannya.
"Hiks...hiks.. orang tua gua ngga sayang sama gua hiks...hiks."
"Hey." Faqih mengurai pelukannya menatap sheila dalam dan memegang pipinya.
"Sheil, semua orang tua itu sayang sama anaknya jadi lo jangan berfikiran kayak gitu ya. Disini bukan lo doang yang sakit, gua juga Sheil sangat sakit. Tapi kita harus tegar okey? Kita buktiin kita juga bisa bahagia tanpa mereka." Ucap faqih meyakinkan..
Sheila memeluk Faqih dengan erat. "Makasih." Gumamnya di dalam pelukan.
Sheila benar-benar menangis bahkan ia menangis hampir 30 menit.
"Faqih ayo pulang, dingin." Ucap Sheila.
"Ayok."
Mereka sangat menikmati malam dengan bulan yang bersinar terang di dampingi bintang-bintang.
Mentari menyapa mereka pagi hari ini, sekarang jam menunjukan pukul 06.45 dan artinya 15 menit lagi gerbang akan di tutup.
Sedangkan gadis cantik itu masih berkutat dengan alam mimpinya.
"Sheilaaaa bangunn..." ucap Faqih sambil mengguncang tubuh Sheila.
"SHEILAAA..." teriak Faqih lagi.
15 menit sudah Faqih berusaha membangunkan Gadis itu. Tatapi hasilnya nihil, gadis itu belum kunjung membuka matanya.
"Sheila jam 07.00 ini ya ampunn..."
Faqih sudah habis akal, karna di nakas Sheila terdapat segelas air putih ia pun menyipratkan air itu ke wajah Sheila.
"Hmm...." Sheila mengerang. Kemudian ia menyembunyikan dirinya di selimut tebal itu.
"Nih bocah tidur apa mati sih." Ucap Faqih kesal.
Faqih menyibak slimut tebal milik Sheila dan faqih berteriak tepat di telinga Sheila.
"BANGUN KEBOOO..!!." teriak Faqih.
"Anjir... bisa budeg nih kuping gua." Ucapnya sambil mengelus-elus telinganya.
"Lo tidur apa mati sih, dari tadi ngga bangun-bangun, sekarang mandi cepet gua tunggu di bawah." Ucap Faqih masih dengan nada kesalnya.
"Iya-iya, bawel lo." Jawab Sheila tak kalah ketus.
Sheila langsung menyambar handuknya dan segera berlari ke kamar mandi. 10 menit berlalu ia telah menyelesaikan ritual mandinya dan segera bersiap-siap memakai baju Pramuka lengkap tidak lupa ia juga memakai kacu (setengah leher) di karenakan ini hari jum'at.
Sheila keluar dari kamarnya dan menghampiri Faqih yang duduk manis di Sofa sambil memasang Ekspresi kesalnya.
"Yuk berangkat! Pake motor lo ya Qih." Ucap Sheila dengan wajah tanpa Dosa.
Faqih bangkit dari duduknya menuju keluar apartement. Ia segera menaiki kuda besi itu dan memakai Helmnya.
Setelah itu Sheila juga ikut duduk di belakang Faqih, ia juga tidak lupa memakai helm nya.
Di rasa Sheila sudah naik ke motornya, Faqih segera melajukan motornya.
"Qih maaf." Ucap Sheila saat mereka sedang menuju perjalanan ke sekolah.
"Faqih maaf." Ucapnya lagi.
"Masa gitu aja ngambek."
"Es ya tetep es, ngga bisa cair sedikit aja gitu? Es di kutub aja kadang cair juga kok." Ucap Sheila.
Setelah sampai di warung tempat biasa Faqih menitipkan motornya kalau terlambat. "Turun." Ucap Faqih kepada Sheila dingin. Sheila pun hanya mampu diam dan mengikuti perintah faqih itu.
Faqih berjalan jauh di depan Sheila tanpa berniat meneyetarakan posisi dan langkahnya.
Faqih sampai di tembok belakang dan segera memanjat tembok itu sendiri tanpa berniat menawari Sheila bantuan. Sakit bukan? Untung Sheila sudah terbiasa bolos dan terlambat jadi ia juga mahir dalam melakukan ini.
Sheila berjalan menuju warung Ma'e sendirian iya karna Faqih meninggalkannya tadi. Setelah sampai di warung ma'e di lihatnya Faqih mengeluarkan asap dari mulutnya iya Faqih merokok.
Sheila mendekati Faqih dan duduk di sampingnya. "Faqih maaf." Ujar Sheila sambil meng genggam tangan kiri Faqih karna tangan kanannya di gunakan untuk memegang Rokok.
Faqih tak menghiraukan ucapan Sheila dan ia terus merokok.
Teman-teman yang ada di warung Ma'e, Ma'e dan Reyhan pun heran karena selama ini Faqih dan Sheila itu akrab ya walau pun sering berdebat tidak jelas.
"Ice prince maaf."
"Faqih maaf."
"Qih gua bener-bener minta maaf." Ujar Sheila sambil menunduk.
"BRISIK!!" Teriak Faqih tepat di wajah Sheila dan setelah itu lelaki itu pergi meninggalkan Sheila.
Ntah kenapa hati Sheila sangat-sangat sakit ia tidak pernah di bentak sebelumnya dan sekarang? Ntahlah ia benar-benar terkejut. Air mata Sheila meluruh begitu saja karna ucapan Faqih yang sangat menusuk hatinya.
"Sheila kenapa nangis." Ucap Ma'e heran.
"ngga papa kok ma'e" ucap sheila.
Reyhan yang melihat itupun langsung mendekat dan duduk di samping Sheila. Dan lelaki itu membawa Sheila ke dalam pelukannya.
Sheila menangis di dalam pelukan Reyhan tanpa Suara. Teman-teman yang lain pun kaget melihat Sheila yang menangis, mereka tidak pernah melihat Sheila menangis sebelumnya karna mereka tau Sheila itu sangat tegar dan kuat.
"Semuanya bakal baik-baik aja Sheil, mungkin Faqih lagi sensi." Ucap Reyhan menenangkan Sheila sambil mengusap rambutnya.
Sheila mengurai pelukannya "makasih." Ucapnya dengan senyum yang tulus.
"Bay The way ada Vape nggak, gue pengen nge Vape nih." Ucap Shiela sambil memasang cengiran tanpa dosa.
"Punya lo kemana emang?" Ucap Reyhan.
"Ada di apart."
"Dasar ngga modal." Reyhan memutar bola matanya malas.
"Bodo." Jawab Sheila.
"Nih ada punya gue." Ucap Rizki salah satu anak geng Cleopatra juga.
"Makasih ki, BTW lo baik deh ngga kaya yang sebelah noh." Ucap Sheila sambil menunjukan seseorang dengan bola matanya.
"Bodo." Ucap lelaki itu.
"Bahagia itu sederhana, cukup melupakan masalah yang ada dan mencoba tertawa."
~Sheila Yanuar Gilbert~
tbc