One

4022 Words
Faqih mengendarai motor sport nya dengan kecepatan penuh. ia tidak memerdulikan sumpah serapah yang di ucapkan pengendara lain kepadanya.  inilah pelarian faqih dari masalah, selain minum. ia akan mengendarai motor sportnya dengan keecepatan di atas rata-rata, tetapi ia juga tidak mau membahayaan pengguna jalan yang lainnya.  faqih mengendarai motor nya tak tentu arah sampai ia munuju tempat yang menurutnya tepat.  setelah faqih memarkirkan motornya, ia berjalan masuk menuju tempat tersebut setelah ia memperlihatkan kartu membernya.  faqih duduk di kursi yang di depannya bartender langsung.  "vodka." ucap faqih dingin dengan tatapan yang seakan siap membunuh hidup-hidup. sang bartender pun meletakkan segelas vodka di meja yang di tempati faqih. dan faqih pun langsung menguknya dengan sekalli tegukan.  musik yang mengalun keras seakan tak terdengar di telinganya, ia merasa sepi dan sendirj walau di keramaian.  ketika orang lain berjoget ria, faqih hanya duduk di meja dan menatap vodkanya lekat-lekat dan kembali meneguknya. rasa pahit yang membuat tenggorokannya panas tak ia hiraukan, faqih tetap meneguknya lagi, lagi, dan lagi.  "lagi." ucap faqih yang ke dua puluh tiga kalinya.  sang bartenderpu hanya mengangguk dan menyiapkan lagi, lagi, dan lagi vodka untuk faqih.  faqih meletakkan beberapa lembar uang ratus ribuan di meja bartender itu, kemudian faqih segera pergi dari tempat itu karna merasa ia tidak akan kuat lagi bertahan lama di dalam sana. kepalanya sudah sangat pusing.  faqih tetap melangkahkan kakinya keluar walau sembari memegangi kepalanya yang sangat pusing.  faqih tidak sanggup kalau harus mengendarai motornya sendiri. ia bingung harus mengabari siapa karna memang faqih merasa kalau ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di hidupnya.  tiba-tiba sebauh nama terlintas di fikirannya. "sheila." gumam faqih. faqih segera menelfon sheila dengan sisa-sisa kesadarannya.  halo sheil.... ..................... club setelah faqih mengatakan itu pun, sheila langsung mematikan sambungan telfonnya.  di tempat lain..... gadis cantik itu sedang menonton siaran sepak bola yang di siarkan oleh salah satu TV nasional.  ya, ia tau bahwa ia itu perempuan, tapi apa salahnya jika ia menyukai sepak bola? kecintaan akan tetap menjadi kecintaan, selamanya akan tetap begitu.  tiba-tiba ponselnya berdering menandakan bahwa ada panggilan masuk disana.  "siapa sih, ganggu aja." ucap shiela.  mau tidak mau ia harus beranjak dan mengangkat panggilan itu. faqih, nama yang tertera di layar ponselnya.  halo sheil.....  ada apa? wait! kok suara lo beda, lo lagi ada dimana? tanya sheila dalam telfon itu bertubi-tubi.  club jawab faqih di sebrang telfonnya.  sheila panik sebab kata club bisa mengartikan bahwa FAQIH MABUKKK!!! Sheila langsung berlari untuk mengambil kunci mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan di atas rata-rata. sheila tidak peduli dengan u*****n pengendara lain, yang terpenting ia ingin emlihat keadaan faqih sekarang.  sheila sampai di club yang faqih tempati. jangan tanya kenapa sheila bisa menduga ini club yang di tempati faqih? karna memeng hanya club inilah yang selalu faqih datangi.  sheila sampai di club dalam waktu 10 menit. dan yang pertama kali ia lihat adalah faqih yang memegangi kepalanya sambil berjongkok. posisi faqih sekarang ada di parkiran club ini, sehingga sheila tidak perlu repot-repot masuk club hanya untuk mencari keberadaan faqih.  "FAQIHHH....!!!" jerit sheila, ia pun langsung turun dari mobilnya dengan terburu-buru dan langsung memeluk faqih. "faqih kenapa lo ngelakuin ini." ucap sheia sambil menangis. sedangkan faqih terus memegangi kepalanya yang seakan ingin pecah.  "qih..lo ngga papa marah, lo ngga papa nangis, lo ngga papa kesel tapi lo jangan sampe ngelukain diri lo sendiri." ucap sheila sambil mengusap rahang faqih dengan lembut.  merasa tidak ada respon dari faqih, sheila langsung mengalungkan tangan faqih ke pundaknya dan membawa faqih masuk ke mobilnya. tidak lupa, sheila juga menitipkan motor faqih kepada penjaga club ini.  sesampainya di depan mobil, sheila langsung membawa amsuk faqih dan mendudukkan nya di samping kursi kemudinya dan tidak lupa jua ia memasangkan seat beltnya kepada faqih.  "faqih kenapa lo jadi kaya gini...." gumama sheila sambil menjalankan mesin monilnya untukk pergi meninggalkan pekarangan club ini dan segera menuju ke apartementnya.  sheila tau, dia, faqih dan teman-teman tongkrongan lainnya senang sekali pergi ke club teteapi mereka hanya minum dua sampai tiga gelas minuman, atau hanya karna ingi mengusir sepi di rumah mereka.  tapi kali ini berbeda, faqih mabuk belasan gelas supaya ia bisa menghilangkan ingatan tentang keluarganya yang bercerai? itu tidak mungkin.  sheila membawa faqih ke apartement nya. dia menidurkan faqih di kamar sbelahnya, seperti kemarin, ketika melihat faqih, kenapa tiba-tiba teringat masalalunya dan masa keiclnya yang hancur karna perceraian orang tuanya.  flashback on ketika ia mendengar bahwa orang tuanya bertengkar hebat dan memeutuskan untuk bercerai, gadis kecil umur 13 tahun itu mara dan kesal. ia meninggalkan rumahnya tanpa memberitahu apapaun sebelumnya.  gadis kecil itu tumbuh dengan pondasi yang bengkok, ia rusak sangat rusak. ia bergaul dengan orang-orang yang jauh di lebih tua darinya, teteapi mereka sangat sayang kepadanya.  ia hidup di jalanan dengan anak-anak yang lainnya, dengan seorang yang lebih tua dari mereka dan mereka semua menganggap bahw adia adalah ayah mereka.  sheila di ajarkan bagaimana caranya mencari uang dengan cara balapan. ketika ia menginjak umur 15 tahun, ia mengikuti lomba balapan secara resmi dengan hadiah 1 unit motor sport dan aparement bingtang 4.  dan keberuntungan berpihak kepadanya. ia dapat memenangkan balapan tersebut padahal lawanya adalah orang- orang dengan umur yang sangat jauh dengannya.  sejak saat itu, gadis itu pun sudah mempunyai rumah sendiri dan tidak hidup di jalanan lagi.  tapi sayangnya, orag yang mengajarinya tentang semua itu menghilang. menghilang setelah lomba itu selesai, tetapi anehnya ia tetap membiayai sekolah sheila.  sebenarnya orang itu baik, sangat baik kepdanya tetapi orang itu tidak baik kepada dirinya sendiri.  sering sheila melihat orang itu berjalan menuju club dan pulang- pulang dengan keadaan mabuk, ia sering melihat orang yang ia sebut ayah ini tersenyum saat pulang dari club.  sampai suatu ketika sheila berjalan menuju club ituentah ini keberuntungan baginya atau bagimana, scurity tidak ada sama sekali di pintu masuk itu sehingga sheila bebas masuk tanpa di interogasi ataupun semacamnya.  ketika ia memasuki club untuk pertama kalinya, telinganya langsung di suguhkan dengan musik yang mengalun dengan sangat keras sampai-sampai ia harus menutup telinganya karna suara brisik tersebut.  la tambah cantik aja." "bidadari syurga." "masyaallah calon bini..."  itulah sebagian gumaman-gumaman para jomblo ngenes menurut sheila.  sheila sudah terbiasa mendapati teriakan-teriakan seperti itu. sheila tetap berjalan dan menghiraukan segala teriakan-teriakan tersebut.  "ke ma'e apa ke kels ya?" pikir sheila.  "ke kelas aja lah, mau jadi anak rajin sehari." gumam sheila.  ketika sheila baru saja memasuki kelasnya, ia sudah mendapati teriakan teriakan sahabatnya itu.  "sheila tumben banget rajin... masyaallah." ucap shela heboh.  "rekor nih, padahal baru jam 06.35 njirrr..." timpal amelia tak kalah heboh. sheila mmemutar bola matanya malas. "bacot." ucapnya dan ia segera duduk di bangku kesayangannya.  "eh sheil tumben sih lo berangkat jam segini, lo ngga lagi kesambet kan? biasanya kan lo berangkat jam 07.15 dan di suruh hormat tiang bendera dulu satu jam." ucap shela.  "oh iya tumben banget lo masuk kelas, biasanya kan lo di warung ma'e, kalo ngga ya di rooftop, kalo ngga lagi ya bolos." ucap amel menambahkan.  sheila menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan sahabatnya tersebut. ia mengambi earphon nya dari tas nya dan mulai memasangkannya di telinganya dan memutar lagu dengan volume keras.  "yah... sheila mah....." ucap mereka berdua kompak karna pertanyaaan mereka tidak di jawab oeh sheila.  'selamat pagi anak-anak..." ucap seorang guru muda yang cantik dan di kagumi oleh murd laki-laki, dia adalah ibu pipit.  "jawab siswa sekelas dengan serentak, kecuali sheila.  "oke hari ini ibu akan mengajar bahasa indonesia, buka bab 9." ucap ibu pi[it tadi.  Sheila? Jangan tanyakan anak itu. Sekarang saja dia sedang tidur dengan Earphone yang masih menyumbat  telingannya. "Pstt...psttt.. sheila bangun." Bisik Shela. Karna Tempat duduk Sheila dan Amel berada di depan tempat duduk Sheila. "Woy sheila bangun." Ucap Amel agak kesal sehingga suara yang ia timbulkan agak sedikit keras. "Ada apa Amel." Ucap ibu Pipit karena merasa terganggu. "Mampus gue." Batin amel, "Ng...ngga papa bu." Ucap amel meruntuki kebodohannya. Bisa-bisa Sheila marah kepadanya karna hal ini ibu pipit pun mengedarkan pandangannya dan ia memincingkan matanya ketika melihat ada siswa yang tidur di pelajarannya. "Siapa yang tidur di pelajaran saya!." Bentak ibu pipit. "Sheila bu." Celetuk salah satu murid laki-laki. "Goblok." Reflek Amel. Dan sedetik kemudian ia menutup mulutnya bodoh. "Diam!" Ucap ibu pipit marah dan beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri meja Sheila. Ibu pipit mencopot Earphone yang di gunakan sheila. "Sheila bangun!." Teriak ibu pipit tepat di telinganya . "Kebakarannn!!." Teriak Sheila refleks karna mendengar jeritan tersebut. "Bhhwaakkkksss." Tawa satu kelas pecah seketika melihat mimik wajah Sheila yang panik. "Diam!" Teriak ibu Pipit lagi. "Kamu tau Sheila, saya paling tidak suka ada murid yang tidur di pelajaran saya." "Maaf bu..." ucap Sheila dengan wajah datarnya, sebab ia tidak takut kepada guru ini.  "Sekarang bersihkan halaman belakang." Ucap ibu pipit memerintah. "Males." Gumam Sheila. "Tadi kamu bilang apa Sheila! Kamu mau saya laporin ke Kepala Sekolah hah!" Teriak ibu pipit lagi, sekarang wajahnya sudah merah padam karna emosi. "Iya bu iya saya kerjain." Ucap Sheila pasrah karna ia tak mau berdebat dengan ibu guru tadi. Sementara di lain tempat.... Seorang lelaki tampan dengan wajah dinginnya bangun ketika matahari sudah hampir berada di atas. Faqih bangun jam 10.00 pagi. Dia mengucek matanya, kepalanya sangat pening. "Lah kamar siapa nih tapi kek nggak asing gitu." Batin Faqih. Tak sengaja pengelihatannya menangkap secarik kertas yang ada di nakas tempat tidurnya itu. Faqih tersenyum ketika membaca surat tersebut.        "Pagi ice prince. Nyenyak banget pasti tidurnya ya? Tadi gua mau bangunin lo, ngajak sekolah bareng eh lo masih tidur. Kalo lo udah bangun sarapannya ada di meja makan oke? Ok, gua udah nyiapin baju lo, disitu juga gua udah nyiapin obat buat lo, jangan lupa di minum." -Sheila cantik se jagad raya.  Faqih terkekeh. "Lah s***p ya nanya sendiri jawab sendiri." Gumamnya. Faqih beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia mengambil baju yang sudah di siapkan Sheila dan setelah itu, Faqih segera makan dan meminum obatnya. Faqih tidak ingin pulang. Jadilah dia menonton Tv sambil menunggu Sheila pulang. Sementara itu... Sheila menyeka keringatnya yang terus bercucuran karna ulah ibu Pipit tadi. Sebenarnya ia sangat malas mengerjakan hukuman ini, tapi karna ibu itu mengawasinya jadilah Sheila hanya bisa pasrah. "Dasar guru laknat." Gumam Sheila pelan. "Ngomong apa kamu hah?!" Ucap wanita yang berada jauh di belakang Sheila. "Kok bisa kedengeran ya, Heran." Batin sheila. 2 jam pun berlalu begitu lama untuk sheila "Udah ya bu, saya cape banget nih." Ucap Sheila jujur. Tidak heran, sebab ia membersihkan halaman belakang yang sangat-sangat luas. "Yasudah. Lain kali jangan ulangi lagi." Ucap ibu Pipit. Sheila pergi dari hadapan ibu Pipit itu tanpa menjawab ucapannya. ia tidak memperdulikan guru tersebut, yang terpenting sekarang dia sangat-sangat haus. sheila pun berlari menuju warung ma' e Sheila mengambil air mineral yang ada di warung Ma'e dan meneguknya hingga habis. "kenapa lo sheik? kek abis di kejar setan aja." ucap temannya sambil terkekeh.  "gue di hukum anjir.. parah banget tuh guru sumpah." gerutu sheila. "makana sheila.. sekolah itu jangan cari masalah mulu." ucap temannya, kemudian terkekeh.  "gue ngga cari masalah ya, gue cuman numpang tidur doang di kelas, eh gurunya malah hukum gue suruh bersihin halaman belakang, lo tau kan halaman belakang luasnya kek gimana?" ucap sheila.  "tau, kalo tidur di kelas pas ada guru ya sama aja lo cari masalah sheilaaaa..."  sheila pun hanya mengangkat kedua bahunya acuh. sheila pun bergabung dengan teman-temannya yang lainnya. "Woy bagi rokok dong." Ucap sheila kepada teman-teman  tongkrongannya. "sekali-kali beli kek gitu biar tau harga." Ucap Reyhan.  salah satu temen Sheila. Tetapi ia juga melempar satu batang rokok kepada Sheila. "Iye kapan-kapan ntar, BTW  thanks." Ucap sheila sambil menghidupkan Rokoknya. "iye." Sahut Reyhan. "eh pada mau bolos ngga? Bosen nih gue ah mana tadi di hukum lagi kan, cape." Ucap Sheila dengan malas. "Yah kasian. Sayangnya kita ga mau bolos hari ini. Kita mau rencanain latihan buat Balapan bulan depan, lo mau ikut?." Ucap Reyhan lagi. "Wih asik tuh. Mau ikut dong gue." Ucap Sheila antusias. "Yaudah, ntar malem jam 8 lo ke markas. Ajak Faqih juga ya, soalnya kita ngga ketemu Faqih dari kemaren, dia juga ngga sekolah." jelas reyhan. "Ya iyalah ngga ketemu, orang Faqih ada di rumah gue." Batin Sheila.  "Oke siap." Ucapnya. "Ma'e...." panggil Sheila. "Ada apa Sheila." Tanya ma'e. "Air mineral yang tadi di bayar Reyhan ya." Ucap sheila yang di dapati anggukan oleh Ma'e.  "makasih reyhan baik." Dan setelah itu  Sheila segera pergi dari warung ma'e. "Woy Sheila dasar miskin lo." Teriak Reyhan yang masih bisa di dengar oleh Sheila. Sheila terkekeh. Sheila berjalan menuju kelasnya dan mengambil tas nya. "Kamu mau kemana heh." Tanya ibu Eka. "Pulang." Jawab sheila. Dan langsung pergi ke arah parkiran dan menghiraukan teriakan-teriakan ibu eka tadi. Sheila berniat bolos tetapi tidak melalui tembok belakang. Sheila mengendarai motornya keluar parkiran dan berhenti tepat di depan gerbang SMAN 1  PELITA. "Mau kemana kamu!" Teriak pak satpam. "santai kali pa, jangan ngegas gitu ngomongnya." Ucap Sheila dengan santai. "Pasti kamu mau bolos ya." Tuduh pak satpam sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Sheila. "Bapak ini gimana sih pak, masa saya bolos terang-terangan, itu sih sama aja sama masuk kandang macan." jelas Sheila.  "Saya cuman mau izin karna saya harus jagain rumah, saya juga ntar sendirian di rumah pak." "Memangnya kemana orang tua kamu sampai ngga ada?." Tanya pak satpam penuh selidik. "Kalo orang tua saya ada, saya ngga bakal pulang dan jagain rumah pak. Ish bapak ini gimana sih pak." "sudah izin belum ke guru piket?" tanya pak satpam lagi.  sheila pun hanya mengangguk.  "Yasudah silahkan, jagain rumah kamu yang bener." Ucap pak satpam sembari membukakan gerbang untuk Sheila. Sheila melewati pak satpam sambil memainkan pedal gas yang ada di tangannya itu, dan itu sukses membuat pak satpam geram. "Ngeerrr...ngerrr." bunyi knalpot motor Sheila.  "Dasar kamu nggak sopan." Teriak pak satpam itu. Sheila hanya tersenyum di balik helm Full face nya. "Pak satpam-pak satpam yaiyalah orang tua saya ngga ada, orang saya juga tinggal sendirian di apartement." gumam Sheila Sheila menempuh waktu 15 menit untuk sampai di apartementnya.      "Yuhuuu Sheila datang." Ucap sheila. "Brisik." jawab faqih ketus "Sensi amat mas nya." Ujar Sheila sambil mendudukan pantatnya ke sofa dan bergabung dengan faqih. Faqih tidak heran dengan kedatangan Sheila yang lebih awal dari anak-anak yang lainnya, . Dia tau kalau Sheila pasti membolos. "lo bolos lewat mana?" tanya faqih penuh selidik.  "gue ngga bolos." jawab sheila.  faqih menaiikan alisnya sebelah.  "gue izin sama pak satpam buat keluar sekolah." ucap sheila santai.  "terus boleh gitu?" tanya faqih lagi. "ya boleh, kalau ngga boleh ya gue ngg akan ada disini faqih...." ucap sheila kesal.  "Bau lo." Ujar Faqih sambil menutup hidungnya. "Dih.. segini wanginya." ucap sheila.  "bau." jawab faqih lagi.  "yaudah ngambek lah." Ucap Sheila sambil beranjak pergi ke kamarnya. Sebenarnya Sheila tidak marah, tetapi ia segera membersihkan dirinya dan  mengganti bajunya dengan baju santai dan dia segera tidur karna lelah dengan hukuman yang di berikan ibu Pipit tadi. 2 jam berlalu.... Faqih merasa was-was. Apakah benar Sheila marah? Faqih merasa bersalah sekarang. Faqih berjalan menuju kamar Sheila. Dan mengetuk pintu kamar Sheila. "Sheil. lo marah sama gue?."tanya faqih di balik pintu "masa ngambekan dih." "Maafin gue sheill." Ucap faqih lagi. Faqih membuka pintu kamar Sheila yang tidak di kunci. Faqih tersenyum "Sheila-Sheila." Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian menutup pintu kamar Sheila lagi dan beranjak pergi dari kamar itu. Faqih menuju ke dapur untuk membuatkan makanan untuknya dan untuk Sheila. Eittsss.... jangan salah Faqih lumayan ahli dalam bidang memasak. Faqih memasak sayur sop dan menggoreng ayam. Ayam mati bukan ayam hidup. Setelah selesai Faqih menuju kamar Sheila dan membuka pintunya.   "Sheil... bangun." Ucap Faqih sambil menepuk-nepuk pipi Sheila. "Lima menit lagi." Ucap Sheila dengan mata yang masih terpejam. "Mau makan ngga?" Sheila segera bangun karna mendengar ucapan Faqih tadi.     "Mauuuuu...." jawab Sheila dengan mata berbinar. "Cuci tuh muka, udah ada ilernya lagi." Ucap Faqih dengan nada serius. "Hah!!!." Jerit sheila dan langsung mengusap-usap wajahnya. "Hahahahahaa...." faqih tertawa terpingkal-pingkal. "Gila-gila tadi ekspresi lo parah banget." Ucap di sela-sela tawanya. Sheila tersenyum. Sudah lama ia berteman dengan Faqih dan baru pertama kalinya Faqih tertawa begini. "Gue harap lo bakal terus ceria Qih." Batin Sheila. "Ih... awas lo ya." Sheila beranjak dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Ia juga melemparkan bantalnya tepat ke wajah Faqih. "Dasar temen laknat." Ucap Faqih. Faqih segera menuju ke meja makan dan di susul oleh Sheila yang sudah mencuci mukannya tadi. Faqih dan Sheila makan dalam diam. Setelah makan mereka membereskan piringnya. Dan pergi ke ruang keluarga.. RALAT Sheila mana punya keluarga, tuang tv. "Timas U-16 gila-gila bawa juara indonesia dalam ajang piala AFF ." Ucap Sheila terkagum- kagum. Yap mereka sedang membicarakan tentang Timnas U-16 yang pada tanggal 11 agustus 2018 membawa pulang piala AFF karna menang pinalti lawan Thailand. "Gue juga ikut bangga sih sama anak-anak Indonesia, nggak kayak gue umur segini tua nya cuman bisa nyusahin orang tua doang." Ucap Faqih sedih. Sheila yang sadar akan kesedihan Faqih itupun berniat untuk mengubah topik pembicaraannya.  "Eh Qih... lo nanti malem mau ikut gue nggak?" Tanya sheila.  "Kemana." Tanya Faqih heran. "Markas." "oke." Ucap Faqih dengan semangat. "Tapi baju lo gimana?." Tanya Sheila. "Oh iya. Sheila gua izin nginep di Apartement lo ya, janji deh gua ngga macem-macem." Ucap Faqih sabil mengangkat jarinya membentuk huruf V. "Oke-oke percaya, Bay the way motor lo di parkiran club gimana dong?" "Urusan gampang itu mah." Ucap Faqih enteng. "Makasih lo mau ada buat gua saat dunia gua hancur Sheil." ucap faqih sambil tersenyum tulus ke arah sheila. "Sans aja kali pa Haji kita kan temen ya." Ucap Sheila sambil terkekeh. "Oke bu Haji... jadi sekarang gua pulang dulu ya. Ntar malem gua jemput kesini sekalian naro baju-baju gua." Ucap Faqih sambil beranjak meninggalkan apartement Sheila. "Ati-ati." Ucap sheila sambil melambaikan tangannya. Faqih memberhentikan taksi dan masuk ke dalamnya dan memberikan alamatnya ke supir taksi nya.  Selama perjalanan pulang, entah apa yang ada di pikiran Faqih sekarang. Yang jelas saat bertemu dengan Sheila, perasaan nya berbeda dengan yang dulu. "Sudah sampai nak." Ucap supir taksi sekan menyadarkan nya dari lamunan. "Eh... iya pak makasih." Ucap Faqih sopan dan segera turun dari taksi tadi dengan memberikan uang 50 ribuan kepada supir taksi itu. Supir taksi itu tersenyum. Sekarang di hadapannya ada sebuah rumah besar yang bergaya klasik dan mempunyai 2 lantai. Rumah itu mewah dengan cat putihnya. Faqih melangkah menuju rumah tersebut, tiba-tiba langkahnya menjadi berat. Ia tak siap dengan semua kenangan yang ada di rumah itu. "Assalamualaikum." Ucap Faqih sambil mengetuk pintu. "Waalaikumsalam." Ucap seseorang yang ada di dalamnya. Ketika membuka pintu, wanita itu terkejut dan Faqih juga sama. Faqih melihat mamahnya dengan pakean kusut, rambutnya acak-acakan dan jauh dari kata *baik-baik saja* Berbeda dengan wanita itu, ia langsung memeluk Faqih dan mengis di dalam pelukannya. "Kamu kemana aja nak, mamah khawatir." Ucap wanita itu, bahunya bergetar karna menangis. "Faqih ngga kemana-mana mah, Faqih ada di sini." Ucap Faqih sambil mengelus rambut mamahnya dengan sayang. "Ayok masuk nak." Sambil menggandeng tangan Faqih. "Mah, Faqih mau langsung ke kamar ya." Ucap Faqih tiba-tiba. "Oh yasudah..istirahat yang cukup ya sayang." ucap mamahnya. Dan segera di angguki oleh Faqih. Faqih berjalan menuju kamarnya dengan tak bersemangat, saat sampai kamarnya, ia melihat kamarnya yang rapih dan bersih, tidak seperti ketika kamar ini di tinggal oleh pemiliknya. Dan seketika bayangan keluarganya yang harmonis, papah mamahnya yang sering menemani Faqih tidur dulu, papah mamahnya yang menemani Faqih bermain. Seaakan nyata dalam kamar ini. "ARGHHH!!!."   Teriak Faqih frustasi. "Terkadang hal yang ingin kita lupakan malah membawa kita semakin mengingatnya.  Faqih segera membereskan semua baju-bajunya dan segera keluar dari kamar itu. "Mah..." ucap Faqih. "Ya..." jawabnya "Faqih mau pergi dulu." Deg! Pergi!? Mamah Faqih membeku. "Kamu mau kemana nak." Tanya wanita itu dengan nada sedih. "Faqih mau sendiri dulu mah, Papah terlalu banyak ngasih kenangan buat Faqih, Faqih bakal baik-baik aja kok mah." Ucap Faqih menyakinkan mamahnya. Wanita itupun menangis. "Maafin mamah Qih maafin mamah, mamah udah gagal ngejaga keharmonisan keluarga ini." Faqih menyeka air mata mamahnya itu "bukan salah mamah mah. Udah ya faqih ngga papa kok, Faqih pasti bakal balik kesini kalau Faqih udah siap nerima fakta bahwa ngga ada sebutan papah lagi di keluarga ini." "Hati-hati ya nak, jaga diri kamu baik-baik."ucap wanita itu sambil mencium pipi Faqih. ia tidak bisa melarang anaknya, tetika itu lah yang di pilih faqih, sebagai orang tua ia hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk faqih.  Setelah berpamitan dengan mamahnya, Faqih memberhentikan taksi yang lewat di depan rumahnya. Setelah Faqih mendapatkan taksi itu, Faqih segera menuju ke Club untuk mengambil motor nya.  Setelah sampai di Club, Faqih segera turun dari taksi dan membayar uangnya. "Atas nama Faqih." Ucap Faqih kepada bodyguard club itu. "Ini kuncinya." Ucap bodyguard tadi sambil menyerahkan kunci motor faqih. "Terimakasih." Faqih mengeluarkan motornya dari area parkiran itu dan segera menuju Apartement Sheila. 15 menit berlalu, kini Faqih sudah ada di depan Apartement Sheila. "Tok...tok..tok...Sheil." "Ya sebentar." Ucap Sheila sambil melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu. "Ice princeeeee..." ucap Sheila girang dan refleks langsung memeluk Faqih girang. Jantung Faqih berdetak lebih kencang saat bersama Sheila padahal Faqih tidak punya riwayat penyakit jantung fikirnya. "Cie kangen." Balas Faqih sembari tersenyum dan menetralkan detak jantungnya. "Ish... nggak." Ucap Sheila salah tingkah. "Yuk masuk." ucap sehila mempersihlahkan faqih masuk ke apartementnya.  "Sheil gua duluan ke kamar ya mau beres-beres baju dulu." pamit faqih. "Oke, gua tunggu di ruang Tv ya." "Oke." Faqih segera meninggalkan Sheila dan menuju kamarnya? Kamarnya? Oke sekarang sebut saja kamarnya hehe. Setelah membereskan baju-bajunya sekarang Faqih segera bergabung dengan Sheila di ruang TV. "Gue kira lo kesini malem Qih." Ucap  Sheila membuka pembicaraan. "Males di Rumah." "Oh." Mereka menghabiskan waktunya dengan menonton pertandingan Bulu Tangkis yang sedang berlangsung. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 19.00 dan  mereka segera bangkit dan bersiap-siap menuju markas mereka. Pukul 19.45 mereka sudah keluar dari kamarnya masing-masing. Sheila menggunakan celana Jeans warna putih dengan kaos oblong pendek warna hitam dan di balut dengan jaket berbahan Jeans warna biru miliknya, ia juga menggunakan sepatu kets warna putih. Dan Faqih juga menggunakan Celana jeans warna hitam dengan Kaos oblong warna putih dan jaket bomber warna merah maroon, dia juga menggunakan sepatu nike warna putih. "Qih balapan yuk" Ucap Sheila sambil melangkahkan kakinya menuju garasi untuk mengambil motor kesayangannya. "Ayok, siapa takut." Jawab Faquh dengan menjulurkan lidahnya mengejek. Mereka segera mengeluarkan motor mereka masing-masing. "Satu....."  ucap Sheila. "Duaa....." "Ti...." Sheila Sedah menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. "Ga... hahaha." Sheila tertawa di balik helm Full face nya. "Woy... Sheila curang lo." Ucap Faqih dan segera menyusul Sheila. Faqih dapat mengimbangi kecepatan sheila. "Dasar Curang lo." Teriak Faqih di dalam helm Full Face nya. "Bodo amat..." ucap Sheila kemudian menambah kecepatan motornya. Mereka berdua meliuk-liuk melewati celah-celah diantara mobil-mobil dan motor yang berlalu lalang di malam tersebut. 10 menit berlalu Sheila sudah sampai di markas tersebut dan beberapa detik kemudian di susul oleh Faqih. Faqih turun dari motornya dan menghampiri Sheila. "Ngga adil ah Sheila mah curang." Protes Faqih. "Ngga kok. Lo aja yang ngga mengakui kekalahan ya." Bela Sheila. "Ish... tetep aja lo curang titik." Dengan nada ngambeknya. "Nggak curang gua tuhhhhh...." bela Sheila lagi. "Wih...wih.... ada yang udah akur nih." Ucap Reyhan sembari mendekati Faqih dan Sheila dan di tangannya ada dua buah gelas berisi soda. "Nggak, B aja." Ucap Sheila datar. "Mau minum nggak nih?" Tawar Reyhan sambil menyodorkan minuman itu kepada Faqih dan sheila. "Thanks Rey." Ucap Sheila lagi. "Yoi." Jawab Reyhan Faqih? Dia sudah meneguk minumannya hingga tersisa setengah tanpa mengucapkan terimakasih. faqih memang tidak tahu diri. "Oh iya Qih.. lo kemana aja kemaren? Kok gua ngga liat lo di tongkrongan? Lo nggak sekolah? Atau lo males keluar kelas?." Tanya Reyhan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. "Gua ada." Jawab Faqih dengan nada datarnya dan tanpa ekspresi. "Udah tau Faqih kek gitu, masih lo tanyain aja Rey." Ucap Sheila dengan nada malas. "Lupa gue... oh iya anak-anak yang laen udah pada ngumpul di dalem markas, yuk kesana." Ajak Reyhan kepada Faqih dan Sheila. Tanpa menjawabnya Faqih segera menggandeng tangan Sheila dan melewati Reyhan tanpa berbicara Sedikitpun. Jangankan berbicara, meliik saja tidak. Saat Reyhan dan Sheila berbicara, ntah kenapa  Faqih merasa ingin marah kepada Reyhan tapi dia tidak tau marah karna apa. Markas mereka cukup sederhana, seperti Rumah tua yang di tinggal pemiliknya tetapi ini bersih dan nyaman makannya anak-anak sangat betah berada disini                                                                                   tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD