Bab 10. Drama Restu Mama

1025 Words
Irene memandang keluar jendela, menikmati pemandangan jalanan yang mulai sepi. “Irene,” panggilnya. “Hm?” Irene menoleh. “Nggak denger aku ngomong apa tadi?" tanya Darrel. "Denger," balas Irene. "Terus, kenapa nggak jawab?" tanya Darrel lagi. "Emang harus?" "Iya lah! Kenapa sih kamu sampai sekarang masih sendiri?” tanyanya dengan nada penasaran. Irene menghela napas panjang. “Kenapa nanyanya ke arah situ coba?” Darrel menyeringai. “Ya, nggak apa-apa kan? Umurmu itu udah dua puluh delapan tahun. Kalau di kampung, udah jadi perawan tua, loh. Buruan nikah sana!” Irene memutar bola matanya dengan malas. “Biarin. Yang penting masih cantik,” balasnya santai. Darrel tertawa kecil, lalu kembali bertanya. “Tapi serius, kenapa masih sendiri? Bukannya nggak ada yang mau, kan?” “Belum ada yang pas aja,” jawab Irene sambil mengangkat bahu. Darrel menatapnya penasaran. “Maunya yang kayak gimana?” Irene berpikir sejenak sebelum menjawab, “Yang kayak Kim Taehyung aja.” Darrel langsung membuat gestur pura-pura muntah. “Mimpimu ketinggian, Ren. Tidur aja masih ngiler.” Irene terkekeh. “Manusiawi kalau ngiler.” “Perempuan nggak elite kalau ngiler.” Irene mencibir. “Idol Korea juga belum tentu tidurnya nggak ngiler. Nggak ke-ekspose aja kehidupan pribadinya.” Darrel tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Irene. “Serah lah, Ren.” Mobil mereka akhirnya tiba di rumah. Darrel memarkir kendaraan dengan rapi, tapi keningnya berkerut ketika melihat sebuah mobil asing terparkir di depan rumah. “Siapa tuh, Ren?” tanyanya sambil memandang Irene. Irene menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Kamu ada janji tamu?” “Nggak ada,” jawab Darrel sambil turun dari mobil. Irene perlahan membangunkan Nala yang masih terlelap, sambil membawa beberapa kantong belanjaan. Darrel sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Saat Darrel melangkah ke ruang tamu, ia melihat ibunya, Nyonya Ratna, duduk dengan angkuh di sofa. Wajahnya terlihat tegas dan sedikit sinis. “Mama kok datang nggak bilang-bilang?” tanya Darrel sambil berjalan mendekat. Nyonya Ratna mencibir. “Emang mama harus ngasih kabar kalau datang? Mama datang ke rumah anak mama sendiri kok harus laporan." Darrel menghela napas. “Nggak gitu juga, Ma. Tapi kan kali aja aku nggak ada di rumah.” Nyonya Ratna berdiri dengan angkuh. “Mama sudah mengabari Linda kalau mau datang.” “Tapi Linda kan lagi libur, Ma,” balas Darrel. “Mama minta dia balik sore,” jawab Nyonya Ratna tanpa ragu. Darrel menggeleng pelan. “Mama ada-ada aja, gangguin orang liburan.” Irene masuk ke dalam rumah membawa barang belanjaan, sementara Nala mengikuti di belakangnya, memeluk boneka besarnya. “Ya ampun, Nala! Kamu beli boneka lagi?” seru Nyonya Ratna sambil melotot. “Boneka di rumah udah satu lusin, masih beli juga.” Nala memandang neneknya dengan tatapan tak suka. “Oma bisa nggak, nggak usah teriak-teriak? Nala lagi males dengerin Oma.” Nyonya Ratna terkejut mendengar jawaban cucunya. Ia menoleh cepat ke arah Darrel dengan wajah penuh amarah. “Lihat anakmu, Darrel! Baru tiga tahun diurus sama perempuan murahan itu, dia jadi kurang ajar sama mama.” Darrel menghela napas panjang. “Mama sendiri yang cari perkara, Ma.” Nyonya Ratna melotot. “Darrel, kamu jangan biarin Irene kemalaman di sini. Dia cuma bikin pengaruh buruk!” “Mama jangan ngomong gitu di depan Irene dong,” jawab Darrel sambil melirik Irene yang berdiri kaku di belakangnya. “Biarin!” bentak Nyonya Ratna. “Biar dia dengar. Kali aja otaknya itu masih berfungsi dan bikin dia tahu diri kalau tempat ini bukan tempat penampungan sampah. Perempuan murahan dan miskin kayak dia nggak pantes ada di sini!” Irene hanya diam, tapi matanya mulai berkaca-kaca. Ia menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan perasaannya. “Ma, Mama bisa jaga perasaan orang nggak?” tegur Darrel dengan nada tegas. “Apa yang Mama katakan itu benar!” balas Nyonya Ratna dengan suara tinggi. “Dia aja dibuang sama keluarga kandungnya. Kenapa juga kamu menampung dia di tempat ini? Rumah yang sebelumnya nyaman, sekarang jadi banyak masalah.” Darrel memijat pelipisnya, menahan emosi. “Mama tuh kenapa sih benci banget sama Irene? Padahal dia nggak pernah lo nyakitin Mama.” “Benci?” Nyonya Ratna tertawa sinis. “Mama nggak cuma benci, tapi sangat-sangat benci. Mama nggak mau kamu hancur gara-gara perempuan kayak dia.” “Hancur gimana sih, Ma? Irene itu yang bantu aku mengurus Nala. Kalau bukan karena dia, aku nggak tahu gimana caranya mengatur semua ini.” “Bantu? Dia cuma numpang hidup di sini, Darrel. Jangan dibutakan sama belas kasihan!” “Belas kasihan?” Darrel menatap ibunya dengan tatapan tajam. “Mama tahu nggak berapa banyak waktu dan tenaga yang Irene habiskan buat Nala? Dia lebih peduli sama Nala daripada banyak orang yang katanya keluarga!” Nyonya Ratna terdiam sesaat, tapi tak mau kalah. “Itu bukan alasan buat kamu membiarkan dia tinggal di sini. Cari pengasuh lain kalau perlu. Bayar mereka yang banyak biar sayang sama Nala dan selesai urusan!” Darrel menggeleng kuat. “Mama nggak ngerti. Ini bukan soal bayar-membayar. Ini soal perasaan. Nala butuh sosok yang dia percayai, dan Irene adalah orang itu.” “Irene nggak pantas ada di sini!” bentak Nyonya Ratna lagi. Darrel akhirnya meledak. “Mama tuh egois banget, tahu nggak? Selalu mikirin gengsi dan status, tapi nggak pernah mau melihat kebaikan orang lain.” Suasana menjadi sangat tegang. Irene tetap berdiri diam di tempatnya, tapi air mata mulai menetes perlahan di pipinya. “Irene,” panggil Darrel dengan lembut, memandang ke arahnya. “Maaf ya. Kamu nggak perlu dengar semua ini.” Irene menggeleng pelan, mencoba tersenyum meski hatinya terasa sakit. “Aku nggak apa-apa,” jawabnya lirih. Darrel menatap ibunya lagi, kali ini dengan tatapan tegas. “Ma, kalau Mama terus kayak gini, aku nggak akan pernah bawa Nala ke rumah Mama lagi. Aku nggak mau anakku tumbuh dengan contoh buruk.” Nyonya Ratna terkejut mendengar ancaman itu, tapi ia tetap diam. Akhirnya, Darrel menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. “Mama bisa ke sinj, tapi tolong, jangan ganggu Irene lagi. Kalau mama nggak bisa dikasih tahu, maaf! Darrel nggak akan ijinin mama masuk ke rumah ini lagi. Udah cukup Mama nyakitin Irene belasan tahun yang lalu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD