Bab 9. Seperti Keluarga

1826 Words
Saat Darrel masuk, suasana rumah tidak seperti biasanya. Ia merasa ada yang aneh. Rumah itu sepi, tapi bukan karena kosong. Ia mendongak dan melihat Nala berdiri di sudut tangga, menatapnya tajam dengan tangan terlipat di d**a. “Papa...” suara Nala terdengar datar, namun ada nada kekecewaan yang jelas. Darrel mengernyitkan dahi. “Ada apa, Nala? Kok berdiri di situ kayak patung?” Nala menghentakkan kakinya sekali, ekspresi wajahnya semakin tegas. “Papa dari mana?" tanya Nala dengan sinis. "Dari rumah oma. Kenapa? Muka kamu udah mirip kanebo kering." "Sepertinya semakin tua, Papa semakin pelupa. Padahal janji Papa hari ini, kita jalan-jalan ke taman! Papa bilang minggu lalu, ingat nggak?” Darrel langsung terdiam. Ingatan samar tentang janji itu mulai muncul di kepalanya. Minggu lalu, ketika mereka sedang bermain bersama di ruang tamu, Nala memintanya untuk mengajaknya ke taman bermain, dan ia menyetujuinya tanpa banyak pikir. Bahkan semalam, Nala sudah mengingatkannya. Namun, pagi ini, semua itu terlupakan karena pertemuan dengan ibunya. Sebelum Darrel bisa menjawab, Irene muncul dari dapur, membawa nampan dengan puding yang tampak dingin dan menggugah selera. “Oh, Tuan Darrel ternyata sudah pulang,” sapanya dengan nada santai. Ia melihat ke arah Nala, lalu menoleh kembali ke Darrel. “Tadi pagi, Nala masuk ke kamar atas. Tapi ternyata kamarnya kosong. Dia merajuk sampai sekarang dan nggak mau sarapan.” Darrel menatap Irene sejenak sebelum beralih ke Nala. “Nala, Papa minta maaf, ya. Papa lupa karena tadi pagi ada urusan penting.” Namun, Nala memalingkan wajahnya, menolak melihat Darrel. “Papa selalu lupa. Janji sama Nala cuma janji kosong!” Darrel tersenyum kecil, mencoba mendekati Nala. “Nggak gitu, Sayang. Papa benar-benar lupa. Tapi, ayo sekarang kita jalan-jalan! Kita nggak harus ke taman. Gimana kalau kita ke mall aja? Papa janji kita beli apa pun yang Nala mau.” Nala awalnya tetap berdiri diam, masih terlihat marah. Namun, perlahan, matanya berbinar. “Beneran, Pa? Boleh beli mainan?” “Boleh,” jawab Darrel sambil mengangguk. “Dan es krim?” “Boleh juga,” kata Darrel sambil tertawa kecil. Nala tersenyum lebar. Kemarahannya tampaknya langsung mencair begitu saja. Ia berlari mendekati Darrel, menarik tangannya. “Kalau gitu, sekarang juga, Pa!” "Ayo!" Saat Darrel hendak menggandeng tangan Nala menuju mobil, Irene bersandar di dinding, melipat tangan di dadanya. “Tunggu dulu. Jangan lupakan itu....” katanya sambil menunjuk nampan puding yang belum disentuh. "Apa?" tanya Darrel. "Tuan putri meminta puding cokelat dan Nona Irene yang cantik ini membuatnya dengan susah payah. Kalau kalian mau jalan-jalan, makan dulu puding itu atau tidak ada yang pergi sama sekali," kata Irene dengan nada garang sambil menatap pada Darrel dan Nala secara bergantian. Darrel melirik pada Nala, memberi kode putrinya untuk menghabiskan puding itu. Nala kemudian segera duduk dan menyantap puding lezat buatan tante kesukaannya. "Seperti biasa, puding Tante Irene lezatos!" kata Nala sambil mengacungkan jempol. Darrel terkekeh, lalu melirik Irene. “Ah, Irene. Kamu mau ikut juga nggak?” tanya Darrel sambil tersenyum. Irene tertawa kecil. “Aku? Nggak, terima kasih. Aku lebih suka istirahat di rumah. Lagipula, itu kan urusan kalian berdua.” Darrel mendekati Irene, menepuk pundaknya. “Hari ini kita juga harus belanja bulanan. Linda kemarin izin libur sehari, jadi nggak ada yang ngurus belanjaan rumah.” Irene terdiam, mencoba mencari alasan untuk menolak, tetapi tidak menemukannya. “Baiklah,” akhirnya ia menyerah. “Aku ganti baju dulu.” “Aku juga mau ganti baju!” seru Nala dengan semangat, berlari ke atas menuju kamarnya. "Kita main di time zone ya?!" Darrel terkekeh dan menoleh ke Irene. “Kamu jangan lama-lama, ya. Kita sudah ditunggu bos kecil.” Irene hanya menggeleng sambil menuju kamarnya, bersiap untuk hari yang tampaknya akan panjang. *** Ketika semuanya siap, mereka bertiga keluar rumah. Darrel berjalan ke mobilnya, sementara Irene membimbing Nala yang terlihat ceria dengan setelan santai biru dan pita merah di rambutnya. “Papa nyetir sendiri?” tanya Nala saat melihat Darrel duduk di kursi pengemudi. “Tentu saja,” jawab Darrel sambil tersenyum. "Sopir kan libur kalau weekend." Irene membuka pintu belakang untuk Nala, namun bocah itu menolak ketika Irene hendak masuk. “Tante Irene duduk di depan aja. Aku di belakang!” Irene mengerutkan dahi. “Nggak, Nala. Tante Irene di belakang sama kamu.” Nala menggeleng kuat-kuat. “Nggak mau! Tante Irene harus di depan!” “Nala...” Irene mencoba membujuk, tetapi Nala mulai memaksa. “Aku maunya duduk sendiri di belakang!” Nala bersikeras. Darrel yang mendengar perdebatan kecil itu tertawa kecil. “Sudah, Irene. Kalau Nala bilang kamu duduk di depan, ya duduk saja. Lagipula, kalau kamu duduk di belakang, aku bakal kelihatan seperti sopir pribadi.” Irene menatap Darrel dengan kesal, tapi akhirnya menyerah. Ia membuka pintu depan dan duduk di kursi penumpang. “Baiklah, Nala. Tante Irene di depan. Tapi kamu harus janji duduk manis di belakang, ya.” Nala mengangguk dengan semangat. “Oke, Tante Irene!” Mobil pun melaju, meninggalkan rumah menuju pusat perbelanjaan. *** Sesampainya di mall, Nala langsung melompat keluar dari mobil dengan penuh semangat. Ia berlari kecil ke depan, memimpin jalan seperti pemandu tur. “Nala, jangan terlalu jauh!” seru Darrel sambil mengejarnya dengan langkah panjang. "Nanti kamu hilang dibawa barongsai." Irene mengikuti mereka dari belakang, membawa tas belanjaan yang sudah disiapkan sebelumnya. “Kamu overprotektif banget sama anakmu,” gumamnya setengah bercanda. Darrel menoleh dan tertawa. “Biar saja. Dia cuma kecil sekali, kan?” Sesampainya di toko mainan, Nala berlari kecil menuju rak-rak penuh mainan. Darrel dan Irene mengikuti dari belakang, dengan Irene membawa tas belanjaan kecil. “Papa, Tante Irene, lihat ini!” Nala berseru sambil mengangkat boneka beruang besar berwarna cokelat. Boneka itu hampir sebesar dirinya. Darrel tertawa kecil. “Itu besar sekali, Nala. Kamu yakin mau itu? Nanti nggak muat di kamar.” Nala memeluk boneka itu erat-erat, ekspresinya tegas. “Aku mau ini!" Darrel menghela napas, berpikir. “Nala, coba pilih boneka yang lebih kecil. Yang ini terlalu besar. Nanti kamu nggak punya tempat tidur sendiri kalau bonekanya sebesar itu.” Namun, Nala mulai merajuk. “Tapi aku mau ini, Papa! Ini lucu banget...” Irene, yang sedari tadi mengamati, akhirnya angkat bicara. “Darrel, sudah lah. Kalau dia suka, biarkan saja. Kita bawa, toh masih muat di rumah.” Darrel menatap Irene dengan pasrah. “Oke, tapi kamu yang tanggung jawab kalau nanti boneka ini jadi masalah.” Nala melompat girang. “Yeay! Terima kasih, Papa! Terima kasih, Tante Irene!” "Anak-anak memang ada-ada saja," kata Darrel sambil mengikuti langkah Nala. Saat mereka pindah ke bagian puzzle, Nala tiba-tiba berhenti di depan rak penuh balok kayu warna-warni. Ia menunjuk satu set balok dengan tema bangunan kota. “Papa, aku mau ini juga!” Darrel langsung menatap harga yang tertera. Cukup mahal untuk ukuran mainan anak-anak. “Nala, kita sudah ambil boneka besar. Gimana kalau ini nanti saja?” Nala mulai mengerucutkan bibirnya. “Tapi aku nggak punya mainan kayak gini, Pa...” Darrel memutar matanya, merasa serba salah. “Tapi kamu kan sudah banyak mainan di rumah.” Irene menyela dengan tenang. “Nala, coba lihat. Kamu sudah dapat boneka besar. Kamu gak boleh beli yang ini, oke?" "Kenapa?" Irene kemudian berjongkok. "Nala, puzzle ini nggak akan dimainin sama kamu. ingat ulang tahunmu yang kemarin, oma kasih puzzle kecil. Apa yang kamu lakuin?" "Puzzlenya terlalu sulit, jadi aku membuangnya." "Nah, itu dia. Kamu pasti akan melakukan hal yang sama kalau beli ini. Jadi buang-buang uang 'kan?" Nala mengangguk, meski dengan wajah sedikit kecewa. “Oke, Tante Irene.” Darrel melirik Irene dengan heran. “Tunggu, kenapa dia langsung manut sama kamu? Tadi aku sudah bilang hal yang sama, tapi dia tetap ngeyel!” Irene tertawa kecil. “Karena aku tahu cara berbicara dengan anak-anak, Darrel. Coba belajar.” Darrel hanya menghela napas, merasa kalah telak. *** Setelah puas di toko mainan, mereka menuju supermarket untuk belanja bulanan. Nala berjalan di depan troli, memimpin jalan dengan penuh semangat. Darrel mendorong troli, sementara Irene memegang daftar belanjaan. “Papa, aku mau biskuit ini!” seru Nala, menunjukkan sekotak biskuit cokelat yang besar. Darrel menatap biskuit itu sejenak sebelum menjawab, “Nala, nanti sakit gigi. Beli yang lain." Nala mulai merajuk lagi. “Tapi aku suka yang ini, Papa...” Sebelum Darrel bisa menjawab, Irene mengambil kotak biskuit itu dan menggantinya dengan ukuran kecil. “Nala, ini yang kecil lebih cocok." Nala memandang Irene sejenak, lalu mengangguk. “Oke, Tante Irene.” Darrel menatap Irene dengan kesal bercampur kagum. “Serius, kenapa dia selalu nurut sama kamu? Aku ini papanya, loh.” Irene tertawa kecil sambil menepuk pundak Darrel. “Mungkin karena aku lebih logis dan tidak terlalu galak.” Darrel pura-pura tersinggung. “Aku galak? Yang benar saja.” Nala, yang mendengar percakapan itu, tertawa kecil dari belakang. “Papa memang galak kalau aku minta sesuatu. Tante Irene lebih baik.” Darrel hanya bisa menggeleng sambil tersenyum, merasa kalah telak untuk kedua kalinya hari itu. Di lorong minuman, Nala melihat s**u kotak rasa stroberi yang menjadi favoritnya. “Papa, boleh ambil ini?” Darrel langsung menjawab, “Tentu saja. Ambil saja, Nala.” Namun, saat Nala hendak memasukkan s**u itu ke troli, ia berhenti dan menatap Irene. “Tante Irene, boleh nggak?” Irene tertawa kecil. “Kalau Papa sudah bilang boleh, berarti boleh. Ambil saja.” Nala memasukkan s**u itu dengan senyum lebar, kemudian memeluk Irene. “Tante Irene, kamu yang terbaik!” Darrel memutar matanya dengan pura-pura kesal. “Tante Irene, Tante Irene... Dia bahkan lupa siapa yang sebenarnya bayarin semua ini.” Irene tertawa keras, hampir terjatuh karena tawanya. “Darrel, sepertinya kamu harus belajar cara menjadi favorit.” Setelah selesai berbelanja, mereka menuju kasir. Nala berdiri dengan semangat di depan meja kasir, sementara Irene membantu Darrel mengatur barang-barang di troli. “Terima kasih, Papa! Terima kasih, Tante Irene!” seru Nala setelah semua barang dimasukkan ke dalam tas belanjaan. “Kalau sudah bilang terima kasih, jangan lupa bantu bawa belanjaan, ya,” sahut Darrel dengan nada bercanda. Nala tertawa kecil sambil memeluk boneka barunya erat-erat. “Aku bantu bawa boneka ini saja, ya!” Diam-diam, gadis kecil itu tersenyum melihat kedekatan Darrel dengan Irene. "Bukankah seperti ini yang disebut keluarga?" gumamnya kecil. *** Saat perjalanan pulang, Darrel melihat Nala tertidur di kursi belakang, memeluk boneka cokelatnya dengan erat. Irene menatap pemandangan itu dari kursi penumpang sambil tersenyum. “Hari ini cukup melelahkan, ya,” kata Irene, memecah keheningan. “Tapi menyenangkan,” jawab Darrel sambil melirik Irene. “Kamu benar-benar tahu cara mengurus anak kecil. Kalau aku yang bicara, dia malah marah. Tapi kalau kamu yang bicara, dia langsung menurut.” Irene tertawa kecil. “Mungkin karena aku nggak terlalu sering bilang ‘tidak’. Anak-anak itu butuh rasa dihargai, Darrel. Kalau kita terlalu sering melarang, mereka merasa nggak dipercaya.” Darrel mengangguk pelan, merenungkan kata-kata Irene. “Sepertinya aku harus belajar lebih banyak dari kamu.” “Belajar sambil jalan aja,” jawab Irene sambil tersenyum. "Kenapa kamu belum menikah sampai sekarang, Irene?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD